NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ganethaa ( Anak Sulung Casey)

Transmigrasi Ganethaa ( Anak Sulung Casey)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Iblis / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Erika Ponpon

Kisah anak sulung Casey (Transmigrasi Belvia) yang jiwa nya mengalami perpindahan ke tubuh orang lain… bagaimana Ganethaa akan menghadapi kehidupan barunya setelah dia tahu kalau sekarang dia berada di tubuh orang lain…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Beberapa siswa yang tadi memperhatikan langsung berbisik-bisik begitu Nebula berjalan melewati koridor.

“Serius itu Nebula?”

“Gila, galak banget sekarang…”

“Galaksi sampai diem gitu…”

Nebula tidak peduli. Langkahnya tetap tenang, bahunya tegak.

Di ujung koridor, Elara berdiri bersama Langit dan Bintang. Jelas sekali mereka baru saja melihat adegan tadi.

Elara tersenyum manis saat Nebula mendekat. Terlalu manis.

“Kak Nebula…” suaranya lembut. “Ngobrol apa sama Galaksi?”

Nebula berhenti tepat di depan mereka.

“Ngobrol?” Ia memiringkan kepala sedikit. “Oh, nggak. Cuma klarifikasi.”

“Klarifikasi apa?” tanya Langit curiga.

Nebula menatap Elara lurus.

“Kalau gue nggak tertarik sama barang yang udah jadi milik orang lain.”

Kalimat itu terdengar ringan—tapi maknanya tajam.

Wajah Elara menegang sepersekian detik sebelum kembali memasang ekspresi polos.

“Maksud Kakak apa sih…” lirihnya.

Bintang mendecih. “Jangan sok suci deh, La. Kemarin aja lo masih—”

“Masih apa?” potong Nebula tenang.

Bintang terdiam.

Nebula mendekat satu langkah ke arah Elara.

“Tenang aja,” ucapnya pelan, cukup hanya mereka yang dengar. “Gue nggak mau Galaksi lo.”

Tatapannya turun sedikit, lalu kembali naik.

“Tapi kalau dia yang ngejar, itu bukan urusan gue.”

Elara langsung mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.

Langit melihat perubahan itu dan mengernyit. “Lo kenapa sih sekarang? Berasa beda banget.”

Nebula tersenyum tipis.

“Emang harus sama terus?”

Bel berbunyi nyaring.

Nebula melangkah masuk kelas tanpa menunggu jawaban.

Di dalam kelas, ia duduk di bangkunya dan membuka buku seolah tak terjadi apa-apa.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kantin siang itu cukup ramai.

Nebula duduk sendirian di sudut, hanya dengan sebotol air mineral dan roti di atas mejanya. Ia makan pelan, tatapannya kosong menatap keramaian seolah tidak benar-benar berada di sana.

Di sisi lain kantin—

Angkasa berdiri bersama Elang, Semesta, dan Samudra sambil membawa nampan masing-masing.

Tiba-tiba Angkasa melangkah ke arah meja sudut.

“Eh, lo mau ke mana, Sa?” tanya Samudra heran.

“Kita gabung aja di mejanya Nebula,” jawab Angkasa santai.

Semesta mengangkat alis. “Lo sekarang deketin Nebula, Sa?”

Angkasa mendengus kecil. “Siapa bilang?”

Elang menyeringai. “Ih, bilang aja pak bos.”

“Bacot,” balas Angkasa singkat.

Tanpa menunggu lagi, ia tetap berjalan ke arah meja Nebula. Tiga temannya saling pandang sebelum akhirnya ikut menyusul.

Nebula yang sedang minum melirik saat bayangan empat orang berhenti di depannya.

“Ada apa?” tanyanya datar.

Angkasa langsung menarik kursi di hadapannya dan duduk tanpa permisi.

“Numpang,” katanya singkat.

Samudra duduk di samping Angkasa, Elang dan Semesta menyusul.

Nebula memandang mereka satu per satu.

“Meja lain banyak,” ucapnya.

“Yang kosong cuma ini,” jawab Samudra cepat.

