NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 24 : Sayang

"Ngomong-ngomong, kok kakek bisa tau namaku?"

"Hohoho, aku cuma kakek biasa kebetulan aja tau namamu."

"Tapi kek, itu nggak mungkin kebetulan. Pasti ada sesuatu yang..."

Ziiing...

Sebelum Theo menyelesaikan kata-katanya, udara menjadi berat. Waktu seolah berhenti, bahkan Theo tidak dapat menggerakkan tubuhnya.

"Ugh..."

"Diamlah anak muda, ada banyak rahasia dunia ini yang tidak perlu kamu cari."

Whuuush

Kakek itu tiba-tiba menghilang, meninggalkan semua tong pesanan Theo dan kekosongan yang misterius.

"Dasar jiwa yang malang," ucap seorang kakek yang kebetulan melewati tempat itu.

"Huft, huft, huft, gila! Bagaimana bisa ada entitas kaya gitu?"

Setelah menenangkan deru nafasnya, Theo segera memasukkan sisa pesanannya ke ruang jiwa.

Theo kemudian berjalan menuju kuil. Di sana, ia datang ke rubanah mencari Robertus.

"Aha, kawanku datang. Ahaha!" Robertus berteriak senang, lalu ia menari dan menyambut Theo.

"Hei Robert, bisa nggak kamu dateng ke tavern Paman Paul?"

"Oooh, tavern milik paman kedua rekanmu itu ya? Siap aku akan datang."

Theo segera memberitahu Robertus jadwal acara makan malamnya.

"Besok ya, ok. Oiya, ini." Robertus memberikan sebuah belati kepada Theo.

"Aku sudah punya, tapi... Makasih," ucap Theo sambil menunjukkan kukrinya.

"Belati jelek itu? Buang aja, ini belati yang jauh lebih kuat. Lihat!"

Robertus mengambil kukri Theo, lalu ia memotongnya dengan belati yang ia buat.

Sreet

Aneh, kukri itu terpotong seperti mentega.

"Gila, baiklah. Oiya, ini hadiah perpisahan ku untuk kalian."

Theo mengeluarkan sebuah tong besar wine.

"Aku sengaja merahasiakannya dari Paul, jadi kalian bisa minum sepuasnya." Theo menempelkan telunjuknya di bibir, lalu ia berpamitan dengan Robertus.

"Ku rasa, sampai sini dulu. Hati-hati."

Kebetulan, Silas dan Lucy keluar dari kuil.

"Theo!" mereka melambaikan tangan ke arah Theo, lalu mereka pulang bersama dengan Theo.

"Hah... Hari yang indah," ucap Theo saat Theo sedang mandi.

"Kakak, tenang saja kak. Nggak ada musuh sama sekali. White bakal jaga kakak, hehehehe."

Theo mengelus White, "White pintar ya."

"Hehehe."

Theo segera terlelap, tenggelam dalam lautan bunga tidur.

"Argh... Sialan, kenapa kamu nggak bunuh monster itu?" Sosok gabungan antara ayah, ibu, dan adik Theo muncul dengan wajah penuh darah.

"Ayah! Ibu! Sayang!" Theo terbangun, ia merasa bahwa ia sudah sangat linglung.

"Hah, hah.. Hah hah... apa itu?" tanya Theo kepada dirinya sendiri.

Tok tok tok

Pintu kamar berbunyi.

"Theo, ini Lucy. Kamu kesusahan tidur ya? Aku masih punya obat yang kemarin kalau mau."

Theo merasa lega, lalu ia membuka pintunya.

"Lucy." Entah apa yang ada di pikiran Theo, dia memeluk Lucy dengan erat.

"Eh? Theo?" muka Lucy memerah, dirinya tidak dapat menolak pelukan itu.

"Lucy..." Entah kenapa, Theo semakin mempererat pelukannya.

Ketika Theo mendapatkan kesadarannya, dia segera menjauh dari Lucy.

"Maaf! Maafkan aku telah melecehkan dirimu."

Theo berlutut, lalu ia memohon ampun.

"Bangunlah Theo, jujur aja... Aku menyukainya."

"Benarkah? Tadi aku habis mimpi buruk, entah kenapa rasanya keluargaku menjadi monster mereka... Mati."

Lucy tidak melakukan apa-apa. Ia hanya memeluk Theo lagi, tapi kali ini Lucy mengelus dan memijat punggung Theo.

"Tenanglah Theo, mereka pasti aman."

"Tapi..."

"Kalau begitu, mau aku beri obat yang kemarin? Tenang saja, aku yakin obat ini sangat manjur."

Lucy segera menutup jendela, lalu ia menyalakan dua batang wewangian.

