Kisah ini masih belum banyak di revisi. Masih amburadul apa adanya seperti dulu. Sudah mulai konsisten di bab. 82 ya.... semoga dapat mengambil hikmah dari kisah ini.
Seorang gadis biasa yang di temukan oleh sepasang Kakek Nenek di emperan toko ketika hujan. Yang mereka beri nama Vera Kania Putri. Telah tumbuh menjadi sosok gadis yang tangguh, baik hati, pekerja keras. Mendambakan cinta dari seorang guru magang bernama Fatih, namun harus rela kehilangan cintanya karena ditinggal untuk selama-lamanya dan ia harus menikah dengan kakak yang di cintainya bernama Rey, dan cinta mereka akan terus berlanjut ketika badai memisahkan mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhewhy M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
Sampailah Neta Membawa pulang Kania ke rumahnya, namun Aldo tadi berhenti di jalan, karena hubungan mereka sudah di kekang oleh Omanya Neta.
Nampak di depan rumah sudah ada beberapa orang di sana, terlihat yang Kania kenali hanyalah orang tuannya. Di sampingnya ada seorang wanita yang mungkin sudah di sebut nenek, namun sangat anggun di balut kebaya jawa. Dan di belakanhnya mungkin beberapa asisten rumah tangga, supir dan tukang kebun, nampak sekali dari penampolan mereka.
"Kania sayang, sini Mama bantu kamu yaa" Kata Mama Vera memegangi tangan Kania.
"Aku udah baik baik aja kok tante" Kata Kania.
"Lhoo kok masih tante aja, panggil Mama dong, kami ini kan keluarga kandung kamu" Kata Rendra.
Kania menyalami semua orang di sana, termasuk orang yang Neta sebut Oma, namun tatapan Oma kepada Kania sangatlah berbeda, nampak sekali jika Oma tidak menyukai Kania.
"Oma " Kata Kanja yang akan menyalami Oma namun di tolak.
"Oma kok gitu? " Tanya Neta.
"Kamu sudah berani bentak Oma? Kurang ajar sekali kamu" Kata Oma dengan nada tinggi.
"Maaf Oma" Kata Neta.
"Masuk semua" Pinta Oma.
Kania pun duduk di antara Neta dan Mamanya. Terlihat Oma menatap Kania dengan sangat dingin, Kania mulai tidak nyaman dengan tatapan Oma, dan ia pun memulai dengan pertanyaan.
"Maaf sebelumnya.... " Kata Kania.
"Siapa yang menyuruhmu berbicara, tidak sopan!! duduk yang tegak!! rapatkan lututmu itu!! " Kata Oma dengan nada tinggi.
"Ibu jangan begitu dong, Kania kan baru saja sampai" Kata Papa Rendra.
"Rendra!! jangan karena sempel darah dan tanda lahir saja, kamu percaya kalau dia anak kandungmu, jangan jangan dia mau menipu seperti yang sudah sudah" Kata Oma.
"Tapi Oma" Kata Neta.
"Diam!! Orang tua sedang bicara, kamu jangan ikut campur" Kata Oma.
"18 tahun lalu, setelah anakmu lahir, Ibu memberi dia kalung dengan liontin yang sama dengan punyanya istrimu dan Neta Rendra, ayo tunjukkan" Kata Oma.
Mama Vera dan Neta menunjukkan kalung itu, liontin yang sama yang pernah nenek Kania berikan kepadannya waktu itu.
"Kania punya kalung seperti itu, tapi udah Kania jual buat pengobatan Nenek dulu" Kata Kania gugup.
"Apa?! Kalung dan Liontin itu di pesan secara kusus. Kamu malah menjualnya? Apa kamu mau menipu kami ha? " Tanya Oma marah.
"Ibu, sabar dong. Mungkin waktu itu memang Kania butuh uang untuk pengobatan Neneknya Buk, harusnya kita berterima kasih kepada Nenek itu" Kata Rendra.
"Berterima kasih? Berterima kasih atas menjual liontin se mahal itu? " Kata Oma.
"Liontin itu masih ada Oma, hanya kalungnya yang Kania jual. Ini!! Ini Liontin itu kan? liontin berharga Oma? " Kata Kania menunjukan liontin yang ada pada gelangnya.
"Kania? " Kata Mama Vera menangis.
"Kamu benar adikku, Oma lihatlah" Kata Neta.
Kali ini Oma tidak bisa mengelaknya, semua bukti memang menunjukan dia memang cucu kandungnya yang telah ia buang sendiri.
"Baiklah!! mulai sekarang, kamu bisa memanggil Vera dan Rendra, Mama dan Papamu" Kata Oma dengan sinis dan terpaksa.
"Dan iya, malam ini kalian bersiaplah, Oma mau mengajak kalian ke rumah Jeng Nia, sore ini Rey sudah pulang, kita sama sama menjenguk dia. Dan kamu Neta?! Oma tidak menginginkan penolakan darimu lagi!! " Kata Oma.
"Rey? " Kata Kania.
