NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 — Coba Kalau Dulu Nggak Cerai

Malam setelah kejadian di restoran, Karina tidak bisa tidur.

Suara Arya terus terulang di kepalanya.

Dia istriku.

Dua kata yang dahulu ia anggap pasti menjadi miliknya kini diberikan Arya kepada Anindya di depan banyak orang.

"Karina! Airnya sudah mendidih belum?"

Suara Bu Marni dari dapur memaksanya bangkit. Pergelangan kakinya belum pulih sepenuhnya. Ia berjalan perlahan dengan penyangga, lalu menemukan panci yang hampir kering di atas kompor.

"Ibu suruh jaga sebentar," keluh Bu Marni. "Kenapa malah melamun?"

"Aku capek."

"Ibu juga capek. Besok pagi Bapakmu harus masuk rumah sakit. Berkasnya sudah lengkap?"

Karina melihat map bening di meja. Kartu identitas, hasil laboratorium, surat rujukan, dan jadwal tindakan bercampur tanpa urutan.

Dulu Arya menyusun semuanya dalam beberapa bagian dan memasang label warna. Karina tinggal membawa map, lalu duduk menemani ibunya.

Sekarang ia harus memeriksa satu per satu sambil menahan nyeri kaki.

"Belum," jawabnya.

Bu Marni mengaduk bubur. Hasilnya terlalu encer dan sebagian menghitam di dasar panci. "Kenapa tidak dari tadi?"

"Tadi aku bertemu Arya."

"Dia mau pulang?"

"Nggak."

"Uang operasi?"

Karina menggeleng.

Bu Marni membanting sendok kayu. "Anak itu benar-benar tidak tahu balas budi."

Karina ingin setuju, tetapi bayangan di restoran mencegahnya. Arya tidak tampak kejam. Ia tampak tenang, rapi, dan hidup. Bahkan caranya menuangkan air untuk Anindya terlihat jauh lebih ringan daripada ketika melayani keluarganya dahulu.

"Bu," katanya pelan, "dulu kita terlalu banyak meminta dari Arya?"

Bu Marni berhenti mengaduk. "Kamu sekarang membela dia?"

"Aku cuma bertanya."

"Dia menantu. Wajar membantu orang tua."

"Tapi kita nggak pernah tanya dia punya uang atau tidak."

"Dia laki-laki. Harus cari cara."

Jawaban itu persis seperti ucapan Karina dahulu.

Ponselnya berbunyi. Pengemudi yang dipesan untuk esok pagi meminta konfirmasi. Setelah itu, rumah sakit mengirim daftar biaya awal yang harus dibayar sebelum tindakan.

Karina menatap angka seratus dua puluh juta untuk deposit.

"Kita harus bayar malam ini," katanya.

Bu Marni menyodorkan ponsel. "Bayar dari uangmu dulu. Setelah Arya sadar, minta ganti."

"Dia tidak akan mengganti."

"Kalau anakmu lahir, dia pasti berubah."

Karina tidak menjawab. Ia memindahkan uang ke rekening rumah sakit. Saldo yang tersisa turun drastis. Angka satu miliar yang pernah terlihat seperti pintu menuju hidup mewah kini terasa seperti pasir yang terus lolos di antara jarinya.

Mereka mencoba menyajikan bubur kepada Pak Suryanto. Satu suap membuat pria itu mengernyit.

"Asin," katanya.

Bu Marni mencicipi, lalu menyalahkan bumbu. Karina membuka aplikasi pesan-antar dan memesan makanan lain sesuai catatan lama Arya.

"Jam segini masih pesan?" keluh ibunya.

"Kalau Bapak makan ini, perutnya bisa lebih sakit."

"Arya biasanya bisa bikin bubur yang pas."

Nama itu muncul lagi.

Karina kembali ke meja dan menyusun berkas. Ia baru sadar surat rujukan asli tertinggal di klinik. Ia menelepon, memohon agar petugas menunggu lima belas menit, lalu memesan kendaraan lain untuk mengambilnya.

Biaya kembali keluar.

Ketika kendaraan tiba, hujan turun lagi. Karina memandangi penyangga kakinya dan hampir menangis.

"Ibu yang pergi," kata Bu Marni.

"Ibu nggak tahu kliniknya."

"Kirim lokasinya."

"Nanti salah ambil. Aku saja."

Ia turun ke teras. Angin membawa titik hujan ke wajahnya. Dahulu Arya akan mengambil kunci motor tanpa diminta, menyuruhnya tetap di rumah, dan pulang membawa dokumen dalam sampul plastik.

