NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 8 Pagi Seorang Ketua OSIS

Gema azan Subuh yang beberapa menit lalu mengalun merdu dari masjid kompleks kini telah usai, menyisakan keheningan pagi yang teduh.

Langit Yogyakarta di luar sana perlahan berganti tirai, dari hitam pekat menjadi biru gelap bermandikan pendar keemasan di ufuk timur. Angin pagi yang dingin menyelusup halus melalui celah jendela rumah keluarga Adhitama, membawa kesegaran tanah basah yang menenangkan.

Di ruang keluarga lantai satu...

Pak Hadi berdiri tegap sambil melipat sajadah pandannya, sementara Bu Maya merapikan mukena putih yang baru saja beliau kenakan. Di sudut ruangan, Nadira masih betah duduk bersila di atas sajadahnya.

Kedua tangan gadis itu terangkat sejajar dada. Matanya terpejam khusyuk, sementara bibirnya berkomat-kamit memanjatkan doa dengan ketulusan paling dalam.

Ya Allah... mudahkanlah langkahku hari ini... Lancarkan belajarku di sekolah... Jadikan aku anak yang bisa selalu membanggakan Mama dan Papa... Dan mudahkanlah jalan kami bertiga menggapai cita-cita...

Rangkaian doa sederhana, namun tak pernah absen ia bisikkan ke bumi saban selesai menunaikan sholat.

Beberapa saat kemudian...

"Aamiin..." Nadira mengusap kedua telapak tangannya ke wajah perlahan.

Pak Hadi yang memperhatikan putri tunggalnya langsung tersenyum hangat. "Jangan lupa dibaca Al-Qur'annya ya, Nak."

"Iya, Pa," sahut Nadira penuh kepatuhan.

"Kebiasaan baik itu harus tetap dijaga, jangan sampai kendor cuma karena kamu lagi sibuk-sibuknya di kelas dua belas."

"Siap, Papa."

Bu Maya ikut melangkah mendekati mereka, melipat mukenanya rapi. "Mama ke dapur dulu ya, mau nyiapin sarapan buat kita."

"Iya, Ma..."

Nadira merapikan peralatan sholatnya, lalu menaiki anak tangga menuju kamar di lantai dua. Jam digital berbentuk persegi kayu di atas meja belajarnya menunjukkan pukul 05.08 WIB. Masih ada banyak waktu sebelum ia harus siap bertolak ke sekolah.

Dengan gerakan penuh kehati-hatian, Nadira mengambil Al-Qur'an bersampul hijau tua bertuliskan kaligrafi emas yang tersimpan rapi di rak buku. Ia membukanya perlahan, lalu mulai melantunkan ayat demi ayat dengan suara lirih nan lembut.

Suaranya alus, tidak terburu-buru. Setiap tajwid dan makhraj huruf ia perhatikan dengan saksama. Bagi Nadira, mendedikasikan waktu dua puluh menit setelah Subuh untuk membaca kalam Ilahi adalah oasis ketenangan di tengah riuhnya jadwal sekolah dan organisasi. Yang terpenting bukanlah seberapa banyak lembar yang dilahap, melainkan keistiqamahan yang terus dijaga.

Sekitar pukul 05.30 WIB, Nadira menutup mushaf itu.

Ia mencium sampulnya lembut, lalu mengembalikannya ke tempat semula.

"Waktunya mandi," gumamnya pelan pada diri sendiri.

Gadis itu meraih handuk di kapstok, melangkah menuju kamar mandi. Suara kucuran air segar tak lama kemudian memecah heningnya pagi.

Pukul 05.50 WIB.

Nadira keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang terlilit di kepalanya untuk mengeringkan sisa-sisa air. Hari ini adalah hari Senin—hari yang paling mendebarkan sekaligus menyita energi bagi seorang Ketua OSIS.

