semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 8
Darah segar mengalir deras di aspal, menimbulkan bau anyir yang menusuk hidung di sekitar tubuh itu.
tubuh itu segera dikerumuni orang-orang. yang menatap khawatir ke arah wanita yang tergeletak lemas di aspal.
Aluna terpaku. wajah ibunya pucat pasi. bibirnya bergetar hebat, giginya bergemeretak tak beraturan. napasnya tercekat di tenggorokan, dadanya seolah berhenti berdetak.
matanya tak lepas dari tubuh ibunya. kepala bagian belakangnya bercucuran darah. tapi ada satu hal yang membuat lututnya terasa lemas. yaitu darah yang terus mengalir deras dari bawah kaki ibunya.
"Ambulans! tolong panggil Ambulans, cepat!" teriak beberapa orang dengan panik.
tapi yang membuat Aluna tak bisa berdiri tegak adalah suara ibunya, yang terdengar parau dan penuh ketakutan. ketakutan kehilangan seseorang yang baru hadir dalam hidup ibunya dan ayahnya. seseorang yang selama ini mereka tunggu-tunggu harus mengalami hal yang tidak terduga ini.
"bayi ku... hiks... bayi ku tooong... tolong..." tangis Rani pilu, tangannya mencengkram perutnya yang terus mengeluarkan darah.
"tenang ya buk, kita lagi berusaha menelpon Ambulans sekarang" ucap salah satu wanita paruh baya yang sedang memangku kepala Rani yang berdarah.
"tidak... bayi ku harus selamat... hiks... bayi ku" tangis Rani menjadi-jadi
dan semua orang di sana hanya bisa menguatkan Rani dan berdoa untuk keselamatan bayi yang dikandung Rani.
Di lorong rumah sakit, terdengar suara langkah kaki terburu-buru dan tergesa-gesa. dengan wajah panik sekaligus cemas, dia terus berlari menelusuri lorong demi lorong hanya untuk menemukan ruangan istrinya yang sedang dioperasi.
setibanya di salah satu ruangan operasi, Hendra melihat 3 anaknya yang ternyata sudah lebih dulu tiba dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan.
Putri sulungnya Karin, berdiri dengan bersedekap dada menatap lurus ke arah pintu operasi dengan wajah dingin dan datar.
lain halnya dengan Putri keduanya Aurel, dia terduduk di kursi dengan pandangan kosong. matanya menatap lantai marmer putih itu dengan wajah datar. matanya juga terlihat bengkak dan merah, sepertinya dia habis menangis tadi.
lalu pandangannya teralihkan ke arah Aluna.
wajahnya yang selalu lembut terhadap Putri kecilnya kini berubah menjadi datar dan dingin.
dia sudah tahu semuanya, apa yang terjadi setelah beberapa orang di sekitar kejadian melihat langsung dan bercerita mengenai kejadian ini.
ceklek
semua yang ada di sana langsung menolehkan kepalanya, menatap satu-satunya harapan mereka, yaitu dokter Linda.
"dokter" ujar Hendra dingin.
Linda menatap wajah-wajah itu secara bergantian, yang sedang menunggu kabar baik atau kabar buruk darinya.
melihat raut wajah Linda yang terlihat sedih dan putus asa, jantung Hendra seakan berhenti berdetak. dia berharap istrinya dan calon bayinya selamat.
"maafkan kami, Tuan. kami sudah berusaha untuk menyelamatkan bayi anda. tapi karena Rani terlalu banyak kehilangan darah, dan benturan keras mengenai punggung Rani, maka kami menyatakan kalau istri anda keguguran, Tuan. dan untuk istri anda sekarang dia dinyatakan koma"
"dan maafkan kami juga, Tuan. setelah kejadian ini untuk menyelamatkan nyawa Rani, kami..." ujar Linda berhenti sejenak
"kami juga mengangkat rahim Rani untuk keselamatan nyawanya, Tuan. dan untuk itu maka Rani tidak akan lagi memiliki calon bayi"
.
"Akhhh! Yayah sakit, hiks... hiks.." tangis Aluna terdengar pilu.
tapi Hendra tidak peduli sama sekali dengan Aluna yang menangis. dia terus menyeret tubuh Aluna kasar menuju sebuah gudang yang terbengkalai di belakang rumahnya.
setibanya di gudang, Hendra langsung mendorong tubuh kecil Aluna hingga baju Aluna kotor oleh debu-debu lantai yang tidak pernah dibersihkan oleh maid.
"Akhhh!" pekik Aluna kesakitan saat rambutnya di tarik kuat oleh tangan kekar ayahnya
Plak!
Plak!!
Plak!!!
Bugh!!
