NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Romansa Batal, Akuisisi Paksa Jalan Terus

"Bos sendiri yang bilang kemarin, semua urusan manajerial operasional diserahin ke gue, kan?" Aura membela diri, menatap Caden menantang. "Lagi pula, dia ini murah dan rajin, Bos. Return of investment-nya tinggi buat ngurangin beban stres kerja gue. Harusnya Bos bangga punya asisten pinter out-sourcing kayak gue."

Lucas di belakang Caden hanya bisa memejamkan mata, berdoa untuk nyawa Mia dan Aura.

Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat rahang Lucas dan Mia hampir copot. Caden hanya mendengus geli, mengacak-acak rambut cokelat Aura dengan tangan besarnya—sebuah sentuhan yang sangat intim dan kasual.

"Terserah kau, Gadis Serakah. Asal dia tidak berisik, biarkan saja." Caden beralih menatap Lucas. "Lucas, pastikan hama merah muda itu tidak mendekati brankas utamaku. Hanya Elara yang boleh memegang kunci keduaku."

"B-baik, Yang Mulia," jawab Lucas lemas.

Mia yang sudah kembali duduk di kursinya, menatap Aura dengan pandangan memuja layaknya menatap dewi. Nona Elara... dia berani membentak Pangeran Kejam, dan Pangeran Kejam itu malah tersenyum padanya?! Nona Elara benar-benar wanita paling sakti di seluruh kekaisaran! batin Mia.

"Oh ya, Bos," Aura memutar kursinya menghadap Caden. "Gue mau lapor. Saham tambang baja di Fraksi Utara lagi anjlok karena isu tambangnya runtuh. Padahal itu cuma hoax yang disebarin sama rival politik Bos. Gue minta izin cairin lima puluh ribu koin emas dari akun Bos buat borong saham mereka hari ini. Pas berita aslinya keluar besok, harganya bakal meroket tiga kali lipat."

Caden menatapnya tajam. "Kau sangat yakin itu hoax, Elara?"

"Seribu persen yakin, Bos!" Yakin lah, di novel bab 20 itu emang diceritain kalau tambangnya aman-aman aja! tambah Aura dalam hati.

"Lakukan," perintah Caden mutlak. "Jika kau berhasil, aku akan mengabulkan satu permintaanmu malam ini."

"Satu permintaan apa aja?!" Mata Aura berbinar.

"Apapun."

"Oke! Siap-siap denger proposal kenaikan gaji gue, Bos!" seru Aura semangat, jarinya langsung menari di atas layar hologram.

Namun, sebelum transaksi itu berhasil diproses, pintu ruangan didobrak dengan sangat kasar.

BRAK!

Sekelompok pria berseragam militer putih masuk ke dalam ruangan. Di barisan paling depan, berdiri seorang pria paruh baya berwajah angkuh dengan lencana burung elang emas di dadanya. Di belakang pria itu, berdiri Pangeran Arthur dengan senyum penuh kemenangan.

Caden seketika berdiri tegak. Seluruh aura santainya menguap, digantikan oleh hawa membunuh yang sangat kental hingga membuat udara di ruangan itu terasa menyesakkan.

"Marquis Vane," desis Caden, menyebut nama pria paruh baya itu. "Apa kau sudah bosan hidup hingga berani mendobrak ruang pribadiku?"

Marquis Vane, Kepala Komite Audit Kekaisaran (dan pendukung setia Pangeran Arthur), tersenyum kaku. Ia sedikit gemetar merasakan tekanan aura Caden, namun ia berusaha menegarkan diri.

"Maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia Pangeran Caden. Tapi kami datang membawa surat perintah resmi dari Dewan Istana." Vane mengangkat sebuah gulungan perkamen berstempel merah.

Arthur melangkah maju, menatap Elara dengan pandangan merendahkan. "Kami di sini bukan untukmu, Caden. Kami di sini untuk menyelidiki asisten barumu yang sangat mencurigakan ini."

Aura berhenti mengetik. Ia mengangkat sebelah alisnya. "Gue? Diselidiki? Atas dasar apa, Hama Pirang?"

