NovelToon NovelToon
Pembalasan Andara

Pembalasan Andara

Status: tamat
Genre:Petualangan / Selingkuh / Keluarga / Persahabatan / Tamat
Popularitas:524.4k
Nilai: 5
Nama Author: nadyasiaulia

"Aku bukan orang baik buat kamu."


Diputuskan dengan sebuah sms dan dengan alasan superklasik, membuat Andara marah.

Buana Semesta, lelaki yang sudah membagi rasa dengannya selama hampir setahun belakangan tiba-tiba mengiriminya sms itu. Andara sebenarnya sudah tahu kalau peristiwa itu akan terjadi. Dia sudah prediksi kalau Buana akan mencampakkannya, tetapi bukan Andara jika bisa dibuang begitu saja.

Lelaki itu harus tahu siapa sebenarnya Andara Ratrie. Andara akan pastikan lelaki itu menyesal seumur hidup telah berurusan dengannya. Karena Andara akan menjadi mimpi buruk bagi Buana, meskipun cowok itu tidak sedang tertidur.

Banyak cara disusunnya agar Buana menyesal, termasuk pura-pura memiliki pacar baru dan terlihat bahagia.

Tetapi bagaimana jika akhirnya Buana malah terlihat cemburu dan tidak suka dengan pacar barunya?
Juga bagaimana jika Andara bermain hati dengan pacar pura-puranya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadyasiaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mr. Brightside

"Lagu diciptakan untuk menyenandungkan rasa-rasa yang tidak mampu dijelaskan."

🔥🔥🔥

"Kenalin, Buana."

What the hell! Apa maksudnya? Si Buana ini mau membalas apa yang dibikinnya ke Nina tadi siang kah? Mengingat Buana dan Nina jadi bertengkar karena provokasinya dengan Rossa, terus mau serang balik gitu?

Andara memasang wajah tidak bersahabat, dia menoleh sambil menggandeng lengan Kin dengan maksud mengajak cowok itu untuk nggak berurusan dengan Buana, tetapi Kin malah menarik bibir seolah berusaha tersenyum. Jenis senyum basa-basi sih sebenarnya. "Kin," balas Kin menjabat tangan Buana sebentar kemudian meninggalkan cowok itu.

Sedikit pun Andara tidak menemukan keterkejutan dari gestur tubuh Kin saat ditegur Buana. "Yuk," ajaknya kepada Kin.

Cowok yang digandengnya itu lalu menekan remote mobil dan membuka pintu penumpang untuknya. Andara hampir ternganga. Kin cukup pintar dan mengerti bagaimana menjalankan sebuah skenario yang sangat sempurna.

"Gue mantannya Andara," ujar Buana saat Kin menutupkan pintu untuknya. Andara menontoni itu dari balik kaca, dirinya juga berjaga-jaga apabila mereka berdua akan terlibat pertikaian.

Kin yang hendak menuju kursi kemudi lantas berhenti berjalan dan menatap Buana. Cowok itu menampilkan muka paham. "I know. Ara udah cerita." Kin memberi senyumannya lagi dengan menekankan kata 'Ara' sebagai pengganti namanya, seolah itu adalah panggilan sayang. "Lo masa lalunya. Gue masa depannya."

Setelah berkata seperti itu, Kin menjalankan mobil dan meninggalkan lokasi.

Sebenarnya, saat Kin menyebutkan namanya menjadi Ara, jantung Andara mendadak norak. Seolah-olah lagi di studio yang mana efek bass-nya dibesarin gitu sampai bunyi gedebam-gedebum. Tapi please, Andara Ratrie bukan cewek penggemar kisah romantis, jadi adegan blushing-blushing ala drama itu segera ditanggapinya dengan umpatan di dalam hati. Bego jangan dipelihara, Ra. Ular noh dipelihara biar bisa patok orang!

Memasang muka sebiasa mungkin, dia mulai membuka percakapan. "Gila mantul juga akting lo, Beb. Gue curiga, jangan-jangan lo di Malay bukan kuliah teknik tapi perfilman."

