NovelToon NovelToon
Hati Sang Pewaris

Hati Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: La Lu Na

Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?

Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.

Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?

Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.

‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

❤ Perempuan itu memang pandai menyembunyikan perasaan. Se-hancur apapun hatinya, seorang perempuan bisa tetap menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik. Bisa dikatakan seorang wanita itu bisa menjadi pembohong ulung kalau soal hati.❤

Hari-hari berlalu sejak Aneesha mendapat kunjungan dari Papa kandungnya. Pagi ini gadis berwajah oriental itu nampak sangat bersemangat. Sebelum subuh dia sudah bangun, membantu Bundanya menyiapkan sarapan. Kini Dia sudah duduk bersama seluruh keluarga untuk menikmati sarapan bersama.

“Interviewnya jam berapa, Sha?” tanya Fares yang sedang menikmati sarapan.

“Jam sembilan, Yah. Do’ain ya, Ayah, Bunda!” jawab Aneesha singkat.

“Bunda do’akan yang terbaik untukmu, sayang.” Riani membelai lembut punggung Aneesha.

“Aamiin…..” Aneesha menangkupkan kedua telapak tangannya diwajah.

Hari ini Aneesha akan menjalani interview di sebuah Sekolah Menengah Atas milik sebuah yayasan yang cukup favorite di kota tempatnya tinggal. Beberapa hari yang lalu Aneesha juga sudah menjalani wawancara di sebuah sekolah Menengah Kejuruan dan tinggal menunggu jadwal mulai mengajarnya saja. Tapi karena jam mengajarnya sedikit jadi Aneesha merasa masih ingin menjadi pengajar di sekolah lain.

“Kalau ini diterima, kamu akan mengajar di dua tempat, Sha?” tanya Fares lagi.

“He'em. Aku hanya dapat jatah mengajar seminggu lima jam di sekolah itu, Yah.” jawab Aneesha yang masih menikmati makanan di piringnya.

“Kamu harus pandai membagi waktu, Sha.” Ucap Fares menasehati anaknya. Aneesha hanya mengangguk menanggapinya.

Tengah hari Aneesha baru keluar dari sebuah ruangan yang digunakan untuk interview. Sebuah ruagan yang biasa digunakan untuk rapat para guru dan karyawan sekolah tersebut. Aneesha keluar dengan senyum lebar mengembang di bibirnya.

“Alhamdulillah…..”gumamnya pada diri sendiri, seraya melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Menyusuri lorong-lorong kelas dan berpapasan dengan anak-anak berseragam atasan putih dan bawahan abu.

“Kak! Kak Neesha!” seorang gadis berteriak sambil berlari menghampiri Aneesha.

“Jenar?” Aneesha mengernyit melihat siapa yang sedang berlari menghampirinya.

“Gimana hasilnya?” tanya gadis itu terengah, mengatur nafasnya setelah berlari.

“Lolos, dek.” jawab Aneesha dengan wajah ceria yang sangat terlihat.

“Alhamdulillah….. selamat, ya Kak!”Jenar memegang kedua tangan Aneesha, sambil melompat kegirangan.

“Hussstt! Kamu jangan seperti ini, tuh diliatin temen-temen kamu.” Aneesha berbisik, menarik tangan Jenar agar berhenti melompat.

Seketika Jenar berhenti, dan menoleh ke kanan dan kiri. Wajahnya merah karena malu, mengetahui beberapa pasang mata sedang menatap kedua kakak beradik itu dengan heran.

“Habisnya, aku seneng Kak. Iiihh…. kakak jadi buguruku, embbhh…..” Jenar terkekeh geli sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sedangkan Aneesha hanya tersenyum karena tingkah adiknya yang kekanak-kanakan.

“Dah, sana masuk kelas! Kakak mau pulang.”

“Lho, koq pulang kak? Kirain langsung ngajar.”

“Nggak, Dek. Masih senin depan ngajarnya.”Aneesha mengelus satu pipi Jenar dan tersenyum lembut pada adik perempuannya itu.

Selesai interview, Aneesha tidak langsung pulang kerumah, melainkan mampir ke kantor Ayahnya. Jam istirahat sudah selesai saat Aneesha sampai disana, para karyawan sudah sibuk kembali dengan aktivitasnya masing-masing.

