Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Bingung
Acara pernikahan akhirnya selesai.
Para tamu mulai meninggalkan gedung satu per satu. Musik yang sejak tadi mengisi ruangan telah berhenti, sementara para pelayan sibuk membereskan meja dan membawa piring-piring kosong.
Namun bagi Arman dan Claudia, malam itu belum benar-benar berakhir.
Begitu mereka masuk ke ruang pribadi yang disediakan untuk pengantin, Claudia langsung melepaskan senyumnya.
Wajahnya berubah serius.
Arman yang sejak tadi terlihat diam akhirnya menutup pintu.
Begitu pintu tertutup, ia langsung menatap Claudia.
"Kenapa Retna bisa datang ke sini?"
Nada suaranya terdengar kecewa.
Claudia mengangkat alis.
"Kenapa kau bertanya kepadaku?"
"Karena dia datang ke pernikahan kita."
"Dan kau pikir aku yang mengundangnya?"
Arman terdiam.
Claudia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Jangan-jangan justru kau yang mengundangnya."
"Apa?"
"Aku bertanya serius, Arman."
Claudia menatap suaminya dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Kenapa kau terlihat begitu terkejut ketika melihat Retna?"
"Aku memang terkejut."
"Terkejut karena tidak menyangka dia datang..."
Claudia berhenti sebentar.
"...atau karena sebenarnya kau masih berhubungan dengannya?"
Arman langsung mengerutkan kening.
"Jangan bicara sembarangan."
"Aku tidak bicara sembarangan."
Claudia berjalan mendekat.
"Aku hanya ingin tahu. Kalau memang kau sudah tidak punya hubungan apa-apa dengannya, bagaimana mungkin Retna bisa tiba-tiba muncul di pernikahan kita?"
"Aku sudah bilang. Aku tidak mengundangnya."
"Lalu siapa?"
Arman terdiam.
Claudia memperhatikan wajahnya.
"Dia datang bersama pria itu."
"Mas Bule."
"Kau mengenalnya?"
"Ya."
Claudia terkejut.
"Kau kenal pria itu?"
"Sedikit."
Arman menghela napas.
"Dia memang kenalanku. Tapi aku tidak tahu kalau Retna mengenalnya."
Claudia menatapnya semakin tajam.
"Jadi kau memang tidak tahu?"
"Tidak."
"Benar?"
"Claudia."
Nada suara Arman mulai meninggi.
"Aku tidak mengundang Retna. Aku bahkan tidak tahu dia akan datang."
Claudia terdiam.
Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap.
Namun rasa curiga di wajah Claudia belum hilang.
"Aku harap memang begitu."
Arman mengerutkan kening.
"Maksudmu?"
Claudia menarik napas.
"Aku tidak ingin pernikahan kita dimulai dengan bayang-bayang perempuan lain."
"Retna bukan siapa-siapa lagi bagiku."
"Kalau begitu, buktikan."
Arman terdiam.
Claudia mendekat dan menatap matanya.
"Aku tidak mau kau menemuinya lagi."
"Claudia..."
"Aku serius."
Nada Claudia semakin tegas.
"Jangan menghubunginya. Jangan mencarinya. Jangan menanyakan kabarnya kepada siapa pun."
Arman diam.
"Dia mantan istrimu."
Claudia melanjutkan.
"Dan aku tidak ingin ada alasan apa pun yang membuat perempuan itu kembali masuk ke kehidupan kita."
Arman menghela napas panjang.
"Aku tidak punya urusan dengannya."
"Bagus."
Claudia mengangguk.
"Pertahankan itu."
Arman tidak menjawab.
Namun entah mengapa, wajah Retna malam tadi terus muncul di pikirannya.
Wajah pucat.
Mata yang menahan air mata.
Dan ketika Mas Bule berdiri di sampingnya lalu mengatakan bahwa Retna adalah calon istrinya...
Arman tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang terasa mengganjal.
Ia sendiri tidak mengerti mengapa.
Bukankah pernikahannya dengan Retna sudah berakhir?
Bukankah ia sudah memilih Claudia?
Lalu mengapa melihat Retna bersama pria lain membuat dadanya terasa tidak nyaman?
Arman segera mengusir pikiran itu.
Ia tidak boleh kembali ke masa lalu.
Apalagi sekarang Claudia sudah menjadi istrinya.
"Aku janji," katanya akhirnya.
Claudia menatapnya.
"Aku tidak akan mencari Retna."
Barulah wajah Claudia sedikit melunak.
"Bagus. Aku hanya ingin rumah tangga kita tenang."
Arman mengangguk.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa malam itu telah meninggalkan sesuatu yang tidak mudah dilupakan.
Sementara itu, mobil Mas Bule akhirnya memasuki halaman rumah.
Retna sudah tidak banyak berbicara sejak percakapan mereka di perjalanan.
Begitu mobil berhenti, ia segera membuka pintu.
"Saya turun dulu, Mas."
Mas Bule mematikan mesin.
"Tunggu."
Retna berhenti.
"Kenapa?"
Mas Bule turun dari mobil dan berjalan mengitari bagian depan kendaraan.
"Aku antar sampai masuk."
Retna menggeleng.
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri."
"Kamu masih terlihat pucat."
"Saya baik-baik saja."
Retna tersenyum kecil.
Senyum yang justru membuat Mas Bule semakin tidak yakin.
Akhirnya ia membiarkan Retna berjalan lebih dulu.
