Sekuel SUAMIKU BERWAJAH CACAT
Novel ini, menceritakan kisah cinta segitiga. Jadi bijaklah, dalam membaca.
Haris Wilson, anak pertama dari pasangan Henri Wilson, dan Rania Cullen, tidak menyangkah hidupnya akan berakhir menikahi anak dari pelayannya sendiri Bibi Ana.
Apalagi saat itu, Haris Wilson mempunyai seorang kekasih yang begitu dicintainya, yaitu seorang supermodel, bernama Kenny.
Haris menentang keras perjodohan ini, karena
dia sudah mempunyai kekasih, dan yang membuat dia sangat menolak perjodohan ini adalah, anak dari pelayannya itu, adalah seorang gadis cacat.
Tapi Haris tak dapat menolak, karena ayahnya Henri Wilson mengancam, kalau dia tidak menikahi Vivian, maka jabatannya sebagai seorang CEO diperusahaan, akan dicabut.
Karena tidak ingin kehilangan jabatannya, dia menyetujui pernikahan ini, tapi dengan membuat kesepakatan pernikahan kontrak, yang dia buat bersama Vivian.
Tapi itulah cinta bisa tumbuh kapan saja, Harispun tak dapat menolak pesona Vivian, saat mendapati gadis itu sudah bisa berjalan, ditambah lagi dengan kelembutan, dan perhatian dari wanita itu, membuat ia terjebak dengan permainan yang dia ciptakan sendiri, hingga membuat ia harus memilih Vivian, sigadis cacat, atau Kenny wanita yang begitu dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.8.Bisa berjalan.
Mentari pagi telah tersenyum menyapa bumi, pagi ini dia terlihat cantik, dan sepertinya akan bepergian.
Vivian memutuskan akan melakukan pengobatan pagi ini, ditemani sahabat baiknya, Nancy.
"Kau yakin, Bibi tidak usah menemanimu, Sayang..?"
Berbalik, dan menatap wajah wanita paruhbaya itu.
"Tidak usah Bibi, tidak usah menemaniku, dan Nancy sahabat baikku, dia yang akan menemaniku untuk melakukan fisioterapi.." Jawabnya tersenyum.
" Apakah Nancy sahabat baikmu yang berasal dari Korea itu?!"
"Iya Bibi, dia yang akan menemaniku. Dan kau tau Bibi.!" Dengan menjeda kalimatnya sejenak.
Dia begitu mengagumi, dan dia sangat mengidolakan Tuan Herry." Ucapnya, yang terlihat begitu antusias.
Tersenyum, sembari membelai lembut wajah cantik itu.
"Siapa pun pasti akan mengagumi pria seperti Tuan Herry, dia memiliki suara yang merdu, dan juga memiliki pribadi yang sangat baik, dan juga selalu ramah pada semua penggemarnya."
"Tentu Bibi, Tuan Herry adalah laki-laki yang baik.
Ya sudah Bibi, kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Vivian, dengan berlalu dari kediaman kecil itu.
Ana menatap nanar kepergian anak angkatnya, dan dalam dirinya berharap agar gadis cantik itu, segera bisa berjalan.
"Semoga saja, kau bisa cepat berjalan anakku! Karena aku tau, kau begitu tertekan dengan keadaanmu, dan kau selalu berusaha untuk menutupi semuanya, dengan senyumanmu."
Menunggu seorang diri, didepan kediaman mewah itu.
Dia terus tersenyum, saat pergi melakukan pengobatan pada kakinya.
"Sendainya aku sudah bisa berjalan, orang pertama yang akan aku beritahu adalah Bibi Ana." Gumamnya, tersenyum.
******
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, tibahlah Vivian disebuah taman yang terletak ditengah kota London.
Terus melangkah, ditengah keramaian para pengunjung taman.
Dia terlihat begitu bahagia, saat melihat orang-orang berlari kesana kemari, dan ada juga yang bersepeda.
"Sebentar lagi, aku akan pasti aku akan bisa seperti mereka, melakukan banyak hal." Gumamnya, dengan rona bahagia yang terlihat jelas diwajahnya.