“Mau ketemu Pak Fares, mbak Aneesha?” tanya receptionist ketika Aneesha sudah masuk ke lobi kantor.

“Ayah didalam?” Aneesha balik bertanya kepada receptionist, dan mendapat jawaban berupa anggukan.

“Langsung masuk saja, Mbak.” kata receptionist yang mengenakan nametag bernama Davira itu sambil tersenyum.

“Kalau Kak Tara?” tanya Aneesha lagi.

“Pak Tara ada di ruangan Pak Fares juga, Mbak. Baru saja masuk,” jawab Davira.

“Makasih, ya, Mbak Davira.” Aneesha bergegas meninggalkan meja recertionist menuju ke ruangan ayahnya. Tanpa mengindahkan Davira yang mengangguk dan tersenyum ramah padanya.

Sudah lama rasanya Aneesha tidak menginjakkan kaki di kantor ayahnya ini. Dulu saat Ia masih kecil hampir tiap hari Aneesha datang ke kantor ini tiap pulang sekolah. Karena Riani sibuk mengurus dua adiknya, seringkali Fares membawa Aneesha bekerja setelah menjemputnya dari sekolah.

Setelah menemukan pintu ruangan Ayahnya, Aneesha segera membuka tanpa mengetuk pintu. Membuat dua pria yang sedang berbicara serius terkejut dan menatap kearah Aneesha.

“Apa aku mengejutkan kalian?” tanya Aneesha tanpa rasa bersalah, sembari masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.

Fares menghela nafas pelan, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Bukannya marah, Dia malah tersenyum pada Aneesha.

“Assalamu’alaikum, Ayahku.” sapa Aneesha sambil mengambil tangan Fares, kemudian mencium punggung tangannya.

“Wa’alaikum salam…..” jawab Fares dan Tara bersamaan.

“Apa yang membuatmu datang kemari, Sayang? Bagaimana interviewnya?” Fares sedikit mendongak menatap wajah Aneesha yang berdiri didepannya.

“Itulah kenapa aku kemari, Yah.” Aneesha berkata lesu. Dia melepas tangan Ayahnya yang tadi Ia genggam, kemudian berjalan menuju ke sofa yang ada di ruangan tersebut.

“Gak diterima?” tanya Fares santai.

“Bukan. Aku lolos interview, senin depan mulai mengajar.” jawab Aneesha dengan malas. Sekarang Ia sudah duduk menyandarkan kepalanya pada sofa..

“Lalu, kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?” Fares berdiri dan berjalan mendekat ke sofa sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana.

“Aku belum punya banyak baju untuk mengajar, juga buku panduan tambahan.” Aneesha mengerucutkan bibirnya sekarang. Fares sudah duduk disebelahnya.

“Bilang saja mau minta uang, kebanyakan basa-basi kamu.” Fares menyentil hidung Aneesha, sudah terbiasa Dia dengan sikap manja Aneesha yang hanya ditunjukkan pada dirinya itu.

“Hehe….. Ayah selalu pengertian. Tapi, tapi, tapi, Yah…. bukan cuma itu.” Aneesha bergelayut manja dibahu Fares.

“Apalagi?”

“Aku mau Kak Tara menemaniku belanja sekarang, ya?” Aneesha menengadah menatap wajah Ayahnya, lalu menatap Tara yang dari tadi duduk diam mendengarkan percakapan ayah dan anak itu.

“Mana bisa sekarang, Sha. Ini masih jam kerja.” Tara menoleh, menatap tepat di wajah Aneesha.

“Bener kata Tara, nggak harus sekarang juga kan? Kalau sekarang, Kamu bisa minta ditemenin Bunda.” jawab Fares keberatan dengan permintaan Aneesha.

“Kelamaan kalau harus pulang dulu, Yah. Ayah sendiri dulu yang bilang, aku bisa minta tolong Kak Tara kapanpun aku mau, kan?” Aneesha menarik kepalanya dari bahu Fares. Wajahnya berubah kesal.

Fares menghela nafas pelan,”Kamu sudah dewasa sekarang, Dia harus bekerja dengan profesional.”

“Iya, Sha. Karyawan lain bisa iri padaku kalau aku meninggalkan kantor di jam kerja.”

Aneesha mulai ngambek, diam tidak menjawab perkataan Fares maupun Tara. Biasanya kalau sudah begini Fares akan mengalah, menuruti semua keinginan anaknya itu. Tapi tidak untuk kali ini, Fares tidak mau menuruti permintaan putrinya.

