NovelToon NovelToon
The Moon Curse

The Moon Curse

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Kutukan
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: stella bluebell

wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.

usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?

semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 08 - Akademi Sihir

 Waktu berlalu begitu cepat. Kini usiaku genap dua belas tahun dan aku akhirnya mencapai usia untuk memasuki Akademi Sihir di ibu kota Kerajaan Silveth.

 "Apakah ada barang yang tertinggal?" tanya Ibu sebelum keberangkatanku.

 "Tidak ada, Ibu," jawabku sambil tersenyum.

 "Ayah sudah mengirim surat kepada kakakmu agar menjagamu selama berada di akademi," ujar Ayah.

 Kakak yang dimaksud adalah Seraphine Astralune Celesthior, atau yang biasa kupanggil Kak Sera. Saat ini, beliau mengajar sihir cahaya di Akademi Sihir Kerajaan.

 Di dunia ini terdapat enam elemen sihir. Empat di antaranya merupakan elemen utama, yaitu api, air, tanah, dan angin. Sementara itu, dua elemen lainnya tergolong sebagai elemen langka, yaitu cahaya dan kegelapan. Sekitar tiga puluh persen penduduk memiliki elemen tanah, dua puluh persen memiliki elemen air, dua puluh persen memiliki elemen angin, dua puluh persen memiliki elemen api, delapan persen memiliki elemen cahaya, sedangkan elemen kegelapan hanya dimiliki oleh sekitar dua persen penduduk di seluruh dunia.

 Aku juga baru menyadari sesuatu setelah memperhatikan lukisan-lukisan keluargaku. Warna rambut seseorang ternyata menentukan elemen sihir yang dimilikinya. Mungkin itulah sebabnya orang-orang dapat menebak elemen seseorang hanya dengan melihat warna rambutnya. Namun ada satu hal yang masih membuatku penasaran. Mengapa pengetahuan yang diberikan Veri kepadaku tidak pernah menjelaskan hal sesederhana itu?

 Perjalanan menuju Akademi Sihir di ibu kota memakan waktu sekitar delapan jam. Saat kereta yang kutumpangi tiba di gerbang akademi, matahari telah terbenam. Karena hari sudah malam, aku langsung menuju asrama untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menghadapi hari pertamaku sebagai siswi Akademi Sihir.

 Keesokan paginya, aku berjalan menuju gerbang timur akademi. Di Akademi Sihir Kerajaan Silveth, lapangan pelatihan dibagi menjadi dua wilayah. Lapangan pelatihan gerbang timur diperuntukkan bagi para bangsawan, sedangkan lapangan pelatihan gerbang barat digunakan oleh rakyat biasa.

 Aku melangkah santai sambil menikmati suasana akademi yang begitu megah. Gedung-gedung batu yang menjulang tinggi, taman yang tertata rapi, serta para siswa yang berlalu-lalang membuatku tanpa sadar terus memandangi sekeliling. Karena terlalu asyik melamun...

 Bruk!

 Aku tidak sengaja menabrak seorang gadis hingga buku-buku yang dibawanya berjatuhan ke lantai.

 "Maaf! Aku tidak melihat ke depan saat berjalan."

 Aku segera berjongkok dan membantu memungut buku-buku yang berserakan. Saat hendak menyerahkannya kembali, pandanganku tanpa sengaja tertuju pada name tag yang terpasang di seragamnya.

 Rossalie Vaeloria de Silveth.

 Tubuhku seketika membeku.

 De Silveth...

 Marga itu hanya digunakan oleh keluarga kerajaan.

 Berarti...

 Gadis yang baru saja kutabrak ini adalah seorang putri kerajaan.

 "Lain kali, berhati-hatilah."

 Suara gadis itu membuyarkan lamunanku.

 "I-Iya."

 Aku segera menyerahkan seluruh buku miliknya. "Maafkan aku sekali lagi."

 Rosalie menerima buku-bukunya dengan tenang sebelum berjalan meninggalkanku. Sementara itu, aku membungkukkan badan sebagai tanda permintaan maaf, lalu segera bergegas menuju lapangan pelatihan. Aku benar-benar tidak ingin terlambat di hari pertamaku sebagai siswi Akademi Sihir.

 Hari itu merupakan upacara pembukaan sekaligus ujian masuk Akademi Sihir. Setelah pidato panjang dari guru pembimbing, para murid diminta maju satu per satu untuk menyentuh bola kristal yang berfungsi mengukur jumlah mana yang dimiliki seseorang.

 "Lilyana Velioren de Silveth, putri ketiga Kerajaan Silveth."

 Gadis itu melangkah maju sambil menundukkan kepalanya. Bukan karena malu, melainkan karena terlihat ketakutan. Aku dapat melihat kedua tangannya gemetar.

 "Baik. Jumlah mana milikmu berada di tingkat dua," ucap guru setelah melihat hasil pengukuran.

 "Dia putri kerajaan, tapi jumlah mananya hanya tingkat dua."

 "Aku dengar elemennya adalah air dan hanya memiliki dua bintang."

 "Sungguh memalukan."

 Bisikan para murid mulai terdengar dari berbagai arah. Lilyana hanya menggenggam ujung pakaiannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebelum kembali ke barisannya.

 "Selanjutnya..."

 "Celestia Lunastella Celesthior."

 Rupanya kini giliranku.

 "Itu putri keluarga Viscount Celesthior yang sedang menjadi pembicaraan di kalangan bangsawan."

 "Katanya dia memiliki tiga elemen dengan lima bintang."

 "Benarkah?"

 Bisikan para siswa kembali terdengar ketika aku berjalan ke depan.

 "Letakkan tanganmu di atas bola kristal."

 Aku menatap bola kristal itu sejenak. Sebenarnya, aku sudah berusaha menekan aliran manaku semaksimal mungkin agar tidak menarik perhatian. Perlahan, kuletakkan telapak tanganku di atas permukaannya.

 Krek...

 Suara retakan kecil terdengar.

 Belum sempat siapa pun bereaksi...

 Praang!

 Bola kristal itu pecah menjadi ribuan keping cahaya.

 Ruangan yang semula dipenuhi bisikan langsung berubah sunyi.

 "Hah?"

 Aku memiringkan kepala dengan bingung.

 "Loh... padahal aku sudah menahan mana semampuku," gumamku pelan.

 Para murid membelalak tak percaya. Guru yang memegang daftar nama bahkan tampak jauh lebih pucat dibandingkan diriku.

 "Bola kristal pengukur mana..."

 "Hancur..."

 Seseorang berbisik dengan suara gemetar.

 Untuk pertama kalinya sejak upacara dimulai, bahkan para bangsawan yang hadir kehilangan ketenangan mereka.

 Guru itu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Upacara pengukuran mana hari ini dihentikan. Bola kristal harus diganti terlebih dahulu. Seluruh peserta dipersilakan menuju lapangan utara untuk mengikuti ujian praktik sihir."

 Tampaknya...

 Akademi ini memang tidak memiliki bola kristal cadangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!