"Vivian...!" Teriak seorang gadis cantik, dengan melambai-lambaikan tangannya diudara, saat melihat kedatangan sahabatnya.
Vivian tersenyum, dan membalas lambaian tangan Nancy, sahabat baiknya itu.
"Ayo duduklah." Titahnya pada Vivian, saat teman baiknya itu masih tetap berdiri.
"Mana fotonya? apakah dia sudah memberikan tanda tangan?!" Tanya Nancy, yang terlihat begitu antusias.
Mendecak kesal, menatap sahabat baiknya itu.
"Ini ambillah! apakah kau puas..?!" Dengan menyerahkan beberapa lembar photo Herry, pada Nancy sahabatnya.
Nancy begitu bahagia, saat menerima photo, yang sudah ada tanda tangan dari artis idolanya.
"Kapan yaa? kira-kira aku bisa berphoto sama dia." Serunya, dengan raut wajah penuh harap menatap Vivian.
"Datanglah kekediaman keluarga Wilson besok, kau pasti bisa bertemu dengannya."
"Apakah ada acara, dirumah mereka?" Tanya Nancy, penasaran.
"Aku akan menikah besok." Jawabnya tegas.
"Menikah?!" Dengan menatap penasaran, Vivian.
"Iya Nancy, aku akan menikah besok. Dengan kakak dari Tuan Herry, yaitu Tuan Haris Wilson."
Nancy yang sedang meneguk minuman, seketika langsung terbatuk-batuk saat mendengar ucapan sahabatnya.
"Kamu serius mau menikah dengan pria brengsek itu?! dan apakah kau mengetahui kelakukan Tuan Haris, seperti apa?! suka mabuk-mabukan, dan apakah kamu tidak mengetahui bagaimana gaya pacarannya, dengan model papan atas Kenny, semua orang tau kalau Haris Wilson, yang tak lain adalah Kakak dari penyanyi terkenal Herry Wilson, sering menginap diapartemrn kekasihnya.
Dan mustahilkan?! kalau mereka tidak melakukan hal itu."
Menghembuskan nafas kasar, dan walaupun terpaksa, pernikahan sudah didepan mata, dan diapun sangat mengetahui kelakuan buruk dari calon Suaminya itu.
"Ini sudah keputusanku Nancy, jadi besok kami akan menikah." Jawabnya, dengan suara yang terdengar berat.
"Terserah padamu saja, setidaknya aku sudah memperingatimu." Seru Nancy pasrah.
" Yasudah kalau begitu ayo kita kerumah sakit sekarang, aku ingin melakukan terapi. Karena kakiku, sudah banyak mengalami perkembangan."
"Kamu serius? kalau kaki kamu sudah banyak kemajuan..?!"
"Tentu, buat apa aku berbohong." Jawabnya tersenyum.
*******
Setelah melewati sedikit kemacetan kota London dipagi hari, tibahlah kedua gadis cantik itu, disebuah rumahsakit ternama di London.
Vivian, dan Nancypun segera masuk kedalam ruangan Dokter Karen, karena sebelumnya Vivian sudah membuat janji, akan melakukan fisioterhapi pagi ini.
"Selamat pagi Dokter Karen." Sapa Vivian, saat sudah berada didalam ruangan, Dokter muda itu.
"Selamat pagi Vivian, ayo silahkan duduk.
Bagaimana kakimu? apakah sudah banyak mengalami kemajuan?"
"Iya Dokter, saya yakin sebenantar lagi pasti saya akan segera bisa berjalan." Jawabnya, tersenyum.
"Kalau begitu ayo kita lakukan lagi terhapinya, agar kamu lebih bisa cepat berjalan Vivian."
" Tentu Dokter." Jawab Vivian, yang terlihat antusias.
Dengan dibantu seorang perawat, dan dibawah pengawasan Dokter Karen, Vivian tengah menjalani fishioterhapinya.
Nancy begitu takjub, saat melihat perkembagan sahabatnya.
" Waah...Vivian, kamu sudah banyak mengalami kemajuan.
sekarang cobalah kamu lepas penyanggah itu, kamu coba datang menghampiri saya." Pinta Karen, dengan posisi sedikit jauh dari Vivian.