"Kok lo tahu gue ambil teknik? Memang gue pernah cerita?"

Astaga! Andara ingin mengubur diri di tempat. Kin nggak pernah menceritakan kuliahnya. Dia tahu Kin kuliah teknik kan dari Natha, waktu cewek itu menjodoh-jodohkannya dengan Kin. Demi menutupi rasa malu, tentu Andara akan mengarang ceritanya. "Pernah, keleus. Lo lupa tuh. Eh, lo kenal Bang Tirto di mana?"

"Teman memotoran," jawab Kin pelan.

Kalau di film-film kartun, sudah ada lampu pijar yang menyala di atas kepala Andara. Tidak semua orang bekerja hanya untuk mencari makan atau mendapatkan uang. Contohnya Tirto, lelaki yang hampir berumur kepala tiga itu menjadi penyiar karena passion. Kalau untuk uang, gaji dari Best bukan tujuannya. Sama seperti keluarga Dhananjaya, keluarga Tirto juga tersohor. Sebagai cucu mantan Gubernur pertama, Tirto memiliki kekayaan yang tidak sedikit. Di luar aktivitasnya sebagai penyiar, cowok itu juga DJ. Kedatangannya setiap pagi gampang dideteksi, dengan bunyi khas derum knalpot Moto Guzzi. Pertanyaan di benak Andara saat ini adalah apakah Kin juga ber-Moto Guzzi? Wow.

Andara benar-benar ingin menjitak kepalanya sendiri. Kenapa dia jadi matre gini, sih? Lagi pula, halo, Kin nggak mungkin mau sama dia. Cowok itu pasti menganggap dia teman, sama kayak Natha. Candu yang nggak ada obatnya itu memang halusinasi, sih. Apa dia benar-benar kecapekan, ya? Jadi mulai banyak berhalusinasi begini.

"Ra, ngelamun?" Kin menyenggol lengannya.

"Ha? Apa?"

"Gue tanya nggak lo jawab."

"Tanya apaan?" Andara menatap mata Kin. Cowok itu malah mengatupkan bibir, gaya-gaya berusaha menyembunyikan senyuman. Ya Tuhan, kenapa juga coba tadi pakai acara halusinasi nggak pada tempatnya. Seriously, Andara nggak dengar Kin bilang apa.

"Itu, kayaknya tadi si Buana sengaja, deh."

Oh, Kin bahas itu. Kirain bahas yang lain. Andara menaikkan sebelah bibirnya, tersungging sinis. "Mau nyari gara-gara. Dia nggak tahu kalau kita cuma setting-an, Beb. Ya... Kasian, mana masih muda," timpal Andara tergelak. "Turut berduka cita gue. Dipikirnya pacar ala-ala gue ini bakal jealous kayak pacar dia."

"Memang pacarnya jealous sama lo?"

Andara lalu menceritakan kisah isengnya tadi siang bersama Rossa. Saat-saat bagaimana Nina pucat setelah mendengar bisikannya juga saat dimana Nina dan Buana berselisih di parkiran Fakultas Ekonomi.

"Astaga, Ra." Kin berdecak meski juga ikut tertawa. Mata Kin yang sudah hilang terlihat lucu.

"Kenapa? Jangan sungkan-sungkan kalau lo mau menimba ilmu dari gue. Gue nggak pelit ilmu. Toh, yang dibawa mati itu cuma ilmu yang bermanfaat, harta yang disedekahkan sama doa anak soleh."

Kin makin tergelak. Cowok itu menyubit pipinya. "Anak Hukum memang pintar ngomong, ya?"

"Ya, kali, Pakcik. Lo pikir kalau di ruang sidang bicaranya pakai apa? Bahasa kalbu?"

Mereka terkekeh berdua, sampai tidak terasa sudah memasuki parkiran gedung pencakar langit di tengah kota. Splash sendiri berada di lantai 20. Sesaat setelah mereka masuk, Andara mengajak Kin ke arah pojok depan. Tempat itu lebih aman daripada meja belakang, karena letaknya tersembunyi termasuk dari sorotan lampu tembak sekalipun.

