NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Kecurigaan Scarlett

Malam bergerak semakin larut, melingkupi kediaman Cedric dalam kesunyian yang mencekam. Di atas ranjang berseprai beledu yang empuk, Elara akhirnya telah tertidur lelap.

Gurat trauma dan ketakutan yang tadi sempat menghiasi wajahnya kini memudar, digantikan oleh ekspresi damai yang begitu rapuh.

Sementara itu, Cedric hanya berdiri diam di sisi tempat tidur. Sepasang netra Elf-nya yang tajam memandangi wajah polos gadis Siren tersebut dalam keheningan, sebelum akhirnya ia merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Ia menempelkan benda pipih itu di telinga, menunggu nada sambung berdering.

Begitu sambungan telepon terhubung di seberang sana, Cedric langsung berucap tanpa basa-basi.

"Madam Jane. Maaf mengganggu waktu istirahatmu. Aku hanya ingin menyampaikan satu pesan penting," ucap Cedric, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak mengusik tidur lelap Elara. "Jika ada seseorang, atau siapa pun itu, yang datang ke kasinomu mencari keberadaan gadis bernama Elara... katakan bahwa kau tidak tahu apa-apa. Bilang saja kepada mereka bahwa gadis itu sudah pulang ke kota Blue Waves."

Di seberang panggilan, Madam Jane yang baru saja hendak memejamkan mata sontak menegakkan tubuhnya. Wanita paruh baya itu buru-buru menyetujui perintah tersebut tanpa berani memprotes sedikit pun. Ia tahu betul posisi hukumnya saat ini; utang besarnya pada Cedric belum lunas sepenuhnya, dan membantah kata-kata sang pengusaha Elf sama saja dengan mengundang kehancuran bagi bisnis kasinonya.

"Baik, Tuan Cedric. Saya mengerti," sahut Madam Jane dengan nada patuh. "Saya berjanji akan menutup rapat-rapat informasi mengenai keberadaan Elara dari siapa pun yang bertanya."

Tanpa berniat membuang waktu untuk menjawab atau sekadar mengucapkan salam perpisahan, Cedric langsung mematikan sambungan telepon tersebut sepihak. Ia menurunkan ponselnya, kembali menatap tubuh ringkih Elara yang terbungkus pakaian lama mendiang ibunya, sembari menyusun rencana matang untuk melindungi sang belahan jiwa dari badai yang sebentar lagi akan datang.

****

Srettt...

Cedric menarik gorden tebal di kamar tersebut dengan satu gerakan mantap. Sinar matahari pagi yang hangat seketika menerobos masuk, menyinari seisi ruangan melalui kaca jendela yang bersih. Pria Elf itu kemudian berbalik, melangkah pelan menghampiri Elara yang masih terlelap dalam gulungan selimut.

"Bangunlah. Ini sudah siang," ucap Cedric, suaranya terdengar datar namun tidak ketus.

Elara mengerjapkan matanya perlahan, menghalau silau matahari yang menerpa wajahnya. Begitu kesadarannya terkumpul, rasa sakit dan perih di sekujur tubuhnya kembali menyengat, membuat ringisan kecil lolos dari bibirnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksakan diri untuk duduk di atas ranjang, menatap Cedric dengan tatapan bersalah.

"Maafkan aku, Tuan... karena aku sudah bersikap tidak tahu malu dengan menumpang tidur di sini," cicit Elara lirih, meremas ujung selimut.

"Tidak masalah, aku mengerti keadaanmu," potong Cedric cepat, seolah enggan membahas kejadian semalam.

Ia merapikan lengan kemejanya sebelum melanjutkan, "Aku hanya ingin memberitahumu jika sarapan sudah kusiapkan di meja makan dapur. Mandilah terlebih dahulu sebelum makan. Aku juga sudah menyiapkan air hangat di dalam bak mandi untuk membantu meredakan rasa sakit di tubuhmu."

Cedric melirik jam tangan peraknya sekilas. "Sementara itu, aku harus segera berangkat ke restoran sekarang. Elara, tetaplah tinggal di dalam rumah ini. Jangan pernah pergi ke mana-mana, mengerti? Tunggu sampai aku pulang. Jika tidak ada kendala, mungkin pada jam makan siang aku akan kembali sebentar untuk membawakan makanan untukmu."

Mendengar perhatian yang begitu tulus dari pria asing ini, Elara mengangguk patuh. "Baik, Tuan."

"Bagus. Aku pergi," sahut Cedric singkat.

Pria itu pun berbalik dan melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dengan rapat di belakangnya. Meninggalkan Elara sendirian yang kini mulai merenungi nasibnya di tempat baru yang terasa asing, namun entah mengapa, terasa begitu aman karena keberadaan Cedric.

Elara memaksakan diri menggeser tubuhnya yang terasa remuk untuk turun dari atas ranjang. Dengan langkah kaki yang tertatih-tatih menahan perih yang teramat sangat, ia berjalan perlahan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar tersebut.

