NovelToon NovelToon
Apocalyps Girl

Apocalyps Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Zombie / Ruang Ajaib
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arju na

Sinopsis

Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.

Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.

Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.

Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 8 – KRISTAL ZOMBIE LEVEL 0

Saat ini Lily hampir sampai di pusat kota.

Setelah mendapatkan izin dari Mommy Grace, ia langsung berangkat untuk menjemput Paman Damar dan keluarganya.

Sepanjang perjalanan, Lily telah membunuh cukup banyak zombie yang berkeliaran di jalanan. Namun, tidak satu pun dari zombie-zombie itu memiliki kristal zombie di dalam kepalanya.

"Ternyata masih sangat langka."

Lily menghela napas pelan.

Ia memang sudah memperkirakannya sejak awal. Bagaimanapun, kiamat baru saja dimulai.

Tak lama kemudian, Lily akhirnya tiba di pusat kota.

Begitu melihat keadaan di sana, ia hanya bisa menghela napas panjang.

Kota yang dulu ramai dan dipenuhi kendaraan kini berubah menjadi lautan kekacauan.

Potongan tubuh manusia berserakan di mana-mana.

Darah menggenang di jalanan.

Organ tubuh berceceran tanpa ada yang mengurusnya.

Bau darah memenuhi udara.

Jika orang biasa melihat pemandangan seperti ini, mungkin mereka akan muntah atau bahkan pingsan karena ketakutan.

Namun Lily tidak.

Bagaimanapun juga, ia pernah hidup selama bertahun-tahun di dunia pasca-apokaliptik.

Pemandangan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa baginya.

Tanpa membuang waktu, Lily mulai mencari mobil milik pamannya.

Ia memeriksa satu mobil ke mobil lainnya.

Namun hasilnya nihil.

Di tengah ribuan kendaraan yang berhenti sembarangan, mobil milik Paman Damar tidak terlihat sama sekali.

Lily tidak menyerah.

Ia terus mencari dengan sabar.

Hingga akhirnya—

"Itu dia!"

Matanya langsung berbinar.

Di kejauhan, sebuah mobil yang sangat dikenalnya sedang dikerumuni oleh belasan zombie.

Tanpa berpikir panjang, Lily langsung berlari ke arah mereka.

SRET!

Katana panjang di tangannya menebas leher zombie pertama.

Satu demi satu zombie tumbang tanpa mampu memberikan perlawanan berarti.

Beberapa menit kemudian, seluruh zombie yang mengerumuni mobil itu telah menjadi mayat.

Lily segera mengetuk kaca mobil.

TOK!

TOK!

"Paman! Buka! Ini Lily!"

Damar yang mendengar suara keponakannya langsung menoleh.

Begitu mengenali wajah Lily, ia buru-buru membuka pintu mobil.

"Astaga, Lily!"

Bibi Mauren langsung terkejut.

"Kenapa kamu datang ke sini? Bagaimana kalau kamu digigit zombie-zombie itu?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan sekarang."

Lily menatap mereka dengan serius.

"Lebih baik kita keluar dari mobil dan lanjut berjalan kaki."

Ia menunjuk jalanan yang dipenuhi kendaraan.

"Mobil sudah tidak bisa digunakan. Semua jalan macet total."

Paman Damar dan Bibi Mauren saling berpandangan.

"Tapi bagaimana kalau kita dikejar zombie?" tanya Athar dengan wajah pucat.

"Kita lawan bersama-sama."

Jawaban singkat Lily membuat mereka terdiam.

Pada akhirnya mereka hanya bisa mengangguk.

Bagaimanapun juga, bertahan di dalam mobil bukanlah pilihan yang baik.

Jika terus bersembunyi, mereka hanya menunggu waktu sampai zombie berhasil masuk.

Mereka pun mulai berjalan meninggalkan pusat kota.

Langkah mereka sengaja diperlambat agar tidak menarik perhatian zombie.

Sebenarnya Lily tidak terlalu khawatir jika zombie melihat mereka.

Ia bisa menghabisi puluhan zombie sekaligus tanpa kesulitan.

Namun ia tetap memilih menghindari pertempuran yang tidak perlu.

Zombie-zombie saat ini masih terlalu lemah.

Kebanyakan bahkan belum memiliki inti kristal.

