Sebuah perjalanan hidup anggota keluarga black economy.
Ranum Anatoly anak ketiga dari keluarga Loshad. Ranum adalah pria yang selalu fokus dalam setiap misinya. Dia tidak pernah melibatkan orang banyak untuk membantu misinya.
Misi pertama yang diberikan untuk Ranum saat usianya 18 tahun adalah bertemu dengan pembeli senjata terbesar di Australia yaitu Master Wu.
Tapi dari pertemuan itu, Ranum melihat banyak sekali kejanggalan yang merujuk pada hilangnya truk keluarga Loshad yang berhasil dicuri oleh orang tak dikenal disekitar Cowwabie.
Setelah berhasil menemukan fakta tentang truk keluarga Loshad yang hilang, Ranum segera menyerang Krowned Towers milik Master Wu. Setelah penyerangan Krowned Towers, Ranum menghilang bertahun - tahun.
Kemanakah Ranum menghilang? Apakah dia tewas saat penyerangan?
Ikuti terus novel Ranum untuk mengetahui perjalanan hidup Ranum Anatoly yang semakin penuh rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khebeleteee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMEN CINCIN
Dua hari setelah kejadian di krowned towers, Ranum mulai sadarkan diri. Seorang wanita yang sedang duduk di sofa datang menghampiri Ranum.
“Dimana aku ?” Ranum berbicara dengan lemas sambil melihat tangannya yang sedang diinfus dan tubuhnya yang penuh dengan perban.
“Kamu sedang di rumah sakit.” Wanita itu menjelaskan. “Jangan banyak bergerak, jahitanmu nanti terbuka lagi.” Lanjut wanita itu.
“Kenapa aku ada disini ?” Ranum kembali bertanya.
“Aku melihatmu tergeletak di salah satu lobi krowned hotel dengan penuh luka tembak, jadi aku menghubungi ambulans untuk menjemputmu.” Wanita itu menjelaskan. “Apakah kamu orang jahat?” Wanita itu lanjut bertanya dengan wajah polos.
“Semacam itu lah.” Ranum menjawab sambil tersenyum. “Sudah berapa lama aku disini?” lanjut Ranum bertanya ke wanita itu.
“Sudah dua hari sejak kejadian itu menimpamu.” Wanita itu menjawab.
“Sial, aku harus segera pergi.” Ranum berusaha melepas infus dan nasal kanul di hidungnya. Wanita itu menahan tangan Ranum.
“Keadaanmu masih kritis, kamu masih perlu perawatan medis.” Wanita itu berkata sambil menahan tangan Ranum.
“Apa yang kamu butuhkan?” Wanita itu bertanya “Mungkin aku bisa membantumu.” Lanjut wanita itu.
“Aku butuh semua barang – barangku.”
Wanita itu berjalan menuju lemari, lalu mengambil barang – barang milik Ranum.
“Pistol dan pisau milikmu di simpan pihak rumah sakit, mereka melarangku untuk menyimpannya.” Wanita berusia sekitar 28 tahun itu menjelaskan sambil memberikan barang milik Ranum.
Ranum langsung memakai earpodsnya, tapi sayangnya earpods itu kehabisan daya, lalu Ranum mengambil ponsel miliknya, sialnya ponsel itu pun rusak.
“Sial!” Ranum menggerutu sambil melemparkan ponsel itu ke depannya.
“Ini, gunakanlah ponsel milikku.” Wanita itu menyodorkan ponselnya ke arah Ranum.
“Terima kasih, tapi aku hanya butuh ponselku.”
“Oh iya, kita belum berkenalan.” Wanita itu memotong. “Namaku Miranda Rose.” Lanjut wanita itu sambil menjulurkan tangannya.
Ranum hanya tersenyum lalu menjabat tangan Miranda. “Senang berkenalan denganmu Miranda.”
Miranda membalas senyuman Ranum dengan wajah bingung karena Ranum tidak memberi tahu namanya.
“Apa kamu lapar?” Miranda bertanya ke Ranum.
“Lumayan.” Ranum menjawab singkat.
Miranda mendorong meja yang ada makanan di atasnya ke dekat ranjang. Miranda mengambil mangkuk sup lalu mengambil satu sendok sup itu dan mengarahkannya ke Ranum.
“Boleh aku menyuapimu?” Miranda bertanya.
Ranum mengangguk sambil tersenyum.
“Sepertinya kamu bukan berasal dari sini ya ?” Miranda bertanya sambil menyuapi Ranum.
