Fitri terpaksa bersedia ikut tuan Tama sebagai jaminan hutang kedua orang tuanya yang tak mampu mwmbayar 100 juta. Dia rela meski bandit tua itu membawanya ke kota asalkan kedua orang tuanya terbebas dari jeratan hutang, dan bahkan pak Hasan di berikan uang lebih dari nominal hutang yang di pinjam, jika mereka bersedia menyerahkan Fitri kepada sang tuan tanah, si bandit tua yang beristri tiga. apakah Fitri di bawa ke kota untuk di jadikan istri yang ke 4 atau justru ada motif lain yang di inginkan oleh tuan Tama? yuk kepoin...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arish_girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi pengasuh
Sudah seminggu lebih, Fitri berada dalam keluarga Wiratama. Hidup jadi pembantu di keluarga kaya itu, memang terkadang banyak cerita, seperti halnya sebagian sikap para majikan di keluarga itu yang suka bersikap semena mena. Fitri benar-benar harus menahan rasa agar bisa betah di sana, mengingat bagaimana Fitri bisa berada di keluarga itu.
Seperti halnya pada suatu hari, Fitri sedang menyapu dan mengepel lantai, di sana Angel sedang melintas. Tak sengaja Angel terpeleset, hingga ia terjatuh dan menimpa ember air kotor tempat Fitri mengepel.
"brugkkk..."
"Awww....!!" pekik Angel kesakitan.
"siapa sih ini, ngepel lantai gak segera di keringkan. kan jadinya gue jatuh." Angel merutuk marah, sambil meringis, ia menoleh kesana kemari mencari sosok orang yang bisa ia jadikan tersangka atas jatuhnya dirinya.
"hey.. lo. sini!" kata Angel dengan raut wajah memerah karena marah.
"maafkan saya, tuan putri, saya tidak sengaja, tuan putri yang jalan tak lihat lihat, makanya terjatuh." kata Fitri tertunduk, ia tak berani menatap putri majikannya karena takut.
"terserah aku dong, mau jalan lihat lihat atau nggak. Kamu gak bisa mengatur ku seenaknya. Pelayanan aja blagu. Apapun alasannya lo itu harus di kasih pelajaran." pekik Angel kesal.
Angel lalu mengambil ember yang masih ada sisa airnya, kemudian mendekat pada Fitri dan...
"byur....!!"
Angel menyiram air sisa kotoran itu ke kepala Fitri. Fitri pasrah, dia hanya tertunduk tanpa melakukan perlawanan sedikitpun. Fitri hanya bisa merasakan dingin dan bau pada air sisa ngepel itu dengan gemetar. "rasain....!!" Angel berlalu sambil tertawa puas melihat fitri menggigil kedinginan.
"Astaghfirullah... kuatkan hamba ya Allah," pekik Fitri dalam doanya, berharap di berikan kesabaran di hati. Ini adalah jalan yang sudah di tempuhnya, ia harus menerima dengan ikhlas.
"kenapa kamu Fit? basah kuyup gitu?" tanya Susan begitu mereka sudah di ruang cuci.
"gak apa apa mbak. Tadi terjatuh aja saat ngepel." sahut Fitri beralasan.
"makanya kalau kerja itu harus hati hati.." cerocos susan.
"iya, mbak."
"oya, Fit. kamu udah ngasih makan gak tuh sama piaraan tuan besar?" tanya Susan.
"maksudnya?" Fitri tampak kebingungan.
"siapa lagi kalau bukan tuan muda Devan." kata Susan mendengus.
"kok piaraan sih mbak? tuan muda Devan itu manusia, bukan hewan. Gak boleh ngomong kayak gitu." kata Fitri seakan tak Terima dengan apa yang baru saja Susan katakan.
"kan emang para istri tuan besar bilangnya gitu? Aku kan hanya mencontohkan saja." Susan tersenyum sinis saat ucapannya di ralat oleh Fitri.
Fitri hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan Susan yang keterlaluan.
Lepas membersihkan diri, Fitri segera ke atas untuk melihat Devan. Namun begitu menaiki tangga, Fitri berpapasan dengan Tio.
Tip menghentikan langkahnya tepat di depan Fitri, matanya jelalatan menatap Fitri begitu intens. Ada pandangan tak nyaman saat pandangan Fitri bertemu pandang dengan tatapan Tio. Tio tersenyum menyeringai, seakan tertanam sesuatu di balik senyuman itu.
Fitri tertunduk, ia tak berani menatap Tio begitu lama. Ia terus saja melangkah melewati Tio.
"tunggu, Fitri!" kata Tio.
Tanpa menoleh, Fitri menyahut, "iya tuan."
