"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Malam telah larut ketika lift pribadi menuju penthouse Arvin Dewangga berdenting pelan. Arvin melangkah keluar dengan raut wajah yang lebih gelap dari langit Jakarta.
Pekerjaannya di kantor sedang kacau, beberapa tender besar mengalami hambatan, dan pikirannya terus menerus dipenuhi oleh bayangan Zoya dan buku beludru pemberian Liam malam itu.
Namun, saat pintu apartemen terbuka, bukan aroma masakan rumah yang hangat atau lampu ruang tengah yang menyambutnya.
Arvin menghentikan langkahnya di ambang pintu. Dahinya berkerut. Biasanya, jam berapa pun ia pulang, Zoya selalu memastikan ada lampu yang menyala. Biasanya, ada aroma rempah atau setidaknya secangkir kopi hangat yang sudah disiapkan di atas mesin pemanas.
"Zoya?" panggilnya, suaranya menggema di ruangan yang luas itu.
Tidak ada jawaban.
Rasa kesal mulai merayap di dada Arvin. 'Apakah dia sedang protes ?' pikirnya. Arvin melempar tas kantornya ke sofa dengan kasar. Ia merasa martabatnya sebagai tuan rumah sedang ditantang. Ia berjalan menuju dapur, berniat menuangkan air minum sendiri, namun langkahnya terhenti saat melihat meja makan.
Kosong. Bersih. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana sejak tadi siang.
"Luar biasa," gumam Arvin sinis. "Baru kularang bertemu pria itu, sekarang dia mogok menjalankan tugasnya? Benar-benar keras kepala."
Dengan emosi yang mulai memuncak, Arvin melangkah menuju kamar Zoya di lantai bawah. Ia tidak mengetuk pintu. Ia langsung memutar kenop dan mendorongnya terbuka dengan kasar.
"Zoya! Apa ini caramu membalas ucapanku semalam? Dengan mengabaikan tanggung jaw..."
Kalimat Arvin terputus di udara.
Cahaya lampu dari lorong masuk ke dalam kamar yang remang-remang itu, menampakkan sosok Zoya yang bergelung di bawah selimut tebal. Tubuhnya tampak sangat kecil di tengah ranjang.
Zoya tidak mengenakan cadarnya, wajahnya sebagian tertutup oleh mukena yang ia gunakan untuk shalat Isya, yang sepertinya tidak sanggup ia lepas karena tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit.
Arvin mendekat, niatnya untuk memaki hilang seketika saat mendengar suara napas yang pendek dan berat.
"Zoya?" suara Arvin melunak, meski masih terdengar kaku.
Ia mengulurkan tangan, menyentuh kening Zoya. Detik itu juga, Arvin menarik tangannya kembali karena terkejut. Kulit Zoya terasa seperti bara api. Panas sekali.
"Zoya, bangun," Arvin mengguncang bahu istrinya pelan.
Zoya mengerang lirih. Matanya terbuka sedikit, tampak sayu dan kemerahan. Bibirnya yang biasanya tenang kini pecah-pecah dan pucat. Ia menatap Arvin, namun pandangannya tampak kosong, seolah ia tidak benar-benar mengenali siapa yang ada di depannya.
"Mas... haus..." bisik Zoya, suaranya nyaris hilang.
Arvin terpaku. Untuk pertama kalinya, Zoya memanggilnya 'Mas' tanpa embel-embel 'Tuan'. Meski itu mungkin karena ketidaksadaran akibat demam, ada sesuatu yang bergetar di dalam hati Arvin. Rasa sesak yang asing, yang selama ini ia kunci rapat-rapat, tiba-tiba menyeruak.
Ia segera berlari ke dapur, mengambil segelas air hangat dan sebuah handuk kecil beserta baskom berisi air. Saat kembali ke kamar, ia mendapati Zoya sedang menggigil hebat meski sudah diselimuti.
