Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Ingatan Luvya Asli
Malam telah melarut di Kuil Penitensi. Kamar asrama yang sempit itu hanya diterangi oleh sebuah lampu tempel di dinding. Sebuah wadah kuno yang berisi lilin besar di dalamnya, dengan penutup kaca yang membuat pantulan cahayanya berpendar ke seluruh ruangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di langit-langit batu.
Luvya duduk di tepi ranjang kerasnya, sementara Emily duduk di depannya, mendengarkan cerita singkat yang baru saja Luvya bagi, tentu saja versi yang sudah disaring oleh Lily.
"Jadi... ternyata kau disiksa oleh Duke Vounwad dan diasingkan ke sini?" Emily menghela napas panjang, matanya menyiratkan rasa iba yang dalam. "Wajar saja jika anak seusiamu sudah masuk ke sini. Awalnya aku terus berpikir kejahatan apa yang kau lakukan sampai bisa berada di sini."
Luvya menatap tangannya yang kecil. "Lalu, aku harus bagaimana sekarang?"
Emily tersenyum tenang, sebuah senyuman yang seolah sudah terbiasa dengan keputusasaan. "Terima saja, Luvya. Lagipula, di sini kita tidak disiksa. Kita hanya diminta berlaku baik untuk menebus dosa. Setiap kejahatan atau kesalahan yang kita bawa dari dunia luar akan diampuni oleh Dewa."
Emily mendekat sedikit, suaranya merendah. "Tidak ada yang akan tahu dosa kita di sini, kecuali Bapak. Setiap orang yang baru masuk, diwajibkan menceritakan dosanya kepada Bapak untuk diberi arahan. Beliau adalah jembatan kita menuju ampunan."
Luvya mendengus, kilat amarah muncul di matanya. "Tapi aku sama sekali tidak berdosa sehingga harus masuk ke sini! Aku dikirim ke sini karena siasat pria monster itu, bukan karena aku melakukan kejahatan!"
Emily tidak tampak kaget dengan bantahan Luvya. Ia justru mengusap bahu Luvya dengan lembut. "Kalau begitu, ceritakan saja apa yang terjadi padanya. Pasti Bapak akan mengerti. Beliau sangat bijaksana. Jika kau memang tidak bersalah, mungkin beliau punya cara untuk membantumu."
"Emily, apa kau punya pena dan kertas yang bisa kupinjam?" tanya Luvya tiba-tiba sebelum Emily benar-benar merebahkan diri.
Emily menoleh, sedikit terkejut. "Pena? Oh, kebetulan aku punya beberapa lembar kertas dan pena bulu yang jarang kupakai. Ambillah." Emily menyerahkannya dengan cuma-cuma, lalu ia kembali ke ranjangnya dan segera terlelap, meninggalkan Luvya sendirian dalam kesunyian.
Luvya duduk di kursi kayu yang keras, menyalakan lampu teplok kecil di atas meja. Cahaya oranyenya bergoyang pelan saat Luvya mulai menggoreskan pena. Ia harus mencatat semuanya. Ingatan manusia bisa memudar, dan di tempat seperti ini, informasi adalah nyawa.
1. Kedatangan Kael (Check).
Pengasingan ke Kuil Penitensi (Check).
Bergabung dengan sekte terlarang demi kekuatan.
Usia 19 tahun: Membunuh Bapak (Imam) untuk kabur.
Tangan Luvya berhenti sejenak. Ia menuliskan nama-nama kunci lainnya dengan tinta yang lebih tebal.
Putra Mahkota, Arken Carius. Pria yang seharusnya menjadi pelabuhan cinta Luvya, namun juga menjadi awal kehancurannya. Di sebelahnya, ia menulis nama Sellia Hastelle, sang pahlawan wanita yang ditakdirkan memiliki kekuatan untuk meredam mana Arken yang tidak stabil.
"Aku tidak akan jatuh cinta pada Arken," bisik Luvya pada kegelapan. "Cinta adalah bahaya yang akan membawaku ke tiang gantungan."
Ia kemudian menuliskan nama Lucius, kakak dari Lucian. Di dalam novel, Lucius adalah partner kejahatan Luvya, sekutu yang sama gelapnya. Namun, pion terkuat yang ia miliki di akhir cerita adalah Kael.
Luvya menuliskan catatan kecil di bawah nama Kael: Hantu Pedang. Dia akan mewarisi gelar Duke Vounwad dan merasa sangat bersalah padaku karena hal itu. Gunakan rasa bersalahnya sebagai senjata, tapi dengan hal baik.
Luvya terdiam, menatap nama Kael yang baru saja ia tulis. Bayangan anak laki-laki introvert yang pendiam namun menatapnya dengan tajam di arena latihan itu kembali muncul.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Kael?" gumam Luvya pelan. "Si anak introvert itu... apakah dia sedang berlatih pedang? Apakah dia memenuhi janjinya?"