Tentu saja ada beberapa yang memilikinya, tetapi jumlahnya masih sangat sedikit.

Mereka terus berjalan hingga cukup jauh dari pusat kota.

Namun saat suasana mulai terasa tenang—

GROOOAAARRR!

Geraman buas terdengar dari belakang.

Lily langsung menoleh.

Matanya membelalak.

Tiga zombie sedang berlari ke arah Athar.

Jarak mereka hanya beberapa meter.

Jika terlambat sedikit saja, leher Athar bisa langsung diterkam.

"ATHAR! AWAS DI BELAKANGMU!"

Teriakan Lily membuat Athar refleks menjatuhkan tubuhnya ke depan.

BRUK!

Nyaris saja.

Cakar zombie hanya menyentuh udara kosong.

Lily langsung bergerak.

Tubuhnya melesat seperti anak panah.

Dalam sekejap ia sudah berdiri di depan Athar sambil menghunuskan katana.

"Kalian bertiga lari!"

Lily tidak mengalihkan pandangannya dari para zombie.

"Lari sejauh mungkin! Jangan sampai tergigit ataupun terkena cakar mereka!"

"Tapi bagaimana denganmu?" tanya Paman Damar cemas.

"Jangan khawatirkan aku."

Lily menggenggam erat katananya.

"Kalau kalian bertemu zombie, incar kepalanya. Itu titik lemah mereka."

Meski enggan, Paman Damar akhirnya menarik Mauren dan Athar untuk menjauh.

Mereka tahu keberadaan mereka hanya akan mengganggu Lily.

Begitu ketiganya menjauh, Lily langsung menyerang.

SRET!

Kepala zombie pertama terbang.

SRET!

Zombie kedua menyusul.

Sedangkan zombie ketiga berhasil ditebas tepat di bagian pelipis.

Namun suara teriakan tadi telah menarik perhatian zombie lain.

Puluhan zombie mulai berdatangan dari berbagai arah.

Melihat itu, Lily hanya tersenyum tipis.

"Datanglah."

Baginya, zombie-zombie awal kiamat ini sama sekali tidak berbahaya.

Beberapa menit kemudian, puluhan mayat zombie telah berserakan di jalan.

Tubuh Lily bahkan tidak memiliki satu luka pun.

Setelah memastikan area aman, Lily berbicara kepada sistem.

"Sistem, apakah ada kristal zombie di antara mayat-mayat ini?"

(DING!!!!!)

(Beberapa zombie memiliki kristal zombie. Berdasarkan perhitungan sistem, terdapat empat kristal zombie dari total tiga puluh enam mayat zombie.)

Lily mendecakkan lidah.

"Cih."

"Dari sebanyak ini cuma dapat empat."

Meski sedikit kecewa, ia tetap mengambil seluruh kristal tersebut.

Bagaimanapun juga, ini masih awal kiamat.

Kristal zombie masih sangat langka.

Keberuntungan mendapatkan empat kristal sekaligus sebenarnya sudah cukup bagus.

Setelah menyimpan kristal itu, Lily kembali mencari keluarga pamannya.

Tak lama kemudian, ia menemukan mereka sedang beristirahat di bawah sebuah pohon besar.

Area itu cukup sepi dan hampir tidak ada zombie yang berkeliaran.

Mungkin dulunya kawasan perkebunan milik seseorang.

"Lily!"

Bibi Mauren langsung berdiri.

"Kamu tidak apa-apa, Sayang?"

"Aku baik-baik saja, Bik."

Lily tersenyum menenangkan.

"Ayo lanjut jalan. Rumah sudah tidak terlalu jauh."

Sebenarnya ada alasan lain mengapa Lily ingin segera pulang.

Ia tahu malam hari jauh lebih berbahaya.

Saat malam tiba, zombie akan menjadi lebih aktif dan agresif.

Mereka harus sampai sebelum matahari terbenam.

Menjelang waktu magrib, mereka akhirnya tiba di kawasan perumahan Lily.

Sepanjang perjalanan pulang, mereka masih bertemu beberapa zombie.

Namun semuanya berhasil diatasi oleh Lily tanpa kesulitan berarti.

Sesampainya di depan rumah, Lily mengetuk pintu menggunakan sandi khusus yang telah disepakati keluarganya.

TOK!

TOK!

TEK!