Mereka masuk ke dalam rumah.
Retna langsung menuju kamarnya.
Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, Mas Bule memanggil.
"Retna."
Ia menoleh.
"Ya?"
"Kamu yakin tidak apa-apa?"
Retna diam beberapa detik.
Kemudian mengangguk.
"Yakin."
"Kalau kamu ingin bicara..."
Mas Bule berhenti sejenak.
"...aku bisa mendengarkan."
Retna menatapnya.
Ada keinginan untuk menceritakan semuanya.
Tentang bagaimana Arman memperlakukannya.
Tentang alasan perceraian mereka.
Tentang rasa sakit yang masih tersisa.
Namun akhirnya Retna hanya tersenyum.
"Terima kasih, Mas."
Kemudian ia masuk ke kamar.
Pintu tertutup perlahan.
Mas Bule masih berdiri di depan pintu beberapa detik.
Ia tidak tahu mengapa hatinya terasa berat.
Di dalam kamar, Retna duduk di tepi ranjang.
Begitu sendirian, senyum yang sejak tadi ia paksa langsung menghilang.
Ia menundukkan kepala.
Pikirannya kembali kepada kejadian di pesta.
Retna adalah calon istriku.
Kalimat itu kembali terngiang.
Retna memejamkan mata.
Seharusnya ia merasa bahagia.
Seharusnya ia merasa terselamatkan karena Mas Bule membelanya.
Namun yang muncul justru rasa kecewa.
Sebab setelah mendengar penjelasan Mas Bule di dalam mobil, Retna tahu bahwa kalimat itu mungkin hanya diucapkan untuk melindunginya.
Bukan karena benar-benar ada niat untuk menikahinya.
Retna menarik napas panjang.
"Kenapa aku kecewa?"
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Bukankah Mas Bule sudah berbuat baik kepadanya?
Bukankah pria itu hanya majikannya?
Bukankah sejak awal ia sudah tahu bahwa dirinya tidak boleh berharap?
Namun hatinya tidak mau mendengarkan logika.
Ia teringat bagaimana Mas Bule berdiri di sampingnya.
Bagaimana pria itu membelanya tanpa mempermalukannya.
Bagaimana ia mengatakan bahwa dirinya tidak peduli dengan masa lalu Retna.
Dan yang paling sulit dilupakan...
Ketika Mas Bule mengatakan bahwa dirinya adalah calon istri.
Retna menggigit bibir.
"Kenapa aku ingin itu benar?"
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia takut.
Takut jika ternyata dirinya mulai mencintai seseorang yang seharusnya tidak boleh ia cintai.
Seorang pria yang statusnya adalah majikannya.
Retna berbaring dan menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
Ia ingin tidur.
Ingin melupakan semuanya.
Tetapi malam itu, justru wajah Mas Bule yang terus muncul di pikirannya.
Di luar kamar, Mas Bule masih duduk sendirian di ruang tengah.
Lampu rumah hanya menyisakan cahaya lembut.
Ia menatap kosong ke depan.
Pikirannya juga tidak jauh berbeda dengan Retna.
Ia teringat wajah Retna ketika dirinya mengatakan bahwa perempuan itu adalah calon istrinya.
Wajah terkejut.
Wajah gugup.
Dan setelah mereka pulang...
Wajah kecewa.
Mas Bule mengusap wajahnya.
"Apa yang sebenarnya aku lakukan?"
Ia awalnya hanya ingin melindungi Retna.
Tidak lebih.
Ia tidak ingin perempuan itu dipermalukan oleh Claudia maupun keluarga Arman.
Tetapi mengapa setelah mengucapkan kalimat itu, justru dirinya yang merasa seolah telah mengatakan sesuatu yang selama ini tersimpan di dalam hati?
Mas Bule menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Ia mencoba mengingat kapan semuanya mulai berubah.
Mungkin sejak Retna mulai bekerja di rumahnya.
Mungkin sejak ia melihat perempuan itu tetap tersenyum meskipun hidup telah memperlakukannya dengan keras.
Mungkin sejak Retna mulai membuat rumahnya terasa berbeda.
Atau mungkin...
Sejak ciuman yang seharusnya mereka lupakan itu.
Mas Bule memejamkan mata.
Ia pernah mengatakan kepada Retna agar melupakan kejadian tersebut karena tidak ingin membuat perempuan itu merasa tidak nyaman.
Namun sekarang ia justru bertanya kepada dirinya sendiri.
Benarkah ia ingin melupakannya?
Untuk pertama kalinya, Mas Bule tidak mampu menemukan jawabannya.
Ia hanya tahu satu hal.
Ketika tadi malam Retna disebut sebagai mantan istri Arman, hatinya tidak suka melihat perempuan itu dipermalukan.
Dan ketika Arman menatap Retna terlalu lama...
Entah mengapa ada rasa tidak nyaman yang muncul dalam dirinya.
Mas Bule membuka mata.
Ia menghela napas panjang.
"Mungkin aku sudah terlalu peduli."
Kalimat itu terdengar begitu asing.
Tetapi semakin ia memikirkannya, semakin sulit untuk menyangkal.
Sementara di kamar yang berbeda, Retna masih terjaga.
Dua orang yang sama-sama tidak berani mengakui perasaan mereka itu akhirnya melewati malam yang panjang.
Tanpa mengetahui bahwa sejak malam pernikahan Arman...
hubungan mereka tidak lagi sesederhana majikan dan pekerja.