NovelToon NovelToon
Warisan Kitab Inti Jagat

Warisan Kitab Inti Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Aturan Main Alena

Suasana di dalam lobi utama lantai satu Graha Subroto menjelang siang itu tampak cukup ramai oleh hiruk-pikuk aktivitas karyawan dan tamu korporat. Namun, begitu Alena melangkah keluar dari lift eksekutif, perhatian beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Bukan hanya karena pesona kecantikannya yang mencolok dengan setelan pakaian hasil desainer terkenal, melainkan karena sosok pria tegap yang berjalan konstan dua langkah di belakangnya.

Mahesa melangkah dengan ritme yang teratur, menjaga postur tubuhnya tetap tegap di balik setelan jas hitam premium yang membungkus rapi fisiknya. Sepasang mata elangnya bergerak dinamis, memindai setiap sudut lobi secara profesional untuk memastikan tidak ada ancaman berdarah yang mengintai, seperti instruksi langsung dari Pak Subroto.

Tepat di depan meja resepsionis yang luas, Alena mendadak menghentikan langkah kakinya dengan sentakan tumit sepatu hak tingginya yang berbunyi nyaring. Klak! Ia membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba, membuat rambut panjangnya yang berkilau sedikit mengibas udara.

"Heh, OB! Berhenti di situ!" panggil Alena dengan nada suara yang sengaja dikerasakan dan sangat manja, memancing perhatian beberapa resepsionis dan staf pemasaran yang sedang melintas di dekat mereka.

Mahesa langsung menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Alena, membungkukkan kepalanya sedikit dengan sikap hormat yang sangat tenang. "Ada yang bisa saya bantu, Nona Alena?" tanya Mahesa dengan nada suara berat yang terdengar sangat berwibawa dan berkelas.

Alena mendengus kencang, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap Mahesa dengan pandangan yang penuh penghinaan dan keangkuhan yang nyata. "Lu nggak usah sok keren panggil gua pakai nada suara yang digede-gedein begitu ya! Inget, status lu di sini cuma bodyguard paksaan Papa. Dan karena gua terpaksa bawa lu hari ini, gua punya aturan main tersendiri buat lu!" cetus Alena dengan sikap ketus, memastikan suaranya terdengar jelas oleh karyawan di sekitar lobi.

Beberapa staf wanita di meja resepsionis mulai berbisik-bisik, mengenali wajah Mahesa yang biasanya memegang kain pel kini mendadak mengenakan jas mewah di belakang sang putri mahkota. Alena menyadari bisikan itu dan senyuman sinis penuh kemenangan langsung tersungging di bibir tipisnya yang dilapisi lipstik merah cerah. Ini adalah bagian dari rencananya untuk membuat mental Mahesa jatuh sehingga pria itu tidak tahan dan mengundurkan diri secara sukarela hari ini juga.

"Baik, Nona. Silakan sampaikan aturan main yang Nona maksud. Saya akan mencatat dan mematuhinya secara profesional," jawab Mahesa dengan raut wajah yang tetap sedingin es. Aliran hawa murni Kitab Inti Jagat di dalam dadanya membuat emosi batinnya sama sekali tidak terusik oleh upaya perundungan mental tingkat rendah ini.

Alena membuka tas tangan hermes-nya, mengeluarkan selembar kertas putih yang sudah ia tulis dengan tulisan tangan rapi yang beraroma parfum mahal. Ia melemparkan kertas itu begitu saja ke arah dada Mahesa. dengan cekatan, Mahesa menangkapnya menggunakan dua jari tangan kanannya dengan gerakan yang sangat halus namun presisi, tanpa membuat kertas itu lecek sedikit pun.

"Aturan pertama!" seru Alena, mengangkat satu jari telunjuknya yang lentik dengan kuku yang diwarnai cantik. "Lu dilarang keras jalan sejajar atau bahkan cuma dua langkah di belakang gua kalau kita lagi di tempat umum atau mall mewah nanti! Jarak lu harus minimal sepuluh meter di belakang gua! Gua nggak mau temen-temen kelas atas gua ngira gua lagi jalan bareng cowok udik kayak lu!"