"Selamat tidur, sayang."

Cup

Lucy mengecup kening Theo, mengira Theo sudah tidur.

'Ha? Jadi... Dia?'

Wajah Theo memerah, "Bagaimanapun, Lucy itu cantik."

Theo kemudian tertidur, anehnya kali ini tidak ada mimpi atau apapun.

Ketika pagi tiba, Theo segera bangun dan membereskan kasurnya.

"Memang, obat dari Lucy sangatlah luar biasa."

Di saat Theo sedang membereskan kasurnya, Theo dapat merasakan mata kirinya menjadi sakit.

"Argh..."

Seketika, pandangan Theo bubar. Mukanya menjadi pucat, lalu Theo tergeletak.

Bruk

Theo terbangun di sebuah ruangan besar yang mewah.

"Hahaha, sekarang ada orang yang dapat membangkitkan kekuatanku."

"Hei, namamu siapa? Theo?"

Theo tidak dapat menjawab suara itu, ia hanya mengangguk.

"Kalau begitu, terimalah kekuatan ini."

Syut

Sebuah benang merah terbang dan menempel di dahi Theo.

"Ini?"

"Tenang saja, nanti kau akan dapat kekuatanku."

Wung wung wung wung

Benang itu mulai terbang, lalu terserap ke dahi Theo. Setelah itu, ruang di sekitar Theo terlihat terdistorsi.

"Selamat datang, wahai master ruang dan waktu yang baru."

Theo tiba-tiba tersadar di atas lantai. Di sekitarnya, telah berdiri Silas, Paul, dan Lucy.

"Theo!" Lucy segera memeluk Theo yang mulai sadar.

"Wah, matamu sudah tidak merah." Silas langsung memukul pundak Theo.

"Ehm." Paul yang melihat Lucy memeluk Theo segera batuk.

"Bilang saja dia pacarmu." Paul pergi keluar sambil terkekeh.

"Paman!" Lucy segera melepas pelukannya, lalu ia pergi dengan sedikit kesal.

"Baiklah, Kalau begitu... Ayo kita pergi."

"Maaf, aku mau mengurus beberapa hal." Theo menepis ajakan Silas, lalu ia masuk ke ruang jiwanya ..

"Kakak... Buah sudah banyak." Cutie memanggil Theo dengan wajah ceria.

"Wah, kamu sudah semakin besar ya. Oiya aku mau panen buah dulu."

"Cutie sudah panen, Hore."

Theo mengelus lebah besar itu, lalu ia mengikuti lebah itu.

Banyak, buah itu menumpuk banyak.

"Gila, kamu memanen ini sendiri?"

"Umm... Teman-teman ada di sini."

Wuung

Sekelompok lebah besar datang, mereka mengambil buah madu yang tersisa dan menghisap nektar bunga yang ada.

Tidak lama, bunga yang dihisap berubah menjadi buah, sedangkan buah yang sudah dipanen berubah jadi bunga.

"Gila, sekarang aku bisa produksi masal wine. Tapi... Aku akan membuat cuka dulu."

Theo segera mengeluarkan biji buah, lalu memerasnya.

Setelah masuk ke tong, Theo memasukan air cuka yang dia buat sebelumnya.

"Ok, sekarang... Waah."

Theo melihat bahwa ia dapat merasakan aliran waktu lebih kompleks.

"Ini?"

Theo sedikit mengubah aliran waktu. Setelah mencoba, ia sekarang mampu memutar balik waktu.

Setelah selesai bermain dengan waktu, Theo segera mengatur waktu di tong dan keluar dari ruang jiwa.

"Mari kita bersiap."

Theo segera turun ke bawah, lalu ia meminta Paul menyiapkan meja besar untuk makan malam besar nanti.

"Baiklah, Oiya ini endapan sisa dari wine, mu. Kemaren waktu aku coba liat masih ada sisa sebotol."

"Hahaha, buat kamu aja deh paman. Anggap kenang-kenangan sebelum kita berpisah."

Paman Paul tersenyum sambil mengusap pundak Theo, "Haha, bisa aja. Daripada ini... Aku boleh minta biji pohon buah itu?"

"Mmm..."

'Memangnya bakal bisa tumbuh di sini ya? Itu kan buah dari hutan. Masa di sini tumbuh? Soalnya kan beda suhu sama kelembapan,' Pikir Theo.

"Berat ya? Aku paham sih, soalnya itu kan sumber penghasilan, mu." Paul berbicara seolah memahami Theo.

"Mmm... Gimana kalau..."

...****************...

End Ch. 24 : Sayang

Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment, dan favorit ya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!