NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Tiga dan Satu

...Chapter 34...

Ia mengangkat tangan kirinya, dan di ujung jari-jarinya, cahaya keemasan mulai berdenyut.

Bukan cahaya yang terang dan menyilaukan, melainkan cahaya yang redup, hangat, seperti lilin yang menyala di ruang bawah tanah yang gelap. 

"Bujur Surgawi itu, Liu Xin, tidak berada di luar dirimu. Ia bersembunyi di dalam. Di antara Tiga Lintang Luar—Lintang Bawah, Lintang Umum, dan Lintang Esa, tiga pondasi yang telah kau lampaui—dan Satu Lintang Inti, yakni ranahmu saat ini, Supranatural Lintang." 

Ling Xu menahan napas, matanya tidak berkedip, karena ia bisa merasakan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut Huan Zheng adalah peta menuju sesuatu yang lebih besar dari apa pun yang pernah ia bayangkan, peta yang tidak akan pernah ia temukan di kitab-kitab kuno atau dari bisikan para pedagang di kedai arak.

"Bayangkan, Liu Xin," lanjut Huan Zheng, dan kini kedua tangannya terangkat, jari-jarinya bergerak membentuk pola di udara—pola yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang tetapi bisa dirasakan oleh Qi Ling Xu yang sudah mencapai puncak Supranatural Lintang, pola segitiga sama kaki dengan sebuah titik di tengahnya, seperti konstelasi bintang yang tidak pernah tercatat dalam peta langit mana pun.

"Tiga Lintang Luar—Bawah, Umum, Esa—telah lama membentuk segitiga sama kaki di dalam poros kultivasimu. Mereka adalah tiga pilar yang menopang fondasimu, tiga sudut yang membuatmu tetap berdiri di dunia ini meskipun badai menghantam dari segala arah. Dan Satu Lintang Inti—Supranatural Lintang, ranahmu saat ini—telah lama eksis di bagian tengah segitiga itu, menjadi pusat gravitasi yang membuat ketiga pilar itu tidak ambruk, menjadi jantung yang memompa Qi ke setiap sudut tubuhmu." 

Ia menekan dadanya sendiri, tepat di tempat di mana 9.999.999.999.999.999 keping Lintang Kemanusiaan berdenyut pelan, lalu melanjutkan dengan suara yang tiba-tiba menjadi lebih lembut, lebih hati-hati, seperti orang yang sedang membuka peti harta karun yang sudah berdebu selama ribuan tahun, 

"Bujur Surgawi, Liu Xin, tidak terletak di luar segitiga itu. Ia tidak menambahkan sudut keempat, tidak mengubah bentuk segitiga menjadi persegi atau lingkaran. Ia tersembunyi. Di antara. Di celah-celah yang tidak terlihat oleh mata biasa, di sela-sela hubungan antara ketiga Lintang Luar dan Lintang Inti. Ia seperti bayangan yang tidak pernah kau sadari karena terlalu dekat dengan cahaya, seperti napas yang tidak pernah kau rasakan karena terlalu dekat dengan hidupmu sendiri." 

Ling Xu menggenggam lututnya lebih erat, merasakan dadanya sesak.

Bukan karena wabah Kanker, melainkan karena keindahan yang mengerikan dari penjelasan Huan Zheng, keindahan yang membuat ia mengerti mengapa tidak banyak kultivator yang berhasil menembus batas ini, mengapa kebanyakan dari mereka mati di Supranatural Lintang tanpa pernah melihat apa yang tersembunyi di depan mata mereka sendiri.

"Tugasmu, Liu Xin," lanjut Huan Zheng, suaranya kini berubah menjadi lebih dalam, lebih berat, seperti orang yang sedang membacakan sebuah kidung kuno yang hanya diketahui oleh segelintir orang di seluruh semesta, jari-jarinya yang tadi membentuk pola segitiga di udara kini mulai bergerak lebih lambat, lebih hati-hati, seolah-olah sedang menelusuri setiap sudut dari bentuk geometris suci yang tidak terlihat oleh mata biasa, "adalah mencari pondasi sekaligus akar Bujur Surgawi milikmu sendiri yang selama ini bersembunyi di balik segitiga Tiga Lintang Luar dan Satu Lintang Inti. Bukan di permukaan, bukan di tempat yang terang, melainkan di celah-celah yang paling gelap, di sela-sela yang paling sempit, di antara ruang dan ruang yang tidak pernah kau sadari keberadaannya karena kau terlalu sibuk melihat ke luar dirimu." 

