NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008: Susan dan Sophie

"Besok pagi, aku yang antar sarapan ke tokonya."

Margaret benar-benar melakukannya.

Pagi-pagi, ia menyiapkan rantang berisi nasi, ayam suwir sisa soto, dan telur rebus. Jason berdiri di dekat pintu dengan wajah kusut, jelas tidak tahu apakah harus senang karena istrinya diperhatikan atau takut karena Mama-nya terlalu tenang.

"Ma, tidak usah sampai begitu. Livia pasti malu kalau Mama datang ke toko."

"Orang yang benar-benar lembur tidak perlu malu diberi sarapan."

Jason tidak bisa membantah.

Di toko serba ada tempat Livia bekerja, rolling door baru setengah terbuka. Beberapa pegawai sedang menata barang. Livia ada di sana, tetapi bukan seperti orang yang semalaman bekerja. Rambutnya rapi, bibirnya diberi warna tipis, dan matanya lebih terkejut daripada lelah saat melihat Margaret.

"Mama?"

Margaret menyerahkan rantang itu.

"Katanya semalam stok opname. Makan."

Livia menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih, Ma. Semalam memang sampai pagi."

Margaret menatap sepatu Livia.

Bersih.

Tidak ada debu gudang, tidak ada bekas kardus, tidak ada lecek orang yang semalaman membongkar stok.

Ia tidak membongkar apa pun di sana.

Belum.

"Kerja baik-baik," katanya.

Dalam perjalanan pulang, Jason menggaruk kepala. "Ma, Livia kelihatan baik-baik saja."

"Justru itu."

Jason berhenti bicara.

Margaret menyimpan masalah Livia di bagian belakang kepalanya seperti pisau yang belum dicabut. Tetapi saat melewati jalan menuju rumah, ia melihat seorang gadis SMA bersepeda dengan tas besar di punggung. Rambut gadis itu dikuncir, seragamnya rapi, wajahnya tertutup bayang pohon sebentar.

Jantung Margaret seperti ditarik.

Sophie.

Nama itu datang bukan sebagai ingatan, melainkan sebagai rasa sakit lama yang tiba-tiba terbuka.

Malam itu, setelah semua orang pergi tidur, Margaret duduk di ruang tengah dengan telepon rumah di depannya. Bella duduk di lantai, mengerjakan PR matematika. Anak bungsunya itu sudah beberapa kali melirik Mama-nya, tetapi tidak bertanya.

Margaret menatap jari-jarinya sendiri.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlambat untuk Natalie. Kali ini ia berhasil menarik Natalie kembali.

Tetapi Sophie berbeda.

Natalie hampir mati karena tubuhnya bertarung di meja persalinan. Sophie mati pelan-pelan di dalam rumah yang seharusnya melindunginya.

"Bella," panggil Margaret.

Bella mengangkat wajah. "Iya, Ma?"

"Kamu ingat Sophie?"

Bella berpikir sebentar. "Ci-Ci yang di Ungaran? Yang jarang datang?"

"Iya."

"Aku ingat. Dulu waktu Imlek dia duduk di dapur terus. Tidak mau ikut foto."

Margaret menelan sesuatu yang pahit.

Tiga tahun lalu, saat Sophie berusia empat belas, Susan mempermalukan anak itu di depan orang-orang rumah susun lama. Bukan sekadar memarahi. Ia melucuti martabat anak kandungnya sendiri, menjadikannya tontonan, membuat satu halaman penuh mata manusia menancap di tubuh gadis yang bahkan belum tahu cara membela diri.

Sejak hari itu, Sophie berubah.

Ia berhenti tertawa.

Berhenti keluar rumah.

Berhenti percaya bahwa dunia di luar pintu tidak akan melukainya lagi.

Margaret dulu mendengar kabar itu, merasa marah, lalu menundanya. Ia berkata pada diri sendiri, urusan orang tua dan anak orang lain sulit dicampuri. Ia berkata nanti akan datang. Nanti akan bicara dengan Susan. Nanti akan membawa Sophie tinggal beberapa hari.

Nanti, nanti, nanti.

Maret tahun depan, tidak ada nanti lagi.

Margaret menggenggam gagang telepon.

Bella meletakkan pensilnya. "Ma?"

