NovelToon NovelToon
Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:374k
Nilai: 4.8
Nama Author: Erna Wati

Anggun yang mengira hidupnya sudah bahagia dengan mendapat cinta Adrian,, namun ternyata itu hanya mimpi sesaat baginya. Kenyataan pahit menghempaskannya kembali pada kehancuran dimana Adrian harus terjerat kembali pada wanita di masa lalunya.
Dan kali ini dia harus menghadapi badai yang lebih berat dari sebelumnya. Adrian melayangkan gugatan cerai padanya di saat dia sendiri sudah menanggalkan cintanya pada pria tersebut. Dan disaat yang bersamaan,, muncullah pria yang sebelumnya selalu memberikan dukungan untuknya. Apa yang akan terjadi selanjutnya?? Akankah Anggun memperoleh kebahagiaannya kembali?? Simak kisahnya di "Anggun Bidadariku Season 2"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Anggun POV

"Di....D.I.O.N."

Suaraku seperti tercekat di kerongkongan. Tubuhku mematung seketika dengan mata yang mengerjap-ngerjap memastikan penglihatanku. Aku baru benar-benar sadar saat tangan pria itu terulur menghapus semua air mata yang menetes di pipiku. Tangan itu benar-benar nyata menyentuhku. Aku memang tidak sedang bermimpi.

"Di-Dion?" Sekali lagi bibirku menyerukan nama yang lama sekali menghilang dari hidupku itu.

"Ini adalah terakhir kalinya aku menghapus air matamu, Anggun. Bukankah sudah ku katakan jangan ada air mata lagi di mata indah ini?" Dion menangkup wajahku yang nampak berantakan tersebut.

Sungguh aku tak kuasa menahan air mataku lagi. Tanpa diminta olehnya, akupun menghambur ke dalam pelukan pria di hadapanku. Biar. Biar. Aku benar-benar ingin menumpahkan semua kegalauan dan kesedihan hatiku saat ini. Dion memeluk tubuhku semakin dalam, menenggelamkannya dalam dekapan.

"Cukup. Ayo kita pergi dari sini. Aku tak ingin orang lain melihatmu kacau seperti ini." Dion memapahku dan mengiringi langkahku pergi dari tempat itu. Dan nyatanya tangisku masih belum berhenti meski sekarang kami sudah berada dalam mobilnya. Aku bahkan masih membenamkan wajahku dalam pelukan Dion. Alhasil Dion harus mengerjakan dua pekerjaan secara bersamaan, yakni mengemudi sambil berusaha menenangkanku.

Tangisku bukannya surut justru semakin menjadi. Seakan hanya dalam pelukan Dion, aku bisa menumpahkan segala beban yang menghimpitku selama ini. "Baiklah. Aku tak akan melarangmu menangis. Tapi asal kau tau, kalau baju yang terkena ingus dan air matamu ini baru saja ku beli tadi pagi. Dan itu tidak dengan harga yang murah. Aku berharap kau tak akan membuatku marah dengan merusak pakaian baruku ini."

Seketika tangiskupun berhenti. Kepalaku mendongak pada pria di sampingku. "Astaga Dion. Kau tega berkata demikian padaku? Bukannya menenangkanku, kau lebih mengkhawatirkan pakaianmu?"

"Lalu? Aku harus terima begitu saja kalau kau merusak semua barang-barangku hanya dengan sikap konyolmu ini? Haahhh, aku tidak mengerti. Apa sebenarnya yang kau tangiskan? Wanita memang pandai sekali berakting." Sungguh, ingin sekali aku memukul mulut combrang Dion saat ini.

"Dioooonnnn, tidak tahukah kau kalau saat ini aku sedang sedih? Bagaimana bisa kau mengatakan aku berakting?" teriakku mulai gusar.

"Oh, sedih rupanya? Soal apa? Boleh aku tahu?" Aku terdiam. Kembali lagi ingatanku tertuju pada Adrian. Sungguh semua sangat menyakitkan. Dan aku tak sadar kalau secara tidak langsung air mataku sudah berhenti mengalir.

"Dion...aku dan Adrian...." Aku belum menyelesaikan kalimatku, namun Dion memotong cepat.

"Ya...sudah. Tak perlu kau lanjutkan. Aku sudah tau."

"Apa? Kau sudah tau? Lalu kenapa masih bertanya padaku?" Kali ini Aku benar-benar di buat jengkel olehnya. Kenapa baru bertemu saja Dion begitu sangat menyebalkan? Pria itu kini menarik senyum miring. Rupanya tujuannya adalah untuk menghentikan tangisku, dan aku tak sadar akan hal itu. "Dion, kenapa kau malah senyum-senyum sendiri?" tanyaku jengkel.

Tiba-tiba Dion menghentikan mobilnya secara mendadak membuatku terjerembab dan oleng ke tubuhnya.

"Astaga, kau mau membunuhku? Tidak bisakah kau menjalankan dan menghentikan mobilmu lebih lembut?" Aku masih menggerutu. Benar-benar pria ini.

