Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemurkaan Mantan Suami
Pria itu melangkah keluar dengan gerakan yang teramat berkelas. Kenzi Hutama. Pagi ini, ia mengenakan setelan jas tiga potong berwarna navy blue yang dipotong sempurna mengikuti lekuk tubuh tegapnya. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung, memberikan kesan misterius namun teramat dominan. Wajah oriental yang tampan itu tampak bersinar di bawah terik matahari pagi, memancarkan pesona aristokrat yang mutlak.
Kenzi melepaskan kacamata hitamnya dengan satu tangan, menyorotkan sepasang mata elangnya langsung ke arah rombongan Sintia. Ia mengabaikan keberadaan Rian dan Suci sepenuhnya, seolah kedua orang itu hanyalah debu jalanan yang tak sengaja menempel di sepatunya.
"Bagaimana sidangnya, Sintia?" tanya Kenzi, suaranya yang berat dan bariton bergema di lobi yang mulai sepi. Ia berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di samping Sintia, secara alami meletakkan tangan kanannya di pinggang ramping Sintia dengan gerakan yang protektif sekaligus penuh klaim kepemilikan.
Sintia tidak menolak sentuhan itu. Ia justru merasa sebuah kekuatan besar mengalir ke dalam dirinya. "Berjalan sesuai rencana, Kenzi. Pak Bram melakukannya dengan sangat baik."
"Bagus," jawab Kenzi short, lalu melirik sekilas ke arah Bramantyo yang langsung membungkuk hormat padanya. "Kembalilah ke kantor, Bram. Urus sisa dokumennya."
"Baik, Pak Kenzi," pamit Bramantyo sebelum melangkah pergi.
Di tempatnya berdiri, Rian Mahesa merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya dalam hari yang sama. Matanya membelalak sempurna menatap sosok pria yang kini merangkul Sintia. Sebagai seorang pengusaha, tidak mungkin Rian tidak mengenali wajah itu. Wajah yang sering menghiasi sampul majalah bisnis papan atas, wajah dari penguasa tunggal Hutama Group—konglomerat raksasa yang bisa menghancurkan bisnis kecilnya hanya dengan satu jentikan jari.
Kenzi Hutama. Pria yang dulu hampir menjadi suami Sintia.
Melihat tangan Kenzi yang bertengger kokoh di pinggang Sintia, sebuah perasaan aneh mendadak meledak di dalam dada Rian. Cemburu. Sebuah rasa cemburu yang teramat hebat, yang membakar ego maskulinnya hingga hangus. Selama tujuh tahun, Rian menganggap Sintia adalah miliknya yang mutlak—wanita yang tidak akan pernah dilirik oleh pria lain, wanita yang bergantung sepenuhnya pada belas kasihannya.
Namun kini, melihat Sintia berdiri bersanding dengan pria yang jauh lebih tampan, jauh lebih kaya, dan jauh lebih berkuasa darinya, Rian merasa harga dirinya diinjak-injak hingga lumat ke dalam tanah. Ada rasa tidak rela yang mendalam saat menyadari bahwa wanita yang baru saja ia buang ke jalanan, kini justru dijemput oleh seorang pangeran dari kasta tertinggi.
"Kenzi... Hutama?" suara Rian bergetar, tenggorokannya mendadak kering. "Sintia... jadi ini alasanmu menuntutku habis-habisan? Kamu sudah berselingkuh dengan pria ini di belakangku?! Kamu melacurkan dirimu demi uangnya?!"
Plak!
****
Suara tamparan keras bergema di lobi gedung pengadilan. Bukan Sintia yang melayangkannya, melainkan salah satu pengawal pribadi Kenzi yang bergerak secepat kilat sebelum Rian sempat menyelesaikan kalimat hinaannya.
Rian terhuyung mundur, memegangi pipinya yang memerah dan mulai membengkak. Suci menjerit histeris, langsung memeluk lengan Rian dengan ketakutan yang menjalar hingga ke tulang.
Kenzi maju satu langkah, menatap Rian dari balik tatapan matanya yang sedingin es di kutub utara. Aura intimidasi yang dipancarkannya begitu pekat hingga membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.
"Jaga mulut kotormu, Rian Mahesa," ucap Kenzi, suaranya sangat rendah namun sarat akan ancaman kematian yang nyata. "Satu kata hinaan lagi yang keluar dari mulutmu untuk Sintia, dan aku akan memastikan besok pagi kamu tidak akan memiliki bisnis, rumah, atau bahkan nama baik lagi di kota ini. Aku bisa menghancurkanmu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."
