NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Sebuah Kenyataan

Sore harinya, Rania sudah duduk di teras villa.

Secangkir teh herbal hangat berada di atas meja di sampingnya. Aroma khas daun teh memenuhi udara, bercampur dengan angin sore yang berembus perlahan.

Daffa berdiri tidak jauh dari tempat Rania duduk. "Aku berjanji akan membawamu ke makam Paman."

Rania mengangkat wajah.

"Tapi kau juga harus berjanji kepadaku," ucap Daffa.

"Berjanji apa?" Tanya Rania.

"Jangan sampai seperti tadi lagi." Daffa menatapnya serius. "Jangan pingsan dan jangan menolak makan."

Daffa kemudian mengambil selimut tipis dari sandaran kursi dan menyampirkannya di pundak Rania. "Aku tidak mau melihatmu jatuh seperti tadi."

Rania terdiam. Air matanya kembali mengalir, tangannya perlahan meraih lengan Daffa, kemudian mendekapnya, mencari kehangatan di tengah tekanan keadaan yang menghimpit hati dan emosinya.

"Aku masih belum bisa menerima semuanya." Suaranya bergetar. "Paman pergi begitu saja... bahkan tidak sempat mengucapkan apa pun kepadaku."

Daffa menatap wanita itu. "Kecelakaan tidak bisa diprediksi, Rania."

Rania mengangguk kecil. "Tetap saja..." Ia menarik napas panjang. "Semuanya terasa terlalu mendadak."

Daffa tidak menjawab.

Namun beberapa detik kemudian, Rania tiba-tiba teringat sesuatu.

Sebuah berita. Berita tentang Brian yang ia tonton di layar laptopnya Daffa. Pria itu terlihat berjalan dengan bantuan tongkat hitam.

Rania perlahan mengangkat wajah. "Daffa."

"Hm?" Pandangan Daffa jatuh pada wajah Rania.

"Katakan yang sebenarnya kepadaku," ucap Rania.

Daffa mengernyit.

"Kenapa Brian menggunakan tongkat saat muncul di berita itu?" Rania menatap lekat Daffa penuh rasa penasaran.

Suasana mendadak berubah. Daffa menghela nafasnya.

Kemudian ia menarik sebuah kursi dan meletakkannya tepat di hadapan wanita itu.

"Sepertinya sudah waktunya kau mengetahui semuanya."

Daffa duduk.

Namun sebelum menjelaskan, tatapannya justru tertuju pada mata Rania.

Ada sesuatu yang berbeda.

Penglihatan wanita itu jelas sudah jauh lebih baik.

Daffa mengangkat tangan dan menyentuh sisi wajah Rania.

"Tapi sebelum itu..." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Aku justru terkejut melihat penglihatanmu."

Rania langsung menundukkan wajah.

Daffa mengusap pipinya perlahan. "Sejak kapan kau menyembunyikan ini dariku?" tanya Daffa.

"Itu tidak penting." Rania segera menarik tangan Daffa dari wajahnya. "Sekarang jawab pertanyaanku."

Tatapan Rania mengarah kepada pria itu. "Kenapa Brian menggunakan tongkat? Apa yang terjadi kepadanya?"

Daffa mengembuskan napas. Ia sebenarnya ingin menyembunyikan semuanya lebih lama.

Namun melihat kondisi penglihatan Rania yang semakin membaik, ada sedikit kepuasan di dalam hatinya.

Setidaknya, ia tahu Rania perlahan akan kembali bisa melihat dunia.

Daffa akhirnya mengalah. "Saat kita meninggalkan hotel waktu itu..." Ia berhenti sejenak. "Brian mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju rumah sakit."

Rania membeku. Tubuhnya perlahan menegang. "Kecelakaan?" Ia berdiri. "Jadi..." Napasnya mulai tidak teratur. "Kecelakaan yang kita lihat di perjalanan saat itu..."

Rania menatap Daffa dengan mata berkaca-kaca,"...adalah Brian?"

Daffa tidak menjawab. Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Rania kehilangan keseimbangan. Daffa segera melangkah maju. Rania refleks berpegangan pada lengannya. "Apakah Brian mengalami cedera parah?"

Daffa menatapnya. "Itu tidak penting, Rania."

Rania langsung mengangkat wajah. "Bagimu mungkin tidak penting." Suaranya bergetar. "Tapi bagiku—"

"Brian hanya masa lalu." Daffa memotong ucapannya. "Aku adalah masa depanmu sekarang," ucap Daffa.

Rania terdiam.

"Jangan pikirkan Brian lagi." Daffa menggenggam tangan Rania. "Dia hanya bagian dari masa lalu di antara kita."

Jemarinya mengerat. "Ingat itu." Daffa kemudian mengangkat tangan Rania. "Lihat aku."

Rania menatapnya.

"Aku sekarang tunanganmu, Rania." Tatapan Daffa semakin dalam. "Jadi, mari kita saling mengenal lebih dekat."

Pandangan Rania turun pada jarinya sendiri. Cincin emas pemberian Daffa masih melingkar di sana.

Namun bukannya merasa bahagia, benda itu justru membuat dadanya semakin sesak.

Rania perlahan menarik tangannya. "Aku akan mencari tahu sendiri."

Daffa terdiam.

"Kalau kau tidak mau memberitahuku apa pun." Rania berbalik.

Daffa mengembuskan napas panjang. "Fine," ucapnya.

Rania berhenti.