Nebula melirik sekeliling. Jelas masih ada beberapa meja kosong.

Ia mendecih pelan. “Ck, dasar pembohong .”

Elang menahan tawa.

Angkasa menatapnya lurus. “Lo berani banget tadi pagi.”

Nebula kembali menggigit rotinya. “Yang mana? Yang suruh kalian minggir?”

“Iya.”

“Kalian emang ganggu jalan.”

Semesta memperhatikan ekspresinya. “Lo nggak takut sama Dargoz?”

Nebula mengangkat bahu. “Takut sama orang yang hobinya bikin macet?”

Samudra nyengir. “Gue suka jawabannya.”

Angkasa bersandar santai di kursinya.

“Lo berubah.”

Nebula berhenti makan. “Semua orang berubah.”

“Bukan kayak gini,” lanjut Angkasa. “Dulu lo nggak bakal berani ngomong di tengah-tengah kayak gitu.”

Nebula menatapnya datar.

“Dulu gue nggak sadar kalau diam cuma bikin orang makin seenaknya.”

Suasana meja itu sedikit hening.

Angkasa memperhatikannya lebih lama dari biasanya.

“Lo ada masalah?” tanyanya tiba-tiba.

Nebula menyeringai tipis.

“Semua orang punya masalah.”

“Jawaban yang aman,” celetuk Samudra.

Nebula berdiri, mengambil botolnya.

“Kalau cuma mau interogasi, gue cabut.”

Angkasa refleks menahan ucapannya. “Gue nggak interogasi.”

Nebula menatap tangannya yang hampir menyentuh pergelangan tangannya, lalu menatap wajahnya.

“Terus?”

Angkasa menahan tatapannya beberapa detik sebelum menjawab,

“Cuma penasaran.”

Nebula tersenyum tipis—senyum yang sulit diartikan.

“Penasaran itu mahal.”

Lalu ia melangkah pergi meninggalkan mereka.

Samudra bersiul pelan. “Bos, lo beneran nggak deketin dia?”

Angkasa masih menatap punggung Nebula yang menjauh.

“Nggak,” jawabnya singkat.

Tapi dalam pikirannya—

Gadis itu bukan lagi Nebula yang dulu mereka kenal.

Dan justru itu yang membuatnya semakin ingin tahu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Jalanan dekat sekolah mulai sepi. Beberapa siswa masih berlalu-lalang, tapi tidak seramai tadi.

Elara berjalan sendirian sambil memainkan ujung tasnya. Tiba-tiba—

Sebuah motor berhenti tepat di depannya.

Ckittt.

Lintang melepas helmnya pelan, lalu menyeringai.

“Sendirian aja?”

Elara pura-pura terkejut. “K–Kak Lintang?”

Lintang turun dari motor dan berdiri cukup dekat. “Tenang aja. Gue cuma mau ngobrol.”

Elara mundur sedikit, tapi tidak benar-benar pergi.

“Ngobrol apa?” tanyanya pelan.

Lintang menatapnya dari atas ke bawah, masih dengan senyum menggoda. “Lo cantik juga ternyata kalau dilihat dekat-dekat.”

Elara memasang ekspresi risih, padahal di dalam hatinya justru muncul pikiran lain.

Beberapa meter dari sana—

Angkasa, Elang, Semesta, dan Samudra sedang berjalan santai menuju parkiran motor.

Samudra yang pertama menyadari.

“Eh, itu Elara bukan?”

Angkasa menoleh.

Rahangnya langsung mengeras melihat siapa yang berdiri di depan Elara.

“Lintang…” gumamnya.

Di sisi jalan, Lintang sedikit membungkuk agar sejajar dengan wajah Elara.

“Pacar lo mana? Atau… lo lagi butuh ditemenin?”

Elara pura-pura panik, padahal matanya sempat melirik ke arah Angkasa yang kini berdiri tidak jauh dari situ.

Senyum tipis hampir muncul di bibirnya.

Oh… jadi dia lihat.

Kesempatan.

Dengan suara agak dibuat gemetar, Elara mundur selangkah.

“Kak Angkasa…!” teriaknya cukup keras.

