NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: RUANG BAWAH TANAH

"Setiap rumah punya rahasia. Tapi rumah ini punya nyawa."

---

Hari ketiga di mansion ini, dan aku sudah hafal jadwalnya.

Pagi: Damian pergi sebelum matahari terbit. Aku tahu karena langkah kakinya berat, tapi anehnya—ia selalu berhenti tiga detik di depan pintu kamarku. Cukup lama untuk aku berpura-pura tidur, cukup singkat untuk tidak mencurigakan.

Siang: Rania datang dengan nampan perak. Makanan mewah yang hambar. Matanya selalu mengamati, menghitung, merekam.

Malam: Damian pulang setelah jam 10. Langkah kaki itu lagi, berhenti tiga detik, lalu menghilang ke sayap barat mansion.

Dan jam 3 pagi: Damian Kecil.

Tapi hari ini aku tidak akan menunggu jam 3 pagi.

Aku duduk di tepi ranjang, mematangkan rencana sejak subuh. Ruang bawah tanah. Dari semua cerita Damian Kecil, satu tempat yang paling sering disebut: "ruang hukuman." Di sanalah Damian kecil dikurung 20 tahun lalu. Di sanalah, mungkin, jawaban tentang kakakku berada.

Masalahnya: aku tidak tahu pintunya di mana.

Jam menunjukkan pukul 14.30. Rania baru saja pergi setelah memastikan aku menghabiskan sup jamur yang dingin itu. Aku menunggu 10 menit—cukup untuk dia sampai di sayap timur—lalu bangun.

Aku membuka lemari. Di balik gaun-gaun mahal yang bahkan belum pernah kupakai, ada jaket hitam yang kuselipkan sejak hari pertama. Jaket tebal. Untuk ruang bawah tanah yang pasti dingin.

Aku meraih gagang pintu.

Terkunci.

"Tentu saja," gumamku.

Tapi aku bukan psikiater forensing selama 3 tahun tanpa belajar beberapa trik. Aku meraih jepit rambut—yang sengaja tidak pernah kugunakan—dan membengkokkannya.

10 detik. 20 detik. 30 detik.

Klik.

Pintu terbuka.

Aku tersenyum kecil. Damian lupa satu hal: mengurung psikiater yang terbiasa dengan pasien kriminal sama dengan mengurung tikus dalam laboratorium. Cepat atau lambat, kami selalu kabur.

Lorong mansion di siang hari ternyata lebih dingin dari malam. Mungkin karena matahari tidak bisa masuk—semua jendela tertutup tirai tebal. Atau mungkin karena rumah ini memang tidak ingin dihangati.

Aku berjalan cepat. Kiri. Kanan. Belok kiri lagi.

Ruang bawah tanah. Di rumah-rumah tua seperti ini, biasanya pintunya ada di dekat dapur. Atau di ujung lorong pelayan.

Aku memilih dapur.

Dapur mansion sebesar restoran berbintang. Peralatan stainless steel mengilap, meja marmer panjang, dan—

Seorang pria sedang memotong wortel.

Kami bertemu pandang.

Pria itu—seragam putih, topi koki—berhenti memotong. Matanya menyipit. Bukan curiga. Lebih seperti... menghitung.

"Selamat siang, Nona," sapanya datar. "Ada yang bisa dibantu?"

Aku tersenyum paling innocent yang bisa kuperagakan. "Aku hanya... lapar. Apa ada camilan?"

Koki itu menatapku 3 detik lebih lama dari perlu. Lalu mengangguk. "Silakan duduk. Saya buatkan teh dan kue."

"Aku bisa cari sendiri—"

"Duduk." Nada suaranya tidak bisa ditawar.

Aku duduk.

Sambil menunggu, aku mengamati. Pintu di belakang koki itu—besi abu-abu, tanpa gagang di sisi luar. Hanya lubang kecil sebesar telapak tangan. Seperti pintu sel.

Itu dia.

"Teh chamomile," koki itu meletakkan cangkok di depanku. "Kue almond. Kesukaan Tuan Damian."

Aku mengambil kue itu. Gigit. Enak. Tapi tidak relevan.

"Koki... berapa lama sudah bekerja di sini?"

"20 tahun."

Hatiku berdetak kencang. 20 tahun. Berarti ia ada saat Damian kecil dikurung.

"Pasti banyak cerita tentang rumah ini, ya?" Aku berusaha terdengar santai. "Aku suka rumah tua. Penuh misteri."

Koki itu diam. Lalu perlahan, ia menatapku—tepat, tajam, seperti tahu persis apa yang ada di pikiranku.

"Nona." Suaranya pelan. "Ada ruangan di rumah ini yang lebih baik tidak dimasuki."

Aku menahan napas. "Maksudnya?"

Ia menunjuk ke arahku. Bukan ke wajah, tapi ke dada kiriku.