"Dengarkan aku." Daffa menatap punggungnya. "Dia hanya mengalami cedera."

Rania perlahan menoleh.

"Brian tidak kehilangan kakinya." Daffa tersenyum tipis. "Kau puas?"

Rania tidak menjawab. Ia hanya mengatur napas yang terasa semakin berat. Tangannya naik menyentuh pelipis. Kepalanya kembali berdenyut.

Daffa segera mendekatinya. "Ayo. Kau butuh istirahat."

Rania menggeleng. "Aku ingin melihat berita."

Daffa terdiam sesaat. Kemudian menghela napas. "Baiklah." Ia menggenggam tangan Rania dan membawanya menuju ruang televisi.

Beberapa saat kemudian, televisi menyala.

Namun baru beberapa detik berita tersebut berjalan, wajah Rania langsung berubah.

"Berita terbaru mengenai perceraian CEO muda Brian Aristama kembali menjadi perhatian publik."

Rania membeku.

Suara penyiar berita terdengar jelas. Daffa hendak merebut remote tv di tangan Rania, namun Rania menggeleng. Daffa kembali mengalah.

Suara penyiar berita kembali terdengar.

"Perceraian tersebut diduga berkaitan dengan perselingkuhan sang mantan istri bersama sahabat Brian Aristama sendiri, Daffa Anggara."

Rania mulai meremas rambutnya.

Namun berita itu belum berhenti. "Publik juga mempertanyakan kondisi mata mantan istri Brian Aristama yang mengalami gangguan penglihatan. Muncul dugaan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan tindakan kekerasan dalam rumah tangga—"

Rania menutup telinganya. "Tidak..."

Daffa langsung duduk di sampingnya. "Rania."

Penyiar terus berbicara.

"Selain itu, kabar kehamilan mantan istri Brian Aristama juga semakin menjadi perhatian setelah sejumlah media menangkap Daffa Anggara dan Rania Almira keluar dari rumah sakit setelah melakukan pemeriksaan kandungan."

Belum ada klarifikasi dari pihak Brian, Rania, maupun Daffa mengenai kabar tersebut.

Daffa justru terkekeh pelan.

Namun Rania tidak. Tubuhnya mulai bergetar. Ia menundukkan kepala dan meremas rambutnya semakin kuat.

"Kenapa..." Air matanya jatuh.

Daffa segera memeluk tubuhnya. "Tenanglah."

Rania terisak.

"Aku di sini," bisik Daffa.

Tangis Rania semakin pecah.

"Menangislah kalau itu membuatmu lebih tenang," suara Daffa semakin lembut.

Namun Rania tidak hanya menangis. Tangannya memukul dada Daffa berkali-kali. "Kenapa semuanya seperti ini?!"

Daffa membiarkannya. Ia tidak mencoba menghentikan Rania.

Rania terus memukul dadanya sambil menangis.

Di dalam hatinya, ada rasa bersalah yang semakin besar.

Seandainya waktu itu ia tidak meminta Brian menemaninya mencari daun teh herbal ke Gunung Pulo...

Mungkin Brian tidak akan mengalami kecelakaan.

Mungkin dirinya tidak akan terjebak dalam keadaan seperti sekarang.

Dan mungkin, ia akan melarikan diri dari Brian tanpa meminta bantuan siapapun.

Rania mencengkeram kemeja Daffa. "Maaf..." Tubuhnya semakin melemah, ia menatap perutnya yang masih datar.

Daffa menopang tubuhnya. "Rania?"

Wanita itu tidak menjawab. Matanya perlahan terpejam. Tubuhnya kembali kehilangan kesadaran.

Sore itu, Daffa segera membawa Rania ke rumah sakit.

Dan malam harinya...

Rani kini berada di ruang VIP. Ia masih belum sadarkan diri.

Daffa duduk di samping ranjang selama beberapa saat sebelum akhirnya melihat jam tangannya.

Ada beberapa pekerjaan yang sudah ia tinggalkan selama hampir satu hari. Ia tidak bisa terus berada di rumah sakit.

Daffa kemudian memanggil seorang perawat. "Jaga Nyonya baik-baik."

"Baik, Tuan," jawab perawat.

"Jangan tinggalkan dia sendirian." Titah Daffa.

"Baik."

Daffa menatap Rania untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup.

Daffa sama sekali tidak menyadari...

Ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan pergerakannya.

Dari kejauhan.

Sepasang mata tajam mengamati gerakkan Daffa dari seseorang lewat ponselnya.

"Rio." Suara itu terdengar rendah.

Rio yang berdiri di sampingnya langsung menoleh.

Suara tersebut milik Brian Aristama.

"Ya, Tuan?" jawab Rio.

Brian menggenggam tongkat hitamnya. "Siapkan mobil."

Rio mengernyit. "Anda ingin pergi ke mana?"

Brian menatap lorong rumah sakit, sebuah video singkat di layar ponselnya.

Tatapannya dingin.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalamnya.

Tekad.

"Antarkan aku ke Rumah Sakit Citra Medika," ucap Brian.

Rio terdiam. "Tuan, Anda akan menjenguk siapa?"

Brian perlahan mengangkat wajah. "Istriku."

Rio membeku sesaat. Kemudian ia segera mengangguk. "Baik, Tuan. Saya akan menyiapkannya."

Brian berbalik.

Malam itu...

Rania masih belum sadarkan diri.

Daffa juga belum mengetahui bahwa pria yang selama ini ia coba jauhkan dari Rania, telah mulai bergerak.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!