NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:31k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34.

hari-hari berlalu. Suasana di mansion Ravindra tetap terasa dingin dan kaku. Setiap pagi, Freya menghabiskan energinya bersama Dokter Diana, berjuang melewati rasa sakit demi mengembalikan fungsi saraf kakinya. Sementara itu, Rafael lebih banyak menghabiskan waktu di kantor pusat untuk memulihkan kekacauan finansial dan operasional yang ditinggalkan oleh Sean.

​Hari ini, mansion tampak sangat sepi. Jam baru menunjukkan pukul empat sore ketika Rafael tiba-tiba melangkah masuk ke paviliun Freya. Jasnya sudah ditanggalkan, menyisakan kemeja abu-abu yang lengannya tergulung rapi.

​Freya sedang duduk di kursi roda elektriknya dekat jendela besar, menatap kosong ke arah taman belakang yang diguyur hujan deras.

​"Kau belum makan buahmu," suara bariton Rafael memecah keheningan. Ia melangkah mendekati meja kecil, melihat piring buah yang sama sekali belum disentuh.

​Freya tidak menoleh. "Aku tidak selera."

​Rafael tidak mendengus atau marah. Ia mengambil pisau kecil dan sebuah apel merah, lalu duduk di kursi kayu di samping Freya. Dengan tenang dan cekatan, jemari kokohnya mengupas kulit apel itu tanpa terputus.

​"Dokter Diana bilang hari ini kau bisa menggerakkan ibu jarimu," ucap Rafael, memecah kesunyian di antara deru suara hujan. "Itu kemajuan yang bagus."

​"Bukan urusanmu," sahut Freya dingin.

​"Tentu itu urusanku. Aku yang membayar seluruh fasilitas kesembuhanmu di sini." Rafael memotong apel itu menjadi bagian kecil, lalu menyodorkannya ke hadapan Freya. "Makan. Jangan membuat usahamu dan Dokter Diana sia-sia."

​Freya menatap potongan apel itu, lalu beralih menatap wajah matang Rafael. "Kenapa kau lakukan semua ini, Rafael? Kau menghancurkanku, tapi kau juga yang mengurusku. Apa ini semacam penebusan dosa agar kau merasa menjadi orang baik?"

​Rafael meletakkan kembali pisau ke meja. Sepasang mata elangnya menatap Freya dengan kedalaman yang pekat. "Aku tidak pernah mengklaim diriku sebagai orang baik, Freya. Aku melakukan apa yang ingin kulakukan. Dan saat ini, yang kuinginkan adalah melihatmu berjalan lagi."

​"Lalu setelah aku berjalan, kau akan menodai dan mengurungku lagi?" cecar Freya, suaranya bergetar oleh trauma yang mendadak bangkit.

​"Aku sudah berjanji tidak akan menyentuhmu sampai kau sendiri yang memohon," jawab Rafael tenang, tanpa keraguan. "Pegang kataku."

​Freya mendengus sinis, memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela. Namun, petir tiba-tiba menggelegar dengan sangat keras bersamaan dengan kilatan cahaya yang menyambar pohon di taman.

​BLAAAR!

​Lampu di dalam kamar seketika padam. Paviliun itu mendadak gelap gulita.

​"Ah!" Freya terpekik. Suara hantaman keras dan kegelapan instan itu memicu memori malam penyiksaan oleh Sean. Tubuhnya bergetar hebat. Ia reflek menarik badannya ke belakang, namun kursi rodanya justru bergeser tak terkendali di lantai yang licin.

​Sebelum kursi roda itu membentur lemari, dua lengan kokoh menahan punggung dan rodanya. Rafael dengan sigap menangkap tubuh Freya, lalu mengangkatnya ke dalam dekapan dadanya yang hangat dan bidang.

​"Lepas! Jangan sentuh aku!" teriak Freya panik, kedua tangannya memukul dada Rafael di tengah kegelapan.

​"Diam, Freya! Ini hanya pemadaman listrik," bentak Rafael rendah, namun pelukannya justru semakin erat, mengunci tubuh ringkih Freya agar tidak meronta dan membahayakan tulang belakangnya yang belum pulih total. "Tenanglah. Aku di sini."

​Aroma parfum maskulin bercampur aroma maskulin tubuh Rafael menyeruak masuk ke indra penciuman Freya. Di dalam dekapan pria itu, anehnya Freya merasakan debaran jantung Rafael yang beritme cepat, seolah-olah pria itu juga mencemaskannya dengan tulus. Kehangatan tubuh Rafael perlahan meredam getaran ketakutan di tubuh Freya.