"Everybody, lets rock this party!" ucap Andara tiba-tiba menyeruak di antara Natha dan Rossa. Dia menelengkan kepala, bergoyang seirama ketukan musik.

Natha maupun Rossa terlihat kaget melihat Andara tidak sendiri. "Mentang-mentang baru jadian. Pacarnya dibawa-bawa," goda Natha.

Whoa, iya dong. "Abang Grab ini, tadi nemu di jalan. Dia nggak ada kerjaan jadi gue ajak. Cha, kenalin ini Kin." Andara mengenalkan Rossa dengan Kin dan mengajak cowok itu ikut duduk. Pacar ala-ala gue ganteng, ya?

"Lama amat lo, ditunggu juga," sungut Rossa.

"Gue lupa kalau ada Indiebest! Ngarang alasan dulu jadinya." Andara melirik ke Natha. "Kenapa lo nggak ingetin gue ada Indiebest?"

Natha hanya tertawa-tawa. "Ketemu mantan, ciye..."

"Iya banget. Bertingkah banget dia tadi pakai acara ngadang Kin. Otaknya dapat dari giveaway!"

Kin hanya cengar-cengir menanggapi pembicaraan Natha dan Andara yang ngomongnya pakai teriak, balap-balapan sama suara musik.

Rossa mulai mengisi gelas kosong untuk Andara dan Kin, menyodorkan kepada mereka berdua. "Yang haus, yang haus."

"Jiwa asongannya bergejolak bergelora gitu, ya, Cha," ejek Andara sambil meneguk minumannya. Cairan cokelat dingin itu menyiram tenggorokannya dan membuat efek hangat di tubuhnya. Meja pilihan Rossa ini terpencil karena tertutup bayangan meja DJ yang tingginya di atas kepala orang dewasa. Tampak residen DJ sedang mixing musik sambil sesekali melompat ke udara. "Gila. Junot itu minum apa sih setiap harinya? Gantengnya abadi gitu," celetuk Andara menopang dagu, menatap DJ yang berada lebih tinggi dari mereka. Di bawah lampu hijau dan merah, DJ yang dimaksudnya tetap terlihat tampan. Kin nggak kalah tampan sih sebenarnya.

"Air putih campur formalin kayaknya," potong Rossa.

Cewek itu kemudian mengeluh bosan dan mengajak mereka bertiga untuk main Truth or Dare dari putaran botol kosong di meja. Dare-nya sudah ditetapkan, meneguk minum dalam satu tarikan napas. Entah sudut tempat duduk Kin yang keluar dari jari-jari lingkaran atau bagaimana, tetapi cowok itu paling selamat di antara yang lain. Bibir botol jarang sekali berhenti di depannya, selalu ke tempat Andara.

"Ra, apa yang ada di dalam otak lo tiga puluh menit terakhir, yang sangat rahasia dan nggak diketahui gue sama Natha?" tanya Rossa ketika ujung botol mengarah kepadanya.

Anjrit. Andara berusaha mengingat. Matanya berputar bingung. Aduh, terakhir yang ada di otaknya kan mengomentari ketampanan Kin. Meninggal saja dia kalau memberi tahu itu. Dengan sigap, Andara mengangkat gelas penuhnya dan meneguk sampai kandas. Dia kemudian memutar botol kosong, botol itu berhenti di depan Rossa. Satu sama. Andara bergoyang meneriakkan kemenangan.

"Cha, pertanyaan gue sama." Senyumnya sambil menjulurkan lidah. Saat mata mereka bersitatap, Andara dapat melihat sorot geli di sana. Di depannya, Rossa juga mengangkat gelasnya dan meneguk habis minumannya. Rossa kembali memutar botol dan ujung botol kembali ke dirinya.

Sial, seharusnya nggak ada Kin di sini. Andara bisa jadi bulan-bulanan menghabiskan minuman kalau begini. Berkali-kali dia memilih dare karena dia nggak mungkin truth.

