“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”
Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.
“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”
“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.
Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.
Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…
Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."
Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan, Nanti Bahaya
Menggunakan pakaian apapun masih terlihat begitu cantik. Pakaian yang kali ini memberikan kesan wanita karir perkotaan. Entah kenapa dokter spesialis ini malah terjebak di desa.
“Akunya yang tidak mau. Aku masih trauma pacaran.” Tristan mengangkat salah satu alisnya.
Pemuda yang kemudian mengolah nafas merogoh sakunya. Dirinya memberikan permen kepada beberapa warga dihadapannya.
“Ini hanyalah permen rasa buah. Aku berharap kedepannya, anggur-anggur di desa kita dapat lebih manis daripada permen ini. Mulai sekarang Aku adalah warga desa lumbung emas.” Itulah yang diucapkan olehnya.
Warga desa yang menerima permen itu. Memakannya di hadapan Tristan.”Mulai sekarang kamu adalah kakakku!” Teriak sang remaja.
“Mulai sekarang aku akan membelamu selayaknya Kamu adalah cucuku.” Seorang nenek tua yang berdiri di hadapannya menepuk-nepuk dadanya.
“Kamu adalah keluarga kami!” Seorang pria yang berada di samping sang nenek memakan permen pemberian Tristan. Wajahnya tersenyum tulus.
Vivian berucap dengan suara kecil.”Aku adalah istrimu nanti.”
Lagi lagi Tristan hanya dapat menghela nafasnya kemudian melangkah berlalu pergi.”Paman bibi aku permisi dulu…” ucapnya.
“Tristan sayang tunggu aku!” Vivian kembali mengejarnya.
Semua warga desa bahkan menipiskan bibir menahan tawanya.
Vivian, wanita itu sebenarnya bukanlah wanita murahan. Hanya saja standarnya terlalu tinggi, pria yang disukainya harus baik, pintar, mapan, setia dan bersedia tinggal di desa bersamanya.
Selama ini mungkin tidak ada yang sesuai dengan standar Vivian. Baru kali ini menemukan yang sesuai, dokter muda itu bagaikan cacing kepanasan.
“Akhirnya ada pemuda desa yang berhasil meluluhkan hati Vivian. Itu artinya Vivian tidak akan pergi ke kota bukan?”
“Aku sempat cemas, Vivian kalau sudah menemukan jodohnya akan pergi ke kota. Karena tipenya tidak ada sama sekali di desa ini. Kalau di desa ini tidak ada dokter, entah bagaimana nanti.”
“Tristan benar-benar membawa keberuntungan bagi desa kita.”
Beberapa warga desa tersenyum, melihat tingkah Vivian yang tidak tahu malu.
***
Semuanya sudah lengkap, hasil uji laboratorium menunjukkan. Kadar pestisida yang ada dalam anggur termasuk aman. Bahkan hampir tidak ada pestisida sama sekali.
Dirinya menatap ke arah warga desa yang begitu bersemangat untuk memanen anggur. Mereka terlihat begitu senang, meletakkan satu persatu buah anggur ke dalam keranjang.
“Jangan letakkan anggur yang busuk! Jangan petik yang terlalu muda, hanya petik yang sudah matang.” Suara teriakan dari kepala desa, memberikan arahan kepada petani.
Sinar matahari yang terik, aroma buah anggur masak menyengat. Pria itu memejamkan matanya, menghirup aroma yang mengalir di udara. Aroma manis harum dan masam…semuanya tercampur menjadi satu.
Perlahan membuka matanya. Pria ini sempat bekerja di salah satu pabrik anggur di Prancis. Anggur merupakan bagaikan nyawanya.
Dirinya mempelajari banyak hal, kualitas wine, kualitas buah, varietas yang dapat dijadikan minuman, varietas yang lebih baik dikonsumsi dalam keadaan segar.
Anggur memiliki banyak jenis, ada yang memerlukan perawatan khusus jika diletakkan di iklim yang salah. Ada juga yang dapat tumbuh bagaikan liar di iklim negara ini.
“Bos! Untuk pertama kalinya kita mengambil dari desa lumbung emas. Apa kualitas minumannya juga bisa berubah?” Tanya Ryan, yang selama ini membantunya mengelola pabrik anggur Heart.
“Aku sudah mencicipi buahnya, juga sudah memeriksa kadar air dan kemanisan buah. Semuanya dapat dikatakan masih di atas standar. Kamu hanya perlu mengikuti instruksiku dalam pengolahannya.” Tristan menjelaskan pada Ryan.
“Baik bos…” jawab Ryan pada majikannya.
Bahkan orang dari desa lumbung emas, sama sekali tidak mengetahui bahwa majikan dari Ryan yang menggunakan setelan jas resmi. Adalah pria dengan pakaian santai ini.
