Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad Sederhana di Kantor Kelurahan
Matahari pagi menyinari pelataran kantor kelurahan sederhana.
Langit cerah membentang tanpa ada awan mendung yang menghalangi.
Di dalam ruangan pelayanan yang tidak terlalu luas.
Bau khas kertas arsip tua dan harum cat dinding baru berpadu menjadi satu.
Kirana duduk di atas kursi kayu panjang dengan tangan saling meremas erat.
Jantungnya berdegup kencang karena rasa gugup yang luar biasa.
Ia mengenakan kebaya putih sederhana warisan almarhumah ibunya.
Meskipun tampak sedikit kedodoran, pakaian itu terlihat sangat anggun di tubuhnya.
Di sampingnya, Andra duduk dengan postur tegap.
Pria itu mengenakan kemeja putih polos lengan panjang yang disetrika rapi.
Meskipun harganya sangat murah dan dibeli dari pasar loak kemarin.
Postur tubuh atletis dan aura wibawa yang melekat pada diri Andra membuat kemeja itu tampak berkelas.
Tidak ada keluarga mewah yang mendampingi mereka.
Tidak ada barisan pengawal berjas hitam atau mobil mewah berjejer di halaman.
Hanya ada seorang petugas pencatat nikah kelurahan dan dua orang saksi warga sekitar.
Warga yang ditunjuk sebagai saksi itu tampak menatap Andra dengan sebelah mata.
Mereka berbisik-bisik kecil di sudut ruangan sambil melempar pandangan meremehkan.
"Heran saya sama si Kirana," bisik salah satu saksi dengan nada sinis.
"Sudah tahu hidup susah, malah nekat nikah sama pengangguran tidak jelas asal-usulnya."
"Mau dikasih makan apa anak orang nanti kalau kerjanya cuma numpang di warung?"
Andra mendengar jelas setiap bisikan miring tersebut.
Namun, ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah.
Tatapan matanya tetap tenang bagai air danau di pagi hari.
Ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang berpikiran sempit itu.
Bagi mereka, kekayaan dan jabatan adalah segalanya di dunia ini.
Mereka tidak akan pernah mengerti arti ketulusan yang sesungguhnya.
"Saudara Andra, apakah sudah siap?" tanya petugas kelurahan dengan suara ramah.
Andra menarik napas perlahan, lalu mengangguk mantap.
"Saya siap, Pak," jawab Andra dengan suara bariton yang tegas dan berwibawa.
Petugas itu membuka kitab pencatatan nikah di hadapannya.
Ia mulai membacakan ikrar suci pernikahan dengan nada formal.
Kirana menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Air mata haru perlahan menetes membasahi punggung tangannya yang bertumpu di atas meja.
Ia tidak pernah menyangka akan menikah lagi dalam situasi sesederhana ini.
Namun, di tengah kesederhanaan itu, ia merasa jauh lebih bahagia dibandingkan saat bersama Doni dulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kirana binti Arifin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Andra lantang.
Suaranya menggema tegas di dalam ruangan kecil itu.
Tanpa ada keraguan sedikit pun di setiap suku kata yang diucapkannya.
"Sah?" tanya petugas kelurahan melihat ke arah dua orang saksi.
Kedua saksi itu mengangguk lesu sambil bergumam singkat.
"Sah."
Petugas kelurahan tersenyum ramah lalu menutup buku catatannya.
"Alhamdulillah, sekarang kalian resmi menjadi suami istri di mata hukum dan agama."
Kirana mengangkat wajahnya perlahan.
Ia menatap pria yang kini telah resmi berstatus sebagai suaminya.
Andra balas menatapnya dengan senyuman tipis yang penuh keteduhan.
Pria itu meraih tangan kanan Kirana yang masih sedikit gemetar.
Lalu memasangkan sebuah cincin tembaga bermata permata imitasi murah ke jari manis wanita itu.
Cincin sederhana yang dibelinya dari pedagang kaki lima di ujung pasar.
Meskipun murah dan tidak bernilai tinggi di mata dunia.
Bagi Kirana, cincin itu terasa lebih berharga dari berlian miliaran rupiah.
Sebab cincin itu diberikan dengan ketulusan jiwa dan raga.
"Terima kasih, Mas," bisik Kirana lirih dengan suara bergetar menahan tangis bahagia.
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu mau menerimaku, Kir," balas Andra lembut.
Mereka keluar dari ruangan kelurahan dengan status baru.
Suami istri..
Pasangan paling sederhana di sudut perkampungan padat penduduk ibu kota.
Namun, di balik kesederhanaan status baru mereka itu.
