Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.
Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.
Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.
Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Saat Aku Mulai Peduli
Damon
Sudah lama aku tidak sesenang ini.
Felipa sudah mengulang penetapan yang sama lima kali.
Si pirang itu mengembuskan napas kesal, jelas sudah di batas kesabaran. Dan, jujur saja, ini bukan karena ulahku. Teksnya hanya mengandung satu kesalahan. Satu kesalahan saja yang belum dia sadari karena terlalu ingin cepat selesai sampai tak lagi melihat yang jelas.
Kuperhatikan dia menggelung rambut jadi sanggul longgar.
Dia cantik.
Dan entah kenapa, hari ini tampak lebih cantik lagi.
"Coba lihat, sudah benar belum sekarang, Yang Mulia?"
Nada mengejek menetes dari suaranya.
Kubuka berkasnya, membacanya sekali lagi, dan menarik napas dalam sebelum menjawab.
"Salah. Ulangi."
Dia memejamkan mata beberapa detik, seperti sedang menghitung sampai sepuluh dalam hati supaya tak menyuruhku pergi ke tempat yang kurang pantas bagi seorang hakim Mahkamah Agung.
"Dan di mana salahnya?"
Kulipat tangan dan tak melepas mataku darinya.
"Kamu mencampuradukkan penetapan, putusan sela, dan putusan akhir."
Dia menatapku dalam diam.
"Penetapan administratif tidak memuat substansi putusan. Kalau suatu tindakan menyelesaikan persoalan insidental atau menghasilkan keputusan atas suatu hak, ia tak bisa diperlakukan sebagai penetapan biasa. Dan akibatnya, ia tidak boleh mendapat klasifikasi yang sama atau menimbulkan akibat hukum acara yang sama."
Kekesalan di matanya perlahan lenyap.
Lalu akhirnya, dia paham.
Mata Felipa berbinar.
"Ah..."
Dia menatap layar lagi dan tersenyum, menyadari kesalahannya.
Senyum kecil, spontan.
Dan, di luar keinginanku, aku memperhatikannya terlalu lama.
Dia makin cantik saat tersenyum.
Felipa menyadari kekeliruannya sendiri, menggeleng, lalu mencurahkan seluruh perhatiannya ke laptop. Jari-jarinya mulai berlari di atas keyboard.
Kali ini tak lama.
Dalam beberapa menit, dia menutup berkasnya dan meletakkannya di hadapanku.
Kubaca drafnya.
Sempurna.
Kualihkan mataku ke laptop, menjaga ekspresi tetap datar.
"Disetujui, Felipa."
Dia terdiam beberapa detik.
Mungkin menunggu pujian.
Tak akan dapat.
Aku sudah cukup berbaik hati dengan memberitahunya di mana salahnya.
Aku bicara lagi:
"Kamu boleh pulang, Felipa. Sudah lewat jam kerjamu."
Dia melirik jam di meja dan mengernyit.
"Tapi saya belum menyelesaikan semua tugas."
"Itu bukan masalahku."
Dia menatapku beberapa detik.
"Saya akan selesaikan dulu."
Aku tak berkata apa-apa lagi.
Aku hanya kembali pada pekerjaanku, menegaskan bahwa keputusan ada di tangannya.
Sore menjelang malam jatuh perlahan di atas Mahkamah Agung. Jam berlalu dan lalu-lalang di koridor menyurut sampai gedung nyaris sunyi.
Ketika akhirnya aku mengangkat mata, Felipa sudah berdiri di depan mejaku.
Dia meletakkan dokumen terakhir di permukaan meja.
Semuanya selesai.
Semuanya benar.
Dia berdiri, mengambil tas, dan merapikan rambut sebelum menatapku.
"Terima kasih, Pak Hakim Bradfort."
Mataku mengikuti langkahnya saat dia meninggalkan ruanganku.
Baru ketika merasakan senyum tanpa sadar muncul di sudut bibir, aku sadar apa yang sedang kulakukan.
Wajahku langsung mengeras.
