NovelToon NovelToon
Ayla, Anak Kandung Yang Tersisih

Ayla, Anak Kandung Yang Tersisih

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia

Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.

Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.

Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.

Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19# Kebohongan Alena

"Ada apa ini, Ma? Kenapa pagi-pagi sudah berteriak dan menangis?" tanya Bastian yang baru saja tiba di dekat ibunya.

"Iya, kau memang berisik sekali," sahut suaminya.

"Adnan… dia masuk rumah sakit," ucap Mama Tina dengan suara terguncang.

"Apa?!" Seketika Papa Bayron dan Bastian terkejut mendengar kabar itu.

"Benar. Sebaiknya kita segera ke sana! Ayo cepat panggil Alena!" perintah Mama Tina, ingin mereka semua segera berangkat melihat keadaan Adnan.

Sementara itu, Alena yang mendengar keributan dari lantai bawah segera bangun dan turun untuk melihat apa yang terjadi. Ia mengusap matanya yang masih mengantuk dan belum sepenuhnya sadar.

"Ada apa ini? Kenapa Mama menangis?" tanya Alena dengan wajah bingung.

"Alena, ayo kita ke rumah sakit sekarang, Nak. Kakakmu, Adnan, dirawat di rumah sakit. Kami belum tahu apa yang terjadi, jadi kita harus segera menjenguknya," ajak Mama Tina sambil menarik tangan Alena.

Mendengar penjelasan itu, Alena seketika terdiam. Ia langsung teringat kejadian semalam: saat Adnan menelepon dan memintanya menyampaikan pesan agar Bastian menjemputnya karena mobil mogok. Karena mengabaikan permintaan itu, kini sesuatu yang buruk benar-benar menimpa Adnan, dan rasa takut pun mulai merayapi hatinya.

"Gawat… kalau sampai Kak Adnan kenapa-kenapa, aku pasti akan disalahkan. Tidak, aku harus cari cara supaya mereka tidak menuduhku. Tapi bagaimana caranya?" pikir Alena dalam hati.

"Alena, kenapa diam saja? Ayo berangkat," desak Bastian yang sudah siap pergi.

"Pa, Ma, Kak Bastian… sebaiknya kalian pergi duluan saja. Aku akan menyusul. Aku baru bangun tidur dan belum sempat mandi," jawab Alena, sengaja menunda karena takut bertemu Adnan.

"Baiklah kalau begitu. Mama, Papa, dan Kakak pergi lebih dulu. Kau harus segera menyusul, ya," pesan ibunya.

Alena hanya mengangguk kecil sambil berusaha menyembunyikan rasa takutnya.

Satu jam kemudian, keluarga Gunawan tiba di rumah sakit. Mereka meminta bantuan perawat untuk segera diantar ke ruang rawat Adnan.

"Ini kamarnya. Silakan masuk," ujar perawat itu sambil mempersilakan.

Begitu pintu ruangan terbuka, mereka semua terkejut melihat kondisi Adnan yang tampak cukup parah.

"Adnan! Astaga, Nak… apa yang menimpamu?" seru Mama Tina langsung menghampiri putranya yang terbaring lemah di atas ranjang.

"Ma…" jawab Adnan dengan suara lirih.

"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Bastian lagi.

Tepat saat itu, dokter yang menangani Adnan pun masuk ke ruangan.

"Kondisi pasien masih belum sepenuhnya stabil. Kaki kirinya mengalami cedera cukup parah dan belum bisa berjalan selama satu bulan ke depan; ia harus menggunakan kursi roda sampai pulih sempurna. Ada juga luka sayatan di bagian perut kiri, tapi untungnya tidak terlalu dalam," jelas dokter itu secara rinci.

"Ini semua salahmu!" bentak Adnan sambil menunjuk ke arah Bastian.

"Aku? Apa maksudmu? Kenapa kau malah menuduhku?" tanya Bastian yang sama sekali tidak mengerti apa-apa.

"Kalau begitu, saya permisi dulu," ujar dokter itu, memilih tidak ikut campur urusan keluarga mereka.