Di dalam ruangan yang bersih itu, Elara menanggalkan pakaiannya satu per satu dengan tangan gemetar. Ia kemudian melangkah masuk dan menceburkan diri ke dalam bathtub. Elara menenggelamkan tubuh ringkihnya sebatas leher, membiarkan kehangatan air memeluk kulitnya. Untuk sesaat, kehangatan itu berhasil membuat otot-ototnya yang tegang menjadi sedikit lebih rileks.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Saat keheningan melingkupinya, sekelebat ingatan tentang malam jahanam itu tiba-tiba menghantam pikirannya dengan sangat jelas.

Kabut alkohol yang semalam membutakan matanya mendadak mengikis habis. Di dalam benaknya, memori itu berputar bagai gulungan film: siluet tubuh tegap, gumpalan emosi yang liar, suara erangan maskulin pria yang telah melecehkannya, hingga... kata-kata yang diucapkan pemuda itu saat mereka pertama kali berinteraksi di kamar mandi ruang VIP.

Potongan teka-teki itu seketika menyatu sempurna di kepala Elara.

"Keparat! Jadi... kau pria werewolf itu!" desis Elara penuh emosi, sepasang matanya yang biru jernih mendadak berkilat tajam menyala.

Air di dalam bathtub seketika beriak kencang, merespons gelombang amarah dan energi magis kaum Siren yang bergolak hebat di dalam dadanya. Rasa trauma yang tadinya menyelimuti Elara kini menguap, berganti menjadi dendam kesumat yang membakar seluruh jiwanya. Ia kini tahu siapa musuhnya.

Pria werewolf sombong yang penampilannya berantakan di koridor kasino bersama sang Alpha malam itu—bocah ingusan yang dilepas pergi oleh Cedric dengan lambaian tangan.

"Arghhh! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" raung Elara menggelegar di dalam kamar mandi, menumpahkan segala rasa frustrasi yang membakar dadanya.

****

Sementara itu, di tempat lain, roda takdir terus berputar. Edgard bersama rombongan sepupunya tengah menempuh perjalanan jauh membelah jalur darat menuju Kota Vespera. Tujuan mereka adalah untuk menjenguk anak dari Archmage William yang baru saja lahir ke dunia.

Edgard berkendara dalam iring-iringan mobil mewah bersama Jonas, Jonah, Josiah, beserta Elisa—istri mereka. Perjalanan kali ini terasa jauh lebih ramai karena Elisa juga turut membawa ketiga anak kembarnya yang masih berusia beberapa bulan dan baru bisa merangkak.

Bayi kembar tiga yang menggemaskan itu terdiri dari Jayden, si bayi laki-laki, serta dua saudara perempuannya, Joy dan Jacelyn. Karena mobil Jonas dan yang lain sudah penuh sesak oleh perlengkapan bayi dan kereta dorong, Edgard akhirnya memilih berada di mobil yang berbeda. Ia mengemudikan kendaraan pribadinya sendiri, ditemani oleh Scarlett, gadis cantik yang juga merupakan sepupunya.

"Edgard, kenapa kau hari ini terlihat begitu berbeda?" tanya Scarlett tiba-tiba, memecah keheningan di dalam kabin mobil.

Gadis keturunan ras Pegasus dan Elf hutan itu tampak sangat anggun dalam balutan dress berwarna merah muda pastel. Rambut putih peraknya dicepol rapi ke atas, sementara sepasang mata ungunya menatap Edgard dengan sorot penuh keheranan.

Edgard yang sedari tadi fokus menatap jalanan sontak menoleh sekilas dengan gugup. "Berbeda bagaimana? Perasaan aku sama saja seperti biasanya."

"Bukan itu maksudku," sahut Scarlett, mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Edgard. "Bau tubuhmu, Edgard... Aromamu saat ini sangat mirip dengan seorang werewolf yang baru saja menemukan belahan jiwanya."

Sebagai cucu dari seorang Archmage agung, tingkat kepekaan Scarlett sangatlah luar biasa, bahkan melampaui makhluk imortal mana pun. Memang, sebagai keturunan Pegasus, ia tidak mewarisi kemampuan psikometri seperti milik Alan—ayahnya, atau William—kakeknya, yang bisa melihat masa lalu seseorang melalui sentuhan.

Namun sebagai gantinya, Scarlett dianugerahi penciuman magis yang mampu mendeteksi perubahan sekecil apa pun pada aroma tubuh makhluk lain.

"Kau bicara omong kosong, Scar. Mana ada hal seperti itu," kilah Edgard, berusaha mati-matian mengatur nada suaranya agar tetap terdengar tenang. "Aku hanya kurang tidur saja semalam."

Mata ungu Scarlett memicing tajam, menatap menyelidik sisi samping wajah Edgard. "Jangan billing kau bermain gila dengan wanita-wanita penghibur di luar sana. Kudengar dari Ayah, kau dan Paman Ethan semalam pergi ke sebuah tempat hiburan malam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!