Mengisahkan seorang pemuda manja cucu dari wanita lansia yang kaya raya, Dia hidup dengan segala aturan yang diterapkan sang Oma hingga akhirnya menikah dengan gadis yang pura-pura jadi pacarnya untuk memenuhi permintaan terakhir dari wanita yang di anggap sebagai Ibunya Cinta dan juga akibat kesalah pahaman semata dari sang Oma yang menginginkan hal serupa, namun setelah menikah Oma Alima sangat terkejut saat mendapti Foto Ibu Cinta adalah mantunya yang dinikahi sirih oleh Suryo Pranoto putra tunggalnya Dua puluh tiga tahun silam. sejak kejadian itu Al dan Cinta dipisahkan karena di anggap menjalin hubungan terlarang. Banyak juga liku-liku yang mereka lalui setelah kejadian itu dari hadirnya orang ketiga dan orang yang datang dengan dendam. Apakah pernikahan Al dan Cinta adalah pernikahan sedarah? lalu bagaimana reaksi keduanya?dan bagaimana cara Al dan Cinta melewati bahtera dalam rumah tangga mereka? Baca terus setiap episode nya ya kalau ingin tahu kisah cinta kedua cucu manja Oma??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part_09 Di antar
Selain Cinta, Al juga sedang menanti mobil jemputan nya didepan teras kampus, Ia tampak celingukan dengan raut wajah yang tak karuan, kesal dan emosi berbaur jadi satu. "Dasar orang aneh! Kebiasaan kan, aku selalu disuruh menunggu saat mereka sedang sibuk, kalau aku kabur semua pada geger nyariin, dasar kutil! emang aku buronan apa? kau pikir aku gak capek diperlakukan kayak gini!" begitulah Ia terus ber gerutu disela rasa lelahnya menanti.
Tak jauh dari arah gerbang, sebuah mobil BMW masuk diantara guyuran hujan yang lebat, mobil itu berhenti tepat didepan Al berdiri, Lalu keluar seorang dari dalamnya.
"Maafkan saya Tuan Muda, saya telat datang untuk menjemput," Ucapnya dengan rasa antara takut dan sebagainya sedikit khawatir mendapat amukan dari Al.
"Tak apa, jangan lakukan lagi jika masih ingin berkerja bersama ku."
Sang sopir tercengang, Ia tak menyangka Tuan Muda nya baru saja berkata dengan lembut padanya, padahal Al adalah orang yang sangat bawel setiap dalam kondisi seperti ini. "Tuan tidak marah sama saya?" tanyanya ditengah rasa bingungnya.
"Iya, apa kau ingin aku marahi, jika ingin? maka akan ku pecat sekarang juga!" sentak Al terpancing sambil menaikan sebelah alisnya.
"Tidak Tuan Muda, jangan! jika saya dipecat bagaimana nasib saya nantinya, saya kan masih harus menabung untuk persiapan menikah, Tuan?" sopir itu tampak memelas dan ketakutan.
"Kalau begitu buka pintunya!" titah Al dingin, sedingin es Tuntung.
Sopir itu berlari mengambil payung dan segera memayungkannya pada Al, lalu bergegas membuka pintu agar Tuanya segera masuk.
"kemana kutil dan ajudan nya? apa urusan di kantor belum selesai?" Tanya Al saat mobil mulai bergerak.
"Ya Tuan, sepertinya Pak Danu akan membuat masalah pada Tuan dan keluarga," timpal sang sopir yang tengah sibuk mengemudi. Kaca mobil tampak buram karena basah oleh hujan hingga sedikit mengganggu penglihatan nya, walaupun alat penyapu air sudah diaktifkan.
"Ow.... baguslah aku bosan terus diikuti," decak Al kemudian. Siapa yang tak bangga jika Ia akhirnya bebas juga dari pengawasan orang-orang yang menyebalkan itu. Namun saat sibuk dengan senyum di bibirnya, Matanya tampak sedang menangkap mutiara yang sedang berdiri di halte.
"Berhenti didepan gadis itu, Pak!" titah Al menunjuk ke arah gadis yang dimaksud.
"Baik Tuan Muda." Sang sopir segera menghentikan mobilnya tepat didepan Cinta yang masih setia berdiri disana. Al segera keluar dari mobil dan melepaskan jaketnya untuk menutupi kepala Cinta.
"Ayo masuk!" Al segera menggenggam tangan Cinta untuk segera ikut denganya, tapi entah kenapa Cinta tak menolak dan pasrah saja dengan ajakan Al.
"Mau ngapain?" Cinta sedikit gugup dan panik, saat ada di dalam sebuah mobil mewah dan berada persis disamping Al.
"Aku antar, dimana rumahmu?" selidik Al sembari menatap tajam kearah Cinta.
"Aku mau ke kafe, soalnya aku bekerja paruh waktu disana," jelas Cinta yang memalingkan wajahnya kearah jendela. Ia tak berani menatap kearah pria disampingnya, Jantungnya akan membuat dirinya malu jika didengar orang disampingnya itu.
"Hey, kau sedang bicara dengan ku, bukan dengan kaca mobil itu!" gerutu Al yang tak terima lawan bicaranya tak mau memandangnya.
"Ha, apa perlunya aku melihat mu? aku gak tuli tauk! aku masih mendengar jelas suara mu," balas Cinta.
Al membulatkan kedua matanya dengan sempurna. "Wah kau ini, benar-benar tidak menghargai aku, liat sini!"
"Gak mau," tolak Cinta yang merasa lebih nyaman menatap kearah jendela dari pada menatap wajah Al.