"Papa berangkat kerja dulu ya. Untuk Kania, hari ini Papa bahagia sekali, kamu sudah pulang, lain kali Papa akan ajak Kania ke kantor Papa. Papa akan kenalin kamu ke rekan kerja Papa" Kata Rendra.
"Iya Pa" Jawab Kania
"Ayo nak, Mama dan Kakakmu akan menujukan kamar barumu, Mama tadi sudah menghias seluruh kamarmu" Ajak Mama Vera.
"Dan mulai besok, sekolah Kakak yang antar. Ok!! " Kata Neta.
Kania sangat bersyukur, ia menemukan keluarganya dan di sambut dengan baik penuh kasih sayang. Namun ia tak terlalu memasukkan hati perkataan pahit Oma. Karena dengan omelan-omelan orang, Kania sudah kebal.
✳✳✳✳✳✳
Malam itu datang, ini pertama kalainya Kania memakai gaun yang indah dan mahal. Ia terus saja di perhatikan oleh keluarganya. Namun tidak dengan Oma yang terus saja menyisihkannya.
Sampai lah mereka di rumah Rey, Kania sudah tidak asing lagi dengan rumah Rey. Karena ia pernah datang ke rumah itu, walau tidak masuk ke dalam. Saat ia stalking rumah Fatih. Seketika ia teringat akan laki-laki yang sangat ia cintainya itu.
"Vera!! " Panggil Oma.
"Iya" Jawab Vera dan Mamanya serentak.
"Haduh, gini aja, Kania mulai sekarang Oma dan seluruh keluarga, akan mengenal kamu, dengan nama Kania. Bukan Vera lagi" Kata Oma.
"Tapi Oma... " Kata Kania terputus di halangi Neta.
Kania mengerti maksud Neta. Neta tak ingin Kania terkena masalah dengan Oma hanya karena masalah sepele. Kania pun mengangguk pelan.
"Bagus!! Ayo masuk sekarang, dan kamu Kania, berperilaku lah sesuai dengan keluarga besar. Jangan buat malu!! " Kata Oma.
Kania lagi-lagi hanya mengangguk. Mereka pun masuk, di sana sangat banyak orang, terlihat foto-foto Fatih tertampang besar di sana, membuat hati Kania sangat sakit. Mengingat kepergian Fatih yang todak pernah Kania duga.
Oma mengenalkan Kania dengan keluarga besar Rey dan para tamu satu persatu. Nampak Kania tak nyaman hidup seperti itu. Saat Kania berjalan jalan di rumah itu, tak sengaja ia bertabrakan dengan Rey lagi.
"Kenapa dengan jantungku yaa, kok berdetak cepat kayak mau copot gini sih" Batin Kania memegang dadanya.
Di sisi lain dengan Rey.
"Lagi-lagi perasaan ini, ada apa dengan jantung Fatih? Apa dia tidak ikhlas mendonorkan jantungnya untukku? " Kesal Rey.
Bruuk..
"Aduh, gaunku kotor. Pasti Oma marahin aku nanti. Aahhh sudahi penderitaan ini" Kesal Kania
"Hey, kamu anak kecil itu kan? yang di rumah sakit? ngapain kamu kesini?! lihat lantainya jadi kotor" Bentak Rey
"Om yang salah!! Kenapa jalan nggak lihat-lihat, sudah tau bawa minuman. Masih aja jalan nya meleng gitu" Balas Vera.
"Om? Kamu panggil aku Om?" Kata Rey.
"Kalau iya kenapa ha? Marah?" Kata Kania ketus.
Entah dari mana Neta datang dan menghentikan percekcokan mereka.
"Kak Rey, maafin adik aku ya. Kania kamu harus minta maaf sama Kak Rey, dia calon Kakak iparmu kan? " Kata Neta gugup.
Kania menatap ketakutan Neta pada Rey, dia terpaksa mengalah karena takut akan membuat keributan dan masalah untuk keluargannya.
"Adik? Dia adik kamu? Kania? " Tanya Rey dengan tatapan tajam.
"Iya, dia adik kandung aku Kak, Ayo Kania minta maaf" Kata Neta.
"Baiklah, ini semua demi Kakakku. Maafin aku!! " Kata Kania menjabat tangan Rey.
"Emm" Rey pun membalas jabatan Kania.
Saat mereka bersentuhan, ada rasa yang berbeda. Mereka seperti tersengat listrik yang membuat mereka terkejut. Dan saling menatap. Kania pun cepat-cepat mengajak Neta menjauhi Rey.
"Kania!! " Panggil Rey.
"Kania, kenapa dengan dirinya Ada apa dengan dirinya. Dia seperti memiliki magnet yang bisa menarikku ke dunianya" Gumam Rey.
Rey terus saja menatap Kania dari jauh, memastikan apa yang tenlah terjadi dia antara mereka. Karena Rey belum pernah bertemu dengan Kania, tetapi Kania selalu hadir dalam mimpinya.
lanjutt thor🆙💖💪💪💪💪