Ranum mengangguk. “Aku dari Indonesia.”
“Lalu bagaimana kamu bisa berakhir di lobi itu dengan banyak luka tembak?” Miranda bertanya dengan wajah polos.
“Melakukan kegiatan yang biasa dilakukan orang jahat.” Ranum tertawa kecil.
“Maaf jika perkataanku tadi membuatmu tersinggung.” Miranda menunduk.
“Tidak, tidak. Aku sama sekali tidak tersinggung, aku memang orang jahat.” Ranum menjelaskan ke Miranda. “Aku bisa berakhir di lobi itu karena habis merenggut banyak nyawa, termasuk pemilik krowned towers itu.” Lanjut Ranum.
“Aku minta maaf atas perkataanku tadi.” Miranda masih menunduk dan merasa tidak enak.
“Hei, aku benar – benar tidak tersinggung atau marah akibat perkataanmu.” Ranum mencoba meyakinkan Miranda. “Lihat aku, apa luka – luka ini menjelaskan perbuatan orang baik?” Lanjut Ranum.
Miranda terdiam.
“Sudahlah, suapi aku steak itu.” Ranum mencoba menormalkan suasana. “Tunggu dulu, kenapa kamu menjagaku selama dua hari disini?” lanjut Ranum penasaran.
“Sebenarnya aku hanya menyibukkan diri.”
“Menyibukkan diri?” Ranum bertanya bingung. “Apa kamu tidak bekerja?” lanjut Ranum.
“Aku sedang di liburkan selama satu minggu.” Miranda menjelaskan. “Tapi aku tidak berani untuk pulang ke rumah. Aku takut.” Lanjut Miranda.
“Apa yang kamu takutkan?” Ranum bertanya bingung.
“Setiap aku dirumah, aku selalu teringat tentang ayahku.”
“Memang kenapa dengan ayahmu ?” Ranum bertanya semakin penasaran.
“Beberapa hari yang lalu, aku dihubungi pihak kepolisian bahwa ada pembantaian di kantor polisi tempat ayahku bekerja dan ayahku tewas disana.”
Ranum terkejut. “ayahmu bekerja di kantor polisi itu?”
“Iya, ayahku bekerja sebagai polisi di sana.” Miranda menjelaskan dengan wajah sedih.
“Maafkan aku, Aku turut berduka cita atas kehilanganmu.”
Di sela – sela obrolan mereka tiba – tiba datang dua orang tak dikenal, dua orang itu langsung menembak ke arah Ranum, Ranum dengan reflek mendorong Miranda, membuat Miranda terjatuh ke lantai. Ranum berguling dari ranjangnya hingga terjatuh ke lantai. Ranum menarik kabel yang terhubung ke monitor hemodinamik dan membuat monitor itu terjatuh, dengan cepat Ranum mengambil monitor itu lalu melemparkannya ke dua orang tidak dikenal itu, Ranum melompati ranjangnya dan menyerang dua orang itu secara langsung, Ranum menghantam wajah salah satu orang itu telak di mata kirinya, satu orang lagi berhasil menembak pundak kiri Ranum, tapi dengan sigap Ranum langsung menendang kaki orang yang menembaknya itu hingga jatuh ke lantai. Ranum meraih pistol yang tergeletak di lantai, lalu menembak dua orang itu tepat di kepala mereka. Tiba – tiba datang lagi dua orang dari luar kamar tersebut yang langsung menembak ke arah Ranum, Ranum menghindar ke arah kanannya untuk berlindung di balik tembok, tanpa berpikir lama Ranum mendorong sofa ke arah Miranda untuk melindunginya. Ranum keluar dari balik tembok itu dan menembak dua orang yang tersisa tepat di kepala mereka, dua mayat langsung tergeletak di depan kamar itu, tapi sayangnya pinggang Ranum tertembak. Ranum mendatangi mayat itu lalu menembakkan peluru ke kepala salah satu mayat hingga pelurunya habis. Ranum masuk kembali ke kamar.
“Aku sudah bilang, Aku memang orang jahat.” Ranum tersenyum ke Miranda sambil memegang pinggangnya. “Sebaiknya kita pergi dari sini.” Lanjut Ranum.
Miranda mengangguk ketakutan, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Ranum mengambil tiang infus untuk membantunya berjalan dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan baju rumah sakit, juga menutupi Miranda yang sedang dia peluk.
“Tetaplah sembunyi dibalik selimut ini agar cctv tidak melihat wajahmu.” Ranum berkata ke Miranda yang tubuhnya masih bergetar.