"Kalau besok Mama pergi ke Ungaran, kamu ikut."

Mata Bella membesar sedikit. "Aku?"

"Iya. Tapi dengar baik-baik. Sampai di sana, kamu tidak boleh menangis."

Bella terdiam.

"Kalau kamu melihat sesuatu yang membuatmu takut, kamu berdiri di belakang Mama. Kalau kamu marah, tahan. Kalau ingin memeluk Sophie, tunggu dia mengizinkan. Anak yang pernah dipermalukan di depan orang banyak tidak bisa langsung disentuh seenaknya."

Bella mengangguk pelan.

"Dan satu lagi," kata Margaret.

"Apa, Ma?"

"Kamu hanya boleh keras."

Kalimat itu membuat Bella duduk lebih tegak.

Margaret berdiri sebentar, mengambil dompet kain dari lemari, lalu menghitung uang tunai yang tersisa dari kas rumah. Ia menyisihkan Rp 2.000.000, memasukkannya ke amplop kecil, kemudian mengambil jaket longgar milik Elisa dan dua masker kain dari laci jahit. Bella melihat semuanya tanpa bertanya.

"Untuk Sophie?" tanyanya akhirnya.

"Untuk menutup tubuhnya kalau dia tidak sanggup dilihat orang," jawab Margaret.

Bella menunduk. Kali ini matanya bukan takut, melainkan marah.

Margaret memutar nomor lama dari ingatan. Nomor itu milik seorang tetangga lama di Ungaran, Martha Huang. Dulu mereka pernah dekat saat Natalie baru menikah dan Margaret sering bolak-balik mengurus anaknya. Setelah hidup makin sibuk, hubungan itu menipis menjadi salam lewat orang.

Telepon berdering lama.

Saat hampir putus, suara perempuan muncul di seberang.

"Halo?"

"Ci Martha? Ini Margaret."

Ada jeda, lalu suara itu berubah hangat dan kaget. "Ci Margaret? Aduh, sudah lama sekali! Ada apa telepon malam-malam?"

Margaret tidak berputar-putar.

"Aku mau tanya soal Sophie. Anak Susan."

Keheningan di ujung telepon langsung terasa.

Margaret menegakkan punggung. "Ci, jawab jujur. Keadaannya bagaimana?"

Martha Huang menghela napas. "Kasihan anak itu. Jarang sekali keluar. Kalau keluar pun menunduk seperti takut semua orang melihat."

"Susan?"

"Masih sama. Mulutnya tajam. Kalau marah, satu gang bisa dengar."

"Ada laki-laki di rumah itu?"

Jeda kali ini lebih panjang.

Bella menatap Mama-nya, wajahnya mulai tegang.

"Ada," kata Martha Huang akhirnya. "Namanya Brian. Orangnya tidak jelas kerja apa. Kadang pakai kemeja rapi, kadang mabuk. Katanya pacar Susan. Sudah beberapa minggu ini sering sekali di rumah."

Darah Margaret menjadi dingin.

"Sering bagaimana?"

"Kadang sampai malam. Kadang Susan tidak ada, dia tetap di dalam."

Gagang telepon hampir retak dalam genggaman Margaret.

"Sophie di rumah saat itu?"

"Ya di mana lagi dia, Ci Margaret? Anak itu hampir tidak pernah keluar."

Bella menutup mulut dengan tangan.

Margaret memejamkan mata sebentar. Di kepalanya, bayangan Sophie di kehidupan lalu muncul lagi: tubuh kurus, mata kosong, tangan yang selalu menarik lengan baju sampai menutupi pergelangan.

Ia sudah terlambat bertahun-tahun.

Tapi belum sampai Maret.

Belum.

"Ci Martha," kata Margaret. "Besok pagi aku ke Ungaran. Kalau ada apa-apa sebelum aku sampai, kamu telepon rumahku. Jangan tunggu."

"Ci Margaret..." Martha Huang terdengar ragu.

"Apa?"

"Ada satu hal lagi. Aku tidak tahu harus bilang atau tidak."

Margaret berdiri.

"Bilang."

Suara Martha Huang turun menjadi bisikan.

"Sophie sudah tiga hari tidak keluar kamar. Ada yang bilang, malam-malam terdengar suara dia menangis dari dalam."

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!