Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Sepasang manusia tidak tahu diri itu akhir nya melakukan hubungan terlarang mereka di dalam kamar nya Nia, suara saling bersahutan yang menjijikkan terdengar hingga keluar. Kedua nya memanfaatkan kesempatan itu saat tidak ada orang di rumah.
Di tempat lain, saat ini Maira baru saja pulang dari kantor. Dia mengistirahatkan tubuh nya yang lelah, dia lalu melihat keadaan di rumah nya melalui kamera pengawas.
"Hem, seperti nya rumah dalam keadaan sepi, di mana mereka semua?" Maira bertanya pada diri nya sendiri.
Maira melinat di ruang tamu, ruang keluarga dan dapur tidak terlihat sama sekali keberadaan mereka. Tapi saat dia melihat dari kamera yang berada di dalam kamar nya Nia, seketika hati nya hancur. Air mata mengalir begitu saja, tanpa bisa dia tahan.
Pergumulan 2 manusi yang berbeda jenis kelamin itu terlihat jelas di mata nya, suara desahan dan lenguhan kedua nya begitu terasa menyayat hati Maira.
"Tega sekali kau mas, baru satu hari aku pergi dari rumah kau dan mbak Nia sudah melakukan semua ini!" Maira terisak sendiri.
Maira ingin terlihat kuat, tali sebagai seorang istri yang sudah 5 tahun menjalani biduk rumah tangga bersama, tentu saja hal itu membuat Maira terluka. Dia menangis sendiri di dalam kamar nya, Maira lalu menutup ponsel nya karena dia tidak kuat melihat nya lagi.
Di luar, Mama Ulfa dan Papa Andi sudah menduga - duga apa yang tengah terjadi pada putri mereka. Mama Ulfa sudah menceritakan pada suami nya, tentang Maira yang datang membawa koper ke rumah ini.
"Ma, Maira sudah pulang kan? Ayo temani Papa bertemu dengan Maira, Papa ingin tahu apa yang sebenar nya terjadi!" Ajak Papa Andi.
"Iya, ayo Pa!" Ajak Mama Ulfa.
Sepasang sumai istri itu langsung menemui Maira di kamar nya, sebagai orang tua tentu saja mereka merasa ada hal yang tidak baik tengah menimpa putri mereka saat ini.
Tok, tok, tok
Pintu kamar Maira di ketuk dari luar, Maira yang sedang menangis langsung menghapus air mata nya.
"Maira, ini Mama nak!" Mama Ulfa berkata dari luar.
"Masuk Ma!" Jawab Maira dari dalam.
Mama Ulfa memutar gagang pintu, dan kedua nya langsung masuk. Sebagai seorang ibu, jelas dia tahu bahwa putri nya baru saja selesai menangis.
"Mama, Papa, ada apa ini?" Tanya Maira dengab gugup.
Kedua nya langsung duduk di tepi tempat tidur Maira, pandangan mata kedua nya terasa berbeda di mata Maira.
"Maira, apa kau akan tetap menyembunyikan semua ini dari kami?" Tanya Papa Andi dengan lembut.
Maira menunduk kan kepala nya, sejak kecil dia memang tidak bisa berbohong. Jika dia berbohong, maka kedua orang tua nya pasti akan sangat mudah mengetahui nya.
"Katakan nak, apa Papa dan Mama harus tahu dari orang lain?" Tanya Mam Ulfa dengan lembut.
Maira tidak bisa berkata apa - apa lagi, lidah nya terasa kelu untuk mengatakan sesuatu pada mereka. Maira lalu meraih ponsel nya, dan dia membuka nya lalu menunjuk kan aktifitas yang masih berlangsung saat ini pada kedua orang tua nya.
Mama Ulfa menerima ponsel Maira, dan kedua nya langsung menutup mulut melihat adegan di dalam nya.
"Astagfirullah hal adzim, Azam dan kakak ipar nya?" Mama Ulfa syok dengan apa yang di lihat nya barusan.
"Sejak kapan mereka melakukan hal ini di belakang mu, nak?" Tanya Papa Andi dengan geram.
