NovelToon NovelToon
Lelahnya Seorang Istri

Lelahnya Seorang Istri

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Angst / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:200.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: roliyah

Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.


Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.

Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.

Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Pagi ini Kinanti bingung mau masak apa, sebab uangnya tinggal dua belas ribu. Jika ia pakai belanja buat beli sayur, terus buat jajan Amar dan Sasa tidak ada. Untuk meminta lagi ke suaminya pasti Yoga akan marah-marah.

"Apa aku ngutang aja ya ke warung."

Daripada nggak makan, Kinanti akhirnya memutuskan untuk menghutang saja, walau terpaksa. Biarlah, nanti ia cari cara untuk bayar hutangnya.

Kinanti segera pergi ke warung dan kebetulan ibu warungnya baik, membiarkan Kinanti menghutang sayuran.

Selesai beli sayuran, Kinanti segera pulang dan memasaknya.

Kinanti tersenyum melihat hasil masakannya sudah matang semua. Tidak lama Amar dan Sasa bangun dan seperti biasanya, Amar dan Sasa rebutan kamar mandi.

"Adek dulu yang mandi," ucap Sasa kekeuh.

"Abang dulu." Amar tidak mau kalah.

Kinanti segera melerai pertikaian kedua anaknya.

"Adek, biarkan Abang mandi lebih dulu," ucap Kinanti menengahi perdebatan kedua anaknya.

"Wlee...." Amar menjulurkan lidahnya, mengejek Sasa yang kalah lagi merebutkan kamar mandi.

"Mama ... Harusnya kan adek dulu mandinya," protes Sasa, sambil merengut manyun.

"Abang kan sekolahnya masuk pagi. Kalau adek kan masuknya siang." Kinanti memberi pengertian, agar Sasa tidak lagi protes soal siapa yang mandi duluan.

Sasa semakin memanyunkan bibirnya, mendengar perkataan sang mama.

Setelah Amar selesai mandi, kini giliran Sasa yang mandi, dan selama Sasa mandi, Kinanti membangunkan Yoga.

"Mas, bangun sudah pagi."

"Hm...." Sahut Yoga malas. Lalu, Yoga bangun dan meregangkan otot tubuhnya. Setelah itu Yoga segera mandi. Sedangkan Kinanti membereskan tempat tidur.

Kinanti melipat selimut, dan tiba-tiba terdengar suara dering ponsel milik Yoga.

Kinanti melihat siapa gerangan yang menelpon suaminya pagi-pagi.

"Dita manis...." Kinanti membaca nama panggilan yang menelpon suaminya.

"Siapa Dita manis?"

Seketika hatinya menjadi resah melihat nama kontak yang menelpon Yoga.

Dari pada penasaran, Kinanti mengangkat telpon tersebut.

Baru saja akan menggeser tombol hijau, Yoga merebutnya dengan gerakan cepat.

"Berani kamu pegang-pegang hape ku!" Sentak Yoga.

"Kenapa? Apa ada yang kamu sembunyikan di hape kamu," sahut Kinanti kesal.

"Apaan sih. Nggak penting banget kamu ngomong kayak gitu," sahut Yoga semakin kesal.

"Nggak penting kamu bilang! Lantas siapa tuh yang nelpon kamu! Siapa Dita manis?" Tanya Kinanti berapi-api.

"Bukan urusan kamu," jawab Yoga dingin.

Kinanti mengepalkan tangannya penuh emosi. Kinanti yakin kalau Yoga punya hubungan spesial dengan yang namanya Dita manis.

"Baiklah jika kamu nggak mau ngaku. Biar aku sendiri yang cari tahu." Ucap Kinanti di hatinya.

Kinanti menghela napas panjang dan membuangnya perlahan. Kinanti menetralkan kembali moodnya demi kedua anaknya. Kinanti tidak ingin kedua anaknya melihatnya dengan wajah penuh amarah.