Sebuah badai besar perlahan mulai bersiap menghantam dari arah yang tidak terduga.
Jauh di pusat kota yang megah dan penuh lampu neon.
Di dalam ruang kendali utama PT Adhikari Corp.
Tim investigasi internal yang dipimpin langsung oleh sekretaris pribadi Andra akhirnya menemukan petunjuk baru.
Berkas digital penampakan sang CEO di kawasan kumuh kini terpampang di layar monitor raksasa.
"Lacak titik koordinat persisnya sekarang juga!" perintah sang sekretaris tua dengan suara tegas.
"Tuan Andra harus segera ditemukan sebelum musuh perusahaan mengetahui keberadaannya!"
Roda takdir berputar semakin kencang.
Hari-hari damai sebagai suami istri di warung kecil tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Gelombang ancaman baru mulai bergerak mendekati kehidupan mereka yang tenang.
Keesokan hari nya
Matahari pagi kembali menerobos sela-sela bangunan padat di kawasan perkampungan kumuh.
Sinarnya memantul hangat di atas lantai semen warung kecil milik Kirana dan Andra.
Suasana pagi itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Kirana sudah sibuk sejak subuh menyiapkan bahan-bahan dagangan di dapur belakang.
Bau harum masakan rumahan mulai menyeruak keluar, menyambut hari baru dengan penuh harapan.
Statusnya kini telah resmi berubah menjadi seorang istri yang sah di mata hukum dan agama.
Meskipun hidup dalam kesederhanaan, ada ketenangan batin yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Di halaman depan warung, Andra tampak berdiri tegap sambil menyapu sisa-sisa daun kering.
Pria berjaket usang itu mengenakan kaos polos putih yang bersih.
Postur tubuhnya yang atletis membuat penampilannya tetap tampak memukau meskipun mengenakan pakaian murah.
Ia melirik sekilas ke arah ujung gang sempit di kejauhan.
Insting tajamnya langsung menangkap ada kejanggalan di pagi yang cerah ini.
Tidak seperti biasanya, suasana lorong perkampungan mendadak terasa begitu sepi.
Para tetangga yang biasanya lalu-lalang di pagi hari tampak mengunci pintu rumah mereka rapat-rapat.
Seolah-olah mereka sedang menghindari sesuatu yang berbahaya di luar sana.
Andra menghentikan gerakannya, lalu meletakkan sapu di sudut dinding dengan tenang.
Ia tahu persis apa arti dari keheningan mendadak tersebut.
Sebuah konvoi kendaraan mewah berukuran besar baru saja memasuki kawasan jalan utama perkampungan.
Empat buah mobil sedan hitam berpenutup kaca gelap tampak melaju pelan menyusuri jalan sempit yang tidak biasa dilalui kendaraan elite.
Kendaraan-kendaraan itu berhenti tepat di ujung gang utama yang berjarak beberapa meter dari warung Kirana.
Pintu mobil terbuka secara bersamaan dengan gerakan yang sangat terkoordinasi.
Belasan pengawal berjas hitam rapi keluar dari dalam kendaraan tersebut.
Mereka langsung berbaris membentuk pagar betis di sepanjang lorong sempit.
Warga sekitar yang mengintip dari balik jendela kaca langsung menahan napas ketakutan.
Mereka menduga gerombolan preman pimpinan Badrun kembali datang dengan kekuatan yang jauh lebih besar.
Namun, dari dalam mobil hitam paling tengah, sesosok pria paruh baya berpenampilan elegan melangkah keluar.
Pria itu mengenakan jas formal berkelas tinggi dengan rambut yang sudah mulai beruban di bagian pelipisnya.
Itu adalah sekretaris pribadi utama Andra dari lantai 50 PT Adhikari Corp.
Wajah pria tua itu tampak pucat pasi namun menyiratkan ketegasan mutlak.
Ia berjalan perlahan menyusuri jalan setapak perkampungan kumuh dengan langkah gemetar.
Matanya menyapu sekeliling hingga akhirnya menangkap sosok Andra yang berdiri tenang di depan warung kecil.
Tanpa memedulikan tatapan heran dari warga sekitar yang mengintip.
Sekretaris tua itu langsung berlari kecil menghampiri Andra.
Ia menjatuhkan satu lututnya ke tanah tepat di hadapan pria berjaket usang tersebut.
Sebuah gestur penghormatan mutlak seorang abdi setia kepada penguasa tertinggi imperium bisnis.
"Tuan Besar Andra..." ucap sekretaris tua itu dengan suara bergetar menahan haru.
"Kami akhirnya menemukan Anda."