"Duduklah sedikit, minum ini dulu," Arvin membantu mengangkat kepala Zoya, menyandarkannya di lengan kokohnya.
Zoya meminum air itu dengan rakus, tangannya yang gemetar tanpa sengaja menyentuh tangan Arvin. Arvin terdiam melihat betapa kurusnya pergelangan tangan wanita ini.
Ia baru sadar, selama seminggu terakhir, Zoya mengurus rumah ini sendirian tanpa asisten, mengerjakan tugas kuliah hingga dini hari, dan menanggung beban emosional dari cacian yang ia lontarkan setiap hari.
Zoya adalah manusia, bukan robot. Dan ia baru saja meruntuhkan kekuatannya.
Setelah Zoya kembali berbaring, Arvin duduk di tepi ranjang. Ia memeras handuk kecil, lalu perlahan menempelkannya di kening Zoya. Ia melakukannya dengan sangat canggung, seolah-olah ia sedang memegang benda pecah belah yang sangat rapuh.
Ruangan itu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding. Arvin menatap wajah Zoya tanpa cadar untuk waktu yang lama.
Selama ini ia menolak untuk melihat, menolak untuk mengakui keanggunan yang terpancar dari garis wajah wanita di depannya. Zoya sangat cantik, kecantikan yang jujur, tanpa riasan berlebih.
Tiba-tiba, Zoya mulai meracau dalam igauan demamnya.
"Maaf... Ayah... Zoya gagal..."
Arvin mengernyit. "Kau tidak gagal, Zoya. Tidurlah."
Zoya menggelengkan kepalanya dengan gelisah di atas bantal. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Arvin kembali menyeka wajah istrinya dengan lembut. Namun, kata berikutnya yang keluar dari bibir Zoya membuat tangan Arvin membeku di udara.
"Liam... bukunya..." bisik Zoya lirih. "Liam... jangan... Pak Hamzah... tugasnya belum..."
Darah Arvin seolah berhenti mengalir. Rasa iba yang tadi menyelimutinya sekejap menguap, digantikan oleh rasa panas yang membakar dadanya. Cemburu. Sebuah perasaan yang ia anggap terlalu rendah untuk pria sepertinya, kini mencengkeramnya dengan sangat kuat.
'Bahkan dalam kondisi sekarat pun, kau memikirkan dia ?' batin Arvin geram.
Ia meletakkan handuk itu ke dalam baskom dengan suara cipratan yang cukup keras. Egonya kembali terluka.
Ia merasa dikhianati lagi, meski ia tahu Zoya mungkin menyebut nama itu karena beban tugas kuliah yang belum selesai, bukan karena cinta. Tapi bagi Arvin, penyebutan nama pria lain di depannya adalah sebuah penghinaan.
"Kenapa harus dia, Zoya?" desis Arvin, matanya menatap tajam ke arah Zoya yang masih terpejam. "Kenapa kau harus menyebut namanya saat aku yang sedang mengurusmu di sini?"
Arvin berdiri, hendak meninggalkan kamar itu karena merasa muak. Namun, tepat saat ia berbalik, tangan kecil Zoya yang panas meraih ujung jubah tidurnya.
"Jangan pergi... Mas... dingin..."
Arvin membeku. Ia menoleh ke bawah, melihat jemari Zoya yang mencengkeram kain jubahnya dengan sangat erat, seolah-olah ia adalah satu-satunya pegangan Zoya agar tidak tenggelam dalam kegelapan.
Rasa marah Arvin bertarung hebat dengan rasa asing yang mendesak di dadanya. Ia ingin melepaskan tangan itu dan pergi, namun tubuhnya justru bergerak sebaliknya. Ia kembali duduk, bahkan kali ini ia membiarkan Zoya menggenggam tangannya.
"Aku di sini," ucap Arvin singkat, suaranya parau.