Ini konyol.
Felipa Bianchi mulai mengalihkan perhatianku lebih dari seharusnya.
Kuangkat tubuhku pelan dari kursi dan meregangkan badan, merasakan setiap otot protes setelah berjam-jam diam di posisi yang sama. Kuusap tengkuk untuk meredakan ketegangan dan berjalan ke jendela.
Kota membentang di depan mataku, ramai bahkan di jam segini. Mobil melintasi jalan raya, orang-orang berjalan terburu-buru di trotoar, dan di kejauhan, lampu-lampu gedung mulai menonjol seiring langit kehilangan sisa-sisa terang.
Lalu aku melihatnya.
Felipa.
Dia menyeberang jalan tergesa, memeluk tasnya sambil berusaha mengejar bus yang berhenti di seberang. Dia mempercepat langkah, nyaris berlari, tapi terlambat.
Sopir menutup pintu.
Bus berangkat.
Felipa berhenti di tengah trotoar dan mengikuti kendaraan itu dengan matanya sampai menghilang di antara mobil-mobil.
Aku memperhatikan adegan itu beberapa detik, tak mengerti kenapa aku masih berdiri di depan jendela.
Lalu tetes-tetes pertama mulai turun.
Hujan tipis yang gigih, jenis hujan yang tampak tak berbahaya sampai kamu sadar sudah basah kuyup. Felipa mengangkat wajah ke langit dan diam di sana, seakan menunggu hujan sudi memberi jawaban.
Rasa kesal yang aneh tumbuh dalam diriku.
Bukan urusanku.
Dia orang dewasa. Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Dan terutama, dia bukan tanggung jawabku.
Namun aku tetap menatap.
"Persetan."
Kubalikkan badan dari jendela.
Aku kembali ke meja, membuka laptop, dan mencoba berkonsentrasi pada pekerjaan. Ada penetapan yang harus kutelaah, perkara menunggu tanda tanganku, dan setumpuk dokumen yang tak akan lenyap hanya karena seorang peserta magang ketinggalan bus.
Kubaca baris pertama.
Lalu yang kedua.
Kembali ke yang pertama.
Kubaca lagi.
Tak ada gunanya.
Perhatianku terus kembali pada bayangan Felipa yang berdiri di trotoar itu.
Kupejamkan mata sesaat dan menarik napas dalam.
"Ini konyol."
Kubuka laptop lagi, tapi usahaku tak sampai dua menit.
Kututup layarnya lebih keras dari yang perlu, kuambil jas dari sandaran kursi, dan kupakai sambil berjalan ke pintu.
Aku tak tahu persis apa yang sedang kulakukan.
Sebenarnya tahu.
Dan justru itu yang membuatku kesal.
Aku turun ke parkiran, masuk mobil, dan menyalakan mesin. Hujan sudah makin deras, kaca depan tertutup tetes-tetes kecil yang disapu wiper dalam gerakan stabil.
Kulaju mobil ke arah halte.
Saat mendekat, kudapati Felipa bersandar di dinding, berusaha berlindung dari hujan di bawah atap sempit. Beberapa helai rambutnya menempel di wajah, dan dia mendekap tasnya sambil memandang jalan, mungkin menunggu bus berikutnya.
Kuperlambat mobil dan berhenti di sampingnya.
Kuturunkan kaca.
Felipa menoleh, kaget mendapatiku di sana.
"Masuk, Felipa. Aku antar."
Dia diam beberapa saat.
Pandangannya berpindah dariku ke mobil lalu kembali padaku, seolah menimbang apakah menerima tumpangan itu tindakan masuk akal atau langkah pertama menuju masalah.
Akhirnya dia membuka pintu dan masuk.
Dia menutupnya hati-hati, merapikan tas di pangkuan, dan menatap ke depan.
"Terima kasih, Hakim Bradfort."
Kualihkan mataku ke jalan dan menyetir.
Kuembuskan napas dalam, membiarkan senyum nyaris tak kentara muncul di sudut bibirku.