Ia menekan dadanya sendiri lagi, tepat di tempat di mana 9.999.999.999.999.999 keping Lintang Kemanusiaan berdenyut seperti lautan yang tidak bertepi, lalu menatap Ling Xu dengan mata yang tiba-tiba bersinar.

Bukan dengan cahaya Qi, melainkan dengan cahaya pengertian, cahaya seorang guru yang telah melewati jalan ini sendiri dan tahu persis di mana letak jebakan dan di mana letak pintu keluarnya.

“Karena menemukan akar sekaligus pondasi Bujur Surgawi itu, Liu Xin, adalah satu-satunya jalan bagimu untuk bertransformasi dari kultivator Supranatural Lintang menjadi kultivator Bujur Surgawi—tepatnya pada ranah Langit Terang Tingkat Kesatu. Tanpa akar itu, tanpa pondasi itu, kau hanya akan berputar-putar di dalam segitiga yang sama, seperti laba-laba yang terjebak dalam jaring yang ia buat sendiri."

Fhhhh!! 

"Tapi tidak cukup hanya menemukannya, Liu Xin," Huan Zheng mengangkat satu jari telunjuknya, dan di ujung jari itu, sebuah titik cahaya kecil berdenyut.

Bukan cahaya keemasan seperti Lintang Kemanusiaan, melainkan cahaya biru pucat, seperti warna langit di batas antara senja dan malam, warna yang belum pernah Ling Xu lihat sebelumnya dalam seluruh perjalanan kultivasinya.

“Setelah berhasil menemukan akar Bujur Surgawi yang tersembunyi di antara segitiga suci itu, kau harus mengumpulkan jejaknya. Bukan seratus, bukan dua ratus, melainkan 9.999 jejak. Sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan." 

Ling Xu tersentak.

Bukan karena terkejut, melainkan karena ia bisa merasakan sendiri betapa sulitnya tugas itu, betapa setiap jejak mungkin hanya sebesar ujung rambut, mungkin hanya sekilas seperti kilatan cahaya di sudut mata, mungkin hanya terasa seperti getaran sekecil debu yang jatuh di atas air danau yang sunyi, dan ia harus mengumpulkan semuanya, satu per satu, tanpa melewatkan satu pun, tanpa salah membedakan mana jejak asli dan mana ilusi yang dibuat oleh pikirannya sendiri untuk menyesatkannya. 

"Dan ini," lanjut Huan Zheng, suaranya semakin pelan, semakin hati-hati, seperti orang yang sedang membisikkan mantra yang tidak boleh didengar oleh siapa pun kecuali murid yang paling terpercaya, "harus kau lakukan sendiri, Liu Xin. Bukan karena aku tidak mau membantumu—tapi karena tidak ada yang bisa membantumu. Jejak Bujur Surgawi adalah milikmu sendiri, terlahir dari perjalananmu sendiri, dari pilihanmu sendiri, dari luka dan tawamu sendiri. Aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak bisa menyentuhnya. Aku hanya bisa menunggumu di sini, menjaga tubuhmu yang terbaring, dan berharap bahwa ketika kau membuka mata, kau sudah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar manusia atau Dewi—kau sudah menjadi kultivator Langit Terang Tingkat Kesatu." 

Ling Xu menggenggam tangannya sendiri, merasakan kuku-kukunya menekan telapak dengan keras.

Bukan karena takut, melainkan karena ia tahu bahwa besok malam, ia akan memasuki gerbang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, dan tidak ada jaminan bahwa ia akan keluar lagi.

"Dan ketika kau berhasil bertransformasi, Liu Xin," Huan Zheng menghela napas—napas yang terasa seperti angin yang berbisik di lembah yang sunyi, napas yang membawa serta beratnya pengalaman puluhan tahun sebagai salah satu dari tiga Roda Kultivasi yang telah melihat langsung bagaimana para kultivator Bujur Surgawi bergerak di dunia ini, "perjalananmu tidak akan berhenti di Langit Terang Tingkat Kesatu. Bujur Surgawi memiliki empat ranah, masing-masing dengan jumlah Bujur yang berbeda di dalam diri sang kultivator." 

Ia mengangkat telapak tangannya, dan di atas telapak itu, empat titik cahaya mulai muncul.

Bukan bersamaan, melainkan satu per satu, seperti bintang yang lahir di langit malam yang gelap.

“Pertama, Langit Terang, dengan 1 hingga 100 Bujur di dalam dirimu. Ini adalah tingkatan paling dasar, paling mudah, paling... dangkal. Kedua, Cerah Lentera, dengan 243 hingga 524 Bujur. Di sini, kau mulai bisa merasakan bagaimana Bujur-bujur itu saling berbisik, saling berbagi cerita tentang perjalanan yang telah kau lalui."

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!