"Jantung Nona berdebar. Tangan Nona berkeringat meski AC menyala. Nona gugup. Dan orang gugup selalu punya rencana buruk." Ia berbalik, kembali ke talenan wortelnya. "Tehnya habiskan. Lalu kembali ke kamar. Demi kebaikan Nona sendiri."

Aku ingin membantah. Tapi ia sudah tidak peduli padaku.

Aku menghabiskan teh itu—bukan karena patuh, tapi karena butuh waktu berpikir.

Pintu besi itu hanya 5 meter dari tempatku duduk. Jika aku lari sekarang, mungkin aku bisa mencapainya sebelum koki itu bereaksi. Tapi setelah itu? Pintu tanpa gagang. Pasti ada mekanisme khusus. Mungkin sidik jari. Mungkin kode.

Aku butuh informasi lebih dulu.

Aku bangun. "Terima kasih untuk tehnya."

Koki itu tidak menoleh. "Sama-sama, Nona."

Aku berjalan keluar dapur. Tiga langkah. Lima langkah. Sampai di ambang pintu, aku berhenti.

"Koki."

Ia menoleh.

"Apa kau kenal Damian Kecil?"

Wortel itu jatuh dari tangannya.

Selama 10 detik, tidak ada yang bergerak. Aku bisa melihat dadanya naik turun lebih cepat dari sebelumnya. Lalu ia berjongkok, memunguti wortel itu dengan gerakan lambat, terlalu lambat.

"Damian kecil sudah mati, Nona." Suaranya bergetar. "20 tahun lalu."

"Kalau dia mati, kenapa aku bisa bicara dengannya tadi malam?"

Koki itu terdiam. Tangannya gemetar saat meletakkan wortel di talenan.

"Nona..." bisiknya. "Jangan main-main dengan hal-hal seperti ini."

"Aku tidak main-main. Dia ada di lorong sayap timur setiap jam 3 pagi. Dia mengajakku main petak umpet."

Koki itu menutup matanya. Bibirnya bergerak—seperti berdoa, atau mengutuk.

Lalu ia membuka mata. Menatapku dengan tatapan yang sama sekali berbeda. Bukan takut. Bukan marah. Tapi iba.

"Nona Alea." Ia mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Cukup dekat untuk aku mencium bau bawang putih di napasnya. "Dengarkan saya baik-baik. Rumah ini... tidak hanya dihuni oleh Tuan Damian dan para staf. Ada sesuatu di sini. Sesuatu yang menunggu. Sesuatu yang lapar. Dan sesuatu itu—" ia berhenti, menelan ludah— "telah memanggil Nona."

Aku merinding. Bukan karena takut hantu. Tapi karena nada suaranya. Ia benar-benar percaya.

"Apa maksudnya?"

"Tiga tahun lalu ada gadis seperti Nona. Cantik. Pintar. Penasaran. Ia juga mendengar bisikan. Ia juga mencari ruang bawah tanah." Koki itu menggenggam lenganku—genggaman yang menyakitkan. "Minggu berikutnya, kami menemukannya di dapur. Ia berdiri di sini—tepat di tempat Nona berdiri sekarang—tersenyum, dengan pisau tertancap di perutnya sendiri."

Darahku terasa beku.

"Polisi bilang bunuh diri." Koki itu melepaskan genggamannya. "Tapi saya tahu. Saya dengar apa yang ia bisikkan sebelum mati."

"Apa?"

Ia mendekatkan bibir ke telingaku. Suaranya hampir tidak terdengar:

"Damian Kecil bilang, ayo main."

Aku mundur selangkah. Dua langkah. Punggungku menabrak kusen pintu.

Koki itu kembali ke talenannya, mengambil wortel, dan mulai memotong lagi. Tok tok tok. Irama yang sama seperti sebelumnya. Seperti tidak terjadi apa-apa.

"Nona." Ia tidak menoleh. "Kembalilah ke kamar. Lupakan ruang bawah tanah. Lupakan Damian Kecil. Lakukan tugas Nona sebagai istri Tuan Damian, dan Nona akan selamat."

Aku tidak menjawab. Aku berlari.

---

Aku tidak berhenti sampai pintu kamarku tertutup rapat di belakangku.

Aku bersandar di pintu, menarik napas dalam-dalam. Koki itu gila. Atau mungkin sengaja menakut-nakutiku. Atau—

Atau ia jujur.

Aku mengeluarkan ponsel. Mencari berita: "Mansion Adhiratria kematian misterius."

Hasilnya muncul dalam 0,3 detik.

"Karyawan Wanita Ditemukan Tewas di Dapur Mansion Mewah, Diduga Bunuh Diri" — 3 tahun lalu.