"Tapi saya tidak yakin Dokter saya bisa melangkah sampai disana, dan menurut saya itu terlalu jauh." Ucapnya, dengan raut wajah yang terlihat sendu.
Nancy segera menghampiri sahabatnya, untuk memberikan dukungan.
"Kamu sudah lelahkan memakai tongkat itu, dan kamu pasti juga sudah lelahkan dia menghinamu terus, buktikan pada dia, kalau kamu bukan gadis yang menyusahkan, dan aku yakin kamu pasti bisa."
Tersenyum, sembari menganguk ia.
Vivian segera melepaskan penyangga yang sedang dipegangnya walaupun ada sedikit rasa takut, dan dia memberanikan diri untuk mulai melangkah lebih jauh.
"Ayo Vivian, kamu pasti bisa." Bathinya, menyemangati diri sendiri.
Mulai melangkah dengan perlahan, satu, dua, tiga, empat, lima langkah. Dan biasa dalam langkah kelima, dia akan langsung terjatuh.
Airmatanya mulai menetes, dan dia begitu bahagia, karena kedua sebelah kakinya, mampu menopang tubuhnya, dan tidak begitu terasa sakit lagi.
"Apakah selama ini, kamu tidak mencoba melangkah lebih jauh Vivian? lihatlah kamu sudah bisa berjalan."
"Selama ini saya begitu takut Dokter, untuk melangkah lebih jauh. Dan saya sedikit takut, saat melepaskan tongkat ini."
"Ayo lanjutkan langkahmu, untuk mendekati saya." Pinta Karen.
"Ayo Vivian, ayo..!" Seru Nancy, dengan sedikit berteriak, dan dia terlihat begitu bersemangat.
Menghembuskan nafas dalam, dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Terus melangkah, dan melangkah, hingga dia bisa mencapai Dokter Karen.
"Dokter saya sudah bisa berjalan lebih jauh Dokter...! saya sudah bisa berjalan lebih jauh...!" Serunya, dengan airmata sudah menetes, karena terlalu bahagia.
"Sekarang coba kamu melompat, apakah kaki kamu masih terasa sakit?"
Diapun mengikuti arahan Dokter Karen, dan mulai melompat.
"Kenapa?!" Tanya Dokter Karen.
" Masih sedikit sakit Dokte? tidak seperti hari-hari kemarin." Jawabnya, tersenyum.
"Saya akan menuliskan resepnya, kamu hanya perlu datang mengontrol saja. Dan sekarang, kamu tidak perlu memakai tongkat ini, Kamu harus biasakan berjalan, dengan mengunakan kedua kaki kamu saja."
"Tentu Dokter, terimakasih."
Nancy segera menghampiri sahabatnya, dan memeluk erat tubuh gadis cantik itu.
"Aku turut senang Vivian, sekarang tidak ada yang akan mengatai kamu, gadis cacat lagi."
"Terimakasih Nancy, karena selama ini kamu selalu mendukungku."
Karen pun menulisksn resep obat, dan memberikan pada Vivian.
"Datanglah minggu depan, kita akan melakukan ronsen pada kaki kamu, untuk mengetahui perkembangannya, dan ingat jangan lupa minum obatnya."
"Tentu Dokter, minggu depan saya akan kemaril lagi.
Dan kami permisi dulu." Pamit Vivian, dengan rona bahagia diwajahnya.
Saat melewati lorong, raut wajah Vivian begitu bahagia, walaupun masih sedikit kaku saat melangkah, tapi Vivian terlihat begitu antusias.
"Ahhhh.....aku bahagia.....!!" Teriaknya, yang begitu menggema, hingga membuat Nancy sahabatnya menutup kupingnya.
Aku akan memberi kejutan pada Bibiku."
"Tentu, dan ayo kita kesalon untuk lakukan perawatan.bukankah besok kamu akan menikah?"
aasyeiikk ... bakal makin posesif aja bos nya si james 😁👍🏻
bisaan ni author pilih visual nya
posesif tanda cinta .. ouw ouw oooo
sudah jelas vivian berstatus kan istri "sah"
kenny dasaarrr
gemesss gau thor aaaaa mantaff👍🏻🤣