“Kalau gitu weekend aja, deh. Ya?” tanya Aneesha kepada Ayahnya, masih mencoba merayu.

“tanya orangnya dong! Mau nggak Dia nemenin kamu.” Ucap Fares menunjuk Tara dengan dagunya.

“Kak?” Aneesha ragu melanjutkan kalimatnya. Biasanya Tara mau menuruti permintaan Aneesha karena disuruh Fares. Belum pernah Aneesha meminta sendiri pada Tara.

Tara mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Aneesha. Membuat gadis berkerudung warma mocca itu tersenyum lebar.

“Yess! Makasih Ayah!” Aneesha langsung berhambur kepelukan Fares. Lalu berdiri dan berjalan kedekati Tara, gadis itu menepuk bahu Tara beberapa kali.

“Makasih ya, Kak!”

“Sekarang Neesha mau pulang, dah Ayah, dah Kak Tara. Assalamu’alaikum….” tanpa menunggu jawaban Fares dan Tara, Aneesha membuka pintu, segera keluar ruangan karena keinginannya sudah terpenuhi.

Fares menggelengkan kepala beberapa kali dan tersenyum geli karena tingkah Aneesha. Tapi dahinya tiba-tiba mengernyit ketika melihat Tara juga sedang tersenyum dengan memandang pintu yang baru saja ditutup oleh Aneesha.

“Senyum apa itu? Kenapa Kau tersenyum seperti itu?” pertanyaan Fares mengejutkan Tara.

“Ng-gak Pak.” Tara membuang pandangannya ke segala arah.

“Jangan bilang Kau menyukai putriku, Tara.” Fares melirik Tara yang sekarang sudah salah tingkah dengan intimidasi atasannya itu.

“Mana berani Saya, Pak.” jawab Tara dengan gugup.

“ha ha ha….. “ Fares malah tertawa lebar. Ini pertama kalinya Tara terlihat gugup didepannya.

.

.

.

Bersambung......

Udah gak ada bawangnya, kan? Tinggalkan komen menarik, like dan kasih bintang 5 buat aku ya...!

Kalau ada yang kelebihan poin, boleh vote. Terima kasih.

salam hangat, hehe......

1
Yekti Utami
novel yg bagus, alurnya santai seperti kehidupan nyata....
Risty_Antiq
mas Tama... si duren sawit 😍😍😍
Risty_Antiq
recommend
Y.S Meliana
baru ketemu novel'y kak desi desma alias kak la lu na 😊😊😊
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊
Desi Desma: terima kasih🤩
total 1 replies
Chalimah Kuchiki
siapa suamiiii jenarrr wweeeh
Chalimah Kuchiki
kami? kami siapa suami jenar.... mungkinkah pak hara
Chalimah Kuchiki
diganti sama pak hara kesayangankuuuu
Maria Kibtiyah
sesuatu yang di paksakan pada akhirnya pasti tidak bahagia ... menyesal pada akhirnya
Maria Kibtiyah
ica anaknya si tara
Maria Kibtiyah
kayaknya yg tunangan indira itu hamzah deh
Maria Kibtiyah
semua orang tau apa yang bakal terjadi sama tara dan aness kecuali aness
Maria Kibtiyah
tuh cewek apakah si maria .. hehe namaku juga maria😁
Maria Kibtiyah
pasti berhubungan sama ortu angkat si tara
Maria Kibtiyah
apa yg nelp si reyfan itu indira secara indira kan di prancis
Maria Kibtiyah
kayaknya bpk angkat si tara gak setuju deh
Chalimah Kuchiki
🤣 ya ampun adik kecil udh ga polos wkkw perasan aku dulu pas MP ga gini weh wkwk tetep malu2 akunya ga kaya aneesha
Chalimah Kuchiki
cie pak hara udh ngobrol aama jenar
Chalimah Kuchiki
sabar ya pak hara ada jenar dimasa depan
Chalimah Kuchiki
hadir enyong dari kebumen 🤭
Chalimah Kuchiki
2012-2018 aku di jkt sering bolak balik ke tangerang. karena punya temen cina benteng terus mainnya ke pasar lama tangerang. sekarang aku dibalikppn dari akhir 2018. ah jadi kangen pasar lama tangerang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!