Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 08
“Gue… gue nggak mau denger ini,” Jolina menutup telinganya, wajahnya merah padam.
Melihat wajah Jolina yang memerah, Jeremy justru tampak semakin puas. Ada kilat jahil di matanya ketika ia menahan senyum.
“Lo mau sampai kapan gini terus?” godanya.
Jolina mengerutkan dahi. “Maksud lo?”
Jeremy melirik sekilas ke arah kamar orang tua mereka, lalu kembali menatap Jolina dengan ekspresi menyebalkan.
“Posisi lo sekarang, bisa aja kayak posisi nyokap lo ke bokap gue.”
Jolina tersentak. Baru kali itu ia benar-benar sadar—tubuhnya menindih Jeremy sejak tadi. Dengan wajah makin panas, ia langsung bangkit dan duduk menjauh. Jeremy pun ikut duduk, santai seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kurang kerjaan banget sih lo. Ngapain sih nguping di sini?” Jeremy mendecak.
“Gue nggak nguping!” bantah Jolina cepat.
“Ya terus kalau nggak nguping, lo ngapain? Mau belajar di depan pintu kamar orang tua?” ejeknya.
“Mulut lo tuh ya—”
“Kenapa mulut gue?” potong Jeremy sambil mendekatkan wajahnya.
Bibir Jeremy terlihat tipis dan tegas, dengan sudut yang terangkat samar, seperti sedang menahan tawa. Bukan senyum manis—lebih ke senyum jahil yang selalu muncul tiap kali ia merasa menang. Bibir itu bergerak ringan saat ia berbicara, santai, seolah dunia tidak pernah cukup serius untuknya.
Kalau saja Jolina masih menganggap Jeremy sebagai idola, mungkin ia akan kehilangan akal sehat dengan langsung mencium bibir Jeremy.
“Gue cabein mau lo?” ancam Jolina.
Jeremy justru terkekeh. Ia berdiri, menepuk-nepuk celananya dengan santai. “Dengerin aja tuh sampai besok pagi,” ujarnya mengejek sebelum melangkah pergi.
Jolina menatap punggung Jeremy dengan rahang mengeras, kesal, sangat kesal.
Dan malam itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Di lorong rumah yang mendadak terasa terlalu sunyi itu, Jolina hanya bisa berpikir satu hal: Kalau begini terus… Mama beneran bisa hamil.
***
Cahaya pagi mulai merayap masuk melalui sela jendela. Jolina terbangun dengan cepat, matanya langsung menatap jam. Senin. Ia tak mau terlambat.
Tanpa banyak pikir, ia segera mandi, mengenakan seragam, lalu menyampirkan tas ke pundaknya. Langkahnya menuruni anak tangga terdengar ringan, meski hatinya tidak sepenuhnya demikian.
Di ruang makan, mama dan papa sudah duduk berdampingan. Seperti biasa, pagi-pagi pun mereka terlihat begitu mesra. Jolina menahan napas, rasa muak itu datang lagi tanpa diundang.
“Aku berangkat duluan ya,” ucapnya singkat.
Mama menoleh. “Eh? Nggak nunggu papa aja?”
“Emm… nggak deh. Aku bisa naik grab,” jawab Jolina cepat.
“Nggak, nggak,” sela papa. “Supir sudah nunggu di depan. Kamu diantar supir aja.”
“Tapi aku takut ngerepotin—”
“Nggak, ngerepotin dari mananya?” Papa tersenyum hangat. “Kamu itu sekarang putri papa. Sudah, pergi sana. Nanti malah terlambat.”
Jolina terdiam sejenak. Ada sesuatu di dada yang menghangat tanpa izin. Om Mulya… papa—ternyata memang sebaik itu. Tutur katanya lembut, sikapnya tulus. Jolina bisa merasakannya, meski hatinya masih belum sepenuhnya siap menerima.
Ia mendekat, menyalami mama lebih dulu, lalu papa. Sentuhan tangan itu terasa aman, jujur, tanpa paksaan.
“Jaga diri ya,” kata mama.
“Iya,” jawab Jolina pelan.
Ia pun melangkah pergi, meninggalkan ruang makan itu. Perasaannya masih campur aduk, tapi pagi ini entah kenapa langkahnya terasa sedikit lebih ringan.
***
Jolina baru saja melangkahkan kaki ke halaman sekolah ketika dua sahabatnya sudah lebih dulu menunggunya di dekat gerbang.
“Wah…” salah satu dari mereka menyipitkan mata sambil tersenyum usil. “Diantar papa baru ya?”
“Apaan sih kalian,” Jolina mendengus, malas menanggapi.
“Gimana-gimana? Cerita dong,” Audrey langsung merapat, wajahnya penuh rasa ingin tahu.
“Kalian nggak bakal percaya sih,” Jolina menghela napas panjang.
“Hah? Kenapa? Papa tiri lo jahat?” sela Zoya dengan ekspresi dramatis.
“Enggak,” Jolina menggeleng. “Om Mulya itu… duda.”
“What?? Serius?”
“Terus? Terus?”
“Ya ampun plot twist!”