​Selama beberapa menit dalam kegelapan, Freya akhirnya berhenti meronta. Ia menyandarkan kepalanya yang lemas di bahu Rafael, membiarkan dirinya ditopang oleh pria yang paling ia benci.

​Klik.

​Lampu koridor dan kamar kembali menyala karena generator mansion otomatis aktif. Paviliun kembali terang benderang.

​Freya tersentak sadar, segera mendorong dada Rafael dengan sisa tenaganya. "Turunkan aku!"

​Rafael menatap wajah Freya yang memerah dengan napas memburu dari jarak yang sangat dekat. Tanpa sepatah kata, ia merebahkan tubuh Freya kembali ke atas ranjang dengan sangat hati-hati, lalu menarik selimut hingga sebatas dada wanita itu.

​Freya membuang muka, menyembunyikan rona merah di pipinya yang muncul entah karena marah atau gugup. "Keluar. Aku ingin tidur."

​Rafael berdiri tegak di sisi ranjang, menatap Freya yang kembali bersikap dingin setelah momen kebersamaan yang intens tadi.

​"Habiskan apelmu," ucap Rafael datar. Ia berbalik dan melangkah keluar kamar dengan langkah tegap, meninggalkan Freya yang kini menatap potongan apel di meja dengan perasaan yang kian berkecamuk. Di dalam dadanya, tembok kebencian itu masih berdiri kokoh, namun ada sesuatu yang mulai retak tanpa ia sadari..

*

Malam kian larut, namun Freya terus bergerak gelisah di atas ranjangnya. Jarum jam sudah melewati angka delapan malam. Tenggorokannya terasa sangat kering dan ia mendambakan segelas air dingin untuk menenangkan pikirannya yang kalut.

​Di samping ranjang, terdapat interkom mewah yang terhubung langsung ke kamar Bi Sofi dan Bi Tina. Rafael sengaja memasangnya agar Freya bisa memanggil bantuan kapan saja. Namun, Freya mengurungkan niat untuk memencet tombol itu.

​Mereka pasti sudah sangat lelah setelah mengurusku seharian. Aku tidak mau menyusahkan, batin Freya.

​Dengan penuh kehati-hatian, Freya menggeser tubuhnya ke tepi ranjang, lalu bersusah payah memindahkan dirinya ke atas kursi roda elektrik. Setelah memastikan selimut menutupi kakinya yang lunglai, ia mengemudikan kursi roda itu keluar kamar. Suasana koridor lantai dasar sangat sunyi, hanya diterangi lampu dinding yang temaram.

​Sesampainya di dapur, Freya menemui sedikit kesulitan karena posisi dispenser dan lemari atas yang terlalu tinggi. Beruntung, kulkas besar di sudut dapur memiliki desain pintu yang cukup rendah. Ia memajukan kursi rodanya, membuka pintu kulkas, dan mengambil sebotol air dingin.

​Setelah meneguk air itu hingga tandas dan meletakkan kembali botolnya, Freya memutar kursi rodanya untuk kembali ke kamar. Namun, gerakannya seketika terhenti. Tubuhnya membeku di tempat.

​Rafael berdiri tepat di ambang pintu dapur. Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek olahraga hitam. Kulit matangnya tampak basah oleh bulir-bulir keringat yang mengalir seksi melewati dada bidang dan perutnya yang berotot kekar. Napasnya masih sedikit memburu, menandakan ia baru saja menyelesaikan sesi latihan fisik yang berat.

​Freya melirik jam dinding di dapur. Hampir pukul sembilan malam, dan dia baru selesai olahraga? Gila.

​Dalam keterpakuannya, Freya tidak bisa membohongi matanya sendiri. Rafael memang sangat tampan. Struktur wajahnya tegas, rahangnya kokoh, dan pembawaannya luar biasa berwibawa. Jika disandingkan, Rafael dan Sean sama sekali tidak terlihat seperti ayah dan anak—mereka lebih mirip paman dan keponakan. Sean bahkan tidak mewarisi seperempat ketampanan dan karisma mutlak yang dimiliki pria paruh baya di depannya ini.

​Ehem.

​Rafael berdehem rendah, memecah keheningan dapur yang mencekam. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis saat menyadari sepasang mata Freya sejak tadi intens memperhatikan lekuk tubuhnya.

​"Pemandangannya bagus, bukan?" goda Rafael, suaranya terdengar serak dan dalam.

​Kesadaran Freya tersentak kembali. Wajahnya seketika memerah padam karena tertangkap basah. Ia langsung memalingkan muka dengan gugup, meremas pegangan kursi rodanya erat-erat.

