Revisi dari novel yang lama judulnya 'Maid make me crazy'
.
.
Annastasya Arrabella
Kebangkrutan keluarganya mengharuskannya mencari uang sendiri untuk kuliahnya, dirinya terpaksa menjadi seorang maid, karena hanya itu tawaran yang datang padanya.
"Bagaimana mau tidak jadi maid?"
"Apa? Maid...?"
"Baiklah tak ada pilihan lain"
__________
Roland Zain Abraham.
Ceo, tampan,dan mapan juga seorang Casanova penakluk wanita,dirinya harus menahan hasratnya pada seorang maid yang dianggapnya bukan levelnya.
"Maid itu? haha..tidak dia bukan level ku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8- Dia..?
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Alden dan Ben memasuki ruangan Roland namun temannya itu malah sedang melamun menatap layar di ponselnya.
"Tidak" Roland lantas menutup ponselnya yang sejak tadi menampilkan layar CCTV Apartemen nya "Ada apa, bukankan rapatnya setengah jam lagi?" Mereka sama sama punya saham yang sama di perusahaan yang mereka dirikan dan memutuskan Roland sebagai CEO karna diantara mereka Roland lah yang paling kompeten, meski terkenal playboy namun Jika sedang bekerja Roland akan bersungguh sungguh.
"Apa kami tak boleh menemui sahabat kami begitu?" kata Ben.
"Ayo lah Land kami kemari ingin mengajakmu nanti malam Ben akan merayakan hari hari akhir lajangnya sebelum menikah kau tau dia menyetujui dijodohkan dengan anak rekan bisnis paman Aaron?"
"Really?"
Alden hanya mengangguk.
"Aku tidak menyangka akan kehilangan salah satu genk kita" kata Roland sambil terbahak.
"Aku hanya menikah, tidak untuk keluar dari genk,mana mungkin aku bisa hidup dengan satu wanita" Ben menanggapinya dengan santai.
"Sial jika begitu kenapa harus merayakan hari lajang mu segala" Roland menggulung berkas lalu memukul kepala Ben.
"Itu hanya alasan saja, lagi pula dia juga wanita bebas kurasa dia tak akan keberatan dengan kebebasanku"
"Memang siapa dia?"
"Kau benar benar tak tau?" kata Alden heran biasanya Roland tau semuanya.
"Akhir akhir ini aku sibuk jadi tak sempat melihat berita" Roland meraih cangkir kopinya
"Dia Caroline model yang sedang naik daun itu"
Byur..
"Hey!!" beruntung kopi tersebut tak mengenai Alden dan Ben yang ada di depannya.
"What Caroline, Caroline rosewell?"
"Tidak perlu kaget seperti itu" kata Ben.
Astaga Roland tak percaya semalam dia mengahabiskan waktu dengan calon istri Ben '****' umpatnya.
_________
"Apa aku terlambat?" Anna tiba dikampus dengan terengah dirinya langsung berlari dari taksi yang dia tumpangi dan menuju kedalam kelas.
"Hampir" kata Vero "Bagaimana harimu bekerja di rumah seorang Casanova " Vero mengedipkan sebelah matanya.
"Menyebalkan.. kau tau setiap malam aku harus mendengar suara suara laknat, telinga ku sampai ternoda, tidak tidak mataku juga ternoda." Anna mendesah "Aku juga sekarang malah terjebak dan tak bisa mengundurkan diri.. Sial"
"Ku dengar dari Aunty Jesica dia amat tampan? aku hanya pernah melihatnya dari jauh, katanya lebih dekat lebih tampan?"
"Cih untuk apa tampan tapi suka celup sana sini menjijikan"
"Jangan seperti itu nanti kau malah jatuh cinta padanya"
"Tidak akan" tegas Anna
Tak berselang lama kelas pun dimulai,beruntung kelas kali ini tak berlangsung lama hingga Anna bisa pulang sebelum tuannya pulang. "Aku pulang dulu" kata Anna.
"Ah.. tadinya aku mau mengajakmu ke club nanti malam"
"Aku ingin tapi mana bisa aku belum tau celah untuk keluar tanpa diketahui si tuan mesum itu, beruntung hari ini dia sedang bekerja entah alasan apa yang akan aku berikan besok untuk kuliah"
"Ya sudah tak apa lain kali saja"
"Baiklah aku pergi dulu" Anna bergegas memasuki taksi untuk pulang. Begitu tiba Anna mendesah lega majikannya belum pulang.
