novel modern yang mengangkat legenda ilmu Kanuragan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Kebutuhan
Kemeriahan malam baru saja dimulai. Taupan melangkahkan kaki keluar dari rumahnya. Yah, rumahnya. Rumah yang baru ia beli tadi sore. Rumah dua lantai yang terkenal angker dan susah laku. Taupan kini mengenakan sepatu hitam mengkilap dan stelan jas warna biru navi plus dasi warna merah. Layaknya seperti orang kantoran. Tapi ini malam, Taupan cuek saja dan kantong jasnya penuh dengan uang tunai. Taupan melenggang meninggalkan rumahnya, bahkan plang DIJUAL yang terpampang di halaman depan tidak ia copot. Entah lupa atau tidak perduli, lampu rumah pun tidak ia nyalakan.
Sesampainya di muka sebuah pub, ia tampak merapikan rambut panjangnya yang kini lurus dan tergerai indah. Ia sampai ke situ karena iseng mengikuti wanita-wanita muda yang berjalan cekikikan dengan sesamanya. Satu langkah lagi ia sampai pintu pub itu. Tapi dadanya di sergah oleh seorang penjaga yang tidak kalah tinggi dan besar seperti dirinya.
"Sepertinya, anda baru ke sini yah?" ujar si penjaga itu dengan nada yang datar seperti robot tak berperasaan. Taupan tidak mau ambil pusing, ia rogoh saku dan memberikan penjaga itu sekepal uang tunai. Sang penjaga pun nyengir dan mempersilahkan Taupan untuk masuk.
Lampu kelap-kelip dan irama musik yang nge-beat segera menyambut Taupan. Taupan cengar-cengir sendiri. beberapa wanita atau pelayan segera menyambut dan mempersilahkan Taupan untuk duduk.
"Silahkan Bos, lewat sini, boleh saya temani?" ramah dan senyum wanita muda itu membuat Taupan sumringah.
"Ah, ayo, kamu saja yang temani saya, itu, di situ," ucap Taupan sambil menunjuk selingkar sopa merah yang kosong.
"Ayo," jawab wanita itu dan tiga temannya beralih ke tamu yang lain yang juga baru datang di belakang Taupan.
"Bos, baru pulang ngantor yah, sendirian aja," ucap wanita centil itu. Bibirnya merah dan pipinya menor. Tak jemu-jemu Taupan memandangnya dengan senyuman kagum.
"Iya, saya mau santai aja," jawab Taupan sambil duduk.
"Oh iya Bos, nama saya Jesi," ucap wanita itu sambil menjulurkan jemari lentiknya yang sepertinya halus. Dan benar saja, jemari itu harus sekali Taupan rasa.
"Panggil saya, Bos Taupan, sang penguasa Alas Ketuon. hehe," ucap Taupan.
"Ah, Bos bisa aja, mau saya ambilkan minum Bos?"
"Tentu, tentu, ambilkan yang paling enak dan paling mahal, hehe, ini uangnya," jawab Taupan sambil merogoh saku dan memberikannya pada Jesi.
"Dih, nanti aja Bos bayarnya, hihi, becanda aja ah. Kami percaya kok, Bos punya banyak uang."
Sementara Jesi berlalu, Tatapan Taupan menemukan seorang perempuan yang sedang termenung di sudut remang. Rambutnya lurus, tipis kekuningan. wajahnya lembut tampak pucat dan tatapannya sayu. Cantik sekali Taupan rasa. Otak Taupan jadi menilai, bahagia sekali kalo sampai ia memperistri perempuan itu. Kembali Taupan nyengir sendiri, asik sendiri dengan khayalannya.
Jesi datang dengan se-nampan cemilan, minuman, gelas dan satu buket kecil es batu.
"Ini Bos, saya tuang yah."
"Iya, iya," jawab Taupan tanpa menoleh. Tatapannya tetap tertuju ke gadis pilu itu.
"Mmm, Jesi, kamu kenal tidak, tuh, gadis itu," tunjuk Taupan.
"Yang mana? yang itu, yang lagi duduk sendiri itu?"
"Iya, iya."
"Oh, itu anak baru, masih kaku, tadi sore habis dimarahi sama Bos Besar, menjatuhkan gelas. Namanya Sindy."
"Bisa kamu panggil ke sini, kasihan dia sendirian aja, oh iya, apa dia sudah punya suami?" tanya Taupan kemudian.
"Duh, Bos bercanda aja ah, kami semua single Bos, saya aja masih perawan," canda Jesi membuat Taupan bersemangat.
"Bentar ya Bos, saya ajak dia dulu yah."
"Yah, yah, sana."
Tidak lama kemudian, Jesi kembali dengan perempuan bernama Cindy itu.
"Sini, sini, duduk," sambut Taupan. Gadis itu pun tersenyum kaku dan duduk di samping Taupan. Tercium bau tubuh gadis itu seperti bunga yang baru mekar. Lebih wangi dan terasa alami daripada bau tubuh Jesi. Tubuh Jesi terlalu menyengat Taupan rasa.
***
Sesampainya di rumah, Dul Karim menerima telepon dari atasannya. Kabar luar biasa Dul Karim terima. Teo berhasil kabur dari penjara, begitupula dengan Don Lee. Dul Karim tampak kecewa.
***
Satu jam berlalu, Taupan, Jesi dan Cindy sudah tampak akrab. Gelas pertama mereka tampak kagok, pembicaraan dan interaksi dengan kagok. Gelas kedua, rasa malu dan canggung mulai hilang. Gelas ketiga dan keempat habis mereka tenggak dan mereka jadi akrab dan pembicaraan pun seperti tidak ada batas kesopanan atau kepantasan. Bahkan Jesi berani menilai, kalo Taupan kuat di ranjang dan begitu Taupan jawab apa adanya, bahwa dia belum pernah naik ranjang sama perempuan, Jesi dan Cindy tidak percaya dan mereka kembali tertawa.
"Saya serius, haha, oh iya, itu juga alasan saya datang kemari haha."
"Bos, ayo Bos, sama saya aja," bisik Jesi dengan senyum nakal. Taupan jadi senang.
"Aku ikut!" sahut Cindy. Sejenak Jesi dan Taupan saling pandang aneh. Tapi lantas keduanya tertawa.
"Ya udah ayo, kamu mau lihat atau ikutan, hahaha," seloroh Jesi.
"Ayo, serius nih, saya baru beli rumah, gak ada siapa-siapa di rumah saya. Ayo!" ajak Taupan. Cindy mengangguk dan meraih Jesi. Seperti seorang adik yang ingin ikut sang kakak.
"Aku ikut Kak!"
"Ya udah ayo, sebentar, saya yang urus administrasinya dulu ya Bos, ayo Sin," ajak Jesi.
Walau tampang Taupan tidak ganteng, bahkan terkesan sangar dan seperti tukang pukul. Tapi entah kenapa, Cindy yang masih polos dan Jesi yang sudah berpengalaman sungguh percaya dan nyaman bersama Taupan. Banyak uang yang Taupan keluarkan. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan kebanggaan di hati Taupan yang kini sempoyongan sambil menggandeng dua gadis cantik yang wangi-wangi yang seksi-seksi.
up
up