Amar dan Sasa sudah duduk di meja makan. Kinanti memasang senyum terbaiknya, lalu mengelus kepala Amar dan Sasa.

"Ayo makan, Sayang," suruh Kinanti kepada Amar dan Sasa.

"Iya, ma," jawab Amar.

Tidak lama Yoga bergabung dan Yoga segera melahap sarapannya.

"Pa, minggu depan jalan-jalan yuk. Papa udah lama nggak pernah ngajakin adek jalan-jalan lagi," seloroh Sasa.

"Nggak bisa. Minggu depan papa0 pergi ke luar kota, lain kali saja ya," jawab Yoga.

Wajah Sasa berubah murung. Padahal Sasa sangat ingin jalan-jalan dengan papanya, bahkan Sasa sendiri lupa kapan terakhir kali jalan-jalan.

Kinanti ikut sedih dengan penolakan Yoga.

Selesai sarapan, Yoga segera berangkat kerja. Kinanti segera mengejar Yoga sebelum meninggalkan rumah.

"Mas, tunggu!"

Yoga yang akan masuk ke dalam mobil menghentikan gerakannya. "Apa? Jangan bilang kalau kamu minta duit lagi," ucap Yoga sedikit ketus.

"Bukan ... Bukan itu. Aku cuma ingin mas mengabulkan permintaan Sasa."

"Aku kan sudah bilang, aku nggak bisa."

"Tapi mas, hari Minggu Sasa ulang tahun. Apa mas nggak bisa meluangkan sedikit waktu buat nyenengin Sasa."

Yoga melupakan hari bahagia putrinya, tapi hari Minggu ia sedang berada di kota lain, demi urusan pekerjaan.

"Aku usahakan meluangkan waktu untuk Sasa," ucap Yoga, kurang yakin.

Kinanti tersenyum senang mendengarnya. Akhirnya Yoga bersedia meluangkan waktunya untuk Sasa.

"Semoga saja suaminya bisa menepati janjinya." gumam Kinanti di benaknya.

Yoga segera masuk ke dalam mobil dan bergerak meninggalkan halam rumah.

***

Selesai mengantarkan Sasa sekolah, Kinanti membuka lemari pakaiannya. Ia mengambil sebuah kotak beludru berwarna merah.

Kinanti membuka kotak tersebut dan mengambil sebuah kalung. Dipandanginya kalung tersebut, kalung itu adalah mas kawinnya. Kinanti sengaja tidak memakainya, karena Kinanti tipikal orang yang tak suka memakai perhiasan.

"Hanya ini benda yang bisa aku jual."

Ya, Kinanti berniat menjual kalung tersebut. Dengan kalung itu, Kinanti bisa membuat kue ulang tahun untuk Sasa, juga buat makan sehari-hari.

Siangnya Kinanti menjemput Sasa dan Amar. Kinanti mengajak Amar dan Sasa ke toko mas.

Selesai menjual kalungnya, Kinanti mengajak Amar dan Sasa ke minimarket, sengaja Kinanti membeli apa yang kedua anaknya sukai.

"Sudah itu aja," kata Kinanti.

"Iya ma ini aja," sahut Amar.

Kinanti segera membayar belanjaannya. Setelah itu Kinanti dan kedua anaknya duduk di teras mini market.

Seorang ibu-ibu datang menghampiri Kinanti dan menawarkan dagangannya.

"Bu, kripik bayam nya."

"Berapaan memangnya, Bu?" Tanya Kinanti.

"Delapan ribuan," jawab si ibu.

"Saya beli dua bungkus aja, Bu."

Dua bungkus kripik bayam sudah beralih ke tangan Kinanti dan Kinanti membayarnya.

"Ma, itu bukannya papa ya,." Tiba-tiba Amar berseloroh menunjuk ke arah dimana Yoga berada.

"Mana?" Sahut Kinanti sambil melihat yang di tunjuk Amar.

