Tak pernah terbayangkan dalam benak Bella, bahwa dia akan menjadi pemuas seorang cassanova setelah kepergian ayahnya.
Cerita ini bermula dari sang tante yang menjualnya. Membuat dia terjerat pria yang tak memiliki komitmen itu. Pria yang selalu menatapnya dengan tajam, tetapi begitu mendamba tubuhnya. Dia, William Hognose Liem.
Akankah kisah mereka berujung bahagia? Atau justru selamanya Bella akan menjadi pemuas hasrat William saja? Ikuti kisahnya di sini, dan jangan lupa follow akun sosial media author.
Ig @nitamelia05
Fb @Nita Amelia
Salam anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Hari Minggu
Hari Minggu.
Sudah tentu William tidak akan pergi bekerja. Dia juga tidak memiliki janji dengan siapa pun, jadi hari ini dia akan terus berada di apartemen bersama Bella. Tak peduli meski komunikasi di antara mereka belum juga berubah.
Sementara itu Bella yang masih berusaha untuk mengajak pria itu bicara. Ingin memanfaatkan stok makanan yang sudah habis, agar ia bisa pergi berbelanja dengan William.
Siapa tahu dengan begitu hati William akan kembali luluh, dan kembali bersikap seperti semula.
"Tuan, bahan-bahan dapur sudah habis. Apakah tidak sebaiknya kita keluar untuk berbelanja?" ujar Bella setelah William menghabiskan sarapannya. Kali ini dia sangat berharap William bisa menerima ajakannya, agar mereka memiliki waktu untuk berdua.
Pria tampan itu melirik Bella yang terlihat sangat antusias. Namun, lagi-lagi William membuat harapan Bella pupus, sebab ia hanya membalas dengan singkat. "Aku tidak tertarik."
"Lalu bagaimana aku bisa memasak makan malam?" tanya Bella, belum mau menyerah.
Akan tetapi William justru melemparkan kartu ke atas meja. Dia benar-benar terlihat menghindari apa pun yang berkaitan dengan Bella. "Aku tidak punya waktu untuk sesuatu yang tidak penting. Pergilah ...."
Setelah mengatakan itu William bangkit dari kursi dan berjalan menuju ruang kerjanya. Meninggalkan Bella yang harus menelan kekecewaan berulang kali.
Namun, setelah beberapa saat berlalu, Jo datang dengan sebuah paper bag di tangannya. Melihat Bella yang ada di dalam dapur, ia pun segera menghampiri gadis itu.
"Nona Bella," panggil Jo, dan Bella langsung menoleh.
"Asisten Jo? Kami baru saja menyelesaikan sarapan, apakah anda datang untuk sarapan di sini?" tanya Bella, sebab setiap pagi mereka memang selalu sarapan bertiga.
"Ah tidak apa-apa, Nona, saya juga sudah sarapan kok. Hari ini saya hanya ingin mengantar pesanan Tuan William," jawab Jo apa adanya, kemudian memberikan paper bag yang ia bawa pada Bella.
Gadis itu pun menerimanya dengan kening yang mengeryit. "Aku yang harus memberikannya pada Tuan?"
"Oh tidak, itu ponsel untuk anda. Tuan menyuruh saya membelinya untuk ganti yang kemarin. Oh iya di sana juga sudah ada nomor saya dan nomor Tuan William," ujar Jo yang membuat Bella terperangah. William membelikan ponsel baru untuknya? Namun, sayang ia tidak hafal nomor siapa pun, jadi ia tidak bisa menghubungi Lena.
Ah iya, bagaimana kabar ibu tiri serta adiknya sekarang? Apakah mereka baik-baik saja?
"Terima kasih, Asisten Jo," ucap Bella lirih.
"Berterima kasih saja pada Tuan."
Bukannya terlihat senang, wajah Bella malah nampak murung, dan hal tersebut tentu membuat kening Jo mengernyit. Jo menepuk salah satu bahu Bella sambil bertanya. "Nona, anda baik-baik saja?"
Bella mengangkat kepalanya dan berusaha untuk tersenyum. Dari pada memikirkan William terus-menerus, lebih baik di pergi bersama Jo untuk berbelanja bahan pokok.
"Aku tidak apa-apa. Oh iya, Asisten Jo, apakah anda memiliki acara hari ini? Aku ingin belanja tapi Tuan tidak mau mengantarku," ujar Bella, dalam sekejap gadis itu kembali terlihat ceria. Sungguh sangat ajaib.
"Kalau begitu biar saya yang temani. Kebetulan hari ini saya ada waktu kosong," jawab Jo yang membuat senyum di bibir Bella semakin lebar.
"Kalau begitu tunggu di sini sebentar, aku ingin bersiap-siap dulu," ucap Bella, kemudian berlari ke arah kamar. Jo menelisik pergerakan gadis itu, kemudian dia pun ikut melangkah untuk mencari keberadaan William.
Jo mengetuk pintu kamar William, tetapi tidak ada sahutan. Dan dia sangat yakin bahwa pria itu sedang menyibukkan diri di ruang kerja.
"Tuan, saya sudah memberikan ponsel pada Nona Bella. Dan kami berencana untuk keluar, dia bilang ingin belanja bahan makanan," ucap Jo melapor sekaligus izin untuk membawa Bella.
William yang saat itu sedang berdiri di depan jendela hanya mengangkat satu tangannya. Menandakan bahwa ia mengizinkan Jo membawa gadis itu pergi dari apartemennya.
"Kalau begitu saya pamit, Tuan," ucap Jo lagi, dan William tak memberikan respon apa-apa.
@@@
Setelah lelah mengitari pusat perbelanjaan. Jo dan Bella memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Lagi pula semua kebutuhan sudah mereka beli, kini tinggal perut saja yang perlu mereka isi.
Saat pesanan datang Bella bertepuk tangan girang, persis seperti seorang gadis pada umumnya. Melihat itu Jo pun ikut tersenyum, merasa senang karena Bella masih bisa seceria ini, padahal William suka bersikap kasar dan juga semena-mena.
"Asisten Jo, makanlah, kalau tidak aku yang akan habiskan semua ini," ucap Bella dengan mulut penuh, saat melihat Jo melamun.
"Ah iya, Nona, saya juga tidak keberatan jika anda ingin menghabiskannya," balas Jo, kemudian menyantap makanannya.
"Haish, aku hanya bercanda," kekeh Bella, bersama dengan Jo ia jauh lebih bisa mengekspresikan perasaannya. Seolah tak ada pembatas di antara mereka.
Hingga sampai pada titik Jo mengatakan sesuatu tentang William, Bella langsung berhenti mengunyah, bahkan tawanya hilang seketika.
"Saya harap Tuan William juga bisa bersikap normal seperti kita. Bukankah manusia butuh tertawa?"