"Aku harus segera bicara kalau aku kuliah, tapi bagaimana caranya" Anna merebahkan dirinya di tempat tidur sebelum mendengar pintunya diketuk.
"Anna kau di dalam" Anna membuka pintu.
"Oh Dev ada apa?"
"Aku datang memberikan ini" Dev memberikan sebuah kartu "Ini untuk uang belanja sehari hari, dan malam ini tuan tidak pulang, jadi kau tak perlu memasak makan malam"
"Benarkah?" Anna terlihat girang.
"Ada apa denganmu?" tanya Dev.
"Ah tidak hanya lega setidaknya malam ini aku tak akan di maki" kata Anna sambil terkekeh.
"Sebenarnya tuan Roland orang yang baik asal kau tak membuat masalah, jadi gunakan malam ini untuk mempelajari semua yang harus kau lakukan agar tak ada kesalahan lagi"
"Baik"
Setelah menyampaikan itu Dev pergi dari Apartemen Roland. Anna menjerit senang "Ah malam ini aku bebas jadi aku bisa mengambil tawaran Vero untuk ke Club."
Anna mengambil ponselnya "Hallo Vero?"
.
.
Suara musik berdentum keras aroma alkohol dan asap rokok menusuk hidung, namun tak menyurutkan semangat para pecinta dunia malam, mereka terus bergerak seiring hentakan demi hentakan musik yang menggema.
Vero dan Anna baru saja tiba dan langsung menuju lantai dansa Anna terlihat se xy dengan memakai gaun tanpa lengan yang pres body. hampir setengah jam mereka berjoget namun Vero menggeret Anna untuk duduk di meja dekat bartender."Kita minum dulu"
"Jangan mabuk, aku tak mau mengantarmu pulang dalam keadaan mabuk" cegah Anna.
"Tenanglah, aku hanya minum beberapa gelas tak akan mabuk"
Seperti biasa Anna hanya minum jus, selalu begitu Anna tak ingin mabuk dan kehilangan kewarasannya Anna hanya butuh menari dan berteriak teriak.
"Sudah ayo kita dansa lagi"
Vero dan Anna pun kembali pada kerumunan orang orang itu, ikut meliukkan tubuhnya dan bergoyang.
Dilantai dua di tempat VIP Roland bersama dua sahabatnya Alden dan Ben tengah bersenang senang pula di temani para wanita se xy di sisi mereka. Ben beranjak dari duduknya dan keluar ruangan bersandar di pagar pembatas dan melihat para manusia yang tengah berjoget. "Kau yakin kau siap menikah?" tanya Roland yang menyusul Ben.
"Entahlah, bagiku itu tak ada bedanya"
"Aku harap kau tak permainkan pernikahan, meski kita pria-pria brengsek aku harap jika sudah menikah aku akan mencintai istriku dan menjadikannya satu satunya." Roland menerawang jauh.
Ben melihat ke arah Roland "Kau tau sejak dulu aku tak punya pilihan, selalu di kekang untuk mengurus perusahaan Daddyku, termasuk cita-cita bagiku semuanya telah mati dan sama saja, untuk pernikahan sebenarnya itu bukan prioritas ku aku bahkan tak tau cinta itu apa, jadi tak masalah menikah dengan cinta atau tidak" kata Ben acuh. "Sudahlah aku tak mau pusing memikirkan itu,bagaiman kita cari mangsa malam ini?"
"Kau lupa di dalam sudah ada,ku kira Alden sudah memulai" kekeh Roland.
"Tidak aku mau cari yang berbeda" Ben mengedarkan pandangannya "Bagaimana dengan yang itu?" Ben menunjuk perempuan bergaun merah.
Roland melihat kearah yang ditunjuk Ben,namun fokusnya bukan kearah perempuan bergaun merah menyala,tapi perempuan di sebelahnya,sesaat Roland terpaku ditempatnya melihat perempuan bergaun hitam ketat sedang meliukkan tubuhnya,tiba tiba mata wanita bergaun hitam itu melihat kearahnya sambil terbelalak.
"Dia?" Meski pandangan nya remang remang namun Roland yakin pandangannya tak akan salah. Roland bergegas turun kelantai satu untuk memastikan pengelihatannya.