"Papa masuk ke dalam rumah makan itu, tapi sama perempuan," tukas Amar lagi.

"Perempuan?" Beo Kinanti. "Abang salah lihat kali. Papa kan pasti masih di kantor," lanjut Kinanti berkata.

"Nggak, ma. Abang yakin kalau itu papa. Bajunya juga sama yang di pakai papa tadi pagi."

"Apa mungkin benar itu mas Yoga, tapi kan jam segini mas Yoga masih di kantor. Kalau benar itu mas Yoga, terus perempuan yang bersamanya siapa?" Batin Kinanti.

Jangan-jangan perempuan yang dimaksud Amar adalah Dita manis, perempuan yang tadi pagi menelpon suaminya.

"Ayo ma, kita ke sana," timpal Sasa.

Kinanti mengangguk. Kinanti ingin tahu, apa benar perempuan itu adalah Dita manis.

Kinanti dan kedua anaknya segera mendatangi rumah makan itu. Kinanti mencari-cari dimana suaminya duduk.

"Mana papa? Kok nggak ada," cetus Sasa.

"Abang salah lihat kali," timpal Kinanti.

"Nggak ma, Abang nggak salah lihat. Tadi tuh papa." Amar sangat yakin kalau yang masuk ke rumah makan ini, itu paparnya.

Amar memperluas pandangannya mencari keberadaan papanya.

"Nah, itu papa." Amar menunjuk ke arah Yoga, yang ternyata Yoga dari toilet.

"Benar itu papa," timpal Sasa.

Kinanti terdiam melihat Yoga menghampiri perempuan berambut sebahu.

Hati Kinanti semakin perih melihat betapa manisnya Yoga tersenyum kepada perempuan itu. Di tambah sakit lagi, melihat perempuan itu mengelus lengan Yoga, dan Yoga membiarkan lengannya dielus-elus perempuan itu.

Tanpa Kinanti sadari, Sasa berlari mendekati Yoga.

"Papa...!"

1
Sri Muryati
Luar biasa
Andriyati
nah kerja di perusahaan besar pasti gaji besar, biaya makan dan perawatan istri aja kikir,, aneh kamu,, mw istri cantik tapi dana sulit,, cihhh
Andriyati
sok banget kamu,, ngasih uang seuprit nuntut nya sak gunung kamu
kkha1010
Luar biasa
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
jujur paling ngak suka sma org hamil minta yg ngak², syukurin ada uang buat beli tiket pesawat..
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
Mulutnya Kevin ember bangat..,mereka pisah atau ngak seharusnya Kevin ngak bisa ngomong kayak gitu ama anak²..
harwanti unyil
semoga cepet sehat dn bisa berkumpul sama" lagi
Wongkito Galo
Kecewa
Wongkito Galo
Lumayan
Fitri Oktaviyani
hmmmmmmm ceritanya beda dri yg lain biasanya pengkhianatan berakhir perceraian tp ini beda ending nya bikin bahagia banget 😄😘
Soraya
mksh y thor karyanya🙏👍
Soraya
jejak vote satu
Dewi Dama
bagus bangat end nya..jln ceritanya juga..bagus..tdk ber tele2..terimksih thoorrr...
Soraya
buat nraktir mkn perempuan ada uang buat anak istri gak ada
Soraya
lima ratus buat sebulan, dh gitu masaknya diblg ga kreatif, dia milih mkn diluar, pdhl klo dia mkn diluar bsa hbis lima puluh ribu, sedangkan istri nya diksh lima puluh ribu buat dua minggu, pdhl kerja suami nya dipertambangan, 🤔
Dewi Dama
cerita nya bagus...padat dan singkat...
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak
Ra2_Zel
yang punya aplikasi F I z z O mampir yuk ke novel ku. Judulnya Bitter Wedding ( Dendam & Cinta )
kurnia rahayu
👍👍👍❤❤❤
Dinda
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!