Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
".. Siapa bilang rindu itu berat? Yang berat itu saat aku merindukan orang yang mencintai orang lain.. "
Ucu Irna Marhamah
***
•••Raihan Alfarizi•••
Aku sedang mengerjakan tugas matematika didalam kelas. Tidak ada guru.
Semua guru sedang rapat untuk kenaikan kelas. Sebentar lagi aku akan naik kekelas sembilan.
Pasti merepotkan.
Rajin belajar
Ujian sekolah
Ujian praktek
Ujian nasional
Tiada hari tanpa ujian. Aku benci pelajaran alam yang benar-benar sulit.
Berbeda dengan matematika yang mudah dihitung dan mudah dipahami.
Biologi, Kimia, Fisika.. Sepertinya otakku bukan diciptakan untuk itu.
Namun aku mengagumi anak IPA yang mampu mempelajari itu semua.
Jika aku masuk SMA aku mau masuk jurusan IPS saja dan aku akan mengucapkan selamat tinggal pada 3 pelajaran membosankan itu.
Aku segera menyelesaikan tugasku.
Terdengar langkah kaki memasuki ruang kelas. Pandanganku tertuju kepada seorang guru muda yang terlihat berwibawa itu.
"Assalamualaikum," salamnya.
"Wa'alaikum salam," jawab kami semua serempak.
"Tugas matematikanya selesai?" tanya guru yang bernama Abizar itu.
"Belum, Pak." jawab seisi kelas serempak kecuali aku.
"Kamu sudah selesai?" tanya Pak Abizar kepadaku. Aku mengangguk.
"Sudah pak" jawabku.
"Wah hebat sekali. Sini, saya mau melihat hasilnya." kata pak Abizar.
Aku bangkit dari bangku tempat dudukku. Semua siswa kelas bersiul. Aku hanya tersenyum simpul menanggapi mereka.
Aku memberikan hasil kerjaku pada pak Abizar.
Beberapa menit pak Abizar memeriksa jawaban dari setiap soal.
"Bagus, semuanya benar. Sebaiknya kamu masuk IPA ya, kalau SMA." kata pak Abizar.
Aku memberanikan diri untuk bertanya. "IPA? Maaf pak, bukankah di IPS ada pelajaran Ekonomi ya, agar saya lebih senang dengan mata pelajaran menghitung ini?" tanyaku.
"Itu benar.. Tapi di IPA semuanya ada, Matematika, Ekonomi dan Fisika. Tiga pelajaran itu menghitung. Berbeda dengan IPS ada matematika dan Ekonomi saja," kata pak Abizar.
Terserah saja, aku tetap mau masuk jurusan IPS.
"Iya, Pak." kataku mau mengakhiri percakapan yang mulai membuatku bosan .
"Iya, silakan kembali duduk." kata pak Abizar.
Aku pun kembali duduk. Pak Abizar kembali menjelaskan materi.
Ini akan semakin membosankan. Aku ingin segera masuk SMA saja.
Bel berbunyi 4 kali menandakan semua siswa dan siswi SMP Nusa Bangsa diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
Aku duduk dibangku taman didekat sekolah. Seperti biasa, menunggu hari semakin sore.
Entah kenapa belakangan ini aku merasa sangat bosan.
Bosan..
Bosan...
Bosan....
Aku melihat ada banyak coretan dibangku taman yang kududuki ini.
Ada begitu banyak.
Sampai aku melihat ada gambar anak laki-laki yang memakai pakaian olahraga dengan tanduk setan menghiasi kepalanya.
Ada tulisan disampingnya.
Menyebalkan.. Menyebalkan.. Dia anak laki-laki yang gila.. Sangat gila..
Aku tersenyum kecil melihatnya. Aku tahu gambar anak laki-laki itu pasti aku.
Lalu yang membuatnya dan menulis ini adalah si teropong itu. Karena ini bangku taman yang sering di gunakannya untuk menunggu seseorang waktu dia masih sekolah disini.
Menyebalkan.
Tapi aku malah tertawa. Entahlah kata-kata ini menggelitik hatiku.
Lalu memutuskan untuk segera pulang, karena beberapa menit lagi aku harus berjualan nasi goreng.
Aku menuju ke tempat parkir dan aku menaiki motorku kemudian segera pulang.
Sesampainya di rumah, aku mendapati kak Rizal yang sedang membereskan wadah-wadah besar yang isinya nasi ke motornya.