"Aku tidak tahu, Pa. Aku baru menyadari semua nya akhir - akhir ini!" Jawab Maira lirih.
"Ini tidak bisa di biarkan, Azam harus menerima akibat dari perbuatan nya!" Papa Andi ingin pergi untuk menghajar menantu nya.
"Pa, tunggu Pa. Berikan aku kesempatan untuk membalas semua nya, Maira mohon Pa!" Maira memohon pada Papa nya.
Papa Andi tertegun mendengar ucapan putri nya, dia langsung menghentikan langkah kaki nya.
"Apa yang akan kau lakukan nak?" Tanya Papa Andi kemudian.
"Aku sengaja pindah ke sini selama satu minggu, Pa. Aku berbohong pada mereka semua dengan mengatakan bahwa aku keluar kota untuk dinas, aku sengaja melakukan ini untuk mencari bukti lebih banyak tentang perselingkuhan mas Azam dan mbak Nia!" Maira lalu menjelaskan rencana nya pada kedua orang tua nya.
"Lalu, setelah kau berhasil mendapatkan bukti nya, apa yang akan kau lakukan nak?" Tanya Mama Ulfa.
"Aku ingin menggugat mas Azam dan dengan bukti itu, dia tidak akan bis mengelak lagi. Tapi sebelum aku dan mas Azam benar - benar berpisah, aku ingin memberi pelajaran pada mereka semua. Aku ingin melihat mereka semua menderita tanpa bantuan keuangan dari ku!" Maira berkata dengan nada yang berapi - api.
"Apakah selama ini mereka semua memanfaatkan mu, nak?" Tanya Papa Ulfa lagi.
"Iya Pa!" Jawab Maira sambil mengangguk kan kepala nya.
"Kurang ajar, sudah miskin banyak ulah dengan selingkuh lagi!" Mama Ulfa mengepalkan tangan nya karena kesal.
"Ma, biarkan saja jika mas Azam dan mbak Nia akan menikah, setelah ini aku akan memberikan kejutan pada mereka bahwa mas Azam tanpa aku bukan lag siapa - siapa. Yang mereka tahu bahwa mas Azam adalah seorang manager dengan gaji besar, padahal nyata nya mas Azam hanyalah seorang staf biasa!" Maira berkata lagi.
"Baiklah nak, tapi jangan terlalu lama. Papa tidak ingin kau kembali luluh dan mereka kembali memanfaatkan mu!" Papa Andi mengingatkan Maira.
"Beri aku waktu selama 3 bulan Pa, akan ku hancurkan keluarga itu sehancur - hancur nya!" Maira meminta pada Papa nya.
"3 bulan terlalu lama nak, setelah kau mendapatkan semua bukti nya segera akhir semua nya!" Mama Ulfa merasa keberatan dengan waktu 3 bulan yang terlalu lama menurut nya.
"Ma, dalam waktu 3 bulan ini aku ingin melihat bagai mana mas Azam dan keluarga nya di usir dari rumah itu. Selama ini angsuran rumah itu aku yang membayar nya, tapi mulai bulan ini hingga selanjutnya aku tidak akan membayar nya lagi. Dan di dalam surat perjanjian nya dulu, jika angsuran selama 3 bulan berturut - turut tidak di bayar, maka penghuni rumah itu akan di usir!" Maira memberikan alasan pada Mama nya.
Mama Ulfa terdiam mendengar penjelasan putri nya, dia mencerna setiap penjelasan dari Maira.
"Baik lah nak, hanya 3 bulan, tidak lebih. Setelah itu kau harus meninggal kan mereka!" Mama Ulfa pun setuju dengan apa yang di katakan oleh putri nya.
"Terima kasih banyak, Ma, Pa!" Maira memeluk kedua orang tua nya secara bergantian.
Maira sangat bersyukur, orang tua nya mendukung semua yang dia lakukan. Maira berjanji pada diri nya sendiri, bahwa dia akan membalas semua perbuatan Azam dan keluarga nya terhadap diri nya.
menurutku dia sudah berusaha agar tetap dapat uang agar dia bisa lanjut kuliah.
kalau tuk yg lain ya terserah mu thor beri peljarannya yg mantep 🤣