TEK!

TOK!

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Yang muncul adalah Mang Ujang.

"Alhamdulillah, Non Lily akhirnya pulang juga."

Wajah Mang Ujang terlihat lega.

"Dari tadi Nyonya Grace nangis terus. Takut Non Lily kenapa-kenapa."

"Oh ya?"

Lily menggaruk pipinya merasa bersalah.

"Mommy sekarang di mana, Mang?"

"Nyonya sama Tuan dari tadi di ruang tamu, Non."

Mang Ujang terdiam sesaat sebelum melanjutkan

"Cuma Non Azalea yang keluar buat kasih tahu saya supaya jangan buka gerbang untuk sembarang orang."

"Baiklah, Mang. Terima kasih."

Lily lalu mengajak Paman Damar, Bibi Mauren, dan Athar masuk ke dalam rumah.

Begitu memasuki ruang tamu, mereka langsung melihat seluruh anggota keluarga sedang berkumpul.

Wajah mereka tampak penuh kekhawatiran.

Terutama Mommy Grace.

Matanya sudah merah karena terlalu banyak menangis.

Saat melihat Lily masuk, Mommy Grace langsung berdiri lalu memeluk putrinya erat-erat.

"Hiks..."

Air mata kembali mengalir.

"Mommy kira kamu kenapa-kenapa."

"Sudah mau malam, tapi kamu belum pulang juga."

Lily tersenyum canggung.

"Hehehe."

"Lily kuat kok, Mom."

"Zombie-zombie itu bukan lawan Lily."

Ia mencoba bercanda agar suasana tidak terlalu tegang.

Namun pelukan sang ibu justru semakin erat.

Beberapa saat kemudian, Mommy Grace melihat sosok di belakang Lily.

Matanya langsung membelalak.

"Damar!"

Ia segera melepaskan pelukannya dan berlari ke arah adiknya.

"Hiks... kamu tidak apa-apa kan?"

Mommy Grace memeriksa tubuh Damar dari atas sampai bawah.

"Tidak ada yang terluka, kan?"

Damar tersenyum dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Aku baik-baik saja, Kak."

"Cuma sedikit lelah."

Mommy Grace lalu menoleh kepada Mauren.

"Kamu juga bagaimana?"

"Aku juga baik-baik saja, Kak."

Mauren tersenyum lemah.

"Hanya capek karena perjalanan."

Syukurlah.

Mendengar itu, Daddy Mike akhirnya menghela napas lega.

"Kalau begitu, ayo duduk dulu."

"Kalian pasti kelelahan."

Semua orang pun duduk bersama di ruang tamu.

Mereka mulai berbagi cerita mengenai apa yang terjadi selama beberapa hari terakhir.

Sesekali terdengar tawa kecil.

Sesekali terdengar candaan.

Masing-masing berusaha menyembunyikan ketakutan yang mereka rasakan terhadap dunia yang telah berubah menjadi neraka.

Di sudut ruangan, Lily memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis.

'Tersenyumlah selagi masih bisa...'

Tatapannya perlahan mengarah ke luar jendela yang mulai gelap.

'Karena ini baru permulaan.'

'Kiamat yang sesungguhnya bahkan belum dimulai.'

Aku update segini dulu soalnya ibuk aku masuk rumah sakit doain ya semoga cepet sembuh

See you guys☺️☺️

1
Eva Akmal
smg sehat slalu n semangat
Cristina Billi
lanjut thor /Determined//Determined//Determined//Determined/
Eva Akmal
smg ibunya lekas sembuh n kita semua sehat aamiin..🤲🏻
Eva Akmal
seru
Cristina Billi
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Anonim
selalu ditunggu up nya.... semangat/Determined/
Wapik
baca dulu ya🤭
bulan sabit: semoga suka ya maaf jelek masih pemula soalnya maklum masih anak kelas 1 SMA
total 1 replies
Cristina Billi
semangat thor/Angry//Angry//Determined//Determined//Determined/
Dania
semangat tor'di tunggu up nya
Dania
I hope your mother gets well soon
Etty Rohaeti
lekas pulih kembali untuk ibu nya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak
bulan sabit: besok atau gak Jum'at ya kak soalnya aku lagi ujian maklum masih sekolah 🤭🤣
total 1 replies
Arju Na
😄😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!