NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengapa aku dilahirkan?!

Bekerja sambil kuliah, bukan hal mudah. Tapi, demi melanjutkan hidup, Nadia bisa mengatasi kedua hal itu tanpa pernah mengeluh sekali pun. Dan kerja kerasnya selama satu tahun terakhir kini membuahkan hasil.

Kemarin, Nadia membeli sepeda motor impiannya. Meski memang masih harus membayar angsuran per bulan selama dua tahun ke depan, setidaknya Nadia sudah punya kendaraan sendiri.

Hari pertama ke kampus naik motor barunya, Laura menjadi penumpang pertama tentu saja.

"Keren sih lo, beb. Gue respect banget sama lo. Kerja keras memang gak akan mengkhianati hasil. Lo tu contoh nyata di depan mata kepala gue, Nadia!" puji Laura.

Nadia bekerja di tiga tempat dengan jadwal yang ia atur senyaman mungkin tanpa harus mengganggu jadwal kuliahnya. Dan lebih hebatnya lagi, meski sibuk bekerja, Nadia tidak pernah setengah setengah dengan kuliahnya. IPK nya bahkan paling tinggi di antara tiga sahabatnya.

"Sumpah, lo keren, beb!" teriak Laura sambil merentangkan kedua tangannya membiarkan angin pagi menampar wajahnya.

"Ya, gue keren!" teriak Nadia sekedar menyemangati dirinya sendiri.

Nadia membuka kaca Helm, sengaja membiarkan angin menerpa wajahnya. Ayah, sekarang Nadia punya motor sendiri. Ayah bangga kan sama Nadia!

Setahun terakhir, hidup Nadia rasanya cukup nyaman. Ibu dan kakaknya tidak pernah sekali pun menghubungi lagi. Namun, meski begitu Nadia kadang teringat pada mereka, meski bagaimana pun mereka pernah menjadi bagian dalam hidup Nadia.

Sampai kapanpun Nadia tetap tidak bisa benar-benar lepas dari mereka. Nadia sampai pada tahap saat ini pun, tentu karena kebaikan hati mereka.

Kalau bukan karena ayah sama ibu, aku pasti sudah mati sejak bayi. Pikir Nadia mengenang setiap momen yang dilalui bersama ayah, ibu dan kedua kakaknya.

Nadia masih menyimpan kontak nomor mereka meski dia tahu dia tidak bisa menghubungi mereka, karena mereka sudah sejak lama mengganti nomor telepon.

Meski begitu, diam-diam Nadia masih bisa memantau sosial media kakak kakaknya. Jadi, dari sanalah Nadia tahu bagaimana kehidupan mereka setelah Nadia pergi dari rumah itu.

Dalam unggahan terakhir Nina, dia memposting tentang dia yang akhirnya di terima di sekolah musik impiannya. Nino juga mengunggah kegiatan latihannya di sirkuit balap dengan motor balapnya yang Nadia yakin motor itu di beli dengan uang tabungan yang ayahnya siapkan untuk biaya kuliahnya.

Terlepas dari mereka, saat ini Nadia merasa kehidupan masa depan yang nyaman mulai terlihat. Nadia punya pekerjaan, kuliahnya lancar, tabungannya cukuplah untuk membayar angsuran motor, bayar sewa kontrakan dan pengeluaran harian lainnya.

Sayangnya, kehidupan nyaman itu hanya sekadar mimpi semata. Tanpa angin tanpa hujan, sore ini Astrid tiba-tiba menelponnya. Tentu Astrid bisa menghubungi Nadia dengan mudah, karena Nadia memang tidak pernah berganti nomor telepon.

"Halo..."

(Kamu dimana? Aku di Jogja sekarang.)

"Aku lagi di kampus... buk. Tapi ini sudah mau pulang." jawab Nadia ragu dengan lawan bicaranya.

(Ya udah cepat sini! aku di kafe dekat kampusmu. Ada hal penting yang mau aku bahas sama kamu. penting, menyangkut masa depan Nina.)

"Iya buk. Sebentar aku kesana." sahut Nadia lega dan sedikit bingung setelah memastikan lawan bicaranya itu ibunya.

Panggilan berakhir, Nadia masih menatap layar ponsel nya yang mulai kembali menghitam.

"Siapa, beb?" tanya Jeni menepis lamunan Nadia.

"Mm, ibuk gue."

"Lah ibuk lo ada di Jogja!" Jeni terlihat antusias.

"Iya, katanya baru nyampe. Ibuk nunggu di Sky kafe."

"Oh ya. Gue ikut dong. Sekalian kenalan sama ibuk lo."

Nadia menarik napas perlahan, bibirnya tetap tersenyum. Saat ia hampir membuka mulut, ponsel Jeni berdering.

"Bentar, beb." mengacungkan tangan kearah Nadia sebelum menjawab panggilan dari pacarnya.

"Iya sayang." melirik kearah Nadia. "Serius? Ya ampun aku senang banget."

Nadia masih menunggu berharap Jeni tidak jadi ikut dengannya untuk menemui ibunya.

"Ini baru aja selesai. Ya udah jemput. Aku tunggu di depan gerbang." Lanjut Jeni yang membuat Nadia merasa sedikit lega.

"Yah... Beb. Sayang banget gue gak jadi ikut ketemu ibuk lo." ucapnya menyesal.

"Gak apa apa, beb. Lain kali aja kan juga bisa." sahut Nadia lega.