Angkasa berhenti.

Samudra meliriknya. “Dipanggil tuh.”

Elara kembali berseru, kali ini lebih keras.

“Kak Angkasa, tolong!”

Lintang mengernyit. “Ngapain lo teriak-teriak?”

Elara menatap Angkasa seolah memohon.

Di dalam hatinya, ia yakin—

Angkasa pasti akan datang.

Pasti akan membelanya.

Pasti akan berdiri di depannya seperti pahlawan.

Angkasa berjalan mendekat, langkahnya tenang tapi tegas.

“El,” ucapnya singkat saat sudah cukup dekat. “Ada masalah?”

Elara langsung berdiri lebih dekat ke arahnya, seolah mencari perlindungan.

“Kak Lintang gangguin gue…”

Lintang mendecih pelan. “Gangguin apaan? Gue cuma ngobrol.”

Elang berbisik ke Samudra, “ngobrol sama ulet pucuk…”

Semesta hanya mengamati.

Angkasa menatap Lintang lurus.

“Lo mau apa di sini?”

Lintang mengangkat bahu. “Santai aja. Gue nggak sentuh cewek lo.”

“Dia bukan cewek gue,” jawab Angkasa datar.

Jawaban itu membuat Elara membeku sepersekian detik.

Lintang tertawa kecil. “Tuh kan.”

Angkasa tetap berdiri di tempatnya, tatapannya dingin.

“Tapi gue nggak suka lo bikin ribut dekat sekolah.”

Lintang mendengus. “Ribut? Cewek ini yang teriak duluan.”

Elara langsung memotong cepat, “gue takut…” sambil meraih lengan kekar Angkasa.

Angkasa menoleh sekilas padanya.

1
Yue Li MZy
wah menarik. cuma gergera percaya sama org asing ngaku² kan anak nya ini pasti keluarga Jordan bakal berantakan. makanya punya otak digunain bukan malah langsung percaya
Atalia
rasain apa yang di rasakan nebula selama ini.
author jgn lama2 lah uploadnya soalnya nggak sabar sama kelanjutannya niii
Atalia
mau kasihan tapi mereka jahat sama anak sendiri, ditunggu yaa kelanjutannya author🥰
Atalia
wah plost twits banget yaa pemirsa
Atalia
gue suka gaya loh nebula 🥰
Anita Rahayu
tolong thor nyiksa jgn nanggung 😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤sikat sampai habis😡😡😡😡😡😡😡😡😡
Atalia
wah akhirnya yang di tunggu datang juga bantai mereka red 🤭
ditunggu ya kelanjutannya author
Atalia
kayaknya dia ngirim nyawa sendiri ke nebula deh
makini seru nii
Ira Melly
Lanjut
Atalia
Dasar goblok bintang
ditunggu ya kelanjutannya author
Atalia
wah bahaya nii kasusnya
Reycaryuca: Hehehe makasih ka…. Udah mau baca novel saya… 😍😍🙏🏻🙇🏻‍♀️
total 3 replies
Atalia
balikin aja tampar mereka
Atalia
wii keren banget Nebula
Atalia
wah dia ketemu sama orang yang buat dia ke novel yaa
ditunggu ya kelanjutannya author
Atalia
dasar penipu kalian emang harus mampus aja tadi
ditunggu ya kelanjutannya author
Atalia
kenapa harus di kasih ampun sii
Atalia
wah ada yang mau main-main
enak banget yaa pindah jiwa orang yaa, dasar pengkhianat
ditunggu ya kelanjutannya author
Atalia
dasar tukang curi nggak tau malu kamu elara.
wah nebula keren bantai mereka yang suka cari masalah
ditunggu ya kelanjutannya author
Yue Li MZy
ka Erika,up nya cuma satu nanggung bgt saking penasarannya dan saking lamanya KA uthor up pengen tau kelanjutannya Ganetha(Cucu Hana aja Belvia & Keivan)🥺🥺
Atalia
wah siapa yaa yang buat dia sampai masuk ke novel.

ditunggu ya kelanjutannya author 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!