Selain harus berhadapan dengan rentetan pelajaran akademik yang menguras otak, ia bertanggung jawab penuh memastikan apel bendera Senin pagi berjalan tertib, mengecek kesiapan divisi piket gerbang, hingga mengurus tumpukan berkas administrasi bersama guru Kesiswaan.

Nadira membuka pintu lemarinya yang beraroma vanila lembut. Di sana, sudah tergantung rapi seragam putih-abu-abu yang disetrika amat licin oleh ibunya semalam.

Beberapa menit kemudian, Nadira sudah bertransformasi penuh. Kemeja putih bersih tanpa cela, rok abu-abu plisket yang jatuh rapi hingga menutupi mata kaki, serta kerudung segi empat putih yang terpasang membingkai wajahnya dengan sangat simetris dan rapi.

Ia berdiri di depan cermin tinggi. Namun pandangannya tak berhenti di situ, matanya tertuju pada jas almamater OSIS berwarna abu-abu tua yang tersampir anggun di sandaran kursi belajarnya. Hari ini seluruh pengurus inti diwajibkan mengenakan jas tersebut karena ada agenda rapat evaluasi setelah jam pulang sekolah.

Nadira merengkuh jas itu, memasukannya ke kedua lengannya, lalu membetulkan posisi kerah dan bahunya. Tangannya kemudian meraih tali id-card berwarna biru tua yang tergeletak di meja.

Name tag akrilik mengilap itu tertulis jelas ALYA NADIRA ADHITAMA Ketua OSIS

Perlahan, ia mengalungkan tali itu di lehernya. Senyum tipis terukir indah di bibirnya—bukan karena rasa jemawa atas jabatan tinggi di sekolah, melainkan bentuk rasa syukur karena masih dipercaya mengemban amanah besar itu hingga detik-detik akhir masa jabatannya.

"Semoga hari ini semuanya berjalan lancar..." gumamnya menatap pantulan dirinya di cermin.

Di atas meja rias kecil dekat jendela, deretan perawatan diri sederhananya tersusun presisi bak tentara yang berbaris. Jam tangan, sisir, parfum beraroma baby powder, pelembap, sunscreen, lip balm, dan bedak tabur tipis.

Nadira bukanlah tipe gadis yang suka berdandan mencolok atau menggunakan riasan tebal ke sekolah. Rutinitas paginya sangat praktis: mengoleskan pelembap, menyapukan sunscreen untuk melindungi kulit dari terik lapangan, sedikit polesan lip balm agar bibirnya tidak kering, serta tepukan halus bedak tabur untuk memberi kesan segar.

Setelah selesai, ia membetulkan posisi lipatan kerudungnya yang sedikit bergeser. Jam tangan bertali kulit hitam—hadiah ulang tahun ke-16 dari sang ayah—kini melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Jam yang tak pernah absen menemaninya, bukan karena harganya yang fantastis, melainkan karena nilai sentimental yang tak ternilai di dalamnya.

Nadira beralih ke meja belajar. Tas ransel hitamnya sudah menggembung rapi.

Ia mengecek kembali muatannya dengan teliti "Buku Matematika... check." "Fisika dan Kimia... check."

"Kotak bekal dan botol minum... check." "Map dokumen OSIS, buku agenda rapat, sama formulir pendaftaran... check."

Semua item tercantum lengkap. Nadira menyunggingkan senyum lega. Baru saja tangannya hendak menarik ritsleting tas ranselnya...

Bip... bip...

Layar ponselnya yang tergeletak di atas meja mendadak menyala terang, membiaskan nama seseorang yang sangat familiat di atas layarnya.

Jarum jam dinding menunjukkan pukul 06.10 WIB.

Sinar matahari pagi mulai menerobos malu-malu dari balik deretan pohon mangga di sepanjang kompleks.

Udara pagi Yogyakarta masih menyisakan hawa dingin yang menyejukkan, walau riak-riak jalanan perlahan mulai dihidupkan oleh lalu lalang kendaraan siswa yang bertolak menuju sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!