Bayangan Kael yang menatapnya dengan kelingking yang saling tertaut muncul di benaknya. Di tempat yang asing dan panas ini, ingatan tentang Kael adalah satu-satunya hal dingin yang terasa menyejukkan.
Luvya terdiam, jemarinya mengelus permukaan meja kayu yang kasar. Sebuah keraguan tiba-tiba muncul di hatinya. Ia menatap pantulan dirinya yang samar di cermin kecil di sudut meja—wajah Luvya yang masih belia dan rapuh.
"Jika nanti... jika suatu saat Luvya yang asli kembali untuk mengambil alih tubuhnya," bisik Luvya dengan nada cemas, "apakah semuanya akan baik-baik saja? Apakah aku sudah menyiapkan tempat yang aman untuknya?"
Ada rasa takut menyelinap di dadanya. Lily tidak ingin merusak hidup Luvya lebih jauh. Ia justru ingin membangun benteng pertahanan agar jika sang pemilik asli kembali, ia tidak perlu lagi merasakan cambukan Duke atau kedinginan di pengasingan. Ia juga tidak mau sampai Luvya menjadi jahat hanya karena sebuah cinta.
Luvya segera melipat kertas itu menjadi bagian kecil dan menyembunyikannya dengan sangat rapi di dalam saku rahasia di balik bajunya. Ia meniup lampu teplok, membiarkan kegelapan menelan seluruh kecemasannya.
Luvya terlelap dalam keheningan yang menyesakkan, namun kesadarannya tidak benar-benar padam. Ia mendapati dirinya kembali berdiri di ruang hampa yang gelap gulita. Tidak ada ujung, tidak ada pangkal.
Apakah ini mimpi lagi? batinnya waspada. Mimpi di mana aku melihat Luvya.
Benar saja, beberapa langkah di depannya, sosok Luvya asli sedang bersimpuh. Bahunya berguncang hebat, isak tangis yang pilu memecah kesunyian ruangan itu. Kalimat yang sama kembali terucap dari bibirnya yang pucat, "Tolong aku... tolong aku..."
Kali ini, Lily tidak hanya diam mematung. Dengan langkah ragu namun pasti, ia mendekat. Ia mengulurkan tangan kecilnya, menyentuh bahu Luvya asli yang terasa sedingin es.
"Luvya..." bisiknya lembut.
Luvya asli tidak menoleh, namun tangisannya mereda. Dengan jemari yang gemetar, ia menunjuk ke arah satu titik cahaya kecil yang muncul di tengah kegelapan yang tak berujung. Cahaya itu awalnya redup, namun tiba-tiba melesat liar, mengejar Luvya dengan kecepatan tinggi.
Wush!
Cahaya itu menghantam dada Luvya tepat di ulu hati. Rasa panas yang membakar menjalar ke seluruh sarafnya. Luvya merasa kepalanya seolah ditarik paksa ke dalam sebuah gulungan film yang kacau.
Gambaran-gambaran menyakitkan mulai berputar cepat di benaknya. Ia melihat bagaimana Duke Vounwad tertawa dingin saat cambuk mendarat di punggung Luvya yang kecil. Ia merasakan dinginnya lantai penjara mansion saat Luvya dibiarkan kelaparan berhari-hari. Ia mendengar jeritan batin Luvya yang menangis setiap malam di bawah selimut lusuh, memohon agar pagi tidak pernah datang.
Semua rasa sakit, keputusasaan, dan memori tentang pengasingan yang kejam itu masuk dan menyatu dengan ingatan Lily.
"Ah—!"
Luvya tersentak bangun. Napasnya tersengal-sengal, memburu udara seolah ia baru saja tenggelam di lautan ingatan yang kelam. Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya. Ia melirik ke arah jendela, langit di luar masih berwarna kelabu kebiruan, matahari baru saja bersiap untuk terbit.
Ia memegangi kepalanya yang berdenyut kencang. "Ingatan Luvya asli..." gumamnya dengan suara gemetar.
Luvya masih syok. Setiap jengkal rasa sakit yang dirasakan pemilik tubuh asli kini tersimpan rapi di dalam otaknya. Ia mengingat semuanya, sedikit demi sedikit, potongan-potongan penting yang pernah dialami Luvya mulai terbuka.
"Aku mengingatnya... setiap detail penyiksaan itu, setiap tetes air matanya. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Luvya menatap telapak tangannya yang gemetar. "Kenapa dia memberikannya padaku sekarang?"
Luvya menyadari sesuatu. Ini bukan sekadar mimpi. Luvya asli telah memberikannya kunci untuk memahami rasa benci yang sesungguhnya.
Di sela-sela rasa peningnya, sebuah kilasan gambar kembali muncul di benak Luvya. Kali ini bukan tentang cambukan atau tangisan, melainkan sebuah ruangan yang asing. Ruangan itu terlihat lembap, dengan dinding batu yang kasar dan berlumut. Di sudut ruangan, tertutup oleh bayangan yang pekat, terdapat sebuah tangga batu yang menurun tajam menuju kegelapan bawah tanah.