Miranda mengangguk, lalu mereka berdua keluar dari rumah sakit itu.
***
Setelah kurang dari 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya Ranum dan Miranda tiba di salah satu rumah di Swinton Avenue, Kew, Victoria. Rumah itu adalah rumah keluarga Miranda.
“Ini rumahmu?” Ranum bertanya ke Miranda.
Miranda mengangguk, tubuhnya masih gemetar. Mereka masuk ke dalam rumah itu. Saat memasuki rumah itu Ranum melihat salah satu foto.
“Ini foto ayahmu?” Ranum bertanya sambil mengambil foto itu.
“Iya.” Jawab Miranda lirih sambil membuka kotak P3K
Ranum duduk di sofa, Miranda datang membawa hecting set dan alat bedah.
“Biar aku saja yang melakukannya.” Ranum menahan tangan Miranda yang ingin membedah lukanya.
Ranum mulai mengeluarkan peluru di pinggang dan pundaknya sambil menahan rasa sakit. Setelah peluru berhasil dikeluarkan, Ranum menyiram bekas lukanya itu dengan alkohol, lalu menjahit luka di pundak dan pingganya serta menambal jahitan yang terbuka dibagian lainnya.
“Pasti itu sakit sekali.” Miranda mulai berbicara.
“Aku harap kamu tidak akan pernah mengalami ini seumur hidupmu.” Ranum tersenyum ke Miranda. “Maafkan aku sangat merepotkan.” Lanjut Ranum.
“Tapi siapa orang – orang di rumah sakit itu?” tanya Miranda.
“Aku juga tidak tahu.”
“Tapi kenapa mereka ingin membunuhmu?” Miranda bertanya dengan wajah polosnya.
“Aku rasa jika kamu mengetahui siapa sebenarnya diriku, kamu juga ingin membunuhku.” Ranum tersenyum, dengan tangan tetap menjahit luka – lukanya.
“Tapi kenapa kamu berperilaku baik terhadapku?” Miranda bertanya penasaran.
“Karena kamu bukan targetku.” Ranum menjawab singkat. “Sore ini bisa antar aku ke makam ayahmu?” Tanya Ranum.
Miranda mengangguk.
Sore hari tiba, setelah menempuh perjalanan selama 15 menit akhirnya mereka tiba di makam ayah Miranda. Ranum menaruh bunga di makam ayah Miranda yang tadi sudah dia beli saat perjalanan menuju tempat pemakaman. Miranda terlihat sedang berdoa, sedangkan Ranum bingung harus melakukan apa.
“Terima kasih mau melihat makam ayahku.” Miranda berkata ke Ranum. “Dan terima kasih mau menemaniku.” Lanjut Miranda.
“Lebih tepatnya, kamu yang sudah menemaniku Miranda.” Ranum tersenyum, dengan hati gelisah. Jika Ranum menjelaskan kejadian sebenarnya, hanya akan membuat Miranda semakin sedih, tapi jika tidak di jelaskan, Ranum sangat merasa bersalah. Ranum benar – benar dalam keadaan dilema.
“Ayahku adalah cerminan laki – laki sejati, dia selalu mencoba untuk meluangkan waktunya untukku di sela – sela kesibukannya. Polisi adalah cita – citanya dari kecil, dia semakin berniat untuk menjadi polisi setelah aku hadir di dunia ini. Ayah selalu mengajariku untuk kuat dan berbesar hati bagaimanapun kondisinya, dia selalu terlihat kuat walaupun hatinya hancur. Aku sangat ingat pada saat Ibuku meninggal, ayahku sangat tegar dan selalu tersenyum saat menatapku, selalu mengajariku untuk tegar dan mengikhlaskan apapun yang telah terjadi. Tapi dibalik itu semua, aku melihatnya menangis sendirian di kamarnya sambil memegang foto ibuku, ayah memeluk foto itu dan mencium foto ibu. Dia selalu memberikanku yang terbaik, dia selalu mengusahakan segalanya untukku, dia selalu berjuang untukku, dia selalu berusaha untuk menjadi ayah yang baik setiap harinya untukku, dia benar – benar Ayah yang sangat sempurna.” Miranda menangis, tangan menutup wajahnya.
“Maafkan aku.” Ranum merangkul Miranda, tangan Ranum membelai kepala Miranda yang tersender ke lengannya.