"gue mau minta tolong ambilin ponsel gue di kamar. Ponsel gue ketinggalan." kata Tio.
Tanpa menoleh, Fitri teringat akan pesan bu Lastri, 'harus hati hati pada Tuan Tio.' "maaf, tuan. Saya harus ke kamar tuan muda. Ini atas perintah nyonya Arumi.".
Fitri tak perduli, tanpa menunggu jawaban dari Tio, ia lekas melangkah menaiki tangga dan ke kamar Devan. Fitri bisa bernafas lega setelah ia sudah benar-benar sudah tak melihat Tio.
"ih... amit amit, deh. Punya otak kol ngeres gitu.
Mending aku ngerawat tuan Devan daripada bersama tuan Tio, ih.. serem.
" tok tok... tok...
Fitri mengetuk pintu kamar Devan.
"Permisi tuan, saya Fitri. Saya mau masuk." kata Fitri.
Karena tak ada sahutan, Akhirnya Fitri pun mendorong pintu itu dan masuk. Terlihat Devan sedang duduk di atas ranjangnya sambil memegang handphone.
"selamat siang, tuan. apa mau saya ambilkan makan?" Tanya Fitri.
"ngapain lo kemari?" sinis Devan.
"maaf, tuan. Mulai saat ini, saya adalah pengasuh tuan. Jadi, semua keputusan mengenai tuan, biar saya yang akan atur." kata Fitri dengan.
"hhmm..! pengasuh? memangnya gue bayi yang harus di asuh. Lo salah alamat. oke, seberapa kuat lo bertahan buat menjadi pengasuh gue." Devan tersenyum mengejek, perkataannya benar-benar menjadi sebuah tantangan bagi Fitri.
"okey, tuan muda. Dan tentu ini adalah suatu tantangan buat saya." sahut Fitri.
"Sekarang dimulai dari tuan. Apakah tuan muda Sudah mandi?" tanya Fitri sembari mengerutkan hidung karena mencium aroma tidak sedap dari tubuh Devan.
"terserah gue, mau mandi apa tidak. lo gak akan bisa maksa gue." sungut Devan.
Fitri tersenyum, kali ini dia bertekad akan merubah kebiasaan tuannya yang sering jarang mandi. Mungkin ini adalah salah satu penyebab Devan tidak percaya diri untuk bergabung bersama anggota keluarga yang lain.
Fitri berniat akan memulai mengembalikan rasa percaya diri Devan, baru setelah itu, kelumpuhan ini akan bisa di atasi, dengan cara rutin terapi.
"mau apa lo?" tanya Devan begitu Fitri tiba-tiba naik ke atas tempat tidur Devan.
Fitri hanya tersenyum, "ayoo tuan, saya bantuin turun dari ranjang. Kita ke kursi roda dan setelah itu kita mandi."
"Gak, gue gak mau!" sungut Devan.
"okay, kalau tuan tidak mau, maka saya akan memaksa tuan. Maaf tuan. Ini adalah tantangan bagi saya, jadi saya mohon bekerja samalah. Jangan menyulitkan pekerjaan saya." Fitri tak mau kalah.
"gue bilang tidak, ya tidak." pekik Devan.
Namun, bukanlah Fitri namanya, Fitri adalah gadis remaja yang baru berusia 18 tahun, dia baru saja lepas sekolah di pesantren. Banyak hal yang dia pelajari di pesantren, termasuk sedikit ilmu beladiri dan juga beberapa teknis pengobatan herbal dan tradisional. Meski tak seberapa menguasai, akan tetapi bagi Fitri itu semua bisa di rasa cukup untuk bekal kehidupannya.
"Ayoo.. tuan!" Fitri menjulurkan tangan kepada Devan, akan tetapi Devan malah membuang muka. Terpaksa Fitri langsung berdiri di atas ranjang besar Devan dan menarik kuat tubuh besar Devan.
"eh.. apa apaan lo. Gue gak suka lo maksa gue seperti ini."
Terserah, tuan mau nolak atau tidak, tapi nyonya Arumi sudah ngasih saya ijin." Dengan kekuatan yang Fitri miliki, Fitri berhasil menyeret Devan hingga ke kursi roda.
"lo yakin mau mandiin gue?"
"kenapa tidak?" tantang Fitri.
"gue ini cowok. Apa lo gak malu mandiin cowok?"
"gak apalah. Gue bisa, kok." sahut Fitri dengan penuh keyakinan.
Fitri sudah tak perduli, mau cewek ataupun cowok ia akan tetap membawa Devan ke kamar mandi. Tangan Fitri mulai mendorong kursi roda itu hingga masuk ke kamar mandi.