NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Lagi

Cintai Aku Sekali Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.



Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.


Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.


Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.


Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?


Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?


Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

#14

Taksi yang membawa Ersha dan Abizar, berhenti perlahan di depan rumah Abah Husain dan Ummi Fitria. Hari sudah hampir maghrib, Ersha turun dari dalam taksi dengan perasaan was-was, karena pulang dengan membawa berita yang tidak enak didengar. Perceraian. 

“Bu, kopernya?”

Ucapan sopir taksi membuyarkan lamunan Ersha. “Tolong, Pak. Bawakan ke teras.” 

“Baik, Bu.” 

Setelah selesai, Ersha tak lupa memberikan uang tip pada pak sopir yang telah membantunya. 

Kedua tangannya terasa dingin, perasaan gugup yang ia tahan dari rumah, kini tumpah di depan pintu rumah orang tuanya. Perlu waktu beberapa saat sampai Ersha benar-benar berani mengetuk pintu rumah orang tuanya. 

Tok! 

Tok! 

“Assalamualaikum.” 

Terdengar bunyi pintu terbuka, dan kursi yang saling bergesekan dengan lantai. “Waalaikumsalam,” jawab Abah Husain. 

Pintu itu pun terbuka, pandangan Abah Husain terlihat bahagia kala melihat anak dan cucunya berdiri di hadapannya. Tapi raut bahagia itu memudar setelah melihat keberadaan dua koper besar yang datang bersama dengan Ersha. 

“Abah,” sapa Ersha, suaranya nyaris hilang, karena ia menahan tangis kesedihan. 

Dengan lembut Abah Husain membimbing anak dan cucunya masuk ke dalam rumah. “Nanti kita bicara, Abah mau ke masjid dulu.” 

“Iya, Bah.” 

Abah Husain menyeret koper-koper Ersha, lalu bergegas melangkah ke masjid yang berada tak jauh dari rumah. 

“Bah, ada tamu, ya—”

“Ummi—” 

Melihat keberadaan Ummi Fitria, Ersha segera melangkah masuk ke pelukan wanita itu. “Ersha, kamu kenapa?” 

“Maafkan aku, Ummi. Aku— aku—” Ersha tak sanggup melanjutkan ucapan. Karena tangisnya terus berdesakan keluar, hingga saluran nafasnya sesak karena tersumbat lendir dan air mata. 

Tak perlu banyak bahasa untuk mengungkapkan kesedihan Ersha, isak tangis sedihnya sudah cukup untuk menggambarkan betapa putrinya sedang mengadukan beban berat yang menghimpit dadanya. 

Tangisan Ersha mulai mengusik ketenangan Abizar, bocah lucu yang sejak satu jam lalu tertidur, kini membuka mata. “Eh— Ma—” 

“Sholatlah dahulu, agar pikiran dan perasaanmu tenang.” 

•••

Di tempat lain. 

“Assalamualaikum.” 

“Waalaikumsalam,” jawab Firza, ia melangkah ke teras dan melihat Mamak Karmila berdiri di hadapannya. 

“M-Ma-mak,” sapa Firza terbata, bingung, kenapa disaat begini kedua orang tuanya justru datang menghampiri? 

Firza segera meraih tangan Mamak Karmila lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu, “Mak, kok nggak berkabar dulu?” 

“Perasaan Mamak sedang kepikiran anak dan istrimu, perasaan Mamak tak enak, sepertinya pengen buru-buru datang. Makanya tadi siang, Mamak ajak ayahmu kemari, urusan toko biar diurus pegawai saja,” 

Firza menelan ludahnya kasar, otaknya berputar memikirkan alasan pas yang nanti akan ia kemukakan pada kedua orang tuanya. “Firza, Ayah parkir mobil di depan pagar, tak apa-apa, kah?” 

“O-oh, iya, Yah. Sekalian saja dimasukkan ke halaman.” 

Ayah Ismail ikut datang menghampiri, sama seperti Mamak Karmila, Firza pun mencium punggung tangan sang ayah. 

“Nanti saja, ah, Ayah kangen anakmu. Mana Abizar?” 

Deg! 