Mahesa melirik isi kertas tersebut sekilas, lalu kembali menatap Alena. "Secara formasi pengamanan taktis, jarak sepuluh meter terlalu longgar jika ada serangan mendadak seperti kemarin sore di basement, Nona. Jarak ideal untuk perlindungan prima adalah maksimal tiga meter," jelas Mahesa memberikan analisis profesionalnya dengan tenang.

"Gua nggak peduli sama teori pengawalan lu ya!" potong Alena sengit, wajah cantiknya merona merah karena manjanya yang tak mau dibantah. "Kalau ada penjahat, itu tugas lu buat lari secepat setan kayak di video CCTV kemarin! Pokoknya jaraknya harus sepuluh meter! Kalau lu deket-deket, gua bakal teriak kalau lu udah berbuat kurang ajar sama gua!"

Mahesa mengembuskan napas pendek melalui hidung, menundukkan kepalanya sedikit. "Baik, Nona Alena. Jarak sepuluh meter disetujui. Aturan berikutnya?" tanya Mahesa, tetap menjaga ketenangan jiwanya laksana batu karang di tengah lautan.

Alena tersenyum puas, merasa berada di atas angin. "Aturan kedua, yang paling penting! Selama lu mengawal gua hari ini, lu dilarang bawa dompet, dilarang pegang ponsel pribadi, dan lu yang harus bawain semua tas belanjaan gua seberapa banyak pun itu! Dan satu lagi... kalau gua laper dan makan di restoran bintang lima nanti, lu dilarang duduk di meja yang sama! Lu harus berdiri di luar restoran atau nunggu di sudut ruangan dekat tempat sampah sampai gua selesai makan!" papar Alena dengan rincian aturan yang sengaja dibuat sangat tidak manusiawi demi mempermalukan martabat Mahesa di depan publik.

Mendengar aturan kedua yang sangat keterlaluan itu, beberapa resepsionis di belakang meja tampak menutup mulut mereka dengan telapak tangan, merasa iba dengan nasib mantan OB yang kini dijadikan bulan-bulanan kemanjaan sang nona besar. Namun, bagi Mahesa, semua aturan diskriminatif itu sama sekali tidak menyentuh harga dirinya. Jiwa mengalahnya sebagi orang miskin di dalam tubuhnya, sudah terlatih untuk melihat melampaui ego keduniawian. Baginya, keselamatan wanita sombong ini adalah prioritas yang sudah ia janjikan kepada Pak Subroto sebagai bos besarnya.

"Semua poin di aturan kedua ini tertulis dengan jelas di sini, Nona. Saya tidak keberatan untuk berdiri di luar restoran atau membawa semua barang bawaan Nona," sahut Mahesa dengan intonasi suara yang mantap, tanpa ada sedikit pun nada dendam atau sakit hati yang tersirat di dalamnya.

Alena mendadak tertegun, matanya berkedip beberapa kali melihat reaksi Mahesa yang di luar ekspektasinya. Ia mengira pemuda di depannya ini akan marah, tersinggung, atau setidaknya memohon agar aturan itu diperlonggar. Namun, ketenangan mutlak yang ditunjukkan Mahesa justru membuat Alena merasa aneh dan sedikit kesal karena rencana mempermalukannya seolah mental begitu saja.

"Lu... lu beneran nggak keberatan?! Jangan sok tegar ya lu, OB!" tuding Alena dengan suara yang agak gugup namun kembali ditekan oleh watak keras kepalanya. "Ada aturan ketiga di balik kertas itu! Baca!"

Mahesa membalikkan kertas putih itu dengan santai. Di balik halaman, tertulis aturan tambahan yang tak kalah ketat, 'Dilarang berbicara dengan siapa pun saat mengawal, dilarang melepas jas meski cuaca panas, dan harus selalu membungkuk setiap kali Alena memanggil dengan sebutan OB.'