Pria yang hanya menggunakan kaos putih polos, serta jaket berwarna hitam.
Tidak ada yang mengetahuinya… pemegang saham terbesar dari perusahaan wine heart adalah Tristan.
***
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di desa makmur. Hendra menghela nafasnya, mulai menggunakan setelan jas resmi.
Dirinya adalah pegawai dari perusahaan wine heart. Hanya pegawai bagian marketing. Jadi dirinya mengetahui dengan jelas, bahwa desa makmur yang terpilih sebagai supplier tetap dari perusahaan tersebut.
Tapi untuk membohongi warga desa. Hendra mengatakan pada Juni, dirinya lah bos besar dari perusahaan Wine Heart.
“Hendra, Kamu mau berangkat ke kantor?” tanya Junita, masih berada di atas tempat tidur. Tubuhnya hanya berbalut sehelai selimut tipis. Di atas tempat tidur yang terbuat dari spon.
Bentuk guratan dari tubuhnya terlihat. Semalaman, Hendra benar-benar mempermainkannya di ranjang.
“Iya sayang…sebagai CEO perusahaan aku harus selalu teliti dan mengutamakan kepentingan perusahaan. Selain itu, tentang harga beli anggur tentu saja akan mengutamakan desa makmur.” Janji Hendra pada Juni.
“Benar! Kamu adalah pemilik perusahaan, tentu saja harus mengutamakan warga desa makmur. Utamakan untuk menjual anggur milik ayahku.” Suara bisikan dari Junita.
“Tentu saja sayang…” Hendra kembali mencium bibir wanita desa itu. Pria gendut yang menggunakan setelan jas, menggunakan sepatu kulit tiruan yang murah.
Tidak disangka begitu mudah untuk menipu warga desa. Terlebih menipu gadis desa ini.
“Jadi…anggurnya benar-benar kamu akan mengambilnya dengan harga rp50.000 per kg?” Tanya Junita pada kekasihnya.
“Tentu saja, aku kenal beberapa relasi yang bersedia mengambil anggur dengan harga rp60.000 per kg. Mereka adalah orang-orang yang mencari buah-buahan untuk dibawa ke supermarket besar. Hanya saja, untuk biaya angkut dan lain-lain, harus ditanggung secara pribadi.” Kalimat yang diucapkan Hendra penuh kesombongan.
Pria yang sama sekali tidak memikirkan biaya-biaya kecil lainnya. Dimulai dari biaya transportasi, biaya truk dan gudang pendingin. Ditambah dengan biaya sortir dan susut.
“Jadi kita untung rp10.000 per kg? Puluhan ton anggur kualitas premium yang ada di desa ini. Kita pasti akan untung besar!” Suara teriakan dari Junita kembali memeluk Hendra. Sedangkan Hendra hanya tertawa.
Tentu saja semua ini merugikan para petani. Rp50.000 per kg, semuanya hanyalah harga kotor. Mereka harus menanggung biaya angkut sendiri, menanggung biaya susut, menanggung biaya sewa gudang pendingin. Berbeda dengan Tristan, di mana rp35.000/kg adalah harga bersih. Buah-buahan yang bahkan sama sekali tidak disortir.
Hendra menghela nafas, setelah berciuman dengan Junita. Pemuda itu mulai melangkah meninggalkan rumah kepala desa.
Menatap ke arah jam tangan rolex palsu yang ada di pergelangan tangannya. Dirinya mulai menaiki mobil yang dibelinya secara mencicil.
Hingga tiba-tiba, ketika dirinya masih berada di belakang setir kemudi, suara telepon terdengar.
“Halo ada apa?” Tanya Hendra dengan nada malas.
“Hendra, kamu sudah dengar? Untuk pasokan anggur segar tahun ini akan diambil dari desa lumbung emas.” Ucapkan kerjanya dari seberang sana.
“Ke…kenapa?” Hendra terdengar gugup.
“Pak Ryan, CEO perusahaan memberikan instruksi seperti itu. Katanya pemilik perusahaan memutuskan untuk tahun ini mengambil dari desa lumbung emas. Tidak dari desa makmur lagi.” Kalimat dari rekan kerjanya, membuat Hendra menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi.
“Apa kamu masih bermain-main dengan anak kepala desa makmur? Kalau ketahuan perusahaan tidak jadi membeli anggur dari desa mereka. Kamu bisa diamuk massa.” Sebuah peringatan dari temannya yang pastinya sudah diketahui oleh Hendra.
mimpi basah🫣
Suka gitu author mah, setengah² ngasih clue na teh 😄
pedagangpun menolak
dah busuuuuuk 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
setelah diliat ternyata 😒😒
hadeeeeh
eh..salah Deng sekarang mah udh google berjalan yaa🫣🤣🤣
😁😁😁
semamgat berkarya, sukses selalu🤲