“Eh, entah, Mak, Yah, aku juga baru pulang, tapi mereka tak ada di rumah. Mungkin masih perjalanan pulang.” 

Mamak Karmila mengernyit heran, apa iya? Batinnya penuh tanya. Mamak Karmila merasa tak salah pilih menantu, dan juga ia sendiri yang menasehati Ersha, kemanapun ia melangkah pergi sebaiknya atas izin suami dan kembali sebelum maghrib. Kecuali, bila pergi ke luar bersama suaminya. 

“Oh, begitu. Yah, tolong oleh-oleh Mamak tadi di keluarkan saja, nanti Biru juga mampir, pas Mamak bilang Mamak bawa rendang kesukaannya.” 

Ayah Ismail berputar kembali ke mobil, dan mengeluarkan barang bawaan yang telah dipersiapkan istrinya. 

Ketika kedua orang tuanya sholat maghrib, Firza coba menghubungi Ersha, namun, beberapa kali panggilan, tidak beroleh jawaban. Atau mungkin wanita itu sengaja tak menjawab? 

“Kemana, dia?” gumam Firza gelisah tak tahu harus beralasan apa. 

Hingga pandangan matanya tanpa sengaja mengarah pada secarik kertas yang ada di atas meja kerjanya. 

Dengan penuh rasa ingin tahu, Firza membuka lipatan kertas tersebut. 

Terima kasih, untuk tiga tahun kebersamaan kita, meski pada akhirnya hanya aku sendiri yang menyimpan rasa cinta. 

Tapi, aku sudah mengikhlaskannya, sebagai bentuk ibadahku sebagai seorang istri, dan juga ibu. 

Aku pulang, Bang. Ke rumah Abah dan Ummi. 

Aku rasa sebaiknya kita tidak tinggal satu atap, meski agama memperbolehkannya. 

Sejujurnya, aku tak sanggup lagi. Melihatmu ada didekatku, tapi hatimu tak pernah seutuhnya menjadi milikku. 

Untuk terakhir kalinya, aku mohon agar Abang juga ridho dengan jalan yang aku pilih saat ini. 

Tes! 

Air mata menetes, lengan dan bahunya lemas lunglai, kemudian menjuntai begitu saja di kedua sisi tubuhnya. 

Firza tak tahu, untuk apa air mata ini mengalir. Padahal keegoisannya yang membuat semua ini terjadi. Andai ia tak memiliki niat menduakan Ersha, tentulah saat ini hidupnya masih akan tenang dan baik-baik saja. Tenang, sebagaimana hakikat sebuah pernikahan. 

Menikahlah engkau, bila ingin hidupmu merasa tenang dan tentram. 

Tok! 

Tok! 

“Firza.” 

Suara Mamak Karmila di depan pintu, membuatnya tersadar bahwa ia sibuk menghubungi Ersha, hingga lupa belum melaksanakan sholat maghrib. “Sebentar, Mak. Aku sholat maghrib dulu,” katanya dari balik pintu. 

Tak sanggup membayangkan wajah sedih mamaknya, bila nanti tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

“Hmm,” sahut Mamak Karmila. 

Beberapa saat berlalu. 

Usai mandi kilat dan menjalankan sholat, Firza pun keluar dari kamar, mau tak mau, suka atau tidak, pilihan sudah dibuat, maka kini tak ada pilihan selain jujur pada kedua orang tuanya. 

Mamak Karmila masih sibuk melongok ke pintu, bila mendengar suara kendaraan melintas di depan rumah, barangkali cucu dan menantunya tiba. Nyatanya hanya harapan kosong belaka, yang dinanti tak kunjung datang. 

“Sebenarnya, kemana istri dan anakmu? Kenapa mereka belum kembali? Dan sepertinya kau tenang-tenang saja!” 

Mamak Karmila mulai bertanya dengan nada seperti penyidik, insting keibuannya, kegelisahannya, tak mungkin datang tanpa ada alasan apa-apa. 

Ayah Ismail pun melihat gelagat aneh di wajah putranya, tak biasanya Firza menunduk terus-terusan bila berhadapan dengannya seperti saat ini. Disamping itu, bahasa tubuh Firza pun terlihat tak nyaman. 