"Sorry ya, beb. Soalnya Kevin mau ngajak gue makan malam sekalian mau dikenalin ke teman-temannya. Kevin ngasih taunya dadakan sih."

"Iya biasa aja, beb. Gak apa apa kok, santai aja." menepuk pelan bahu Jeni. "Asyik dong ya, yang mau dikenalin ke teman pacar." Goda Nadia membuat Jeni bersungut malu malu.

"Lo gak tersinggung kan, karena gue gak jadi ikut?" tanya Jeni memastikan lagi.

"Iya gak lah, beb. Gak apa-apa kok, benaran."

"Hmm, ya udah sana cepat temui ibuk lo!" mendorong tubuh Nadia mendekat ke motornya.

"Gue duluan ya!" Pamit Nadia yang di balas lambaian tangan oleh Jeni.

Nadia bergegas menuju kafe. Saat tiba di sana ia mendapati ibu dan Nino sedang duduk di luar kafe.

Melihat lagi wajah Nino, membuat jantung Nadia berdegup kencang, keringat dingin mulai muncul, tubuhnya terasa dingin dan kepalanya sedikit pusing. Tenang Nadia, tenang! Kamu bisa, kamu kuat. Kamu hebat, tidak ada yang bisa menyakiti kamu lagi. Lirihnya dalam hati sambil mengatur napas.

"Buk! Kenapa gak masuk aja ke kafe?" sapa Nadia menghampiri dua orang yang menatapnya dengan tatapan sinis.

"Gak usah banyak basa-basi. Kita ngobrol di rumah kamu aja." ucap Astrid yang langsung masuk ke taksi yang parkir di pinggir jalan depan kafe.

"Kasih tau sopir dimana alamat rumah kamu!" teriak Astrid dari dalam taksi.

Nadia pun langsung berlari menghampiri taksi itu untuk memberi tahu alamat rumahnya kepada sopir taksi tepat sebelum Nino masuk dan duduk di samping ibunya.

Begitu taksi itu melaju, Nadia mengikuti dari belakang. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, akhirnya mereka tiba di depan gerbang rusun tiga lantai tempat kontrakan Nadia.

"Kamu tinggal di tempat seperti ini!"

"Iya, buk. Kontrakannya nyaman kok, bersih dan murah juga." Nadia menjelaskan.

Astrid mendengus kesal, menatap tembok bangunan tua itu yang tampak mulai mengelupas dan kusam.

Nadia pun mengajak ibu dan kakaknya menuju rumahnya di lantai dua.

"Kamu tinggal sendiri?"

"Berdua buk. Teman aku namanya Laura, dia masih ada kelas sore ini." Nadia menjelaskan sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.

Nino duduk santai di sofa usang depan tv tanpa pernah mengalihkan pandangannya dari layar hp nya. Dia sepertinya sedang bermain game.

"Minum dulu, buk, kak." Nadia meletakkan dua gelas air putih itu diatas meja kecil di depan sofa.

"Aku datang bukan untuk minum. Ada hal yang jauh lebih penting yang mau aku bahas."

Nadia menghela napas dalam dalam, pandangannya kosong menatap ubin lantai rumahnya. Nadia sepertinya sudah mengerti apa yang ingin ibunya bahas.

"Aku tau, kamu itu anak yang tau balas Budi. Jadi, aku rasa kamu pasti paham tentang apa yang mau aku bahas." Astrid berhenti untuk melihat wajah datar Nadia.

"Nina lulus di sekolah musik impiannya. Nina sudah di LA sejak awal bulan lalu."

Astrid melanjutkan ucapannya, ia mengatakan bahwa biaya di sana semuanya serba mahal. Memang Nina mendapat beasiswa untuk sekolahnya, tapi untuk biaya sehari-harinya ia harus punya uang sendiri.

"Kamu tau, Nina itu bukan kamu yang bisa dengan mudah mengerjakan apapun yang menghasilkan uang. Jadi, sebagai rasa balas budi, karena aku dan suamiku sudah merawat dan membesarkan kamu selama ini, harusnya tidak ada salahnya kan kalau kamu mengirim uang setiap bulannya untuk Nina."

Begitu enteng Astrid mengatakan hal seperti itu pada Nadia. Dia tidak pernah peduli dengan Nadia. Dia hanya butuh uang Nadia dengan cara menjadikan balas budi sebagai senjata untuk memerasnya.

"Nino juga lagi butuh uang, mau memperbaiki motornya. Sekalian uang bulanan belanja untuk aku juga jangan lupa!."

Nadia diam, ia tertawa getir dalam hatinya. Kemana aja selama setahun ini kalian bahkan tidak menganggap aku ada. Pasti uang tabungan yang ayah tinggalkan sudah habis, kan! Makanya sekarang datang lagi minta uang sama aku.

Dan jika sudah seperti ini, tentu Nadia tidak akan pernah bisa membantah. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia menyetujui permintaan ibunya untuk mengirim uang setidaknya 2 juta perbulan untuk Nina, 2,5 juta untuk Astrid dan Nino.

"Mungkin, hidupku memang hanya untuk ini..." bulir bening itu jatuh tanpa aba-aba.

Tangannya menarik kuat rambut, rahangnya mengeras, tenggorokan terasa panas dan seakan siap menyemburkan api jika saja ia membuka mulutnya lebar lebar.

"Demi apapun, jika aku bisa memilih takdir sendiri, aku lebih suka tidak dilahirkan ke dunia ini!" Teriaknya tertahan.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!