Karina menunggu gerakan itu.

Tidak ada siapa pun.

Ia masuk ke mobil dan pergi sendiri.

Hampir tengah malam ketika semua berkas akhirnya tersusun. Pak Suryanto sudah tidur. Bu Marni mendengkur di sofa. Karina duduk di lantai dengan punggung bersandar pada meja.

Ponselnya menampilkan foto lama: Arya memegang dua koper di stasiun sementara dirinya dan ibunya tertawa di depan kamera. Di foto berikutnya, Arya tertidur di kursi rumah sakit sambil memeluk map berkas ayahnya.

Karina dahulu mengunggah foto itu dengan tulisan, "Suami memang harus berguna."

Ia baru sekarang melihat lingkaran hitam di bawah mata Arya.

Air matanya jatuh ke layar.

"Coba kalau dulu aku nggak cerai," bisiknya.

Kalau tidak bercerai, Arya pasti menjemput orang tuanya. Arya akan memasak. Arya akan menyusun berkas. Arya akan mencari uang operasi meski harus bekerja sepanjang malam.

Namun, penyesalan itu masih berpusat pada semua yang akan dilakukan Arya untuknya.

Karina belum bertanya satu hal yang lebih penting: apa yang pernah ia lakukan untuk Arya?

Pagi berikutnya, ia mengantar ayahnya ke rumah sakit dengan mata bengkak. Seorang perawat meminta keluarga menandatangani formulir, mengambil obat awal, dan mengurus kamar rawat.

Karina berpindah dari loket pendaftaran ke kasir, lalu ke apotek. Antrean panjang membuat kakinya kembali berdenyut. Ketika nomor antreannya dipanggil, petugas mengatakan fotokopi kartu keluarga kurang satu lembar.

"Bisa difotokopi di mana?" tanyanya.

"Gedung sebelah, lantai dasar."

Ia berjalan lagi. Lift penuh, sehingga ia menunggu hampir sepuluh menit. Bu Marni menelepon tiga kali karena Pak Suryanto ingin minum dan tidak tahu botol mana yang berisi air hangat.

"Aku masih urus berkas, Bu."

"Cepatlah. Bapakmu gelisah."

Karina menatap orang-orang yang juga berlari membawa dokumen. Tidak ada seorang pun yang peduli bahwa ia hamil atau kakinya sakit. Dunia tidak berhenti hanya karena Arya berhenti membantunya.

Setelah fotokopi selesai, petugas lain meminta persetujuan anestesi yang belum ditandatangani dokter. Karina kembali ke ruang rawat, mencari perawat, lalu menuju ruang konsultasi.

Saat melewati kantin, aroma makanan membuat perutnya mual. Ia belum sarapan. Dahulu Arya selalu menyelipkan roti dan air mineral ke dalam tasnya sebelum berangkat ke rumah sakit.

Kini tasnya hanya berisi struk, kuitansi, dan kabel pengisi daya yang kusut.

Di depan ruang konsultasi, Karina duduk sebentar dan menutup wajah. Ia tidak merindukan pernikahan mereka secara utuh. Ia merindukan rasa aman yang diciptakan Arya dari ratusan pekerjaan kecil yang tak terlihat.

Kesadaran itu membuat penyesalannya terasa lebih memalukan.

Seorang perawat mengenali penyangga kakinya. "Ibu sebaiknya jangan terlalu banyak berjalan. Ada keluarga lain yang bisa menggantikan?"

Karina menggeleng. "Nggak ada."

Untuk pertama kalinya, jawaban tersebut benar-benar terdengar nyata di telinganya sendiri.

Bu Marni berbisik, "Seandainya Arya ada."

Karina menatap kursi kosong di sebelahnya.

Ia membuka ruang percakapan lama dengan Arya. Ribuan pesan di sana hampir semuanya berupa permintaan: beli obat, jemput Ibu, bayar tagihan, jangan pulang terlambat. Ia menggulir jauh, mencari satu pesan yang pernah menanyakan apakah Arya lelah.

Ia tidak menemukannya.

Jarinya mengetik, "Mas, aku benar-benar menyesal."

Namun, tanda peringatan muncul. Pesan tidak dapat dikirim karena nomornya diblokir.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menyalahkan pria itu karena kursi tersebut kosong.

Ia menyalahkan dirinya sendiri karena pernah menyuruh Arya pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!