Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Sudut Jalan Jakarta dan Tatapan yang Meluluhkan
Pintu mobil SUV listrik mewah Mahendra Motors tertutup dengan suara gedebuk halus yang mantap, langsung mengunci mati semua kebisingan, kilatan kamera wartawan, dan jeritan histeris Mirna di belakang mereka. Kabin mobil itu begitu lapang, kedap suara, dan diterangi lampu interior redup berwarna hangat yang seketika menenangkan mata. Di dalam ruang pribadi yang bergerak ini, kemarahan yang tadinya membakar dada Kirei perlahan berubah menjadi rasa lelah yang teramat sangat.
Kirei menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk. Blazer hitam tegap yang tadi dia pakai sebagai lapisan bajunya sudah tersampir di sudut kursi, mengekspos bahu rampingnya yang bergaun sabrina hitam. Napasnya masih agak memburu, sisa adrenalin dari aksi pelabrakan di butik tadi masih terasa bergetar di ujung jemarinya.
Vaxerion tidak langsung menyalakan mesin mobil. Pria dua puluh tujuh tahun itu melepas dasi kupu-kupu tuksedonya dengan satu tangan, melemparnya asal ke atas dasbor, lalu memutar tubuh tegapnya sepenuhnya menghadap Kirei. Di dalam kabin yang sunyi dan remang itu, jarak di antara mereka mengikis habis. Aroma parfum kayu cendana yang maskulin dan bersih dari tubuh Vaxerion mendadak memenuhi indra penciuman Kirei.
"Tanganmu masih dingin," suara berat Vaxerion mengalun tenang, memecah keheningan.
Tanpa menunggu izin, tangan besar Vaxerion yang hangat bergerak meraih kedua telapak tangan Kirei, membungkusnya dalam satu genggaman yang erat dan kokoh. Jempolnya yang kasar karena sering bersentuhan dengan mesin-mesin pabrik bergerak dengan sangat lembut, mengusap punggung tangan Kirei dengan gerakan memutar yang sabar. Sentuhan kulit yang begitu dewasa, penuh rasa aman, dan sarat akan perlindungan itu seketika mengirimkan gelombang getaran asing yang bikin dada Kirei berdesir hebat.
"Aku bisa mengatasi mereka sendiri tadi, Vaxerion," kata Kirei, suaranya agak parau. Gengsi lamanya sebagai CEO Zhaklyn Mobile mencoba bertahan, walau dia sama sekali tidak menolak saat Vaxerion terus menghangatkan tangannya. "Aku bukan gadis kecil lima tahun lalu yang cuma bisa diam dan pasrah waktu dilempar uang di atas tanah berlumpur."
Vaxerion tidak membantah. Dia justru tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat menawan, yang selalu sukses membuat Kirei salah tingkah. Pandangan matanya yang jernih dan tajam menatap lurus ke dalam manik mata Kirei dengan binar kekaguman yang begitu pekat dan telanjang.
"Aku tahu kamu kuat, Kirei. Aku tahu kamu wanita hebat yang bisa menghancurkan mereka sendirian hanya dengan otak cerdasmu," bisik Vaxerion lembut, suaranya terdengar sangat romantis, mengalun rendah di kabin yang kedap. Dia mencondongkan wajahnya sedikit lebih dekat, membuat Kirei bisa merasakan embusan napas pria itu yang hangat di kulit wajahnya. "Tapi punya pasangan yang bisa diandalkan itu bukan berarti kamu lemah. Itu artinya, kamu nggak perlu lagi menghadapi dunia yang kejam ini sendirian. Mulai malam ini, biar aku yang jadi bentengmu di depan umum, dan kamu cukup jadi ratu yang menentukan hukumnya."
Mendengar rayuan romantis yang keluar dari mulut seorang pria dewasa yang biasanya dingin dan kaku di ruang rapat, pertahanan es di hati Kirei rasanya benar-benar runtuh tanpa sisa. Tenggorokannya tercekat, matanya mendadak terasa panas karena rasa terharu yang teramat sangat. Seumur hidupnya sejak jatuh miskin, Kirei selalu dipaksa menjadi tameng dan berdiri paling depan untuk melindungi Rian dan Oma. Baru malam ini, ada seorang pria yang dengan tulus menawarkan diri untuk berdiri di depan posisinya, menanggung badai bersamanya tanpa merenggut kemandiriannya.
"Kamu... kenapa selalu tahu cara bikin aku nggak berkutik?" bisik Kirei jujur, air mata harunya hampir menetes ke pipi.
Vaxerion terkekeh rendah, suara tawa yang begitu serak, seksi, dan menenangkan di telinga Kirei. "Keistimewaan itu cuma berlaku untukmu, Kirei. Sekarang, mari kita lupakan bajingan-bajingan di dalam butik tadi. Aku sudah siapkan makanan yang jauh lebih baik."
Dari kompartemen pendingin khusus di kursi belakang mobil, Vaxerion mengeluarkan sebuah kotak kayu elegan berisi hidangan makan malam premium yang sengaja dia pesan dari restoran privat terbaik. Ada steik daging sapi yang masih mengepulkan uap hangat dan potongan buah ceri segar kesukaan Kirei.
Mereka makan malam bersama di dalam mobil yang terparkir di bawah temaram lampu sudut jalan Jakarta yang sepi sisa hujan sore. Tanpa pelayan, tanpa protokol bisnis yang kaku. Hanya ada dua manusia nyata yang sedang bertukar cerita. Kirei tertawa lepas saat menceritakan kekonyolan daster batik milik Sherly dan bagaimana Rian merusak blender Oma. Vaxerion mendengarkannya dengan tatapan mata yang begitu dalam, teduh, dan memuja—sejenis tatapan yang sanggup membuat seluruh rasa sakit di masa lalu Kirei menguap begitu saja. Malam itu, di dalam mobil SUV mewah tersebut, Kirei menyadari bahwa dia telah menemukan rumah sejati tempat hatinya bisa bersandar dengan aman.
Namun, ketenangan manusiawi itu tidak bertahan lama. Saat Vaxerion baru saja menyalakan mesin mobil untuk mengantarnya kembali, ponsel di dalam tas Kirei mendadak berdering dengan sangat keras, merusak atmosfer magis di antara mereka. Layarnya menyala terang, menampilkan barisan nomor dan nama yang sudah lama dia hapus secara permanen dari memorinya.
Reza Pratama.
Bersambung...