"Saya sudah membaca seluruh aturan main yang Nona Alena buat. Mulai detik ini, saya akan melaksanakan tugas saya sesuai dengan koridor hukum yang Nona tetapkan di lembaran ini," ucap Mahesa sembari melipat kertas itu dengan rapi dan menyimpannya di dalam saku dalam jas hitamnya yang mahal. Ia kemudian mengambil posisi mundur sejauh sepuluh meter ke belakang, lalu membungkukkan tubuh tegapnya secara anggun ke arah Alena. "Silakan berjalan duluan, Nona Alena. Bayangan Anda sudah siap bertugas."

Alena menggigit bibir bawahnya dengan emosi yang campur aduk. Di satu sisi, ia merasa menang karena berhasil mendikte pengawal pribadinya dengan aturan yang sangat merendahkan. Namun di sisi lain, melihat bagaimana postur tubuh Mahesa yang begitu tenang, berwibawa, dan sama sekali tidak terlihat terhina saat berdiri di kejauhan sepuluh meter, membuat Alena merasakan sepercik kekalahan batin yang aneh.

"Awas aja lu ya... gua bakal bikin lu nangis-nangis minta ampun dan minta resign sebelum matahari terbenam sore ini!" bisik Alena pada dirinya sendiri dengan penuh dendam kemanjaan yang membara.

Ia segera membalikkan tubuhnya dengan kasar dan melangkah lebar menuju pintu kaca lobi utama yang otomatis terbuka. Mahesa bergerak secara profesional, melangkah konstan menjaga jarak sepuluh meter di belakang sang nona besar, dengan pandangan mata elangnya yang terus mengawasi sekeliling dengan tingkat kewaspadaan tertinggi. Permainan ego dan penolakan sang nona telah resmi dimulai, mengawali perjalanan pengawalan yang penuh dengan tekanan mental keduniawian di bawah terik matahari Jakarta hari ini.

1
anggita
ikut dukung like👍aja.
Dewa Naga 🐲🐉
pandai Mahesa bermain kata..kata...👍
Dewa Naga 🐲🐉
mantap..seru...👍👍👍
Dewa Naga 🐲🐉
seru...
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp....👍
Agus Susilo
💪💪💪💪
Agus Susilo
makin terkenal musuh makin banyak dan kuat Thor MC nya harusnya dibekali ilmu beladiri serta kekuatan magis untuk pengobatan kronis dan jaga diri dari musuh yg mengancam
Gege
kaaan...kaaan... ketebak Thor jalan ceritamu..🤣🤭..ulur teroos sampai ratusan episode Thor..💪
Gege
ceritanya menghibur mirip sinetron ikan terbang
Gege
aku ga kepancing Thor sama narasimu.. paling juga Alena mabok di club trus terjadilah adegan dewasa tanpa disengaja.. trus ada plot wanita lain menyukai Mahesa dan Alena cemburu.. tarik teruus sampe episode berjilid Thor..🤣🤣🤭
Gege
yaah gaji OB 4jt All in, dikalikan 20 baru 80jt Thor.. pikir ditawari gaji 200jt gitu si Sasa Mahesa...🤭🤣
Paksu82: sisanya buat author boskyu... 🤭🤭🙏
total 1 replies
Gege
apakah MC bakalan dapat gaji ratusan juta? yoooklah gass updatenya 10k kata thor
Paksu82: di bayar pakai cinta boskyu...🤭🙏
total 1 replies
Gege
pikir Mahesa mau jadi tukang pijet dengan keahlian kita warisan kuno, eeeh malah mau jadi tukang kawal a.k.a bodyguard...🤭🤣
Paksu82: 🤭 idenya tadinya dari film jetli boskyu, kemren lihat filemnya jadi aja keluar ide ini, semoga suka boskyu...
total 1 replies
Gege
bahas padi ada pepatah Thor dijaman sekarang. ilmunya seperti padi tapi berasnya import...🤣
Paksu82: beras lokal mahal boskyu 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Hentri Gunawan
lanjut kn thor
Gege
Yoo gass lagi Thor..ide ceritanya keren ini... bikin enteng saja, yang penting ngalir Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!