"Adnan, jelaskan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi padamu," minta Papa Bayron ingin mengetahui kebenarannya.

"Tadi malam sepulang dari tempat hiburan, mobilku mogok di jalan yang sepi dan rawan kejahatan. Aku menghubungi Alena dan memintanya menyampaikan pesan pada Kak Bastian agar menjemputku. Tapi Kak Bastian tidak pernah datang sampai aku dirampok dan terluka seperti ini!" cerita Adnan dengan emosi yang meluap-luap.

"Lalu kenapa kau malah menyalahkanku? Aku pulang dalam keadaan sangat lelah setelah bekerja, lalu langsung tidur. Kau harus tahu, Alena sama sekali tidak menyampaikan pesan apapun tentang dirimu," bantah Bastian.

Terlihat jelas bahwa keharmonisan keluarga itu perlahan mulai memudar; mereka bahkan sudah saling beradu pendapat di dalam ruang rawat.

"Cukup! Kalian tidak boleh saling tuduh seperti ini. Adnan, kau pun punya kesalahan: selain menghabiskan uang hasil kerja kakakmu untuk bersenang-senang, apa lagi yang bisa kau lakukan? Ini semua harus menjadi pelajaran bagimu," tegur Papa Bayron untuk menengahi.

"Kenapa Papa malah membentakku? Aku yang sekarang sedang sakit! Tidak mungkin Alena tidak menyampaikan pesannya. Pasti dia sangat khawatir padaku," bantah Adnan, tidak percaya dengan ucapan Bastian.

"Sudah cukup! Jangan berdebat lagi. Tidak ada gunanya mencari siapa yang bersalah sekarang, karena semuanya sudah terjadi," tambah Mama Tina berusaha menenangkan suasana.

Tepat saat itu, Alena tiba di rumah sakit dan segera masuk ke ruangan, menghadapi keluarganya yang sedang dalam suasana tegang.

"Kak Adnan… kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Alena dengan nada yang dibuat-buat seolah sangat prihatin, padahal ia tahu betul kalau kelalaiannya semalam adalah penyebab utama kejadian itu.

"Alena, akhirnya kau datang juga. Katakan padaku, apakah semalam kau sudah menyampaikan pesanku agar Kak Bastian menjemputku?" tanya Adnan, masih ragu dengan penjelasan Bastian.

Alena terdiam sesaat, lalu dengan cepat memasang wajah sedih dan membiarkan air matanya mengalir membasahi pipi.

"Hikss… Kak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu mengalami hal ini. Jangan salahkan Kak Bastian, ya. Tadi malam aku memang sudah mendatangi kamar Kak Bastian dan mengetuk pintunya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Mungkin dia sudah tidur lelap karena kelelahan, jadi aku tidak tega membangunkannya. Setelah itu, aku mencoba mengemudi sendiri untuk menjemputmu, tapi tidak menemukan kunci mobil di rumah," jawab Alena dengan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal.

Jika yang berbicara seperti itu adalah Ayla, mereka pasti sudah langsung menghakiminya. Tapi karena ini Alena, semua orang akan langsung percaya.

"Astaga, Alena… sungguh aku tidak mendengar ada ketukan pintu semalam. Mungkin memang benar aku terlalu lelah sampai tidak sadar," ujar Bastian, kini justru merasa bersalah.

"Baguslah… sekarang semua kesalahan bisa dialihkan ke Kak Bastian, dan aku pun terbebas dari tuduhan," gumam Alena dalam hati.

"Sudahlah, tidak perlu diperdebatkan lagi. Semuanya sudah terjadi. Yang terpenting sekarang kita fokus merawat Adnan sampai ia pulih sepenuhnya," tutur Mama Tina, ingin mengakhiri pembahasan itu.

Namun, Adnan tetap menatap Bastian dengan pandangan yang penuh kebencian. Bastian menyadari hal itu dan kembali merasa bersalah. Sungguh disayangkan, mereka semua begitu mudah mempercayai ucapan Alena.