“Dan,” Jolina menatap mereka satu per satu, “gue punya adik tiri.”
“Masih kecil?”
“Atau udah gede?”
“Ganteng nggak?”
“Baik apa ngeselin?”
Jolina mengacak rambutnya frustasi. “Gimana ya cara gue jelasin… intinya gue bener-bener siaaaaaaal.”
“Kenapa sih? Jangan bikin penasaran dong!”
Jolina menelan ludah. “Adik tiri gue itu… Jr.”
“HAA??”
“Serius??”
“Demi apa??”
“Iya, anjir!” Jolina hampir teriak. “Gue kira di kepala gue tuh adik kecil yang rese, bocil nyebelin gitu. Eh malah DIA. Sumpah gue sial banget.”
“Wah… hidup lo plot twist banget ya,” gumam Audrey.
“Pasti dia dendam banget kan, setelah kejadian waktu itu?”
“Yang lo nampar dia?”
“Dia bilang mau balas dendam sama gue.”
“Wah, selamat datang di neraka dunia, Jolina,” celetuk temannya.
“Please,” Jolina memijat pelipis. “Gue nggak bakal sanggup. Udah gitu dia nyari muka banget sama mama. Gue enek.”
“Parah sih…”
“Belum lagi,” Jolina mendesis, “dia ngeselin, genit, mesum juga. Ih amit-amit, najis banget gue.”
“Yang sabar ya, Jo…”
“Sampai kapaaaaaaan?!”
Bel sekolah tiba-tiba berbunyi, memotong keluh kesah mereka. Semua siswa bergegas masuk ke kelas. Tak lama kemudian, Bu Lani—wali kelas mereka—ikut masuk.
“Selamat pagi anak-anak,” sapa Bu Lani. “Hari ini kita kedatangan siswa baru. Silakan masuk.”
Seorang siswa melangkah masuk dengan santai. Senyumnya lebar, sikapnya percaya diri. Seketika kelas menjadi riuh. Bisik-bisik, suara kagum, dan desahan heboh siswi terdengar jelas. Siapa yang tidak mengenal sosok itu?
“Jolin…” bisik Audrey pelan.
Jolina masih menunduk, wajahnya hampir menempel di meja.
“Silakan perkenalkan diri,” ujar Bu Lani.
Siswa itu berdiri di depan kelas.
“Halo semuanya,” ucapnya santai. “Gue Jeremy Winata Mulya.”
Deg.
Jolina langsung mengangkat kepalanya. Matanya membelalak. Wajah itu—lesung pipi, hidung mancung, postur tinggi, rambut rapi, senyum menyebalkan itu—bukan sekadar mirip.
Itu DIA.
“Ng—nggak…” Jolina menggebrak meja dan berdiri. “Nggak mungkin!”
“Kamu kenapa, Jolina?” tanya Bu Lani heran.
Jolina menatap lurus ke depan kelas. “Lo ngapain di sini?!”
Jeremy yang sedari tadi memasukkan tangan ke saku celana, mengeluarkannya perlahan. Ia melambaikan tangan ke arah Jolina, senyumnya semakin lebar—jahat, puas.
“Hai, Kak Jolina.”
“Kakak?” Bu Lani mengernyit. “Kalian saling kenal?”
Jeremy menoleh cepat, lalu menunjuk Jolina dengan ekspresi polos yang dibuat-buat.
“Dia itu kakak saya, Bu.”
“Gue bukan kakak lo,” potong Jolina tajam.
Wajah Jeremy langsung berubah sendu, dramatis. “Eh, Jolina… jahat banget sih sama adik sendiri.” celetuk Rani.
Kelas langsung riuh.
“Gue jahat?” Jolina mendengus. “Dia itu cuma pura-pura—”
“Sudah, sudah, Jolina,” sela Bu Lani, mencoba menenangkan. “Tenang dulu.”
Bu Lani beralih pada Jeremy. “Jadi kamu adiknya Jolina, ya?”
“Iya, Bu,” jawab Jeremy sopan, senyumnya manis.
“Selamat datang di kelas ini. Semoga kamu betah. Silakan duduk di kursi kosong itu.”
“Baik, Bu. Terima kasih.”
Dengan langkah santai, Jeremy berjalan ke bangku kosong—yang sialnya berada tepat di sebelah Jolina. Ia duduk, menaruh tasnya rapi, lalu melirik Jolina sekilas dengan senyum kecil yang seolah berkata kita belum selesai.
“Wah, Jolina,” bisik salah satu temannya antusias, “kok lo nggak pernah bilang sih punya adik anggota band terkenal?”
“Diem nggak lu,” desis Jolina tanpa menoleh.
“Hai, Jeremy!” sapa beberapa siswi dari barisan belakang, suaranya bersahut-sahutan.
Jeremy mengangkat tangan, membalas sapaan itu dengan senyum ramah—senyum yang sama sekali tidak ia berikan pada Jolina.
Jolina memalingkan wajah ke arah jendela. Rahangnya mengeras. Di luar sana matahari bersinar cerah, tapi di dalam kepalanya, hari itu baru saja berubah menjadi mimpi buruk.