Sejak kejadian kebakaran itu, Arga Mahendra jatuh cinta pada gadis yang menyelamatkan hidupnya. Amira, gadis belia yang masih berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku kelas XII SMA.
Keduanya kemudian terlibat dalam hubungan terlarang, dimana Amira diam-diam menikahi Amira tanpa sepengetahuan Stella yang tak lain adalah istri sahnya.
Lantas bagaimana kehidupan mereka ? Siapakah yang akan Arga pertahankan dalam hidupnya ? Amira atau Stella ? Disaat Stella sudah sembuh dari penyakit gangguan mentalnya.
Simak ceritanya di novel "Istri Simpanan Guruku" karya Dewi KD, jangan lupa berikan like dan komentar kalian untuk mendukung author 🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi KD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Sore harinya,
Arga pulang ke rumah dan langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Stella yang melihat Arga sudah pulang langsung berdandan yang menurutnya secantik mungkin, dan memakai lingerie seksi untuk Arga.
Stella masuk ke dalam kamar Arga dan mendengar suara gemercik air di dalam kamar mandi. Stella berdiri di depan jendela kamar Arga menunggu Arga keluar dari kamar mandi.
Beberapa menit kemudian,
Arga keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
Arga mengernyitkan dahinya ketika melihat Stella berdiri di kamarnya dengan tampilan pakaian yang mampu membuat hasrat birahinya terpancing.
Arga dengan perlahan mendekati Stella membelai tubuh Stella dari belakang. Sebab pria normal mana yang tak tergoda melihat wanita seksi nan putih mulus seperti susu seperti itu.
“Stella…Kau kenapa ?!” lirih Arga mengecup leher Stella dari belakang.
“Aku ingin melayani mu Sayang ! Melayani mu diatas ranjang !” jawab Stella dengan entengnya.
“Kau yakin, hem ?”
“Aku boleh menyentuhnya kan ?”
Tubuh Arga mulai panas melihat gundukan kembar milik Stella dari atas yang begitu padat berisi dan hanya berlapiskan kain yang begitu transparan yang melekat di tubuhnya.
“Tentu saja, Sayang !”
Stella membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada Arga dengan menampilkan gigi putihnya. Namun, betapa terkejutnya Arga melihat wajah Stella yang begitu menyeramkan persis seperti pemeran Nek Lampir.
“ASTAGA STELLA !!!”
Konsentrasi Arga langsung buyar bahkan kini birahinya hilang begitu saja ketika melihat wajah Stella seperti itu.
“Bagaimana Sayang ? Aku cantik kan ?”
Arga mengusap kasar wajahnya, dan pergi meninggalkan Stella ke ruang ganti pakaian.
“Arga Sayang ! Aku cantik kan ?” pekik Stella
“Iya ! Kau cantik seperti Nenek Lampir !” jawab Arga yang membuat Stella langsung menangis mendengarnya.
“Huaaa…hiks..hiks…!”
Stella langsung berlari keluar kamar Arga dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia mengurung dirinya di kamar karena merasa sedih telah di katai nenek lampir oleh Arga.
Arga dengan cepat memakai pakaiannya, dan menggerutu seorang diri.
“Ada-ada saja !”
Arga mengumpat kesal sekali dengan apa yang telah terjadi barusan.
Kesedihan Stella nyatanya berlarut sampai keesokan harinya. Bahkan Arga tak menyadari hal itu karena pagi-pagi sekali ia harus berangkat bekerja di sekolah Amira.
Dina yang baru saja tiba di rumah anak dan menantunya itu langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan Stella yang ada di kamarnya.
Dina terkejut melihat Stella menangis di tempat tidurnya dengan rambut yang acak-acakan dan wajah yang begitu berantakan.
“Sayang ! Kau kenapa ? Apa Arga menyakiti mu ?” tanya Dina begitu panik dan khawatir melihat keadaan Stella yang masih menggunakan lingerie seksi di tubuhnya.
“Arga bilang Aku seperti nenek lampir, Ibu ! Huaaaa…!!!” Stella menangis menjadi-jadi di hadapan Ibunya itu.
Dina hanya menelan air ludahnya, karena memang tampilan putrinya itu seperti nenek lampir saat ini. Rambut yang acak-acakan, eyeliner di mata yang begitu tebal dan lipstick merah yang begitu merona bibir Stella sangatlah berantakan. Siapa pun orang yang melihat Stella pasti langsung menjauhinya atau berlari ketakutan.
“Astaga ! Seharusnya Aku tidak menyuruhnya seperti ini !”
Dina merutuki kebodohannya sendiri, ia kemudian melampiaskan amarahnya pada perawat yang menjaga Stella.
“Kenapa Kau tidak membantu Stella berdandan ! Lihat dia sekarang !”
“Maafkan Aku, Nyonya ! Aku tidak tahu soal Nyonya Stella pada waktu kejadian, karena Aku berada di luar membeli obat Nyonya Stella yang sudah habis.” Kata perawat itu apa adanya.
“Dasar tidak becus ! Sana pergi ! Biar hari ini Aku yang merawat putri Ku !” kata Dina mengusir perawat itu dari kamar Stella.
Stella masih menangis seperti anak kecil.
“Sayang, sudah ya ! Ayo kita mandi ya ! Kau harus bersih dan wangi agar Arga menyukai mu di rumah !”
Dina membawa Stella ke kamar mandi. Dina kemudian merawat Stella bak anak balita yang perlu di mandikan, di pakai kan baju, dan di suapi makan serta di ajak bermain layaknya anak TK.
“Kapan Kau sembuh, Stella ? Ibu rindu dirimu yang dulu !”
Dina semakin miris melihat kondisi Stella yang saat ini tengah bermain alat masak-masakan anak kecil di ruang keluarga.
...****************...
bukan seorang ibu yang baik.
napsu jadinya....
gimana rasanya posisi Dia menjadi Amira.
nanti juga akan ada balasannya.
tetep Amira pertahankan..Libas saja jalang mah. jangan kasih ampun.
apa sekama ini pura2 sakit jiwanya.
jadi aja jiwanya bener2 sakit.