Suasana berkabung belum usai. Dari belakang Ranum muncul seorang pria dengan tuxedo hitam, menodongkan pistol ke pinggang bagian belakang Ranum.
“Jangan berbalik. Dengarkan dengan baik kata – kataku.” Pria tak dikenal itu berbisik. “Pergi dari sini dalam waktu lima menit atau kalian akan mati.” Lanjut Pria itu.
“Anda siapa?” Ranum bertanya, tangannya memeluk dan menutup telinga Miranda.
“Jangan bertanya dan jangan berbalik, pergi dari sini dalam 4 menit 52 detik.” Pria itu semakin menekan pistolnya ke pinggang bagian belakang Ranum.
“Baiklah.” Ranum menarik Miranda untuk pergi dari tempat pemakaman.
Ranum meminta kunci mobil Miranda agar dia yang mengendarai mobilnya. Ranum memacu mobil itu menuju rumah sakit tempat dia dirawat sebelumnya. Kurang dari 25 menit mereka sudah tiba dirumah sakit itu, mobil di parkir di lobi dan Ranum menyuruh Miranda untuk menunggu di mobil.
“Aku ingin mengambil barang – barangku.” Ranum berbicara ke resepsionis.
“Barang – barang apa tuan?” Resepsionis itu bertanya.
“dua buah Pistol AMT automag V, dua buah pisau dan mungkin ada barang lain milikku yang kalian simpan.”
“Maaf tuan. Kami tidak bisa memberikan barang – barang tersebut, karena keterangannya pasien belum menyelesaikan persyaratan administrasi dan pasien tersebut tidak memiliki tanda pengenal. Tapi disini ada keterangan bahwa pasien memiliki keluarga yang bertanggung jawab atas nama Miranda Rose.” Resepsionis itu menjelaskan.
“Iya Miranda ada di mobil dan aku membutuhkan barang – barangku segera.” Ranum memaksa.
“Maaf tuan, tapi anda harus menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu.”
Tak lama kemudian datang empat orang dari pintu masuk rumah sakit. Dari tuxedo yang mereka kenakan, mereka terlihat seperti pembunuh bayaran. Salah satu pembunuh bayaran itu membunuh dua orang sekuriti yang menjaga didepan pintu masuk rumah sakit, yang lainnya menembak alat pendeteksi logam di pintu masuk. Dengan cepat empat pembunuh bayaran itu menembak ke arah Ranum, Ranum langsung lompat ke balik meja resepsionis untuk berlindung.
“Tolong cepat ambilkan barang – barang yang aku minta tadi!” Ranum berseru ke resepsionis itu. “Dan jangan panggil polisi!” Lanjut Ranum.
Dengan cepat resepsionis itu merangkak pergi untuk mengambil barang – barang milik Ranum. Empat pembunuh bayaran itu sudah sangat dekat dengan meja resepsionis, Ranum memutus kabel telepon yang ada di meja resepsionis itu. Ranum lompat dari meja dan memukul wajah salah satu pembunuh bayaran, Ranum melilitkan kabel telepon ke pembunuh bayaran kedua, dan menghantamkan kepala pembunuh bayaran itu ke meja resepsionis. Tangan Ranum lincah mengambil pulpen yang ada di meja resepsionis, lalu menusukkan pulpen itu ke mata pembunuh bayaran ketiga, kaki Ranum mengayun, menendang kepala pembunuh bayaran itu dengan keras. Pembunuh bayaran keempat berhasil menembak perut Ranum sebanyak dua kali, tapi dengan gesit Ranum menangkap tangan pembunuh bayaran itu lalu membantingnya. Pembunuh bayaran itu belum sempat bergerak, Ranum langsung menarik rambut pembunuh bayaran keempat dan menghantamkan kepala pembunuh itu ke meja resepsionis berkali – kali.
Resepsionis yang membawa barang - barang milik Ranum terkejut. “Ini tuan barang – barang anda.” Resepsionis itu menaruh barang – barang Ranum di meja dengan tubuh gemetar.
“Terima kasih nyonya.” Ranum tersenyum tetapi tangannya tetap menghantam – hantam kepala pembunuh bayaran itu ke meja. Ranum mengambil pistol yang ada di lantai, menembak semua kepala pembunuh bayaran itu untuk memastikan mereka semua tewas.
“Ini untuk administrasi dan lain – lainnya nyonya.” Ranum tersenyum sambil memberikan 100 lembar pecahan 100 dollar AUD ke resepsionis itu. “Saya permisi dulu.” Ranum berpamitan sambil tersenyum ke resepsionis itu. Resepsionis itu terdiam dengan tubuh yang masih gemetar tidak karuan.