"Lembut seperti siput?"

"Terserah kaulah." Aku membuang pandanganku keluar jendela kaca. Kulipat kedua tanganku di depan dada. Suasana hatiku memang sudah sedikit berubah. Dan saat ini kesedihanku bercampur dengan kekesalan.

Memang harus kuakui kalau Dion selalu membawa dampak positif. Auranya selalu membawa kebahagiaan. Meski kadang aku sebal dengan sikap konyolnya yang lebih sering menggodaku. Tapi aku tak menampik kalau pria itu selalu membuatku nyaman jika berada disisinya.

Aku masih melihat keluar jendela saat ku rasakan sebuah hembusan hangat menerpa daun telingaku. Aku menoleh seketika dan tiba-tiba....

Cup!!!

Oh, tidak. Aku yang menoleh tiba-tiba sehingga tidak sengaja bibir Dion menempel di pipiku. Wajahku memanas dalam sekejap. Dan pastinya pipiku semburat oleh warna merah karena malu. Sedetik kemudian kulihat Dion terkekeh.

"Wajahmu memerah," ujarnya menggodaku. Dan, blush!!! Mukaku semakin panas karena malu yang mendera. Dion semakin terkikik karenanya. Uhhh, benar-benar menyebalkan.

"Apaan sih? Kenapa setelah lama menghilang kau jadi sangat menyebalkan?" Kini aku mulai mengomel. Dan tawa Dion jadi semakin berderai. Aku memukul-mukul ringan pria itu dengan kedua tanganku menjadikan Dion harus berusaha menghindar dari seranganku. Dan sesaat kemudian dia meraih kedua tanganku untuk di genggamnya. Aku masih saja berusaha untuk menghujaninya dengan serangan.

"Anggun....Anggun....dengarkan aku!" serunya dengan wajah yang berubah serius membuatku berhenti seketika dan menatapnya tertegun. "Dengar! Sekali lagi ku katakan, wajah ini tidak layak untuk di hujani air mata. Kau akan terlihat lebih cantik kalau dengan senyuman." Dion mencoba melengkungkan bibirku membentuk sebuah cekungan.

"Nahh, seperti ini," ujarnya kemudian. Aku jadi menunduk karenanya. Kenapa? Kenapa hanya Dion yang selalu mengerti aku?

"Dion....Adrian telah...."

"Aku sudah tau," potongnya cepat. Aku menatapnya seksama.

"Kau benar-benar sudah tau?" aku memastikan. Dia mengangguk ringan.

"Untuk itulah aku kemari." Dia mendesah panjang. "Maaf, aku terlambat menyelamatkan pernikahanmu," bisiknya sambil membelai pipiku. Dan kali ini air mataku meluncur kembali. Untuk kesekian kalinya ku tumpahkan segala kesedihanku dalam pelukannya. Adrian, kali ini kau benar-benar sangat menyakitiku.

"Cukup! Ayo. Sekarang kita pulang!" ajaknya kemudian. Dan aku cepat-cepat menghapus air mataku sebelum ia bertindak duluan.

Dion melajukan mobilnya kembali. Dan tak ada perbincangan apapun di antara kami sesudahnya. Ku lihat Dion masih fokus pada setang kemudinya. Dan beberapa saat kemudian baru kusadari kalau jalan yang kami tempuh, bukanlah jalan ke rumahku. Ah, sebenarnya Dion pun juga belum tahu rumah lamaku. Lalu, kemana dia mengajakku pergi?

"Dion, ini bukan jalan menuju rumahku?" aku mengoreksi.

"Hmmm, siapa bilang kita mau ke rumahmu."

"Lalu? Bukankah tadi kau bilang kalau kita akan pulang."

"Ya. Kita memang akan pulang. Tapi tidak ke rumahmu." Dia terdiam sejenak. "Coba kau lihat jalanan ini. Kau pasti tau kita menuju kemana." Aku mengikuti perkataan Dion. Dan kulihat, ternyata aku tidak asing dengan jalan yang kami lalui ini.

Aku mencoba mengingat-ingatnya kembali. "Ohh....bukankah...."

"Ya. Ini jalan menuju rumahk," potongnya.

"Tapi, aku tidak bilang mau ke rumahmu, Dion," aku membantah. "Ayo, sekarang kau putar balik dan antar aku menuju rumahku."

"Tidak! Kita akan tetap pergi ke rumahku," tolaknya bertahan.

"Dioooonnn...." geramku. Pria ini kalau sudah keinginannya, memang tak bisa di bantah.

"Kau kira aku akan membiarkanmu sendirian di rumahmu? Apa kau bisa menjamin tidak akan menangis lagi kalau kamu sendirian?" Dia memandangku sekilas. Aku tertunduk karenanya. Ya. Apa yang di katakan Dion memang benar. Tentu saja aku tak akan berhenti menangis jika sendirian. Karena bayangan dan kenangan Adrian akan mengusikku kembali. Mungkin kali ini aku memang harus mengikuti perkataannya, Dion.