Rian gemetar. Ego dan cemburunya mendadak ciut di hadapan kekuatan absolut yang dimiliki Kenzi Hutama. Ia menatap Sintia dengan pandangan mata yang dipenuhi campur aduk antara amarah, cemburu, dan ketakutan yang mendalam.
Sintia menatap mantan suaminya untuk terakhir kali sebelum berbalik menuju mobil. "Ayo pergi, Kenzi. Tempat ini mulai berbau busuk."
Kenzi tersenyum tipis, lalu menuntun Sintia masuk ke dalam kabin mewah Rolls-Royce yang kedap suara. Pintu mobil ditutup dengan dentuman berkelas, dan kendaraan mewah itu pun melaju perlahan meninggalkan area pengadilan, membelah jalanan ibu kota dengan keanggunan yang tak tersentuh.
Di lobi pengadilan, Rian berdiri mematung memandangi kepergian mobil itu. Tangannya yang memegangi pipi masih gemetar, sementara hatinya kini dipenuhi oleh rasa cemburu yang membakar seiring dengan kesadaran bahwa ia baru saja membangunkan seekor singa betina yang siap mencabik-cabik hidupnya hingga tak bersisa.
****
Deru mesin mobil Honda Civic milik Rian terdengar pincang saat memasuki pelataran parkir kediaman Mahesa. Pintu mobil disentak kasar dari dalam. Alfandi Rian Mahesa melangkah keluar dengan wajah sekaku papan, rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di lehernya menegang kemerahan. Bekas tamparan dari pengawal Kenzi di lobi pengadilan tadi masih menyisakan rona merah yang membengkak di pipi kirinya—sebuah stempel kehinaan yang membakar ego maskulinnya hingga hangus.
Di belakangnya, Suci Wahyuni mengekor dengan langkah yang tak kalah gelisah. Gaun merah menyalanya yang tadi pagi ia kenakan dengan penuh keangkuhan, kini terasa mencekik, seolah berubah menjadi kain kafan bagi impian indahnya.
Begitu kedua daun pintu jati rumah terbuka, sosok Anne Wahyuandini sudah berdiri menghadang di tengah ruang tamu. Wanita tua itu melangkah maju dengan tergesa-gesa, kacamata tebalnya berkilat memantulkan cahaya lampu gantung. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran yang menggebu-gebu, tidak sabar mendengar berita kemenangan tentang didepaknya Sintia dari silsilah keluarga mereka.
"Rian! Suci! Bagaimana sidangnya?" tanya Anne dengan suara melengking, sepasang matanya berbinar penuh kelicikan. "Si mandul itu pasti menangis berguling-guling di lantai pengadilan, kan? Dia pasti memohon-mohon agar kamu tidak menceraikannya, Rian? Katakan pada Ibu, kapan dia akan mengosongkan haknya atas nama keluarga ini?"
Rian tidak menghentikan langkahnya. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun pada ibunya. Dengan tatapan mata yang kosong namun sarat akan badai amarah, pria itu melewati Anne begitu saja. Langkah kakinya menghentak berat di atas anak tangga, menuju kamar utama di lantai dua, sebelum kemudian terdengar dentuman keras pintu kamar yang dibanting hingga menggetarkan pajangan kristal di ruang tamu.
Anne terperangah, mulutnya melongo menatap ke arah tangga yang kini sepi. Senyum kemenangannya mendadak luntur, digantikan oleh rasa bingung yang amat sangat. Ia segera membalikkan tubuhnya, menyorotkan tatapan tajamnya pada Suci yang masih berdiri mematung di dekat pintu depan.
"Suci! Ada apa dengan suamimu? Kenapa wajahnya seperti habis melihat setan?" cecar Anne, suaranya naik satu oktav, menuntut penjelasan. "Jangan diam saja! Apa yang terjadi di ruang sidang tadi?!"
Suci menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan gemuruh ketakutan yang mulai merayapi dinding dadanya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, seuntai topeng kepatuhan yang biasa ia gunakan untuk mengambil hati mertuanya.
"Tidak apa-apa, Ibu... Mas Rian hanya sedang lelah. Sidangnya tadi agak menguras pikiran. Suci mau ke dapur dulu, menyiapkan air minum untuk Mas Rian," jawab Suci dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan, meskipun jemarinya yang mencengkeram tas jinjing terasa sangat dingin.