Ranum mengetuk jendela mobil. Terlihat dari luar, Miranda sedang menunduk di mobilnya.
“Kamu sudah aman sekarang.” Ranum tersenyum.
Miranda keluar mobil lalu memeluk Ranum. “Aku takut.” Miranda memeluk Ranum semakin erat.
“Kamu aman sekarang, aku akan menjagamu.” Ranum berusaha meyakinkan Miranda. “Kita harus segera pergi sebelum polisi datang.” Lanjut Ranum.
“Bagaimana dengan perutmu?” Miranda bertanya.
“Aku masih memiliki banyak darah, kamu tenang saja.” Ranum mencoba meyakinkan Miranda.
Mereka segera masuk ke mobil. Ranum segera memacu mobil itu keluar dari area rumah sakit.
“Maafkan aku, karena kehadiranku, hidupmu jadi penuh ketakutan seperti ini.” Ranum berbicara ke Miranda.
“Tapi aku nyaman ketika bersamamu.” Miranda berkata lirih dengan wajah memerah.
“Namaku Ranum Anatoly.” Ranum menjulurkan tangan kanannya, tangan kirinya tetap memegang kemudi. “Maafkan aku karena aku tidak memberitahu namaku sebelumnya.” Lanjut Ranum.
“Setidaknya sekarang aku sudah tahu namamu.” Miranda membalas jabat tangan Ranum sambil tersenyum.
Ranum menghentikan mobilnya di sebuah mini market. Dia menyuruh Miranda untuk menunggu di mobil. Ranum memasuki mini market itu. Tidak sampai 5 menit Ranum sudah keluar dan berlari kecil ke arah mobil.
“Miranda, aku bukan orang baik dan aku baru berusia 18 tahun. Tapi jika kamu berkenan, apa kamu mau menikah denganku?” Ranum tersenyum, tangannya memegang sebuah permen berbentuk cincin.
“Kamu baru berusia 18 tahun!” Miranda terkejut. “Aku sudah berusia 28 tahun Ranum, apa kamu serius?” Miranda bertanya.
“Aku belum pernah seserius ini. Dan aku tidak peduli berapapun usiamu.” Ranum masih memegang cincin itu. “Tapi jika kamu tidak mau, aku tidak akan mem-“
“Aku mau.” Miranda tersenyum memotong. Dari matanya keluar air mata bahagia, lalu menjulurkan tangan kirinya.
Ranum memasangkan permen berbentuk cincin itu ke jari manis Miranda, lalu mencium tangan Miranda.
“Terima kasih.” Ranum tersenyum ke Miranda.
Miranda memeluk Ranum dengan erat.
“Jadi kapan kita akan merayakan pernikahan kita?” Ranum bertanya ke Miranda dengan antusias sambil mulai memacu mobilnya.
“Kapanpun kamu siap.” Miranda tersenyum bahagia.
“Minggu ini?”
“Boleh.” Miranda menjawab dengan antusias. “Bagaimana dengan keluargamu?” Miranda bertanya ke Ranum. “Kamu akan mengundang mereka kan?” lanjut Miranda.
“Aku tidak punya keluarga Miranda, aku sebatang kara.” Ranum terpaksa berbohong. Ranum tidak ingin Miranda terlibat lebih jauh karena mengetahui kehidupannya.
“Maafkan aku.” Miranda menunduk.
“Hei, sekarang aku memilikimu. Itu berarti mulai dari sekarang aku memiliki segalanya, termasuk keluarga.” Ranum berbicara, tangannya mengelus tangan Miranda.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Aku memutuskan untuk berhenti, besok aku akan mulai mencari pekerjaan baru.” Ranum tersenyum ke arah Miranda.
“Kamu serius?” Miranda ingin memastikan.
“Aku ingin membangun keluarga bersamamu dengan tenang. Aku ingin hidup normal dan hidup bahagia bersamamu.” Ranum menggenggam tangan Miranda.
***
Satu bulan sudah berlalu. Miranda dan Ranum telah resmi menikah, mereka hidup normal dan sangat bahagia. Mereka tinggal di rumah milik orang tua Miranda. Ranum membuat tanda pengenal baru dengan nama Mark Kelly dan mendapatkan pekerjaan baru sebagai pemotong kayu. Sedangkan Miranda masih bekerja sebagai brand manager di salah satu perusahaan besar di Melbourne.