"Asisten Pribadi Tuan Damian Hilang, Ditemukan di Ruang Bawah Tanah Seminggu Kemudian" — 5 tahun lalu.

"Pengasuh Damian Adhiratria Meninggal Akibat Serangan Jantung di Lorong Timur" — 10 tahun lalu.

Aku membaca lebih lanjut. Semua korban adalah wanita. Semua bekerja di mansion ini. Semua meninggal dengan cara aneh.

Dan semua—berdasarkan kesaksian staf lain—pernah mengeluh mendengar bisikan anak kecil sebelum kematian mereka.

Ponselku hampir jatuh.

Aku ingat tadi malam. Damian Kecil mengajakku main petak umpet. Aku ingat bagaimana ia tersenyum—polos, manis, persis seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Tapi aku juga ingat sesuatu yang lain.

Matanya.

Mata Damian Kecil... tidak pernah berkedip.

---

Malam tiba lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin aku terlalu tenggelam dalam riset sampai lupa waktu.

Jam 21.00. Damian belum pulang.

Jam 22.00. Langkah kaki di luar—tapi tidak berhenti di depan kamarku. Damian langsung ke sayap barat.

Jam 23.00. Sepi.

Jam 00.00. Sepi.

Jam 01.00. Aku masih terjaga. Membaca ulang semua artikel. Menyusun kronologi.

Jam 02.00. Mataku mulai berat.

Jam 02.30. Aku mematikan lampu. Memutuskan untuk tidur. Besok akan pikirkan lagi.

Jam 02.45. Aku hampir tertidur.

Tok tok tok.

Aku membuka mata.

Tok tok tok.

Bukan dari dinding. Dari pintu.

Aku bangun. Berjalan perlahan ke pintu. Menempelkan telinga di kayu.

Napas. Seseorang ada di luar. Napasnya pendek-pendek, seperti menahan tangis.

Aku membuka pintu.

Damian Kecil berdiri di sana. Piyama sutra kebesaran. Rambut acak-acakan. Mata merah dan basah.

Ia menatapku. Lalu tanpa suara, ia mengangkat tangannya.

Di tangannya, sebuah pisau dapur. Masih berlumuran darah.

"A-aku..." suaranya pecah. "Aku tidak sengaja, Kak. Dia marah. Dia terus marah. Aku cuma mau dia diam..."

Aku melongo. Darah di pisau itu masih menetes. Masih segar.

"Damian... itu darah siapa?"

Ia menangis. Tangis hening yang lebih menakutkan dari jeritan.

"Koki... koki tahu tentang aku. Dia bilang aku harus mati. Tapi aku nggak mau mati, Kak." Ia meraih tanganku. Tangannya dingin. Sedingin es. "Aku lari. Aku sembunyi. Tapi dia kejar aku. Dia terus kejar—"

Dari ujung lorong, suara langkah. Berat. Lambat. Mendekat.

Aku menoleh.

Koki itu berjalan, tertatih, satu tangan memegangi perutnya. Di antara jari-jarinya, darah mengalir deras. Wajahnya pucat pasi.

Matanya—matanya kosong. Tapi bibirnya tersenyum.

"Nona..." bisiknya. "Damian Kecil... dia... dia..."

Ia jatuh.

Damian Kecil menarik tanganku. "Ayo lari, Kak! Ayo lari sekarang!"

Aku beku. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa berpikir.

Damian Kecil menarik lebih keras.

Dari lantai, koki itu mengangkat satu tangan. Menunjuk ke arahku. Lalu ke arah Damian Kecil.

Bibirnya bergerak. Membentuk satu kata:

"Hati-hati."

Lalu tangannya jatuh. Matanya tertutup.

Aku menjerit.

---[Bersambumg]---(⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

"Darah pertama telah tumpah. Damian Kecil menunjukkan wajah aslinya—atau justru ia korban? Siapa sebenarnya yang membunuh koki? Dan mengapa ia memperingatkan Alea di detik-detik terakhirnya?"

💬 Menurut kalian, Damian Kecil pembunuh atau korban?

⭐ Vote: Jika kalian penasaran dengan ruang bawah tanah!

💾 Bagikan: Ajak teman-teman pecinta misteri untuk ikut memecahkan teka-teki mansion ini!

Vote di komentar! Cerita ini akan terus lanjut jika kalian dukung dengan:

✅ LIKE (tekan tombol like di pojok)

✅ KOMENTAR (kasih pendapat kalian!)

✅ SHARE (bagikan ke teman-teman biar pada baca juga!)

#TheDevilsWife #IstriIblis #MafiaRomance #HorrorPsikologi #NovelTerbaru

Setiap like, komentar, dan share kalian adalah bahan bakar bagi penulis untuk terus menulis bab-bab berikutnya yang lebih menegangkan! 🔥

Komen di bawah, ya! 👇 Semangat 💪🏻😘

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!