 

Sementara itu, di tempat lain…

Hari ini adalah hari pertama Ayla bangun tidur di kediaman keluarga Aditama. Tidak ada satu pun yang menyuruhnya memasak, mengepel lantai, mencuci pakaian, atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.

"Ini pertama kalinya aku tidur dengan begitu nyenyak, meskipun hanya beralaskan sofa," ujar Ayla sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.

Ia melihat sekeliling. Tempat tidur Valen sudah kosong, tidak ada orang di sana, dan dari dalam kamar mandi pun tidak terdengar suara apapun.

Tok… Tok… Tok…

Baru saja Ayla ingin mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya, suara ketukan dari luar pintu kamar terdengar jelas, membuatnya terkejut.

 

****

1
Soraya
lanjut thor
Author Nadia🪷: iya kak
total 1 replies
putmelyana
next Thor ceritanya
Author Nadia🪷: iya kak
total 1 replies
Valen Angelina
jgn jdi lemah ok....
Author Nadia🪷: okeee
total 1 replies
Adi Sudiro
salah satu cerita dgn segala kebodohan dan ketololan pemeran utama
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya
Author Nadia🪷: iya maaf ya kak 🙏
total 1 replies
Soraya
mampir thor
Author Nadia🪷: iya kak makasih ya
total 1 replies
Valen Angelina
semoga ayla cepat sembuh😍
Author Nadia🪷: udah gak sabar yaaa🤭🤭🤭🤭 btw sekarang aku juga punya Kanaya, ramekan ya kak, meskipun baru satu bab aja wkwkwkwkw
total 1 replies
Valen Angelina
𝚜𝚢𝚞𝚔𝚞𝚛𝚒𝚗 𝚎𝚖𝚐 𝚎𝚗𝚊𝚔
Author Nadia🪷: terkapar deh🤭🤭
total 1 replies
Valen Angelina
𝚝𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚋𝚞𝚌𝚒𝚗 𝚖𝚞 𝚠𝚔𝚔𝚠
Valen Angelina
tenang aylia... suamimu ganteng bbgt lo wkkwk😂
Author Nadia🪷: kalau aku jadi Ayla udah gas Ken banget 🤣🤣🤣
total 1 replies
Valen Angelina
𝙷𝚒𝚍𝚞𝚙 𝚝𝚊𝚗𝚙𝚊 𝚔𝚎𝚕𝚞𝚊𝚛𝚐𝚊 𝚕𝚋𝚒𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚗𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚢𝚕𝚒𝚊... 𝚘𝚛𝚝𝚞𝚊 𝚋𝚘𝚍𝚘𝚑 𝚖𝚊𝚗𝚊 𝚌𝚘𝚋𝚊 𝚕𝚋𝚒𝚑 𝚙𝚎𝚛𝚌𝚊𝚢𝚊 𝚊𝚗𝚊𝚔 𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚝 𝚍𝚊𝚛𝚒𝚙𝚍𝚊 𝚊𝚗𝚊𝚔 𝚔𝚊𝚗𝚍𝚞𝚗𝚐𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚗𝚍𝚒𝚛𝚒
Author Nadia🪷: betul dan itu sakit banget, kita kalau dibedain orang tua sama saudara kandung sendiri aja sakit hati apalagi sama saudara angkat
total 1 replies
Valen Angelina
𝚋𝚊𝚐𝚞𝚜
Author Nadia🪷: makasih kak
total 1 replies
Valen Angelina
𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚢𝚕𝚊..... 𝚜𝚊𝚊𝚝𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚊𝚕𝚊𝚜 𝚍𝚎𝚗𝚍𝚊𝚖
Author Nadia🪷: makasih kak🥰
total 1 replies
Valen Angelina
𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚟𝚊𝚕𝚎𝚗 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗 𝚢𝚊... 𝚗𝚊𝚖𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚜𝚘𝚊𝚕𝚗𝚢𝚊 𝚠𝚔𝚠𝚔𝚔𝚠🤣
Author Nadia🪷: awokawok ngakak, mana iya lagi sama nama nya 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ulfah Fiza
luar biasa
Author Nadia🪷: terimakasih kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!