Albie Putra Dewangga dan Qistina Aulia, pasangan muda yang tengah berbahagia dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista.
Namun ditengah kebahagiaan itu, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit.
Hasil biopsi dan aspirasi sumsum tulang Qistina keluar. Vonis Leukemia Myeloid akut bersarang ditubuhnya. Kondisinya sangat agresif. Dalam kondisi tersebut, produksi ASI-nya menurun. Sedang putri kecilnya alergi sufor.
Khalisa Hanifa hadir dalam hidup mereka. Perempuan malang yang kehilangan bayinya setelah menjadi korban pelecehan, rela menjadi ibu susu putri Qistina. Ketulusannya membuat Qistina percaya, jika suatu hari ajal menjemput, Khalisa adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintai putrinya seperti darah daging sendiri.
Dengan hati yang hancur, Qistina membuat keputusan paling menyakitkan. Menikahkan suaminya dengan Khalisa.
Bagaimana kisah pengorbanan cinta mereka? Akankah Albie menerima keputusan Qistina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan
*
*
*
Angin subuh menyusup melalui celah jendela kamar.
Tak lama kemudian, azan berlanggam Shoba berkumandang dari masjid komplek perumahan, membangunkan Albie yang semalaman hanya terlelap beberapa jam.
Matanya membuka, wajah Qistina dan Eloise kembali memenuhi pikirannya. Ia mengusap wajah kasar. Lalu bangkit dari tempat tidur. Gegas menuju kamar mandi, berwudhu kemudian bersiap menuju masjid.
Udara dini hari di kawasan Kemang, terasa sejuk. Masjid komplek yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumahnya sudah hampir selesai mengumandangkan adzan. Di susul dengan iqomah yang menandakan sholat jamaah segera dimulai. Albie mempercepat langkahnya.
Sholat berjamaah berlangsung dengan khusyuk. Suara imam bergema memenuhi ruang utama masjid, mengalun melalui pengeras suara. Ayat suci dilantunkan dengan tartil, membuat setiap jamaah larut dalam kekhusyukan. Tak terkecuali Albie.
Berdiri di saf depan, ia mencoba menenangkan pikirannya yang sejak semalam dipenuhi bayang-bayang laporan pemeriksaan darah Qistina.
Di sisi lain ...
Khalisa yang semalaman tertidur di serambi masjid, mulai membuka mata. Hembusan angin subuh menyentuh wajahnya, membuat ia refleks merapatkan hijab yang menyelimuti tubuhnya. Dari dalam masjid terdengar lantunan bacaan imam. "Sudah Subuh ..." gumamnya lirih.
Ia mengusap wajah, lalu beranjak duduk. Jemarinya spontan meraba lantai di samping tempatnya bersandar semalam. Seketika tubuhnya menegang. Tangannya meraba lagi. Lebih tergesa. Pandangannya menyapu sudut serambi. Tapi ...
Kosong.
Tas ransel yang semalam ia jadikan bantal ... telah hilang. Sedang ponsel dan dompet tempat ia menyelipkan beberapa lembar uang ikut lenyap.
"Ya ... Allah! Kemana tasku?" bisiknya panik.
Khalisa buru-buru berdiri, mengabaikan nyeri yang kembali menusuk di perut bawahnya. Tatapannya berkeliling mencari tas itu. Namun sia-sia, tas itu benar-benar telah raib.
Detik berikutnya,
Di dalam masjid, imam menoleh ke kanan dan ke kiri. Salam mengakhiri sholat Subuh. Jamaah mulai bergerak. Ada yang merapikan sajadah, ada yang berdzikir, ada pula yang melangkah menuju pintu masjid.
Albie masih bertahan di tempatnya dengan mata terpejam. Kedua telapak tangannya terangkat. Bibirnya bergerak lirih. Sejak semalam, hanya satu nama yang terus berputar di dalam do'anya. Qistina. Nama itu seolah tidak pernah habis ia sebut.
Namun kekhusyukan itu mendadak retak.
"Astaghfirullah!" Sebuah seruan menggema dari serambi.
Albie membuka mata. Menoleh kebelakang. Seorang marbot berdiri mematung di depan tiang masjid. Wajah tuanya pucat. Jemarinya menunjuk ke sudut ruangan. "Kotak amalnya ..." Suaranya bergetar "Kotak amal masjid hilang."
Seolah ada aba-aba tak kasatmata, beberapa jamaah serentak mendekat. Ikut menanyakan, dan memperhatikan tempat asal kotak itu diletakkan. Subuh yang semula begitu damai, perlahan berubah menjadi riuh. Di penuhi oleh tanya, kemana hilangnya kotak tersebut.
Di serambi masjid, Khalisa masih berdiri kebingungan dengan hilangnya tas. Bahkan ia tidak terlalu memperdulikan apa yang sedang terjadi di dalam Masjid. Tiba-tiba sebuah tangan kasar, mencengkram lengannya.
"Ayo ikut!"
Tubuh Khalisa terhuyung. Rasa nyeri di perut bawah kembali menusuk ketika ia ditarik masuk kedalam masjid.
"Pak ... ini perempuan yang saya maksud." Seorang jamaah yang menunjuk Khalisa tanpa melepaskan cengkramannya. "Pertama kali saya datang kemari, perempuan ini sudah berada di serambi. Orang asing. Bisa jadi dia yang ambil kotak amal."