Sesaat Al tersenyum dan menggerakkan tanganya ke pinggang Cinta. "Hahaha... aku tahu, kau pasti deg-degan kan melihat wajahku yang ganteng ini, kan" godanya kemudian.
"Ih apaan sih? siapa yang deg-degan, ha?" Begitu lah Cinta, Ia akan terus menimpali Al dengan suaranya, walaupun hatinya tak bisa membohongi diri nya sendiri kalau Ia merasa gugup saat ini.
Al langsung menarik tubuh Cinta ke dekapannya secara spontan. Cup! Tampa sengaja dan direncanakan wajah keduanya bertabrakan saat Cinta terkejut membalikan badan. Mereka pun saling bertatapan dalam waktu yang sangat lama.
Sang sopir yang melihat dari balik kaca spion pun hanya mengulum senyum, kedua sejoli itu tampak sangat mesrah.
"Nampaknya Tuan Muda sudah mulai move on rupanya," batin sang sopir dalam diamnya.
Al pun berusaha menikmati suasana itu, Bibirnya yang sudah sangatlah dekat dengan bibir lembut Cinta mulai hendak berulah. Tampa sadar bibir itu saling bersentuhan satu sama lain. Jiwa Ke jombloan Cinta mendadak meronta-ronta, Ia langsung mendorong tubuh Al dari sisinya. "Apa yang kau lakukan, Tikus got?" Cinta sedikit merasa kesal, wajahnya tampak memerah bukan tak ingin disentuh, tapi Ia merasa malu pada Al maupun sopirnya, padahal Ia sangat tentram mendapatkan perlakuan sehangat itu dari seorang pria, baru kali ini, Cinta disentuh oleh lelaki selama hidupnya.
"hah, liat wajah mu memerah! apa kau tidak pernah berciuman?" Goda Al yang menangkap kepolosan gadis itu.
Cinta mengerucut dan memegangi kedua pipinya. "Ish Kau ini, pandai sekali bersilat lidah, bukankah kau yang ingin diperlakukan seperti itu pada semua gadis!"
"Heh, entahlah, aku tidak mudah tertarik pada mereka." Al pun menyandarkan kembali punggungnya ke jok mobil. "Tapi dengan mu beda, Aku merasa tenang ada disamping mu."
"Ha, kenapa begitu?" tanya Cinta manyun padahal hatinya sedang terbang diatas awan ketika mendengar ucapan Al. Dirinya tak menyangka, seorang Al menempatkan dirinya istimewa dan berbeda dengan yang lain.
"Aah, dia pasti mau mempermainkan aku, mana mungkin orang kaya kayak dia suka sama aku".
Cinta berekspektasi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku pasti hanya GR saja."
Al terkekeh memperhatikan kelakuan Cinta yang tak disadarinya. "Ada apa dengan mu? lebih baik jujur saja, kau suka kan dengan ku?" cecar Al meminta Cinta mengakui perasaannya.
"Ha, tidak! aku hanya memikirkan pekerjaan ku," elak Cinta cengengesan Padahal wajahnya sama sekali tidak menunjukan ke kekhawatiran pada nasib pekerjaannya itu.
"Dimana kau bekerja?" tanya Al kemudian.
"Di kafe Mutiara Beautiful Flowers," ucapnya dengan serius kali ini. "Al, Kau pasti merencanakan sesuatu ya, sama aku?" delik Cinta.
"Apa maksudmu?" Al kurang paham maksud Cinta. "Oh, karena kebaikan ku pada mu hari ini atau_?" ucapnya menggantung. "Kau merasa tidak nyaman dengan ku saat ini?" Al mengernyit namun wajahnya tampak sangat tulus. Tapi entahlah, tidak ada yang tau hati Al saat ini apakah memang hanya kedok atau sungguhan hanya Al lah yang tau.
Cinta tak menjawab dan memilih diam hingga akhirnya mereka tiba didepan kafe, hujan juga mulai reda, Cinta bergegas turun dari mobil itu.
"Tunggu! apa kau tidak akan mentraktir ku kopi? aku sudah mengantar mu dengan selamat sampai disini." Sergah Al menarik lengan Cinta setelah ikut turun.
"Ha," Cinta melongo. "Minta imbalan rupanya, kupikir kau beri aku tumpangan gratis?"
"Enak saja, didunia ini mana ada yang gratis," timpal Al. Ia melangkah masuk kafe mendahului Cinta.
"Hey, tunggu" teriak Cinta. "Oke duduk sini aku mau menemui Bos ku dulu!" tuturnya setelah tiba di sepasang meja kosong.
"Gak perlu," sahut Pak Edy dengan wajah merah karena hendak menumpahkan marahnya pada Cinta. "Liat! semua sedang sibuk melayani pelanggan kau malah datang terlambat, apa kau sudah lelah bekerja disini, sudah untung aku mengijinkan mu bekerja paruh waktu di kafe ini, coba cari kafe yang lain! kau tidak akan menemukan tempat sebaik kafe ini." Begitulah Pak Edy memarahi Cinta tampa jeda dan memberi kesempatan Cinta untuk menjelaskan semuanya.
"Maaf Pak," lirih Cinta. Ia tak berani dan terima saja di marahi ataupun dimaki oleh Pak Edy asal dia tetap bisa bekerja di kafe itu.
hay kk semua, mampir yuk di novel favorit aku, SYAHDU by otor ALFAJRY, Dan karya 1 nya lagi SANG PENAKLUK yang TAKLUK. keren deh. cus kesana ya kk2... 😉