"Ra, itu Chivas bukan es teh manis," bisik Kin. Andara hanya tertawa menanggapi peringatan itu. Beberapa kali badannya hampir jatuh dan ditahan oleh Kin. "Ra, duduk dulu."

"Nggak mau!"

"Ya Tuhan!"

Atas prakarsa Kin, permainan itu dihentikan dengan skor seimbang ada di pihak Andara dan Rossa, sama-sama kebanyakan terima dare. Kalau Natha banyak memilih truth dimana kejujurannya macam apa pun nggak berpengaruh di mata mereka.

"Kin, bakarin rokok," pinta Andara. Dengan sebelah tangan, Kin menyalakan sebatang rokok dan memberikan kepadanya.

"Ra, bagusan lo duduk."

"Gue nggak papa," seru Andara sambil mengisap rokoknya.

Namun, Kin seperti tidak percaya anggukkannya dan berusaha mengajaknya duduk. "Duduk dulu. Lo mabok."

"Nggak, gue nggak mabok!" Andara meletakkan kepalanya di meja. Meski berat, dipandanginya langit-langit yang gemerlap karena lampu tembak berwarna-warni. Ketukan musik semakin tinggi dan ruangan itu semakin riuh. Sesaat dia mendengar lagu yang akrab di telinga, lagu yang diaransemen menjadi remix. "Kin, Mr. Brightside!" teriaknya gembira, mengguncang tubuh Kin.

Kin mengangguk. Cowok itu, dirinya dan beberapa pengunjung ikut bernyanyi.

"Coming out of my cage. And I've been doing just fine. Gotta gotta be down because I want it all. It started out with a kiss. How did it end up like this? It was only a kiss, it was only a kiss."

Andara menegakkan badan, berusaha berdiri di sisi Kin. "Now I'm falling asleep and she's calling a cab. While he's having a smoke and she's taking a drag. Now they're going to bed and my stomach is sick. And it's all in my head. But she's touching his chest now. He takes off her dress now. Let me go."

"And I just can't look, it's killing me and taking control. Anjeeeeng!" pekik Andara di sela lagu lalu melanjutkan nyanyiannya, "jealousy, turning saints into the sea. Swimming through sick lullabies. Choking on your alibis. But it's just the price I pay. Destiny is calling me. Open up my eager eyes."

"'Cause I'm Mr. Brightside!" serunya menepuk dada, berusaha menahan sesak yang ada. Tangisan yang selama ini dia sembunyikan lolos sudah. Sakit sekali dikhianati orang yang cukup dipercaya. Sakit sekali rasanya melihat Buana bersama Nina. Betapa mudahnya Buana berpaling darinya. Kurang apa cinta yang diberikannya? Andara sudah berikan semua, semuanya.

Pipinya basah. Andara bahkan menggigit bibir untuk menahan isaknya. Ruangan seramai ini tidak akan memperlihatkan tangisnya, Natha sibuk menjaga Rossa yang sudah lost control dan mulai gelendotan sama cowok di meja sebelah.

"Ra..." Rupanya ada yang menyadari dia menangis. Kin merangkul dan menepuk bahunya, berusaha menguatkan. "Cheer up, girl."

Nyatanya Andara tidak bisa. Pertahanannya selama ini runtuh juga. Ditenggelamkan kepalanya ke bahu Kin dan menangis sepuasnya di sana. Mungkin Kin mengerti, sehingga cowok itu tidak komentar apa-apa. Hanya menepuk-nepuk kepalanya saja, membiarkan dirinya melepaskan semua rasa.

"Ra. Pulang, yuk?" Kin merenggangkan pelukan. Cowok itu terdengar memanggil Natha dan mereka berdua berinisiatif membagi tugas. Natha memapah Rossa dan Kin membantu Andara. Sebagai orang yang tingkat kesadarannya lebih baik dari Rossa, Natha diminta Kin untuk membawa mobil Rossa.

