Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.8 Mobil hitam yang menjemput lauren
Beberapa jam berlalu, langit sore mulai berubah warna keemasan ketika jam dinding di lantai dua puluh dua menunjukkan pukul setengah lima.
Lauren duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan senyum puas, karena semua tugas yang diberikan kepadanya hari ini sudah selesai lebih cepat dari yang ia perkirakan sendiri.
Sebagai karyawan baru, tugas yang diberikan kepadanya memang belum terlalu banyak, hanya beberapa dokumen sederhana untuk diinput ke sistem dan beberapa arsip lama yang perlu dirapikan ulang.
Namun entah karena kebiasaannya bekerja cepat selama bertahun-tahun di kedai kopi, atau karena rasa gugup yang justru membuatnya lebih fokus dari biasanya, Lauren berhasil menyelesaikan semuanya jauh lebih awal dibanding rekan-rekan barunya yang lain.
"Kau sudah selesai?" Della, rekan kerja yang duduk di meja sebelahnya, menoleh dengan alis terangkat, jelas terkejut.
Meja Della sendiri masih dipenuhi tumpukan berkas yang belum selesai diperiksa, layar komputernya menampilkan spreadsheet panjang yang sepertinya masih jauh dari kata rampung.
"Sudah," jawab Lauren, sedikit tidak enak hati melihat betapa sibuknya Della dan beberapa karyawan baru lain di sekelilingnya. "Apa aku terlalu cepat? Aku jadi merasa tidak enak, semua orang masih kelihatan sibuk."
"Tidak, justru bagus." Della tersenyum lebar, meski matanya masih fokus pada layar di depannya. "Kau memang cepat tanggap, aku sampai kagum. Aku masih harus menyelesaikan laporan ini dulu sebelum pulang, sepertinya masih perlu satu jam lagi."
Beberapa karyawan baru lain yang duduk tidak jauh dari mereka juga masih sibuk dengan tugas masing-masing, sebagian terlihat kewalahan mencocokkan data, sebagian lagi berulang kali bertanya kepada rekan kerja yang lebih senior tentang cara mengoperasikan sistem internal perusahaan yang masih asing bagi mereka.
Lauren merasa sedikit canggung duduk di antara kesibukan itu tanpa pekerjaan tersisa, jarinya mengetuk pelan meja sambil berpikir apakah sebaiknya ia menunggu saja sampai jam pulang resmi, atau langsung pamit lebih dulu.
"Kalau sudah selesai, kau boleh pulang duluan," kata Della seolah membaca pikirannya. "Tidak perlu menunggu sampai jam lima kalau memang tugasmu sudah beres. Besok juga masih hari pertama minggu ini, jangan terlalu memaksakan diri."
"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Lauren ragu, merasa sedikit bersalah meninggalkan Della yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Yakin. Lagi pula ini bukan kali pertama aku lembur sedikit di hari pertama karyawan baru masuk." Della tertawa kecil, menepuk lengan Lauren dengan ramah. "Pulanglah, istirahat yang cukup. Besok kau akan mulai tugas yang lebih banyak, jadi manfaatkan waktu istirahatmu sebaik mungkin sekarang."
Lauren akhirnya mengangguk, merapikan mejanya dengan rapi seperti kebiasaan lamanya di kedai kopi, mematikan layar komputer, dan memasukkan beberapa barang pribadi ke dalam tas kerjanya.
Ia berpamitan singkat kepada beberapa rekan kerja lain yang sempat ia kenal sepanjang hari, lalu melangkah menuju pintu keluar ruangan divisinya.
Tepat di sisi pintu, tertempel sebuah alat kecil berwarna hitam, semacam sensor tap modern yang biasa digunakan untuk mencatat kehadiran karyawan secara digital.
Lauren mengeluarkan kartu aksesnya, menempelkannya sebentar ke permukaan sensor itu, menunggu bunyi bip pelan dan lampu hijau yang menandakan jam pulangnya sudah tercatat resmi di sistem perusahaan.
Baru sehari bekerja, tapi rasanya sudah cukup aneh membayangkan bahwa mulai sekarang, setiap kedatangan dan kepulangannya akan selalu tercatat rapi dalam data digital perusahaan sebesar ini, sesuatu yang jauh berbeda dari kebiasaan lamanya di kedai kopi yang hanya mengandalkan buku catatan sederhana untuk mencatat jam kerja karyawannya.
Setelah lampu hijau itu menyala, Lauren melangkah keluar dari ruangan menuju lift dengan perasaan lega bercampur bangga, karena hari pertamanya yang penuh kejutan ternyata berakhir dengan cukup baik, setidaknya dari sisi pekerjaan.
