Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Makam Kuno (bagian keempat)
Jiu Xiao melirik Su Ying dengan sisa-sisa amarah di matanya, lalu memalingkan wajah kembali ke arah Zhao Yun. "apa maksudmu? Bukankah seharusnya gadis ini yang membawa pisau itu?"
"Hehehehe...apa mata dewamu sudah serusak itu?" sahut Zhao Yun, suaranya mengandung nada ejekan yang tajam. "mana mungkin benda yang sangat berharga itu di jaga oleh seorang gadis yang sama sekali tidak memiliki kekuatan dewa?"
Zhao Yun melangkah perlahan menghampiri Su Ying. Ia menatap gadis itu dengan serius sejenak, menelusuri ketakutan di wajahnya. Lalu kemudian dia tersenyum puas, sebuah senyuman yang sulit di artikan.
"Gadis ini hanyalah kambing hitam. Dia adalah korban dari tipu daya dewa rakus yang dulu mengabdi pada Mahadewi Xuan Nu," lanjut Zhao Yun.
"Taotie Zhen?" ucap Jiu xiao lirih. Ia terdiam beberapa saat, seolah nama itu membawanya kembali ke kenangan masa lalu, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya dengan nada penuh kebencian. "rupanya...makhluk rakus itu belum mati."
"jadi...apakah kau sekarang sudah paham?" tanya Zhao Yun, suaranya terdengar dingin dan penuh keyakinan. "jika kau menginginkan pisau pemotong segel sutra pengikat roh itu, maka temukanlah Taotie Zhen. Biarkan gadis ini menjadi umpan untuk menangkap makhluk rakus itu."
Zhao Yun melirik Su Ying dengan tatapan yang sulit di artikan, lalu kembali menatap Jiu Xiao dengan seringai tipis. "lagipula, gadis ini telah mengikat kontrak denganku. Hanya aku yang berhak atas dirinya."
"Tapi...jika gadis ini bukan keturunan Mahadewi Xuan Nu, bagaimana bisa dia membuka pintu masuk makam ini?" tanya Jiu Xiao. Dari sikapnya, ia tampak belum sepenuhnya memercayai perkataan Zhao Yun. "makam ini di rancang hanya untuk merespons mereka yang memiliki garis keturunan para dewa. manusia biasa seharusnya tidak bisa membuka pintu makam ini."
Zhao Yun tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan melingkari Su Ying, memandangi gadis itu seolah-olah dia adalah sebuah teka-teki yang menyenangkan untuk di pecahkan.
"Kau ada benarnya Jiu Xiao. Secara teknis, hanya darah murni Xuan Nu yang bisa membuka makam ini. Tapi...gadis ini bukanlah keturunan Mahadewi Xuan Nu." ucap Zhao Yun sembari menggosokkan dagunya. Ia mencoba memecahkan teka-teki dan akhirnya tiba pada kesimpulannya, "sepertinya gadis ini punya hubungan dengan Taotie Zhen. Makhluk rakus itu mungkin menggunakan gadis ini untuk mengelabuhi para Dewa dan petinggi neraka."
Zhao Yun berhenti sejenak, membiarkan keheningan aula menekan mental Jiu Xiao. "Jiu Xiao, kamu membutuhkan pisau itu untuk kebebasanmu. Jika kita bekerja sama, maka kita akan sama-sama untung. Kau mendapatkan pisau itu, sedangkan aku...aku menginginkan Mahadewi Xuan Nu dan Taotie Zhen. Bagaimana?"
Jiu Xiao tidak langsung menjawab. ia menatap Zhao Yun dengan tatapan curiga sebelum akhirnya tertawa lepas. Suaranya yang menggelegar membuat seisi aula bergetar hebat. "hahahahaha...apa kamu ingin aku bekerja sama dengan iblis sepertimu?."
Zhao Yun menatapnya tajam, seringai tipisnya menghilang. "Apa kau punya pilihan lain? Begitu aku melangkah keluar, kau akan tetap membusuk di sini selamanya. Entah seratus atau seribu tahun lagi, belum tentu ada 'kebetulan' seperti hari ini. Apakah kau cukup sabar untuk menunggu selama itu?."
Setelah berkata demikian, Zhao Yun berbalik. Ia melangkah dengan tenang seolah benar-benar akan meninggalkan tempat itu. Jiu Xiao terdiam, perasaanya berkecamuk antara harga diri dewa dan kenyataan pahit yang baru saja di dengarnya.
Baru beberapa langkah Zhao Yun melangkah, suara Jiu Xiao yang berat menghentikannya. "Tunggu !"
"Jadi...bagaimana rencanamu?" tanya Jiu Xiao, Kali ini sikapnya terlihat patuh. Ia tidak punya pilihan lain selain percaya dengan iblis di hadapannya.
Zhao Yun tersenyum puas. Kerut tipis di sudut bibirnya menandakan kemenangan telak dalam perundingan dengan salah satu dewa tertinggi dari langit kesembilan. Ia melangkah mendekat ke arah Su Ying, yang kini tampak seperti domba kecil di tengah dua serigala.
"Gadis inilah rencanaku," ujar Zhao Yun sembari menunjuk Su Ying dengan ujung kipasnya. "Jika kesimpulanku benar bahwa Taotie Zhen menggunakannya, maka dewa rakus itu pasti sedang mengawasinya. Aku akan memancingnya masuk ke dalam perangkapku, dan setelahnya, aku membutuhkanmu untuk menyelesaikan sisanya."
Zhao Yun menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Dewa rakus memiliki kekuatan sihir yang hampir setara dengan para dewa tertinggi. Dengan kekuatanku saat ini, tidak mungkin bagiku untuk menang menghadapinya secara langsung. Tapi... Jika aku berhasil memancingnya ke aula ini, ceritanya akan berbeda. Kau dengan kekuatan tempurmu, pasti bisa mengalahkannya dengan mudah."
...****************...