Pak Imam yang tadi masih duduk menyelesaikan wirid, perlahan berdiri. Mendekat. Menatap Khalisa bersama belasan pasang mata lainnya.
Khalisa mematung. Tahapan-tahapan itu ... Sama seperti yang ia lihat kemarin. Tatapan penuh curiga. Tatapan yang seolah menjatuhkan vonis, bahkan sebelum ia menjelaskan.
"Bukan ..." suara khalisa nyaris tak terdengar. Ia menggeleng cepat. Air mata mulai menggenang. "Saya cuma numpang istirahat. Demi Allah ... Saya nggak ngapa-ngapain."
"Kalau nggak ngapa-ngapain, kenapa tidur di sini?" tanya seseorang diantara kerumunan.
"Iya. Warga sini juga nggak ada yang kenal dia."
Bisik-bisik mulai bermunculan. Semakin banyak. Semakin menusuk. Khalisa hanya mampu menundukkan kepala. Jemarinya mengepal erat ujung hijabnya, bibirnya bergetar menahan tangis.
"Sabar dulu Bapak-bapak ..." Pak Imam buka suara. "Kita beri kesempatan nona ini menjelaskan."
"Untuk apa mendengar penjelasannya," jama'ah yang tadi menyahut, "Penjara bakal penuh kalo ada maling ngaku." ucapnya yang disambut anggukan kepala dari jamaah lainnya.
"Astaghfirullah... " Pak Imam mengelus dadanya, " Tidak baik langsung menghakimi orang seperti itu Pak. Kita cari tahu dulu kebenarannya."
Albie melangkah mendekat, menatap jamaah secara bergantian. "Ada yang melihat dia mengambil kotak amal?"
Suasana hening mendadak. Tak seorangpun bisa menjawab. Khalisa mengangkat wajah, menatap Albie dengan tatapan penuh harap. "Semoga ada satu orang saja yang percaya, kalau aku tidak melakukannya." batin Khalisa.
"Kalau tidak ada yang melihat, jangan menjatuhkan tuduhan hanya karna dia orang asing." lanjut Albie. Tatapannya beralih ke pengurus masjid. "Masjid ini dipasang CCTV, bukan? Bagaimana kalau kita lihat rekamannya dulu?"
Pak Imam manggut-manggut. "Saya setuju dengan Dokter Albie. Daripada kita terjerumus pada dosa fitnah, lebih baik kita cari tahu kebenarannya. Lewat rekaman CCTV."
Marbot masjid bergegas menuju ruang pengurus, kemudian tak lama kembali lagi dengan sebuah laptop yang sejak awal terhubung dengan sistem CCTV masjid.
Layar laptop menyala. Marbot membuka aplikasi pemantau CCTV. Jamaah merapat, tatapan tertuju pada video yang diputar.
Rekaman memperlihatkan Khalisa tertidur di serambi masjid dengan tas ransel disamping tubuhnya. Kemudian tampak seorang pria berhoodie hitam, memakai masker memasuki halaman masjid. Langkahnya mengendap-endap, mengambil tas ransel milik Khalisa.
Kemudian pria tersebut mengeluarkan besi dari sakunya, mencongkel kotak amal, memasukkan uang beserta kotak amal kecil dalam ransel tas. Sebelum menghilang dari jangkauan kamera.
"Tas itu ..." bisik Khalisa dengan napas tercekat. "Itu Tas saya."
Marbot menghentikan rekaman. kesunyian kembali jatuh. Tatapan penuh penghakiman untuk Khalisa tadi kini memudar. Seorang jamaah yang sejak awal paling lantang menuduhnya perlahan menundukkan kepala. "Astaghfirullah... maaf saya salah sangka."
Jamaah lain yang tadi ikut menuduh, kini juga melakukan hal yang sama. "Maaf ya, Neng ... Kami terburu-buru. Sampai menuduh tanpa bukti."
Khalisa hanya menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Pak. Saya sudah memaafkan."
Meski bibirnya berkata begitu, dadanya tetap terasa sesak. Sejak kejadian pelecehan itu, rasanya ia terus diadili tanpa pernah diberi kesempatan membela diri.
"Untung ada dokter Albie, yang mengingatkan kami." ucap salah satu jamaah. "terimakasih Dok."
Albie tersenyum menanggapinya. Kemudian menoleh pada Khalisa. "Maaf atas kejadian ini. Lain kali, jangan istirahat sendirian diserambi. Terlalu bahaya untuk seorang perempuan."
Kalimat sederhana itu, cukup membuat Khalisa mengangkat wajah. Setelah semua apa yang terjadi, baru kali ini melihat jelas wajah laki-laki yang tadi membelanya.
"Terimakasih ..." ucap Khalisa.
Albie mengangguk tipis. Kemudian melirik arloji. Bayangan wajah Qistina, Rumah Sakit, Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang, sesuatu hal yang jauh lebih besar menunggunya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Albie berjalan meninggalkan masjid.
Sementara Khalisa tetap berdiri memandangi punggung laki-laki itu menghilang di balik gerbang. Wajahnya diam-diam Khalisa simpan dalam ingatan.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
apa... gaada yang curiga? selain anggota keluarganya?🤔🤔