Lift membawanya turun perlahan, melewati puluhan lantai yang tadi pagi masih terasa begitu asing baginya.
Lauren menatap pantulan dirinya sendiri di pintu lift berlapis logam mengilap, mencoba mencerna semua yang terjadi hari ini, mulai dari kesalahan lift yang membawanya ke lantai direksi, pertemuannya kembali dengan Alex dalam identitas sebagai CEO, sampai kekhawatiran yang terus menghantuinya sepanjang sesi orientasi tadi siang.
Ketika pintu lift terbuka di lobi utama, suasana gedung sudah mulai ramai oleh karyawan lain yang juga bersiap pulang, langkah kaki bergema di lantai marmer yang mengilap, suara obrolan ringan terdengar samar dari berbagai sudut ruangan.
Lauren melangkah keluar dengan santai, menyapa resepsionis yang tadi pagi menyambutnya, lalu berjalan menuju pintu kaca besar yang menghubungkan lobi dengan trotoar di luar gedung.
Udara sore menyambutnya begitu ia melangkah keluar, sedikit lebih sejuk dibanding suhu ruangan kantor yang sepanjang hari terasa dingin oleh pendingin udara.
Lauren menghela napas panjang, menikmati sensasi kebebasan sesaat setelah hari yang begitu melelahkan secara emosional, meski secara fisik sebenarnya tidak terlalu berat.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan menyusuri trotoar menuju halte bus terdekat, sebuah mobil hitam mengilap tiba tiba berhenti tepat di sampingnya, gerakannya begitu halus dan tenang hingga nyaris tidak terdengar decitan rem sama sekali.
Lauren menoleh kaget, jantungnya berdebar kencang, mengenali bentuk mobil itu sebagai kendaraan yang sama dengan yang biasa menjemput Alex setiap kali mereka bertemu di jalanan London selama ini.
Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berjas gelap yang familiar melangkah keluar, tubuhnya tegap dengan sikap formal yang sudah begitu terlatih.
Lauren belum pernah bertemu dengannya secara langsung, tapi ia cukup sering melihat wajah itu dari kejauhan, selalu berada di dekat Alex setiap kali mobil hitam itu muncul.
Ada sesuatu dalam cara pria itu berdiri yang membuat Lauren langsung tahu bahwa kehadirannya bukan kebetulan biasa.
"Hallo, Nona" sapa pria itu sopan, suaranya tenang namun tegas, sedikit membungkuk sebagai bentuk penghormatan. "Mohon maaf mengganggu waktu Anda. Nama saya Damian, saya bekerja untuk Pak Alex."
"Kau... sopirnya Pak Alex?" tanya Lauren, mengenali sosok itu meski baru pertama kali bicara langsung dengannya.
Mobil itu sudah tidak asing lagi baginya, sudah berkali-kali ia lihat menjemput Alex setiap kali mereka bertemu di jalanan London, hanya saja baru kali ini mobil itu berhenti untuknya sendiri.
"Saya diperintahkan untuk menjemput Anda," jawab Damian singkat, tidak menjawab pertanyaan Lauren secara langsung, seolah jabatannya sendiri bukan hal yang perlu dijelaskan lebih jauh.
Ia membukakan pintu mobil lebih lebar, mempersilakan Lauren masuk dengan gestur tangan yang sopan namun tidak menyisakan banyak ruang untuk menolak.
"Menjemputku? Ada apa memangnya?" tanya Lauren, alisnya berkerut, lebih penasaran daripada takut, meski jantungnya tetap berdebar kencang menduga-duga alasan di balik semua ini.
Damian tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menatap Lauren dengan ekspresi tenang yang sulit ditembus, seolah sudah terbiasa menghadapi kebingungan semacam ini dari orang-orang yang baru pertama kali berurusan dengan dunia yang selama ini tersembunyi rapat di balik gedung megah tempat Lauren baru saja bekerja.
"Pak Alex sudah menunggu," kata Damian akhirnya, suaranya rendah namun penuh penekanan, seolah kalimat sederhana itu sudah cukup menjelaskan segalanya tanpa perlu detail tambahan.
Lauren terdiam, jantungnya berdegup semakin kencang.satu nama yang sejak pagi tadi terus membayangi setiap pikirannya, satu nama yang kini memegang kendali penuh atas nasib pekerjaannya yang baru saja dimulai.
Alex
Dengan tangan sedikit gemetar, Lauren melangkah mendekati mobil hitam itu, tidak yakin apakah keputusan yang akan ia ambil selanjutnya adalah keputusan yang tepat, atau justru langkah pertama menuju sesuatu yang jauh lebih rumit dan berbahaya dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.