​"Si-siapa yang melihatmu! Percaya diri sekali," sahut Freya terbata-bata, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya yang kentara. "Kenapa kau berdiri di sana seperti hantu? Menakut-nakuti saja."

​Rafael melangkah mendekat. Langkah kakinya yang telanjang tidak menimbulkan suara di atas lantai marmer. Kehadirannya yang tiba-tiba mendekat membuat Freya semakin salah tingkah. Wanita itu memundurkan kursi rodanya hingga membentur meja konter dapur.

​"Kenapa tidak menggunakan interkom?" tanya Rafael, kini jarak mereka hanya tersisa dua langkah. Ia membungkuk sedikit, menumpukan kedua tangannya di pegangan kursi roda Freya, mengunci pergerakan wanita itu. "Kau bisa jatuh kalau memaksakan diri sendirian, Freya."

​Aroma keringat jantan bercampur parfum maskulin yang menguar dari tubuh Rafael membuat jantung Freya berdegup tidak beraturan. Jarak yang terlalu dekat ini membuatnya bisa melihat dengan jelas bulir keringat yang jatuh dari rahang tegas Rafael.

​"Aku... aku hanya ingin minum. Aku tidak mau membangunkan Bi Sofi," jawab Freya, suaranya mencicit pelan. Ia tidak berani menatap mata elang Rafael dan memilih menunduk melihat lantai. "Mundur, Rafael. Kau... kau bau keringat."

​Mendengar gerutuan itu, Rafael justru terpaku. Ia menatap puncak kepala Freya, lalu beralih ke pipi wanita itu yang merona merah muda. Ada perasaan aneh yang mendadak menggelitik dada Rafael—sebuah perasaan canggung yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya selama puluhan tahun menjadi penguasa bisnis. Ia sadar, penampilannya saat ini mungkin terlalu intim untuk situasi mereka.

​Rafael berdehem lagi, kali ini dengan rona canggung yang samar di tengkuknya. Ia menegakkan tubuhnya kembali dan mundur dua langkah, memberi Freya ruang untuk bernapas.

​"Lain kali, panggil saja aku jika kau tidak mau mengganggu pelayan," ucap Rafael, nadanya terdengar sedikit salah tingkah, kontras dengan ketegasannya yang biasa.

​"Memangnya kau mau mengambilkan air untukku?" cibir Freya, masih mencoba mengalihkan rasa gugupnya sendiri.

​"Apapun untukmu, Freya," balas Rafael, matanya kembali menatap Freya dengan kedalaman pekat yang penuh arti. "Sekarang, biar kuantar kau kembali ke kamar."

*

*

*

1
Mita Paramita
lanjut Freya 💪💪💪
Reni Anjarwani
makin seru up doubel trs thor😍😍
MissSHalalalal: lanjut besok ya 🙏
total 1 replies
Reni Anjarwani
makin seru up doubel trs thor
Mita Paramita
lanjut Thor bikin Freya naksir berat sama Rafael atau cemburu 🤣🤣🤣
+62
lanjutkan papa.. harus jual mahal donk 🌚
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up trs
Kasmawati Ambosakka
lanjut
MissSHalalalal: update besok ya kak🙏
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
MissSHalalalal: update besok ya kak
total 1 replies
Mita Paramita
kumpul keluarga klan Ravindra mungkin mau ngelamar Freya 😍😍😍
MissSHalalalal: maunya gitu sih. tapi Freya mau GK nih
total 1 replies
Mita Paramita
kumpul keluarga klan Ravindra mungkin mau ngelamar Freya 😍
Sh
Met holiday, biar pulang bawa ide segudang, fresh menghadapi dunia persilatan 🤣
MissSHalalalal: yg ada pulang-pulang cape kak. 🤭😄
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
+62
plok2 lagi sama papa🥺
Sh
suka tapi tokoh wanita selalu sengsara,kapan bahagia nya
Kamsia
y ktnya bawa appun gak bisa ini ad penjaga bnyak lepas sudah freya di bawa.
+62
ah papa🌚
Reni Anjarwani
lanjut thor makin seru bgt thor
Mita Paramita
Rafael tanggung jawab banget jagain Freya 💪 kasian tuh masa gak dikasih kesempatan kedua🤣🤣🤣
MissSHalalalal: kesempatan dalam kesempitan nih😄
total 1 replies
+62
🌚
Piyah
langsung nikah aja freya
Sh: belum boleh, baru aja diwawancara ga ada hubungan asmara,koq tiba tiba nikah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!