👇

👇

👇

👇

Author POV

Adrian baru pulang ke rumahnya setelah mengantar Andini ke rumah sakit. Hari ini, dia memang sengaja mengambil cuti karena harus menghadiri kasus perceraiannya dengan Anggun. Hanya saja ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan dulu sehingga sebelum kasus sidang perceraiannya di buka, dia masih menyempatkan untuk pergi ke kantor.

Belum selesai Adrian menutup pintu, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara berat di belakangnya.

"Apa maksud dari semua ini, Adrian?" Pria itupun menoleh seketika karena terkejut. Di tengah ruangan sudah berdiri Pak Sujono dengan wajah yang terlihat tegang dan memendam amarah. Kedua tangan pria paruh baya itu tersembunyi di belakang tubuhnya. 

Disana, Adrian juga menjumpai sosok ibunya tengah duduk dengan raut wajah yang sama. Gusar. Hanya saja dia tidak memandang ke arah putranya berada.

"Bapak, Ibu?" Cepat-cepat Adrian menghampiri orang tuanya dan hendak menyalaminya. Namun dengan cepat tangan sang ayah menepisnya.

"Jangan sentuh Bapak, Adrian!" teriak pria paruh baya itu penuh kemurkaan yang tinggi. "Jelaskan apa maksud dari surat ini?" Pak Sujono melempar secarik kertas ke muka Adrian dan benda putih pipih itu jatuh tepat di hadapannya.

Adrianpun memungutnya cepat. Disana terdapat sederet tulisan tangan yang tersusun rapi dengan bahasa yang sedemikian halus dan teratur. Ya. Itu adalah surat dari Anggun yang dititipkan pada Pak Doni sebelum dia pergi ke pengadilan.

🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃

1
Mom Q
bagus awalnya cma maaf endingnya agak janggal kya blm selesai.
kecuali klo ada bonus nya
Erna Wati: Emang belum karena masih ada yg season 3. "Anggun Bidadariku Ending Story". kalau mau baca di platform sebelah. WP
total 1 replies
abu😻acii
nyimak dulu
Azzuraaa
aku suka tulisan bagus begini, tapi kok yang baca sepi ya? tetep semangat thor
Lili Lintangraya
ditunggu lanjutannya,gmn kehidupan dion&anggun.adrian jg,penasaran kehidupanny selanjutny
Neni Anggraini
angun dh ambil tuh batang emas (Dion).... buang batang kayu (Adrian) bikin dia nyesal lemepas kamu.... 🤣🤣
Yudhiari Denada
kayaknya masih nggantung?
tapi seru c
semua dpt porsinya, Andini & andrian g bersatu,, Andini suka mempermainkan, andrian blm dewasa, cepat kebawa emosi, labil, kasih yg jadii pasangannya, gampang terombang ambing. baca ceritanya yg ending part 1 aja udah jelas hambar rumahtangga nya, cuma main² aja. memang baik anggun sama dion, cuma agak aneh, klo habis kena serangan jantung atau apalah yg keliatan sakit, knp habis ijab kabul gak istirahat aja?
Erna Wati: season 3 ada platform sebelah. sudah end juga kok disana.
total 2 replies
rumah kazuya
end nya koq gak enak amat yaa...
Yulianna Novia
aihhh... kok aku tak puas niiii, lanjut donk
Erna Wati: ada yang season 3 di pf sebelah.
total 1 replies
Nenk Kwr
ceritanya sudah tamat. tapi pelakor andini tidak diceritain dapat karma.
Ar Syaina Syaina
penyesalannn ayoo mendekatlah adrian sdh menunggu,,semoga RSJ,,masih menerima adrian
Ar Syaina Syaina
hmmm adrian terllalu percaya diri,,,,ingat penyesalanmu sdh mulai merapat,,,ayoo thoor semangat critamu baguss jempol yg bnyk utkmu👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👌🏼👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👌🏼👌🏼👌🏼👌🏼👌🏼👌🏼
bunga seroja
👍👍👍👍👍👍👍
Mawar berduri
benar2 cerita yg byk memguras airmata & emosi jiwa dgn tingkah lelaki bagas & adrian. kok bs orgtua mrk yg sgt baik & penuh kasih bs punya 2 anak lelaki yg berengsek bin pecundang🤦‍♀️
Rai Ayi Rohayati
ih jd gemes thuu c andrian, buktikan anggun kau bisa lebih hebat dr pelakor....
Efan Zega
koq dah end sih. aq penasaran dion sakit apa sih. trus bagas gak datang ya kepernikahan anggun
Erna Wati: Ada Anggun season 3
total 1 replies
Efan Zega
loh katanya u gak mencintai anggun rian
Efan Zega
wahhh anggun tambah cantik nih....nyesel u rian
Efan Zega
2 bersaudara sama aja,,,biadab smua
Efan Zega
nyesek bgt lihat nasibmu gun..
dulu bagas dan niken skrg rian dan andini
Efan Zega
sakit banget kelakuan smua keluarga bagas dan rian. kalo mertuanya gak cerita keandini pasti smua gak sekacau ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!