Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.
Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."
Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.
Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinopsis
Sinopsis:
Rana, gadis berusia 19 tahun yang manis dan ramah, tinggal bersama neneknya dan pamannya, seorang pengecer di bawah penguasa bukit yang akhirnya tewas dalam sebuah penyerbuan. Sejak itu Rana serabutan: malam hari jadi pelayan di sebuah kedai di bukit, siang hari membersihkan apartemen-apartemen di kota bawah. Hidupnya terasa runtuh saat tahu penyakit neneknya tak bisa disembuhkan, sementara perawatan agar sang nenek bisa hidup lebih tenang harganya selangit, dan dia tak punya uang sedikit pun.
Arga, pria 30 tahun yang bukan lagi bocah, tapi lelaki dewasa dengan hati yang tertutup untuk cinta. Bagi dia, perempuan hanya untuk memberi kenikmatan lalu dibuang. Dialah penguasa Bukit Firdaus, orang yang ditakuti dan disegani semua orang, yang tak membiarkan satu hal pun lewat begitu saja. Perempuan sudah tak terhitung mengejarnya, karena uang bukan masalah buat dia.
Begitu pertama kali melihat Rana melayani di kedai, dia langsung terpaku. Dia sempat mencoba mendekat, tapi Rana tak menggubrisnya, dan itu membuatnya naik darah. Sejak itu dia melarang semua orang mendekati Rana. Tak lama Arga masuk penjara, tapi dari balik jeruji dia tetap mengawasi hidup Rana. Begitu tahu soal penyakit sang nenek, terlintas sebuah ide: mengajukan satu tawaran.
Akankah Rana menerima tawaran seorang bandar narkoba, dan melanggar prinsip hidupnya sendiri?
Rana (narasi)
Pertama-tama aku perkenalkan diri dulu ya. Namaku Ranaya, tapi semua orang memanggilku Rana. Umurku 19 tahun, kulitku putih, mataku hijau air. Tubuhku lumayan bagus, itu juga cuma berkat alam, karena sebenarnya aku tidak pernah merawat diri. Rambutku lurus, panjang, berwarna cokelat, dan di lenganku ada tato mawar. Aku tinggal bersama nenekku, Nenek Mariam. Siang hari aku kerja harian di kota bawah, malam hari aku jadi pelayan di kedai Pak Mansur. Dengan begitu hidup nenekku bisa tetap tenang. Sampai sekarang aku masih perawan. Sebenarnya aku belum pernah pacaran. Dulu waktu masih sekolah aku memang pernah dekat dengan beberapa cowok dari kota bawah, tapi dengan cowok dari bukit tidak pernah sama sekali. Aku takut setengah mati. Amit-amit jadi perempuan preman dan tiap hari kena pukul.
Pagi hari:
Aku bangun pagi, mandi, lalu pakai legging hitam, kaus abu-abu, dan sepatu kets hitam. Rambutku kuikat jadi sanggul longgar, kuberi parfum, lalu aku ke dapur. Dari sana sudah tercium aroma kopi.
"Selamat pagi, Nek." Kucium pipi nenekku.
"Pagi, Sayang. Roti lapismu sudah Nenek siapkan." Nenek menyodorkan roti isi ham dan keju.
Kopiku kuminum cepat-cepat, lalu kusambar tas untuk berangkat.
"Rana, kamu belum makan apa-apa, Nak," kata nenekku.
"Sudah telat, Nek. Aku pergi dulu." Aku sudah melangkah keluar pagar rumah.
Aku turun dari bukit setengah berlari supaya tidak ketinggalan bus. Saat hampir sampai di pos jaga, kudengar suara motor. Ternyata penguasa bukit sedang berhenti di sana. Entah kenapa, dia selalu bikin bulu kudukku berdiri. Orangnya tampan, tapi aku takut sekali padanya. Aku sudah mendengar cerita-cerita mengerikan tentang dia.
Aku melewati pos jaga dan merasakan tatapannya jatuh padaku. Aku pura-pura tidak melihat dia sedang memandangiku, terus jalan, lalu menunggu di halte. Tak lama busku datang.
Aku naik dan langsung menuju pusat kota. Turun dari bus, aku menuju apartemen tempat aku harus kerja hari ini. Aku kerja di sebuah perusahaan penyalur tenaga bersih-bersih harian. Tiap hari aku dikirim ke rumah yang berbeda, alamatnya dikirim lewat ponsel, dan aku berangkat pasrah saja, karena ada hari-hari ketika aku ingin kabur.
Sampai di apartemen, ternyata tidak ada siapa-siapa di rumah. Aku langsung mulai bersih-bersih dan menghabiskan seharian membereskan semuanya. Jam empat sore selesai, dan aku sudah kehabisan tenaga. Aku pulang, turun dari bus, dan mendaki bukit dengan badan remuk, sampai kudengar suara.
"Rana, tunggu dong!" Aku menoleh dan melihat Dinda, sahabatku. Sebenarnya satu-satunya sahabatku.
"Kamu dari mana, Din?" Kucium pipinya.
"Bayar-bayar tagihan buat Mama." Dia menjawab.
"Kamu kerja malam ini?" tanyanya.
"Tentu saja. Malam ini ada musik live, kedai pasti penuh. Itu hari paling sibuk buatku." Aku menghela napas.
"Ya ampun, Ran, kamu kerja kerasnya keterlaluan. Sebentar lagi kamu bisa tumbang. Kamu harus keluar, kenalan sama cowok." Dia bersemangat sekali.
"Kamu gila ya? Aku nggak punya waktu buat begituan." Aku terus berjalan pelan-pelan.
"Aku belum cerita ya, aku lagi dekat sama seseorang." Dia makin semangat.
"Siapa?" tanyaku, mulai khawatir.
"Bayu."
"Ya Tuhan, Din, dia itu wakil penguasa bukit! Kamu sudah gila? Mau cari mati?" Aku benar-benar cemas.
"Sudahlah, Ran. Sama aku dia beda." Dia menjawab.
"Ya sudah, kamu yang tahu mana yang baik buat kamu." Dalam hati aku heran dengan nekatnya anak ini.
Kami sampai di depan rumahnya. Dia masuk, aku naik sedikit lagi sampai ke rumahku. Nenek sudah duduk di ruang tengah, menonton sinetron.
"Hai, Nek." Kucium nenek.
"Hai, Sayang. Makananmu Nenek taruh di microwave." Nenek menjawab sambil merajut.
"Aku belum lapar, Nek. Mau mandi dan istirahat dulu, nanti baru makan." Aku masuk kamar, mandi, memakai kaus besar dan celana dalam saja, lalu berbaring dan tertidur.
Aku terbangun karena alarm ponsel. Sudah jam enam sore. Aku mandi lagi, memakai jeans, baby look putih, dan sepatu kets putih, mengikat rambut jadi ekor kuda, dan berdandan tipis. Kupakai parfum, dan aku siap. Aku ke dapur menghangatkan piring makananku, makan, menyikat gigi, mengoles lipstik, pamit pada nenek, lalu langsung ke kedai Pak Mansur, karena sudah waktunya aku masuk.
Foto Rana 👆