"Kin, gue nggak bisa bawa sekali dua. Kita iringan, ya? Andara sama lo, bisa?"

Kin mengiakan Natha, dikalungkan tangan Andara di pundaknya.

"Ra, masih bisa jalan, kan?" tanya Kin sambil memapah jalan. Andara hanya mengangguk lemas, semua terasa berputar.

Mereka berempat meninggalkan Splash, menuju rubanah tempat parkir. Mereka memasuki lift, dan benda itu bergerak turun. Di lift itu bukan hanya mereka berempat, ada juga beberapa pengunjung Splash yang akan pulang.

Rossa yang berada di cekalan Natha masih sempat-sempatnya bernyanyi riang. Meski badannya terhuyung, cewek itu juga masih bisa menggoda Andara. "Kalian berdua manis banget, sih? Adem gue ngeliatnya kayak gerimis subuh," tuturnya sambil bersandar ke dinding lift.

Andara hanya bisa bergumam, berusaha berjalan mengikuti arah ke mana Kin arahkan, sekeluarnya mereka dari lift.

Rossa mulai melirik Kin. "Bro, lo makan apa, sih? Kenapa kulit lo bisa putih bersih berseri?" lalu Rossa bersenandung iklan sebuah merek tepung beras, "Putih bersih berseri. Aroma yang memikat. Bahan yang serba guna pilihan ..."

"Cha, bagusan daripada lo ngoceh nggak karuan, lo percepat jalan lo. Sumpah, pegal banget ini," keluh Natha mulai sebal. Dia dapat melihat bagaimana penghuni lift yang sedang berjalan di belakang mereka mulai menahan tawa atas celotehan Rossa.

"Oke, fine. Gue diam." Rossa menutup mulutnya tetapi itu terjadi hanya sekitar satu dua menit saja karena setelah itu, cewek tersebut mulai meracau lagi. "Ra, seharusnya waktu itu si Buana lo siram pakai air zam-zam. Biar setiap tetesnya menjadi berkah buat lo. Siapa tahu habis itu jadi dapat wahyu."

Andara tidak peduli, kepalanya pusing sekali.

"Atau lo siramnya pakai bensin, terus lempar puntung rokok sekalian. Biar hangus hangus sono dibakar api neraka!"

Mungkin tahu kalau perasaan Andara sedang tidak stabil, atau cowok itu juga mulai kelelahan dan tidak sabar sehingga Kin menyodorkan diri untuk menggendongnya. "Gue gendong, ya?" tawar Kin sembari mengajak Andara berhenti. Cowok itu lalu berjongkok di depannya, menarik kedua tangannya untuk melingkari leher Kin.

Bantuan Kin diterima Andara. Dia juga tidak kuat lagi untuk berjalan, diletakkan kepalanya di bahu Kin.

"Andara!"

Bentakan nyaring datang dari balik mobil-mobil. Ada Buana dan teman-temannya di sana. Cowok itu melihatnya digendong Kin dan berusaha mendekat ke arah mereka, tetapi Rossa yang berpapasan dengan Buana lebih dahulu menepis tangan cowok itu.

"Nggak usah lo sentuh-sentuh teman gue. Sana lo pergi sama pelakor itu!" seru Rossa sambil diajak masuk ke mobil oleh Natha.

Buana tidak peduli, berusaha mengejar Andara yang sedang dibaringkan di dalam mobil oleh Kin. "Biar Andara balik sama gue," ucap Buana mengadang Kin saat cowok itu menuju kursi kemudi.

"Nggak, dia balik sama gue," balas Kin bersikukuh.

"Gue hafal banget modus-modus cowok kayak lo. Dia balik sama gue!" tekan Buana.

"Kaca di kamar lo kurang besar?" tanya Kin sambil meringis sinis. Kali ini dia sengaja menatap lekat Buana dari atas sampai bawah. "Sebelum ngeluarin kata-kata, tolong organ vital di kepala lo dipakai dulu."