“Sebenarnya—” 

Firza mulai bersuara, namun, dihalangi oleh keragu-raguan. 

Mamak Karmila dan Ayah Ismail, menunggu dengan sabar, tak ingin tergesa-gesa menyimpulkan. 

“Ersha— ada di rumah Abah dan Ummi,” ungkap Firza, setelah begitu lama mempertimbangkannya. 

“Lho? Kenapa? Apakah Abah atau Umminya sakit? Kenapa kau masih di sini, alih-alih ikut menjenguk kedua orang tua istrimu?” 

Begitulah wanita, pertanyaannya begitu banyak dan tercetus dengan detail yang tidak disangka-sangka sebelumnya. 

“Kami, sepakat mengakhiri pernikahan, Mak. Yah.” 

Dhuar! 

Laksana mendengar gelegar petir, sepasang pasutri itu, hanya bisa terdiam, mencoba menelaah dengan cermat ucapan putranya. 

“A-apa? Apa Mamak tak salah dengar?” 

Gelengan kepala Firza menjadi jawaban.

“Kenapa?!” tanya Ayah Ismail, suaranya terdengar berat dan juga tegas. 

“Jawab!” ulang Ayah Ismail dengan emosi yang nyata terlihat, karena Firza tak kunjung bersuara. 

“Karena aku— aku tak bisa melupakan kekasihku, dan Ersha tak mau dimadu.” 

Plak! 

Jawaban yang sungguh jujur, tapi cukup untuk melukai perasaan Mamak Karmila dengan telak. Hingga wanita itu melayangkan tamparan untuk putra yang selalu ia bangga-banggakan itu. 

“Seberapa istimewa wanita itu, hingga kamu ingin menyandingnya pula, sementara di sisimu sudah ada wanita shalihah?” desis Mamak Karmila. 

“Ini bukan soal istimewa atau tidak, Mak. Tapi, aku tak mau lagi kehilangan dia untuk kedua kalinya,” sergah Firza, berharap Mamak Karmila mendukung perasaannya. 

Tak mau membuang waktu Mamak Karmila pun berdiri, "Ayo, kita temui Ersha. Mamak mau kalian rujuk sekarang juga!"

1
Patrick Khan
semoga niat jahat resa keduluan end tamat modar😂😂😂ahh jahatnya q😂🔪
Inarrr Ulfah
jagn mati dulu ya sa,,pengen liat aja kamu kejang2 liat er dapt yg lebih dari si Firza,dan semoga Firza gila talak...
Anonim
balikan????? gak seru ah
Hasanah Purwokerto
Aku ketularan bang Ahtar,,senyum senyum sendiri...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Tuh bang Ahtar...ada jalan buat pe de ka te,,,manfaatkan...🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Hasanah Purwokerto
Cieeeee..yg lagi modus...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Busuk hati bgt si Resha
Hasanah Purwokerto
Ersha bukan kamu ya,,yg hobinya merusak rumah tangga orang,,kamu tuh yg sukanya sm suami orang...😡👊👊👊
Hasanah Purwokerto
Maaf cuma dimulut saja
Hasanah Purwokerto
Ga akan bahagia kalian..
Hasanah Purwokerto
Setan berwujud manusia itu Er..
Hasanah Purwokerto
Cih....sundel bolong....pake pura pura
Hasanah Purwokerto
Maafmu ga ada guna Fir..
Hasanah Purwokerto
Biarin Firza sendirian..ga usah diajak ngobrol..
Hasanah Purwokerto
Preeeetttt laaaahhhj
Hasanah Purwokerto
Ersha ga melarang,,tp kamu yakin,,? Resha akan membiarkanmu pergi menemui Abizar..?
Hasanah Purwokerto
Tetap semamgat ya Rs...masa depanmu msh panjang,,semoga lebih cerah dr sblmnya...
Hasanah Purwokerto
Smg Ersha berjodoh dg Atar..
toh sama" single
Hasanah Purwokerto
Resha culas,,bermuka dua...😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!