NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Keheningan yang ditinggalkan oleh Hendrawan Hartono di koridor lantai eksekutif itu terasa mencekik.

Tika masih mematung di balik meja administrasinya, dia tidak berani bernapas terlalu keras, sementara dua petugas satpam berdiri serba salah di dekat pintu lift yang tertutup.

"Tika, kembali bekerja. Dan kalian berdua," Radit menunjuk dua satpam tersebut dengan tatapan dingin. "Pastikan wajah pria tadi dimasukkan ke dalam daftar hitam seluruh gedung. Kalau dia sampai menginjakkan kaki lagi di lobi utama, kalian semua saya pecat".

"B-baik, Pak!" Kedua satpam itu membungkuk dalam-dalam lalu bergegas masuk ke dalam lift darurat.

Radit berbalik, menatap Kirana yang masih bersandar di tepi mejanya. Wajah wanita itu masih pucat, namun matanya yang berada di balik lensa kacamata itu memancarkan kombinasi antara rasa takut dan kemarahan yang tertahan. Sesuai dengan Aturan Baru Pasal 1, mereka tidak boleh menunjukkan kedekatan personal di depan staf lain. Namun, melihat kondisi Kirana yang terguncang, Radit tidak peduli lagi pada formalitasnya.

"Kirana, bawa semua berkas laporan kuartal yang sedang kamu pegang, lalu ikut ke ruangan saya sekarang" ujar Radit dengan nada bariton yang tegas, memberikan alasan profesional bagi para staf yang mencuri pandang.

Kirana mengangguk pelan, mengambil map di mejanya dengan tangan yang sudah tidak terlalu gemetar lagi, lalu melangkah mengikuti Radit masuk ke dalam ruang kerja CEO yang kedap suara.

Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, Radit langsung menghempaskan tubuhnya di sofa tamu, sementara Kirana berdiri beberapa langkah di depannya, memeluk map itu erat-erat di dada.

"Duduklah, Kirana. Jangan seperti terdakwa yang sedang menunggu vonis hakim" kata Radit, suaranya melunak, dia seperti kehilangan seluruh intonasi kasarnya yang tadi dia tunjukkan pada Hendrawan.

Kirana perlahan duduk di sofa tunggal di seberang Radit.

"Paman Hendra tidak menggertak, Radit. Dia tipe pria yang akan melakukan apa saja demi uang. Sepuluh tahun lalu, dialah yang mencuci sebagian uang dari Arwana Property ke rekening-rekening fiktif sebelum ayah saya ditangkap. Jika dia tidak mendapatkan lima miliar itu besok malam, dia benar-benar akan pergi ke media".

"Aku tidak mencemaskan tentang lima miliar itu, Kirana. Uang segitu bisa kucairkan saat ini juga" Radit menyandarkan punggungnya, matanya menyipit menatap langit-langit ruangan. "Yang mengusik pikiranku adalah kalimatnya tadi. 'Ada orang lain yang membantuku'. Itu artinya, Hendrawan hanyalah pion. Ada orang lain yang memegang draf kontrak kita, orang yang tahu seluk-beluk hubungan palsu ini, dan menggunakan pamanmu untuk menyerang kita".

Kirana tertegun. Pikirannya yang sempat buntu kini mulai terbuka.

"Benar... Paman Hendra sudah tidak waras, tapi dia tidak punya kapasitas untuk meretas data internal Baskara Group atau mengintai aktivitas kita. Seseorang sengaja mendekatinya dan memberikan informasi tentang kontrak itu".

"Dan orang itu harusnya seseorang yang punya akses ke lantai ini, atau setidaknya tau tentang keberadaan draf tersebut sebelum ibuku mengambilnya," lanjut Radit. Pria itu bangkit dari sofa, berjalan menuju meja kerjanya, lalu menekan tombol interkom. "Tika, masuk ke ruangan saya sekarang. Sendiri".

Beberapa detik kemudian, Tika masuk dengan wajah ketakutan, tangannya saling meremas di depan roknya.

"I-iya, Pak Radit? Ada yang bisa saya bantu?"

Radit tidak duduk di kursinya, dia berdiri bersandar pada meja, menatap Tika dengan pandangan menilai.

"Tika, kamu sudah bekerja sebagai staf administrasi di lantai ini selama tiga tahun. Tugasmu adalah mencatat semua surat masuk, keluar, dan mengatur jadwal tamu yang tidak melalui Kirana. Benar?".

"Benar, Pak".