"Jaga mulutmu, Pelayan!" bentak Marquis Vane. "Kami mendapat laporan bahwa seorang pelayan rendahan secara ilegal melakukan transaksi bursa saham sebesar tiga puluh ribu koin emas kemarin lho! Berdasarkan hukum kekaisaran, pelayan tidak diizinkan memiliki aset lebih dari seratus koin perak tanpa bukti warisan! Ini pasti kasus penggelapan dana departemen!"

"Benar!" tambah Arthur bersemangat. "Elara, aku tahu kau dipaksa oleh Caden untuk menjadi pion pencucian uangnya, kan? Mengakulah. Kalau kau bersaksi melawannya hari ini, aku berjanji akan memberikan pengampunan dan membawamu ke istanaku."

Caden mengepalkan tangannya, urat-urat di lehernya menonjol. Ia baru saja akan mencabut pedang dari balik jasnya untuk menebas kepala Arthur, ketika sebuah suara tawa renyah menghentikannya.

"Hahahahaha! Aduh, aduh... sakit perut gue."

Aura tertawa terbahak-bahak, memegang perutnya. Ia berdiri dari kursinya, merapikan rompinya, lalu berjalan mendekati Marquis Vane dan Arthur dengan gaya bos mafia.

"Penggelapan dana? Pencucian uang?" Aura menatap Vane dengan tatapan meremehkan yang levelnya setara dengan Caden. "Bapak Auditor yang terhormat, sebelum Bapak dobrak pintu orang, Bapak udah cross-check laporan pajak tahunan saya belum?"

"L-laporan pajak apa? Kau pelayan yang bahkan terjerat utang lima ribu perak dua hari yang lalu!" balas Vane.

"Itu dua hari yang lalu, Pak Tua. Kondisi pasar itu dinamis." Aura merogoh sakunya, mengeluarkan Kartu Debit Imperial Black-nya, dan mengipas-ngipaskannya di depan wajah Vane.

"Bapak tahu ini kartu apa?"

Mata Vane dan Arthur melotot melihat kartu hitam berlambang naga emas itu.

"I-Imperial Black?! Bagaimana bisa... Caden, kau memberikan kartu tanpa limit itu pada pelayan ini?!" teriak Arthur panik.

"Sssst! Jangan potong omongan orang lagi presentasi, nggak sopan," tegur Aura pada Arthur. Ia kembali menatap Vane. "Modal tiga puluh ribu koin emas itu bukan hasil korupsi, melainkan hasil penjualan barang antik bersejarah miliki saya pribadi, yang dilelang secara tertutup kepada Pangeran Caden. Dan transaksi pembelanjaan saham Wilmer kemarin, dilakukan memakai akun sah milik Departemen Keuangan dengan sistem bagi hasil 20:80."

Aura menunjuk layar hologramnya yang menampilkan bukti transaksi digital. "Semuanya tercatat di blockchain istana, transparan, dan sudah dipotong pajak PPN sebesar 11%. Mana bukti penggelapannya? Atau jangan-jangan, Bapak Auditor ini malah nggak ngerti cara baca buku besar digital?"

Wajah Marquis Vane berubah pucat pasi. Ia menoleh ke arah Arthur dengan panik. Arthur sendiri tampak tidak percaya argumen hukumnya baru saja dipatahkan oleh seorang gadis pelayan.

Caden, yang sedari tadi menahan amarah, kini menyeringai lebar. Ia melangkah maju, berdiri tepat di belakang Aura, meletakkan kedua tangannya di bahu gadis itu secara protektif.

"Kalian dengar sendiri," suara Caden begitu dingin hingga menusuk tulang. "Asistenku adalah warga negara pembayar pajak yang taat. Sedangkan kalian... masuk ke wilayahku, menuduh aset utamaku tanpa bukti, dan mengganggu jam kerja departemenku."

Caden menatap Vane dengan tatapan maut.

"Marquis Vane. Aku dengar putri sulungmu baru saja membeli mansion di pesisir selatan seharga dua juta emas? Padahal gaji tahunanmu hanya lima puluh ribu. Sepertinya, akulah yang harus mengirim tim audit ke rumahmu malam ini."

Kaki Vane langsung lemas. Ia ambruk berlutut di lantai marmer itu. "Y-Yang Mulia Pangeran Caden... m-maafkan hamba! Hamba hanya menjalankan perintah Pangeran Arthur! Ampuni hamba!"

"Keluar dari ruanganku," perintah Caden mutlak. "Atau kepalamu akan tertinggal di sini."

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!