Perdebatan itu masih bisa Andara dengar di antara rasa sakit di kepalanya. Ketika ia membuka mata, ia melihat Kin dan Buana di depan mobil. Pergerakan beberapa anggota Marionette yang mendekat ke arah mereka berdua juga disadari Andara, membuatnya berusaha bangkit dan segera keluar dari mobil meski langkahnya goyah.

"Jangan ganggu Kin gue!" pekiknya sambil memeluk leher Kin. Memang kesadarannya tinggal sedikit tetapi dia masih ingat untuk berakting. Saat tangannya melingkari leher, Kin memegang pinggangnya guna menahan agar tidak terjatuh. Kepala cowok itu tertunduk ke arahnya.

Wajah Oppa Korea itu membuat Andara yakin kalau dia tidak salah memilih partner. Buana harus tahu kalau dia sudah memiliki pengganti, dan penggantinya adalah Kin. Sekonyong-konyong, Andara mendekatkan wajahnya ke wajah Kin dan mengecup pelan bibir itu.

1
HaniHiko
Nemu lagi karya yg bagus senengnya pake bnget..tulisanmu keren Thor👍
Me mbaca
ikut mewek aku kak...hiks...
Me mbaca
wah kereeen ini novelnya
Me mbaca
wah kereeen ini novelnya
Imas Karmasih
mampir thor kayanya seru
Dialodila
weyyy gue nangisss iniiii, nyesek bangetttt😭😭😭
Ninik Roichanah
Benar benar manusia berbulu srigala si ocha iki
Arin Minty
Bagus bgt novelny...Semua tokohny bikin emosi ...😘
Rossana Ardian
Kapan ya ini dibukukan. Udah lama aku baca ini sampe tamat, mau baca ulang lagi.
Pocut
Ga jelas bgt si buana ni
Pocut
Naga2nya kim mulai naksir nih
Risma Wati
sumpah ini cerita bagus bangeeeeeettttt,sayang yg like sedikit yaa,tetep semangat buat authornya..di tunggu cerita2 laennya💪💪💪
miarty ayus
jujur aku ngos-ngosan banget baca ini. kerasa banget drama kehidupan sis Ara, sampai ga bisa baca banyak bab sekaligus (ada untungnya jg baca Andara telat, jadi udah selesai ditulis hehehe). tapi seperti tulisan2mu yang lain (Sabda dan Hablur), aku puassss banget bacanya. seru, cerdas, alurnya ga bisa ketebak.
keep on writing yaaa.. pasti bisa jadi one of the best Indonesian author deh, yaqiinn.. thank you for sharing this roller coaster story of Andara, Buana dan Kin :)
nadyasiaulia: Ih, sister. Bisaaaa ajuaaah. Hahahaha.
Makasih ya, sis. Komenmu menguatkan aku yang mager mengetik ini.

love love,

Si Tukang Roller Coaster
total 1 replies
Nurul Hidayah Msi Mencirim
aku suka cerita nya Thor ,tp ntah kenapa aku msh gak terima klu buana mati Thor,walaupun aku suka Andara jd sama kin.
Asti Anastasia
kin sama Rosa??? huekkkk
Asti Anastasia
q gak pernah ngebayangin Buana "pergi"
Asti Anastasia
di part ini q menangis...q seperti ikut merasakan apa yg Andara rasakan🥺🥺😭😭
🐝 Kim Jihan 🦋
novel terkeren dan ter the besttt 😘😘😘😘🥰🥰🥰🤩🤩🤩😍😍😍💜💜💜💜💐💐💐💐🤗🤗🤗
🐝 Kim Jihan 🦋
woww 17 tahun ba ciptain cerita begini.. sini dekk duduk sama Tante.. ehh mba aja dehh kuy kita ngopi dimana gt secara kita sama2 org Medan gt dek 🥰🤩
nadyasiaulia: Ampooon, Tante. Wkwkwkwk. Boong kok saya, boong. 🥺🙏
total 1 replies
🐝 Kim Jihan 🦋
ya lord pendakian ku hanya sampai dsini 😭 GK rela bgt udh end walau aku blm baca epilognya 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!