"Saya mau tanya satu hal, dan saya butuh jawaban jujur jika kamu masih ingin melihat namamu di daftar gaji bulan depan," suara Radit terdengar santai, namun bagi Tika, itu adalah ancaman paling mengerikan. "Dalam satu bulan terakhir, selain Ibuku, siapa saja orang yang pernah masuk ke ruangan saya saat saya dan Kirana sedang tidak ada di kantor?".

Tika berpikir keras, wajahnya semakin lama semakin memucat.

"A-hampir tidak ada, Pak. Ruangan Anda selalu dikunci oleh Mbak Kirana jika kalian berdua keluar. Kecuali..." Tika menggantung kalimatnya, matanya melirik sekilas ke arah Kirana.

"Kecuali siapa, Tika?" tuntut Kirana, suaranya tajam.

"Kecuali Pak Baskoro, Mbak," jawab Tika pelan. "Dua minggu lalu, saat Pak Radit dan Mbak Kirana sedang meninjau proyek di koridor timur, Pak Baskoro datang membawa dokumen revisi anggaran. Beliau memaksa masuk ke ruangan Pak Radit dengan alasan ingin meletakkan dokumen itu langsung di meja kerja. Karena beliau adalah Komisaris Senior dan paman dari Pak Radit, saya... saya tidak berani menolak dan memberikannya kunci cadangan".

Mendengar nama Baskoro, Radit dan Kirana saling berpandangan. Potongan-potongan teka-teki yang membingungkan sejak rapat kemarin pagi kini mulai jatuh di tempat yang tepat.

Baskoro adalah orang yang paling vokal menentang proyek superblok Radit. Dia juga orang pertama di ruang rapat yang menyindir status pertunangan Kirana dengan sebutan 'Calon Nyonya Besar'.

"Berapa lama Pak Baskoro berada di dalam ruangan saya waktu itu, Tika?" tanya Radit, matanya berkilat berbahaya.

"Cukup lama, Pak. Sekitar lima belas atau dua puluh menit. Saat beliau keluar, beliau tersenyum... dan langsung meninggalkan gedung tanpa bicara apa-apa lagi," Tika mengakui jujur.

"Baik, terima kasih, Tika. Kamu boleh kembali ke mejamu. Dan ingat, anggap percakapan ini tidak pernah terjadi" ujar Radit.

"Baik, Pak".

Setelah Tika keluar dan menutup pintu, Radit langsung mengepalkan tinjunya ke atas meja kerja.

"Sialan si tua bangka itu... jadi dia dalangnya. Dia pasti menggeledah laciku, menemukan draf kontrak yang belum sempat kupindahkan ke brankas rumah, lalu memotretnya. Dan untuk mengeksekusinya tanpa mengotori tangannya sendiri, dia mencari tahu latar belakangmu dan menemukan Hendrawan".

"Pak Baskoro ingin menjatuhkan Anda dari kursi Direktur Utama menggunakan skandal ini," kata Kirana, suaranya bergetar bukan lagi karena takut pada Hendrawan, melainkan karena ngeri melihat skala intrik politik di dalam perusahaan ini. "Jika pertunangan kita terbukti palsu dan latar belakang ayah saya terekspos, reputasi Anda akan hancur, dan Pak Baskoro bisa mengambil alih kendali Baskara Group dengan dukungan dewan komisaris lain".

"Jelas itulah yang dia incar" ucap Radit.

____

Waktu terus berjalan. Dua puluh empat jam menuju waktu yang diberikan Hendrawan Hartono. Radit dan Kirana kini tidak hanya berhadapan dengan seorang paman yang tamak, melainkan dengan seorang Komisaris Senior yang memiliki kuasa penuh untuk menghancurkan hidup mereka berdua.

Radit berjalan mendekati Kirana, mengikis jarak di antara mereka. Dia memegang kedua bahu Kirana dengan mantap, memaksa wanita itu untuk menatapnya.

"Kita punya waktu sampai besok malam, Kirana. Pak Baskoro mengira dia sudah memegang kartu as kita. Tapi dia lupa satu hal... kita berdua tidak pernah kalah jika sudah bekerja sama dalam menyusun strategi," kata Radit, sebuah seringai penuh percaya diri kembali muncul di wajah tampannya. "Jika mereka ingin bermain kotor dengan menggunakan masa lalu, maka kita akan menggunakan masa depan untuk membungkam mereka sekalian".

Kirana menatap Radit, merasakan keyakinan pria itu mulai menular ke dalam dirinya. Aturan Baru Pasal 1 mungkin sedang diuji habis-habisan, namun di balik semua kepura-puraan yang pernah mereka buat, malam ini mereka tahu... mereka siap berperang bersama.

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!