Sepanjang malam itu, Arvin tidak kembali ke kamarnya di lantai atas. Ia duduk di kursi di samping ranjang Zoya, mengganti kompres setiap setengah jam, dan memastikan suhu tubuh istrinya mulai turun. Ia terjaga dalam kemarahan yang tertahan, namun juga dalam pengabdian yang tidak ia sadari.
Pukul empat pagi, demam Zoya mulai mereda. Napasnya sudah lebih teratur. Arvin yang kelelahan akhirnya tertidur dengan kepala bersandar di tepi ranjang, tangannya masih digenggam oleh Zoya.
Saat cahaya pagi pertama masuk ke kamar, Zoya perlahan membuka matanya. Rasa pening masih menyerang kepalanya, namun tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Ia merasakan ada sesuatu yang berat di tangannya.
Zoya menunduk, dan jantungnya nyaris berhenti berdetak.
Di sana, Arvin Dewangga, sedang tertidur dalam posisi yang sangat tidak nyaman di sampingnya. Wajah Arvin tampak damai saat tidur, tidak ada gurat kesombongan atau kedinginan yang biasa ia tunjukkan.
Zoya menyadari ada handuk kecil di keningnya dan baskom di atas nakas. 'Dia merawatku? Semalaman ?'
Air mata Zoya jatuh tanpa suara. Ia merasa bingung. Arvin adalah pria yang menghancurkan hatinya berkali-kali, namun di saat ia paling lemah, Arvin pula yang ada di sampingnya.
Zoya memberanikan diri, ia mengulurkan tangannya yang bebas dan dengan sangat pelan menyentuh rambut Arvin yang sedikit berantakan. Ia ingin merasakan keberadaan suaminya, meski ia tahu saat Arvin bangun nanti, dinding es itu akan kembali tegak.
Tiba-tiba, mata Arvin terbuka.
Zoya segera menarik tangannya dengan panik. Arvin mengerjapkan mata, menyadari di mana ia berada. Ia segera berdiri tegak, merapikan jubahnya dengan gerakan cepat yang kikuk.
"Kau sudah bangun?" tanya Arvin, suaranya kembali dingin dan kaku, seolah-olah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
"Iya, Tuan. Terima kasih sudah... merawatku," ucap Zoya pelan, ia kembali menarik selimutnya ke atas, menutupi wajahnya karena merasa malu tidak mengenakan cadar di depan Arvin dalam kondisi sadar.
Arvin berdehem, ia melihat ke arah lain. "Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya tidak ingin ada mayat di apartemenku. Itu akan sangat merepotkan urusan polisi dan media."
Zoya terdiam. Sakit di hatinya ternyata lebih perih daripada demam semalam.
"Oh, dan Zoya," Arvin berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak tanpa berbalik. "Lain kali, kalau kau mau mengigau, jangan sebut nama pria itu. Itu menjijikkan."
Arvin melangkah keluar dan membanting pintu.
Zoya terpaku. 'Liam? Aku menyebut nama Liam ?' Ia membenamkan wajahnya di bantal, merutuki ketidaksadarannya.
Ia tahu, setelah ini, Arvin akan semakin sulit untuk didekati. Kecemburuan yang tidak diakui itu akan menjadi badai baru yang jauh lebih besar.
Di luar kamar, Arvin menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong. Jantungnya berdetak kencang. Ia benci betapa rapuhnya ia semalam, dan ia lebih benci lagi karena ia menyadari satu hal, ia tidak bisa membiarkan Liam atau siapa pun mengambil tempat di ingatan Zoya, bahkan dalam mimpi sekali pun.
Arvin merogoh ponselnya, menghubungi asistennya. "Batalkan semua rapat pagi ini. Dan cari jadwal dokter pribadi keluarga, bawa dia ke apartemenku sekarang. Istriku sedang sakit."
Meskipun mulutnya berkata tajam, tindakannya mulai berkhianat. Dan Arvin Dewangga sedang dalam bahaya besar, kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
...----------------...
To Be Continue .....