Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Sketsa Masa Lalu
Dokter Arnold masih terdiam. Tatapan matanya mulai tajam menelisik setiap jengkal wajah Aira, mulai dari bentuk mata bulatnya, hidung kecilnya, hingga garis rahangnya. Suasana terasa hening dalam kurung yang cukup lama bagi Aira yang sedikit merinding dilihat dengan sedetail itu.
Bagi Arnold, pertanyaan Aira ini terdengar sangat wajar meskipun ia anggap terlalu berani. Namun, sebagai seorang psikiater, ia bisa menangkap jelas riak emosi yang tersirat di mata seorang mahasiswi ini. Ada rasa terluka, kebingungan, dan putus asa yang mendalam di sana.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal seperti itu, Aira?" tanya Dokter Arnold, suaranya mulai sedikit menurun.
Aira menggigit bibir bawahnya, menahan bendungan air mata yang hampir saja lolos kembali. "Tolong bantu jawab dengan jujur, Dok. Apa aku ... beneran mirip sama Bu Lova?"
Arnold mengalihkan pandangannya sekilas ke arah belakang, tempat istrinya sedang duduk, dan tatapan mereka saling terkunci sembari mengelus perut buncitnya yang mengandung buah hati mereka. Lova melambaikan tangannya dengan wajah berseri, dibalas dengan kedipan mata Arnold
Senyum tipis kembali terukir di bibir sang dokter saat menatap istrinya, sebelum akhirnya ia kembali menatap Aira.
"Sepertinya saya mengerti arah pertanyaanmu. Ini semua karena pembimbing dadakanmu kemarin, kan?"
Aira sedikit tersentak dan menggigit bibirnya. "Hmmm ...." Lalu menundukkan wajahnya sedikit malu karena ketahuan alasan yang sebenarnya oleh pria ini tanpa ia cerita.
"Secara fisik, jika dilihat sekilas ... struktur wajahmu memang ada sedikit kemiripan dengan istri saya saat dia masih muda dulu," jawab Dokter Arnold jujur, tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Terutama di bagian matamu. Mata bulat yang jernih. Jenis mata yang selalu terlihat tulus saat menatap orang lain."
Deg.
Jawaban itu bukan malah membuat Aira lega, tetapi bagai memberikan irisan secara perlahan di hati Aira. Ternyata dugaannya benar. Kenyataan itu terucap langsung dari mulut pria yang paling mengenal seseorang yang ia panggil Bu Lova.
"Tapi ..." Dokter Arnold menjeda kalimatnya, ia menyilangkan kedua tangan di dada.
"Karakter kalian berbeda seratus delapan puluh derajat. Istri saya itu tumbuh bukan dengan cara normal seperti kamu. Jadi, dia cenderung tertutup sejak masih belia. Sedangkan kamu?" Arnold menaikkan satu alisnya, kembali ke mode penguji yang menyebalkan.
"Suaramu cempreng, ceroboh, banyak bicara, mudah terbuka dengan siapa saja, dan hampir saja tidak lulus praktik karena kecerobohanmu itu."
Aira refleks mendengus, separuh jiwanya ingin protes karena dihina, namun separuh jiwanya yang lain justru merasa semakin sesak.
"Sebenarnya, kemiripan fisik itu merupakan hal yang lumrah, Aira. Ada teori yang mengatakan setiap manusia memiliki beberapa kembaran di dunia," lanjut Arnold tenang.
"Tapi yang membuat saya penasaran ... Apa pria kemarin yang tiba-tiba menolongmu itu mengatakan demikian?" Arnold sedikit terkekeh dan menggelengkan kepala.
"Atau mungkin karena kamu sadar sesuatu yang mungkin membuatmu merasa tak ikhlas disama-samakan dengan orang lain?"
Derrr ...
Pertanyaan itu begitu tepat sasaran ditembak oleh pria yang memang terkenal sebagai seseorang yang sangat ulung dalam menilai kejiwaan seseorang.
Aira tertegun. Lidahnya mendadak kelu saat mengingat sebuah nama Teddy dan tanpa diucapkan, orang yang sudah ada di hadapannya ini sudah mengerti arah pertanyaannya.
Rasanya juga tak mungkin jika ia mengatakan orang yang menjalin aliansi gila dengannya itu, baru saja mematahkan hatinya karena ternyata masih menyukai wanita yang menjadi istrinya.
"Bukan begitu, Dok," kilah Aira cepat dengan cepat meski sedikit serak. Ia memeluk map dokumennya lebih erat lagi.
"A-aku cuma ... cuma asal tanya saja karena mungkin memang mirip."
Dokter Arnold tidak sebodoh itu untuk mempercayai alasan klise Aira. Sebagai pria yang pernah melewati badai besar demi mempertahankan Lova dari bayang-bayang masa lalunya, termasuk dari obsesi Teddy dulu, Arnold bisa merasakan ada benang merah yang sedang ditarik di sini. Namun, ia memilih untuk tidak lanjut lebih dalam demi menjaga ketenangan istrinya yang sedang hamil tua.
"Saran saya sebagai seorang psikiater ..." Arnold menegakkan tubuhnya, menepuk pundak Aira dengan tegas namun di sini ia bagai seorang ayah yang menasihati anaknya.
"Jangan biarkan diri kamu hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Kamu adalah Aira, bukan seseorang yang kamu panggil dengan Bu Lova. Siapa pun pria yang melihatmu sebagai orang lain, dia tidak layak mendapatkan ketulusan dari hatimu."
Kata-kata Dokter Arnold barusan melesat bak anak panah yang tepat sasaran, menembus langsung ke relung hati Aira yang paling dalam. Pria yang selama ini ia anggap kejam dan menyebalkan, justru memberikan tamparan realita yang paling ia butuhkan saat ini.
"Sekarang, cepat urus berkas penyelesaianmu di bagian administrasi. Sebelum saya berubah pikiran dan mengganti kelulusanmu menjadi pembatalan kelulusan praktik semester ini," ancam Dokter Arnold kembali menjadi ketus, sembari melangkah pergi meninggalkan Aira.
Aira terpaku, menatap punggung Dokter Arnold yang berjalan tegap kembali menghampiri Bu Lova di bangku taman. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh satu per satu membasahi plastik map di pelukannya.
"Benar ..." bisik Aira pada dirinya sendiri, suaranya bergetar hebat di tengah lorong rumah sakit yang sepi.
"Aku ini Aira. Aku bukan boneka pengganti untuk menjadi seseorang di masa lalu siapa pun."
Dengan tangan gemetar, Aira merogoh ponsel dari dalam tasnya. Ia membuka aplikasi WhatsApp, mencari nama kontak 'Om Teddy Tamvan', lalu tanpa ragu sedikit pun, jemarinya menekan tombol tombol merah: Blokir Kontak.
Detik itu juga, Aira bersumpah tidak akan pernah mau lagi mengemis bantuan atau terjebak dalam pusaran delusi pria bernama Teddy Brian.
"Persetan dengan aliansi bodong itu," gumamnya.
Tanpa ia sadari, orang yang baru saja ia blokir, sedang menunggunya di pelataran parkir RSJ.
* Bersambung *
Buat yang sedikit bingung siapa Arnold dan Lova, boleh baca kisah sebelum cerita ini ya.
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