NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan Teh Imah

Setelah melangkah cukup jauh, mereka akhirnya sampai di sebuah warung kecil yang ditandai dengan cahaya neon yang cerah, sebuah pemandangan yang sangat menyegarkan setelah melewati jalur bambu yang gelap. Seorang wanita ramping yang mengenakan daster batik dengan senyum lebar menyapa mereka dari balik kaca etalase.

“Eh, kalian pastinya mahasiswa yang berencana tinggal di rumah tua itu, ya? Sini masuk. Saya Teh Imah. Pak RT sudah memberi tahu bahwa kalian akan datang.”. Kata wanita itu dengan nada ramah khas.

Teh Imah dengan cepat mengambil beberapa botol minyak tanah dan jerigen kecil dari belakang warung. Sambil melayani, dia terus mengobrol dengan ceria, membuat ketegangan yang mereka alami mulai menghilang.

“Inilah minyaknya, asli kok, apinya pasti bagus. Dan kalian tadi mau lampu, kan? Tunggu sebentar, saya ambil lampu yang watt-nya paling tinggi supaya rumahnya tidak terasa menyeramkan.” Teh Imah mengungkapkan dengan tawa kecil, meski Bagas hanya bisa membalas dengan senyum yang tampak kurang tulus.

“Terima kasih banyak, Teh. Maaf ya kami datangnya sudah hampir malam seperti ini,”. Kata Adrian sambil mulai mengecek barang-barang yang mereka beli.

“Ah, gak masalah, saya senang melihat anak muda di sini. Semoga kampung ini kembali hidup. Tapi ingat ya, kalian berhati-hati saja di rumah kolonial itu. Jika butuh sesuatu, atau mendengar suara-suara aneh, datang ke sini saja, saya sudah terbiasa dengan cerita-cerita seperti itu.” Jawab Teh Imah sambil mengemas beberapa bungkus mie instan, kopi, dan perlengkapan mandi ke dalam tas plastik besar.

“Maksud teteh cerita yang bagaimana, ya?” Dinda yang sedang memilih pembersih lantai langsung menoleh.

“Oh, gak maksud saya suara tikus atau kayu yang lapuk. Itu semua karena bangunan tua. Sudah, ini belanjaannya, jangan lupa panasin airnya sebelum diminum, ya!” Teh Imah hanya mengangkat tangannya sambil tersenyum dengan makna yang tidak langsung.

Kedekatan Teh Imah memberi mereka sedikit ketenangan, meskipun di balik keramahan itu terdapat peringatan lembut yang membuat Adrian merenungkan kembali tentang apa yang sebenarnya mereka hadapi di desa ini.

Bagas yang masih penasaran dan merasa pusing karena aroma di gerbang tadi, tidak bisa menahan diri untuk mengajukan pertanyaan. Sambil menerima kembalian dari Teh Imah, dia memberanikan diri untuk bertanya.

“Eh, Teh, tadi pas kita jalan ke sini, kita lewat gerbang besi besar yang baunya menyengat. Itu sebenarnya tempat pembuangan sampah atau apa, Teh? Kenapa baunya berbeda dari kebersihan di desa ini?”. Tanya Bagas sambil kadang menutup hidungnya, seolah ingatan akan bau itu masih tertinggal.

Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Teh Imah yang sedang merapikan toples kerupuk tiba-tiba terhenti sejenak. Ekspresi wajahnya yang sebelumnya ceria sedikit berubah, meskipun dia segera memaksakan senyumnya kembali.

“Oh, itu... itu bukan masalah besar, Jang Bagas. Itu hanya tempat warga membuang sisa-sisa dari kebun dan limbah desa. Memang baunya tidak sedap, terutama jika angin bertiup kencang ke arah jalan,”. Jawab Teh Imah dengan suara yang terdengar lebih ringan, seolah ingin mengganti topik.

“Tapi, Teh, tadi saya lihat ada kain kuning di tiangnya. Sepertinya ada sesuatu di dalamnya.” Dinda kemudian menambahkan,

"Oh, Neng Dinda lihat kain kuning. Itu hanya tanda supaya orang gak sembarangan masuk. Saya sarankan kalian tidak pergi ke sana ya. Selain baunya yang gak enak, tempat itu juga kotor, banyak lintah sehabis hujan. Sebaiknya kalian fokus pada kegiatan KKN saja. Hindari tempat itu, apalagi sore hari seperti sekarang." Teh Imah tertawa sedikit, tetapi matanya tidak terlihat bahagia.

Adrian memperhatikan reaksi Teh Imah yang defensif namun tetap berusaha sopan. Dia merasakan ada sesuatu yang ingin disembunyikan di balik alasan bau dan lintah yang disebutkan.

"Sudah, Gas, Teh Imah benar. Bau seperti itu juga tidak baik untuk kesehatan jika kita bertahan di sana terlalu lama tanpa masker,". Ujar Adrian berusaha menengahi.

"Terima kasih, ya, Teh, atas informasi yang diberikan." Ucap Adrian dan pamit meninggalkan warung.

"Ya, lebih baik segera pulang, semakin gelap. Kita harus ingat pesan Tet Imah, langsung masuk rumah dan jangan pernah melihat ke gerbang itu lagi saat lewat!". Teh Imah mengangguk tegas, tampak lega karena Adrian menghentikan pembicaraan itu.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!