Bugh!!!
nafas Hendra terengah-engah. matanya menatapnya nyalang ke arah tubuh Aluna yang terbaring lemah. wajahnya sudah babak belur oleh pukulan yang diterimanya dari Hendra.
wajahnya memar, sudut bibirnya robek hingga berdarah, lingkaran mata kirinya memar dan bengkak berwarna ungu.
"hiks.. Yayah maafin Aluna, hiks hiks"
Bugh!!
Bugh!!
Plak!
Plak!!!
lagi-lagi Hendra melayangkan sebuah pukulan telak di wajah Aluna hingga Aluna tidak sadarkan diri dan pingsan seketika di atas lantai yang penuh debu itu.
Hendra menatap wajah Aluna yang sudah penuh dengan memar dan bengkak di sekitar wajahnya. matanya berkaca-kaca, hatinya terluka. wajahnya juga terlihat kelelahan, hingga tanpa sadar sebuah air bening jatuh di atas pipinya.
"hiks, kenapa, hiks, kenapa ini bisa terjadi, hiks kenapa kau melakukan ini semua. Aluna!!! hiks hiks kenapa!!!" teriak histeris Hendra menggema di seluruh gudang terbengkalai itu.
siapa juga yang tidak akan terluka dan terpukul di saat anak yang selama ini ditunggu kehadirannya harus pergi oleh kejadian yang tidak terduga seperti ini.
salah satunya adalah Hendra. anak yang bertahun-tahun dia tunggu, anak yang ingin kehadirannya ada, anak yang ingin dia inginkan hadir harus pergi untuk selamanya.
Flashback end
"heh! malah ngelamun, ini sana cepat cuci baju-bajunya" ujar salah satu maid yang membawa satu ember besar berisi semua baju-baju milik keluarga Wijaya.
"Ah, iya maaf. saya lupa tadi" ucap Aluna mengambil ember besar itu dan berlalu menuju tempat mesin cuci
tapi baru Aluna akan beranjak, tiba-tiba maid itu menghentikan langkahnya.
"Tunggu"
Aluna pun menolehkan kepalanya ke arah maid itu.
"kamu mau ke mana?" tanya maid itu
"saya mau nyuci, Mbak. kan kata mbak tadi saya harus nyuci baju" jawab Aluna lirih.
"iya, saya tahu tapi kamu mau nyuci baju itu di mana?" tanya maid itu lagi
"Di mesin cuci mbak. tadi saya nggak sengaja lihat kalo di dekat sana ada mesin cuci" jawab Aluna
"enak aja! nggak ada ya kamu nyuci di sana" ucap maid itu sewot
"lalu saya harus nyuci di mana lagi, mbak. kalo bukan di situ?" tanya Aluna lagi dengan wajah kebingungan
"ya, kamu nyucinya di kamar mandi dekat dapur lah. ingat, selama kamu di sini kamu enggak boleh pakai mesin itu sama sekali, titik! dan kamu cuma boleh nyucinya itu di kamar mandi pakai sikat! nggak ada embel-embel pakai mesin cuci"
"Tapi mbak-"
"udah, sana! lama amat lo" ucap maid itu, mendorong tubuh Aluna
.
akhirnya, setelah berjam-jam mencuci baju yang sebanyak satu ember besar, bajunya pun sudah bersih dan wangi. Hanya tinggal untuk menjemurnya saja.
saat sedang berjemur, tiga maid yang sempat menolong Aluna di dapur tadi menghampiri dirinya dengan wajah keheranan dan kebingungan.
"loh, Aluna, itu baju kamu kenapa basah semua?" tanya Aini yang sedang membawa beberapa bahan dapur yang sempat habis bersama kedua temannya.
"Ah tadi aku nyuci semua baju ini di kamar mandi, Aini. makanya baju aku basah gini" jawab Aluna sembari menjemur baju-baju itu.
jadi, mereka bertiga ini memanggil Aluna dengan sebutan namanya, soalnya Aluna sendiri yang memintanya, dan begitu juga sebaliknya.
"loh, bukannya ada mesin cucinya? kenapa harus di kamar mandi?" tanya Aya yang mengingat sepertinya di rumah ini ada mesin cuci. jadi, kenapa Aluna mencucinya di kamar mandi.
"sebenarnya" Aluna pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa bajunya bisa basah kuyup seperti ini
"wah, nggak bisa dibiarin ini. kok dia seenaknya aja sih bilang gitu" kesal Nisa setelah mendengar cerita Aluna.
"lalu kenapa kamu mau ngikutin apa kata maid itu, Aluna? kan kamu bisa aja nyucinya di sana aja" ucap Aya yang ikut menjemur baju-baju itu.
"aku takut, Aya. kalo aku nggak ngikutin apa kata maid itu, nanti yang ada rusuh lagi hanya karena aku yang nggak ngikutin apa kata maid itu" ucap Aluna, menundukkan kepalanya.
ketiga maid itu menatap Aluna dengan sendu dan kasihan. mereka juga sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruang makan tadi.