Luvya mengerutkan kening, mencoba memfokuskan pikirannya, namun gambar itu segera memudar begitu ia mencoba mencerna detailnya.
"Tangga rahasia ke bawah tanah?" bisik Luvya pada kesunyian pagi. "Di mana ruangan itu? Aku tidak pernah melihatnya di lantai ini."
Ingatan itu begitu samar, seperti melihat objek di balik kabut tebal. Luvya yakin, ini bukan sekadar sisa-sisa memori traumatis. Luvya yang asli seolah sengaja menunjukkan sesuatu kepadanya secara bertahap.
Dia ingin aku menemukan tempat itu, batin Lily. Tapi kenapa? Apa yang dia sembunyikan di bawah tanah Kuil Penitensi? Apakah itu kunci pelarianku, atau justru rahasia paling kelam yang dimiliki si Imam?
Lily menyadari bahwa keberadaannya di sini bukan lagi sekadar soal "bertahan hidup sampai umur 19". Ada sesuatu yang harus ia pecahkan sebelum terlambat.
"Baiklah, Luvya," gumamnya sambil menatap fajar yang mulai menyingsing di cakrawala. "Aku akan mengikuti petunjukmu. Aku akan mencari tangga itu, satu langkah demi satu langkah."
......................
Beberapa hari telah berlalu sejak kedatangan Luvya di Kuil Penitensi. Alih-alih terlihat murung atau ketakutan seperti pendatang baru lainnya, Luvya justru menjadi pusat perhatian, dalam artian yang sangat positif.
"Wah, Luvya... tanganmu ini punya sihir apa? Enak sekali," gumam salah satu wanita paruh baya sambil memejamkan mata, menikmati pijatan jemari kecil Luvya di bahunya yang kaku setelah seharian menyulam.
"Benar, anda sangat terampil, Jiwa Kecil," sahut yang lain dengan nada kagum.
Luvya hanya tersenyum manis, senyum yang terlihat polos di mata mereka. Namun di dalam hatinya, ia tertawa geli.
Tentu saja enak. Ini mungkin aktivitas memijatku yang ke-9.999 kalinya. Di duniaku dulu, aku sudah khatam memijat punggung nenek setiap sore sampai jariku kuat begini, batin Luvya.
"Kalian tidak perlu memanggilku dengan sebutan 'anda' yang terlalu formal," ucap Luvya lembut sambil terus menggerakkan jemarinya. "Panggil saja aku 'kau' atau 'Luvya'. Aku merasa seperti memiliki banyak kakak di sini."
Mendengar itu, para wanita di sana langsung luluh. Mereka merasa iba sekaligus sayang pada anak sekecil ini yang begitu rendah hati. Luvya tidak berhenti di situ. Ia sangat cekatan dalam mencuci tumpukan pakaian di sungai, menyapu halaman taman marmer sampai tidak ada sehelai daun pun yang tersisa, bahkan membantu di dapur.
Setiap kali mereka memujinya, Luvya akan tertawa dalam hati lagi.
Pekerjaan ini terlalu mudah, pikirnya santai.
Sebagai seseorang yang terbiasa mengurus segala pekerjaan rumah tangga secara mandiri di kehidupan sebelumnya, tugas-tugas di kuil ini tidak ada apa-apanya dibandingkan harus mengejar deadline pekerjaan atau membersihkan rumah sendirian.
Namun, di balik semua kebaikan dan kerajinannya, mata Luvya tetap waspada. Setiap kali ia menyapu lorong atau menjemur pakaian, ia selalu memperhatikan sudut-sudut bangunan. Ia mencari dinding yang lembap, batu yang berlumut, atau sudut gelap yang sesuai dengan ingatannya yang samar.
Ia sedang membangun reputasi sebagai "anak emas" di kuil ini. Karena semakin mereka memercayainya, semakin lebar jalan bagi Luvya untuk mencari tangga rahasia itu tanpa ada yang berani menuduhnya macam-macam.
Luvya menyadari sesuatu yang krusial. Selama hari-harinya menjadi "anak rajin", ia sudah menyapu hampir setiap sudut, mencuci di dekat sumur tua, hingga mengelap pilar-pilar marmer di koridor terjauh. Namun, tidak ada satu pun tempat yang cocok dengan kilasan ingatannya tentang tangga lembap itu.
Kecuali satu tempat yang tidak pernah ia jamah yaitu ruangan Bapak. Area itu adalah wilayah privat Imam, tempat di mana bilik pengakuan dosa berada dan di mana keheningan terasa lebih mencekam daripada bagian kuil lainnya.
Kalau tangga itu memang ada, pasti di sana tempatnya. Ruangan yang paling tertutup biasanya menyimpan rahasia yang paling gelap, batin Luvya sambil mengeratkan pegangan pada gagang sapunya.