"Kak," aku menyapanya.
"Han.. Sudah pulang?" tanya kak Rizal. Aku mengangguk kemudian mencium tanganya.
"Assalamualaikum, Kak"
"Wa'alaikum salam" jawab kak Rizal.
"Sini, aku bantu." kataku.
"Mandi dulu sana, lalu makan. Nanti kamu boleh bantu kakak," kata kak Rizal.
"Hmm baiklah," kataku kemudian memasuki rumah.
"Babaaaang" baru saja aku masuk, aku sudah disambut pelukan hangat Lala.
"Kamu bikin babang terkejut," kataku sambil mencubit kedua pipinya.
"Lala, Babang Rai mau mandi dulu, kamu ikut Mama yuk ke terminal." kata kak Riska yang sedang membereskan wadah kap.
"Gak mau, Lala mau main sama Babang," gerutu Lala sambil mengeratkan pelukannya keperutku.
"Lala.. Kamu gak mencium bau tubuh Babangmu itu?" goda kak Riska.
"Babang gak bau, Babang wangi." kata Lala tidak mau kalah.
"Tidak apa-apa Kak, Lala mau ikut mandi sama Babang?" tanyaku.
Seketika Lala melepaskan pelukannya. "Tidak mau!" teriaknya sambil menutupi wajah manisnya dengan kedua tangannya dan berlari keluar.
Aku dan kak Riska tertawa melihat tingkah lucunya.
Aku segera mandi dan makan kemudian mengantar kak Riska ke terminal. Kak Rizal juga membawa barang-barang lainnya dan membonceng Lala didepannya.
Sesampainya di terminal, kami membereskan semua barang kami. Kak Rizal hari ini membantu karena dia pulang cepat dari pabrik.
Lala juga membantu membereskan sendok dan botol-botol saus dan kecap dimeja.
Kak Rizal membereskan kursi dan meja, sementara aku membantu kak Riska membuat nasi goreng dan menyajikannya atau membungkusnya.
Aku melirik ke sekitar terminal. Siapa tahu gadis teropong itu kemari lagi.
Aku hanya ingin tanya kenapa dia pindah. Aku tidak mau kalau dia pindah karena ulahku.
Jika dia pindah bukan karena ulahku, maka aku akan tenang.
Tapi jika dia pindah karena ulahku, bisa-bisa aku merasa bersalah seumur hidupku.
"Dia tidak akan kemari, Raihan." kata kak Riska.
Aku terkejut dan serta merta menatap kak Riska. "Apa? Kakak tahu? Kenapa dia tidak akan kembali? Apa gadis itu tahu kak Riska adalah kakakku?" aku memberondong kakakku dengan bebagai jenis pertanyaan.
"Gadis?" tanya kakakku yang terlihat heran kemudian kakak menatapku penuh selidik. Aku bingung melihat ekspresi keheranan dari wajah cantik kakakku itu.
"Iya, Kakak membahas gadis yang berkacamata itu 'kan?" tanyaku memastikan.
"Kakak bicara soal bu Lina, bu Lina tidak akan kemari, karena pindah ke Surabaya." kata kak Riska.
Skakmat
Kak Riska pasti akan menggodaku lagi. Kenapa juga aku malah bertanya soal gadis itu?
Kak Riska tersenyum geli. "Kamu merindukannya ya? Oh kakak akan beri tahu dia saat dia kemari" kata kakakku.
"Ah tidak kak, jangan kak jangan. Nanti dia malah berpikir yang bukan-bukan tentangku, apa Kakak tidak kasihan?" kataku memelas. Tak lupa puppy eyes yang menghiasi kedua mataku.
Kak Riska malah tertawa, "Kalau begitu katakan, kau merindukan dia 'kan?" goda kakakku.
"Tidak kak, tidak." kataku menggerutu. "Jujur saja, dia gadis yang baik. Kakak suka kalo kamu dekat sama dia," kata kak Riska.
Aku menatap kak Riska. "Kakak ini bicara apa?" kataku pelan. "Tapi, sepertinya dia anak orang kaya, aku takut orang tuanya malah membencimu jika kau terlalu dekat dengan dia, seperti aku dulu," gumam kak Riska.
"Aku tahu, apalagi kakaknya, dia yang pastinya akan lebih banyak bicara, tapi tidak masalah.. Akan kubuat semua orang berada dipihakku.."
Raihan Alfarizi
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya