NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan Telah Kembali

“Mari kita pulang,” ujar William setelah memastikan seluruh dokumen di meja kerjanya telah selesai. Pria itu berjalan keluar dengan langkah kaki tegas. Soren tidak membantah dan mengikutinya dari belakang, menjaga jarak tanpa mencoba menyamai langkahnya.

“Oh … apakah Tuan Kolonel masih ingat jalan pulang? Kupikir kau terlalu lama singgah di rumah wanita lain sampai lupa di mana rumahmu,” sindirnya dengan nada santai. William hanya menghela napas sembari menggeleng. Suara sepatu botnya terus bergema di sepanjang koridor, teratur dan tidak berubah.

“Aku bukan pria yang mencari kesenangan dari wanita,” balas William setelah beberapa saat diam. Nadanya tetap datar, tanpa emosi.

Aveline mengangguk pelan. “Ya … bagaimanapun juga, wanita mana yang mau menikahi pria batu sepertimu.” Ia melirik singkat. “Kurasa hewanpun masih punya pilihan.”

“Sepertinya Lady sangat berharap aku akan menelantarkanmu di tengah jalan malam ini,” balas William dengan nada tajam, tanpa menoleh sedikit pun. Soren sempat berhenti sesaat, lalu memalingkan wajah sambil berdecak pelan, seolah tidak tertarik memperpanjang ucapan itu.

Namun ia sama sekali tidak mundur. Soren justru menarik tangan pria itu dan mendorong tubuhnya hingga berhenti di samping mobil. Gerakannya cepat dan jelas, tanpa ragu. Tatapannya dingin dan lurus, sementara William membalasnya tanpa perubahan ekspresi, tetap berdiri dengan sikap yang sama.

“Kau benar-benar berpikir bisa mengaturku?” tanyanya rendah. Suaranya tidak keras, tetapi tekanannya jelas. William tetap pada posisi dan sikapnya, tidak bergerak sedikitpun. Pandangannya tertuju pada rambut wanita itu yang tersapu angin malam, sebagian menutupi sisi wajahnya. Tatapannya berubah jelas—tidak lagi ragu, melainkan keras dan penuh tekanan, menunjukkan emosi yang ditahan.

Mata ambernya seolah menolak menghindar. Wajahnya terlihat kesal meski hanya ada guratan-guratan tipis, tetapi cara bicaranya tetap terkendali, seperti peringatan yang disampaikan tanpa perlu diulang.

Beberapa detik berlalu. Sudut bibir William sedikit terangkat, nyaris tidak terlihat.

Dengan cepat ia meraih pergelangan tangan Aveline. Gadis itu langsung mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman itu tidak longgar. Tekanannya cukup kuat untuk menghentikan gerakannya tanpa memiliki kesan kasar. Aveline masih berusaha menarik tangannya, tetapi tidak berhasil.

William mendorongnya masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan satu gerakan pasti. Setelah itu, ia beralih ke sisi lain, membuka pintu, lalu duduk di kursi kemudi tanpa mengatakan apapun.

Mobil langsung bergerak begitu pintu tertutup. Mesin berdengung stabil, roda melaju tanpa hentakan. Di dalam, heningnya terasa berat, bukan karena sepi, tapi karena tidak ada yang berniat memecahnya lebih dulu.

Aveline duduk tegak tanpa bersandar. Tangannya sempat bergerak kecil, memutar pergelangan seperti mengingat tekanan yang baru saja ia rasakan. Ia tidak langsung bicara, hanya melirik sekilas ke arah William sebelum kembali menatap ke depan.

“Cengkeramanmu cukup kuat,” ucap Aveline, nadanya ringan seolah hanya komentar biasa.

“Apakah Tuan Kolonel memang terbiasa memperlakukan wanita seperti itu?” William tidak menoleh. Tangannya tetap pada kemudi, tanpa berpindah sedikitpun.

“Hanya saat diperlukan saja.”

Aveline tersenyum sinis, seakan tidak percaya dengan jawaban itu. “Atau saat kehilangan kendali?”

Mobil tetap melaju memecahkan keheningan malam. Tanpa merusak suasana sengit yang terasa begitu nyata di antara kedua orang itu.

“Kau terlalu banyak bicara malam ini,” balas William tenang.

Aveline menarik tubuhnya menjauh dari William. Belum genap satu hari ia menempati tubuh ini, namun kendali dirinya yang biasanya tidak perduli pada apapun, kini terasa rapuh hanya dengan berada di dekat pria itu.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dada. Apa yang sebenarnya membuatnya begitu geram? Apakah cara William menanggapinya yang selalu menyebalkan, atau memang pria itulah sumber dari segala masalah?

Sempat terlintas rasa iba di hati Soren melihat nasib gadis yang terpaksa menikah dengan orang seperti William. Namun pikiran itu segera ia buang jauh-jauh. Tak ada gunanya bersimpati, karena kini dialah yang berada di posisi itu.

Sebagai seorang pembunuh bayaran, Soren tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini. Menjadi seorang istri adalah hal yang asing baginya, bahkan konsep hubungan semacam itu saja sulit ia pahami.

Akhirnya ia untuk memilih diam. Kepalanya menoleh ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota yang berderet rapi. Cahaya itu indah dan tertata, namun baginya tak ada yang istimewa jika dibandingkan dengan kemegahan kota Vienna.

Mobil terus melaju membelahi distrik Silvercrest, melewati gedung-gedung megah yang diterangi cahaya elegan. Hening kembali menyelimuti kabin, hanya bersahutan dengan dengungan mesin yang stabil, membuat suasana terasa semakin kaku.

Pintu gerbang terbuka lebar oleh seorang pelayan yang segera memberi jalan saat mobil mereka mendekat. Cahaya lampu menerangi halaman luas bergaya Eropa klasik modern. Bangunan itu besar dan simetris, dengan garis arsitektur yang tegas tanpa hiasan berlebihan.

Aveline menatap dinding rumah yang tampak dingin dan formal. Deretan jendela tinggi tersusun rapi, sementara pintu utama yang besar memberikan kesan kaku. Rumah ini lebih mirip markas atau kediaman pejabat militer daripada rumah bangsawan yang mewah dan hangat.

Mobil berhenti tepat di depan tangga. Tanpa menunggu William, Aveline langsung membuka pintu dan turun. Pelayan itu sempat melirik, namun tatapannya berubah saat melihat sosoknya yang berjalan tegak dengan seragam militer masih melekat sempurna di tubuh.

Aveline menaiki tangga dan melewati teras. Tangannya meraih gagang pintu, mendorongnya terbuka, dan melangkah masuk dengan langkah pasti. Namun, saat dirinya berdiri tepat di depan pintu ....

Tububnya tiba-tiba saja seseorang dengan kasar menyiramkan seember air ke arahnya.

Ia terkejut dan refleks memejamkan mata. Dalam sekejap tubuhnya basah kuyup, air menetes jatuh membasahi lantai marmer yang dingin.

“Dasar anak selir tidak tahu diri! Tuan Marquis membiarkanmu menikah dengan seorang perwira bukan berarti kau bisa bertindak sesuka hati dan pergi seenaknya!”

Suara itu terdengar tajam, penuh nada merendahkan.

Menahan rasa tak nyaman yang ia alami sejak menempati tubuh ini, Aveline perlahan membuka mata. Di hadapannya berdiri seorang kepala pelayan wanita dengan rambut disanggul rapi. Ia mengenakan gaun panjang berwarna navy tua dan apron putih yang diseterika licin. Penampilannya modern namun sangat kaku dan formal.

Pandangan Aveline beralih ke pelayan-pelayan lain yang sudah menunduk ketakutan. Salah satu gadis muda berambut dikepang yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Nona ....”

Gadis itu mendekat dengan suara bergetar, tangannya menyentuh lengan Aveline dengan ragu, seakan sangat lega melihat tuannya kembali.

Belum sempat kepala pelayan itu melanjutkan makiannya, sebuah bayangan tinggi muncul dari balik pintu. Suara langkah sepatu bot yang berat terdengar jelas menghampiri.

William—Letnan Kolonel yang selama tiga bulan tidak pernah muncul sejak malam pernikahan—kini berdiri di sana.

Kepala pelayan itu ternganga, tubuhnya menegang ketakutan disertai para pelayan lain yang juga ikut membeku.

“Tu–Tuan Kolonel ....”

 

Para pelayan yang semula sempat terdiam shok seketika bergerak serempak seolah mereka dikendalikan oleh satu perintah. Tubuhnya membungkuk sangat dalam, sebagai tanda penghormatan tertinggi, lalu satu per satu berlutut rapi di atas lantai marmer yang dingin. Tidak ada satupun yang berani mengangkat wajah, sehingga suasana hening yang mencekam langsung menyelimuti ruangan itu.

“Hormat kami, Tuan Kolonel!”

“Selamat datang kembali, Tuan!”

Suara mereka terdengar serempak namun tertahan di tenggorokan, seolah takut suara sedikit saja terlalu keras akan memancing kemurkaan. Bahkan napas mereka pun seakan ditahan-tahan, demi menjaga agar diri mereka sendiri tidak menjadi sasaran kemarahan.

Di antara barisan itu—Ines Voss, nama dari si kepala pelayan ikut berlutut dengan gerakan yang terburu-buru. Punggungnya berusaha tetap tegak demi menjaga wibawa sebagai kepala pelayan, meski kedua tangannya yang menyentuh lantai sudah terlihat jelas gemetar hebat. Wajahnya yang tadi penuh otoritas dan keangkuhan kini berubah pucat pasi dan kaku.

“Tuan … sa–saya tidak tahu jika Anda akan kembali hari ini,” ucapnya terbata-bata, namun segera memaksa suaranya terdengar stabil dan masuk akal. “Maafkan atas kelancangan saya. Hal itu terpaksa saya lakukan hanya untuk mendisiplinkan Nona Aveline.”

William tidak menjawab sepatah katapun. Ia bahkan tidak melirik sedikitpun ke arah Ines yang sedang memohon. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan datar bagaikan es, namun ada aura dominan yang dipancarkannya yang membuat udara di ruangan itu terasa begitu berat dan sulit untuk dihirup.

Mendengar alasan yang dibuat-buat dan terdengar begitu munafik itu, Soren—wanita itu hanya tersenyum miring. Sebuah senyuman yang sangat tipis, namun penuh akan ancaman dan kekejaman.

Tanpa terburu-buru, ia ikut berlutut. Lututnya menyentuh lantai yang masih basah oleh genangan air tadi, namun ia sama sekali tidak menunjukkan rasa tidak nyaman sedikitpun. Kepalanya sedikit terangkat, dan matanya langsung mengunci tajam pada sosok Ines.

“Berani sekali kau menyiramku,” ujarnya, suaranya terdengar pelan, tenang, namun setiap kata terasa sangat tajam menusuk telinga. “Kau pikir aku ini apa? Mainan yang bisa kau perlakukan sesuka hatimu?”

Ines segera menatap Aveline dengan tatapan sayu dan memelas, seolah berusaha berpura-pura menjadi pihak yang paling tersakiti demi menarik simpati siapapun yang ada di sana. Ia menurunkan pandangannya, lalu mengangkatnya lagi dengan gerakan yang sangat hati-hati.

Di sekitar mereka, para pelayan lain tetap menunduk ketakutan. Tubuh mereka tegang menahan napas, beberapa jari terlihat gemetar hebat.

“Maafkan saya, Nona … Saya sungguh tidak melihat Anda—”

Belum sempat Ines menyelesaikan kalimatnya.

Tangan Aveline bergerak sangat cepat tanpa peringatan sama sekali. Jemarinya mencengkeram kuat akar rambut Ines dan menariknya dengan kasar hingga kepala wanita itu mendongak. Sanggul rapi yang sedari tadi ia jaga dengan bangga seketika berantakan, rambut hitamnya jatuh keluar dari tatanan dan menutupi sebagian wajahnya yang kini berubah panik.

Tubuh Ines tersentak keras, belum sempat menyeimbangkan diri atau memprotes, Aveline sudah menariknya berdiri secara paksa dan menyeretnya beberapa langkah hingga punggung wanita itu menempel keras pada dinding.

Bug!

Tanpa ragu sedikit pun, Aveline menghantamkan kepala pelayan wanita itu ke tembok.

Suara benturan tersebut terdengar sangat jelas, keras dan memekakkan telinga. Tidak perlu diulang, satu kali saja sudah cukup membuat tubuh Ines limbung dengan kepala yang terasa seperti berputar. Darah segar langsung mengalir keluar dari pelipisnya, menetes ke bawah dan meninggalkan noda merah yang mengerikan di dinding putih gading yang tadinya bersih dan megah.

Napas Ines tercekat, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit yang luar biasa, namun ia tidak berani melawan atau berteriak lebih keras.

Beberapa pelayan tak kuasa menahan teriakan kecil kaget. Ada yang menutup mulutnya agar tidak bersuara, ada juga yang menunduk semakin dalam hingga dahi hampir menyentuh lantai, air mata mereka akhirnya jatuh membasahi pipi namun tetap tak ada yang berani bersuara.

Di sisi ruangan, William tetap diam tak bergeming.

Pria itu hanya bersandar santai pada ujung meja. Tangannya merogoh saku jas, mengambil sebatang rokok. Dengan gerakan yang sangat tenang dan lambat, ia menyalakan api, lalu menghisapnya perlahan. Asap tipis mengepul keluar dari bibirnya, menyebar perlahan di udara, seolah apa yang terjadi di depannya bukanlah kekerasan, melainkan sebuah tontonan hiburan yang cukup menarik minatnya.

Tatapannya tetap kosong namun tajam, mengamati setiap gerakan Aveline tanpa berkedip. Tidak ada niat menghentikan, tidak juga menunjukkan reaksi terkejut. Justru di sudut matanya yang dingin itu, terselip kilatan puas seolah ia senang melihat betapa kasarnya tangan istrinya memperlakukan pelayan yang lancang itu.

Mata Ines membulat ketakutan. Ia sadar betul, ada sesuatu yang sangat berbeda dari wanita di hadapannya sekarang. Sorot mata Aveline tidak lagi lemah dan penakut seperti yang ia kenal selama ini.

Panik, Ines mencoba menjatuhkan diri kembali ke lantai untuk memohon ampun.

“Tolong … Nona! Ampuni saya … saya tidak bermaksud—”

Namun Aveline tidak memberinya kesempatan.

Ia kembali mencengkeram rambut wanita itu dan menyeretnya keluar dari ruangan dengan langkah santai tapi pasti, membuat setiap hentakan kakinya terasa seperti malaikat pencabut nyawa. Anehnya, katika ia berjalan, Soren seakan begitu hafal setia sudut rumah, sehingga membuat kakinya bergerak sendiri ke arah ruangan yang ia tuju.

Kakinya melewati koridor panjang tanpa henti. Para pelayan lain hanya bisa menyingkir ketakutan, tidak ada yang berani menghalangi langkahnya.

Pintu dapur didorong terbuka keras.

Aveline langsung berhenti di depan wastafel besar. Tangannya memutar keran hingga air mengalir deras, memenuhi bak cuci piring itu dengan cepat hingga hampir meluap.

Tanpa ampun, ia menekan kepala Ines ke bawah hingga wajah wanita itu tenggelam sepenuhnya ke dalam air.

“Maafkan saya, Aghhh ... Nona!”

Suara permohonan itu langsung terputus, tertelan oleh air yang memenuhi mulut dan hidungnya.

Tubuh Ines meronta hebat. Tangannya mencengkeram tepi wastafel sekuat tenaga, kakinya bergeser-geser kehilangan keseimbangan, napasnya mulai tersengal mencari oksigen yang tak kunjung didapat.

Tetapi wanita itu sama sekali tidak menghiraukannya, melainkan menarik kepala sang kepala pelayan keluar dengan kasar.

Ines terbatuk-batuk keras, air menetes dari mulut dan hidungnya, wajahnya sudah memerah padam dan pucat bergantian.

“Nona, tolong. Saya mohon … ampuni—”

Belum selesai.

Kepalanya kembali didorong masuk dengan kuat.

Membuat airnya lagi-lagi menutupi seluruh suaranya yang hanya menimbulkan gelembung-gelembung udara pecah di atas permukaan.

Ditarik keluar.

Didorong masuk lagi.

Ditarik keluar.

Dan didorong masuk lagi.

Aveline melakukannya berulang-ulang dengan ritme yang sama. Tidak terburu-buru, namun juga tidak memberi belas kasihan sedikitpun. Setiap kali Ines mencoba bicara atau memohon, wajahnya langsung kembali ditenggelamkan.

“Tu–Tuan ...!”

Lagi dan lagi.

Perlawanan Ines mulai melemah drastis. Tangannya yang mencengkeram tepi wastafel kini terkulai lemas. Tubuhnya gemetar tak berdaya, napasnya sudah kacau balau, siap melayangkan nyawanya kapan saja.

Aveline terus mengulanginya.

Satu, dua, tiga hingga dikeenam kalinya.

“Cukup.”

Suara itu terdengar dari arah pintu.

Bukan teriakan ataupun bentakan. Melainkan suara yang tenang dan datar, namun memiliki kekuatan untuk menghentikan seluruh aktivitas di ruangan tersebut.

Namun, reaksi wanita itu seakan tidak berniat untuk menghentikan gerakannya.

Napas gadis itu terdengar sedikit lebih berat, tangannya masih mencengkeram kuat rambut Ines, namun tekanannya perlahan ia kendurkan.

Ia menarik kepala wanita itu keluar dari air untuk terakhir kalinya.

Wajah Ines sudah pucat pasi, air menetes terus dari ujung rambut dan dagunya. Tubuhnya lemas tak bertulang, hanya bisa tergantung dipegang oleh Aveline sambil terus terbatuk-batuk mencari udara.

Tanpa berkata apa-apa, tangannya yang ramping akhirnya melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh itu menjauh. Membuat Ines jatuh tersungkur di lantai dapur. Sang kepala pelayan tak mampu lagi berdiri, ia hanya bisa meringis lemah di sana.

Sementara Aveline hanya berdiri mematung, tanpa reaksi emosi apapun.

Ia kemudian menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Tidak ada gemetar ataupun keraguan pada dirinya. Wajah itu tetap datar karena ia bisa mengontrol emosinya dalam waktu singkat, seolah tangan yang baru saja melakukan kekejaman pada seorang pelayan, bukanlah tangannya sendiri. Bagi seseorang yang terbiasa berjalan di antara batas hidup dan mati, sikap lancang hanyalah sebuah kesalahan yang harus dihapus dengan cepat. Tatapannya kosong, namun di dalamnya tersimpan dingin yang tak seorangpun berani mendekat.

Dia sama sekali tidak berniat menoleh ke belakang.

Tapi Aveline tahu persis. William kini berdiri tepat di ambang pintu, menyaksikan segalanya hingga akhir. Asap rokok masih mengepul tipis, menyamarkan separuh wajahnya, membuat ekspresinya sulit diterka.

Hening menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Hingga akhirnya, suara berat pria itu memecah kebisuan. Nada bicaranya datar namun membawa tekanan yang tak terlihat.

“Teruskan saja jika itu memang keinginanmu”

William berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke arah punggung wanita itu.

“Sepertinya ... kau berniat untuk membunuhnya.”

.

.

.

Bersambung

Eisenhall —> Kediaman William

1
Norris Yuniarty
seru2 let's go💪💪💪
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!